Epilog
Waktu yang berjalan dan terus memutar, membuat para penghuni bumi makin merasakan kian cepatnya waktu. Tidak ada yang tahu, misteri waktu yang terasa semakin cepat. Penghuni bumi dari waktu ke waktu hanya menjalankan aktivitasnya sehari-hari, menyongsong masa depan tanpa pusing-pusing berspekulasi terhadap teori-teori pertambahan kecepatan waktu.
Demikian pula dengan wanita bernama [Full Name] yang tengah menatap layar smartphonenya---gembira. [Name] baru saja mendapat telepon dari sobat lama di Jepang.
Ah, gadis itu ingat bagaimana menyenangkannya hidup di sana untuk sementara waktu. Dulu, ayahnya mendapat tugas luar ke Jepang sudah semenjak dia berada di kelas 5 SD. Ibu [Name] meyakinkan sang suami untuk membawa mereka sekeluarga saja ke sana, karena tak tega melihat suami harus bolak-balik ke luar dan ke dalam negeri untuk melaksanakan kewajiban sebagai ayah---memberi kasih sayang kepada anaknya. Ketika [Name] menginjak masa akhir SD, perencanaan pindah ke Jepang sudah diurus. Dan ia bersama adik serta kakaknya melanjutkan pendidikan di sana. Yang [Name] tahu saat itu, mereka bersekolah di sekolah favorit atas jasa perusahaan ayahnya yang membiayai segala keperluan sekolah.
Gadis itu menengadahkan kepala, menerawang langit-langit bangunan di atasnya. Senyum cerah tampak terpatri begitu jelas. Ia masih terngiang perkataan Kayano Kaede di telepon, "Reuni kelas 3-E. Kami akan membersihkan gedung kelas kami di atas bukit yang sudah lama tidak di urus~! [Name]-chan datang tidak?"
drtt
[Name] membuka kunci smartphone-nya. Terpampang nama Karma di pesan pop up pada layar.
"Bagaimana mungkin aku tidak datang?" Gumamnya pada diri sendiri.
><><><
"[NAME]-CHAN?!!" Setiap kepala yang ada di sana memandang kaget ke arah sosok yang baru datang. Mereka sampai rela kegiatannya terinterupsi sejenak.
Di depan mereka, berdirilah [Name] sambil memasang cengiran kuda. Kaki jenjang yang menompang tubuh tinggi nan langsingnya melangkah. Rambut digerai dan wajah berpoles make up natural, membuat setiap mata di sana tak henti menatap.
"A-a..no.. Maaf aku terlambat." [Name] membungkukkan badan sekian derajat. Agak canggung. Wanita itu tak tahu harus bersikap bagaimana setelah sekian lama tidak bertemu dengan teman-teman di hadapannya.
"Kamu beneran [Name]-chan?"
Ia memandang ke arah sosok yang bertanya---dengan wajah kusut. "Apa aku berpenampilan aneh?"
Sontak mereka menggeleng kepala serempak.
"Tidak. Tentu saja tidak! Kami hanya tercengang, kau beneran datang kemari!"
[Name] kembali melempar senyum sebelum menjawab, "Bagaimana tidak datang, dekat dari tempat kerja kalau tidak menyempatkan datang keterlaluan namanya."
Beberapa saling memandang heran. Yang mereka tahu, [Name] kembali ke kampung halamannya dan menetap di sana. Ini sudah delapan tahun, mereka pikir mantan teman kelas mereka itu sudah hidup sejahtera dan bekerja di sana. Mengingat [Name] adalah orang yang disiplin dan menghargai waktu, rasanya mereka tidak habis pikir, wanita itu dapat menyempatkan diri datang kemari hanya untuk urusan sepele, sebentar pula.
Dekat dari tempat kerja? Sejak kapan Jepang-Indonesia mengalami persempitan jarak di antara keduanya?
[Name] tertawa melihat ekspresi teman-temannya. Mereka semua terlihat bingung, dan menunjukkan ekspresi heran khas masing-masing.
"Ya ampun, maaf. Tapi beneran kok, tempat kerjaku memang deket."
"[Name]-chan bekerja di mana?"
"Ah, aku lupa mengabari. Kenalkan, namaku [Full Name] dari Kedutaan besar Indonesia di negara ini."
"HAH?!!"
><><><
"Mbak dubes." [Name] menoleh sambil mendengus. Sebutan aneh macam apa itu yang menodai namanya? Nakamura Rio mencolek-colek tangan [Name]---minta direspon. Diletakkannya sapu kebun yang ada digenggaman tatkala dirinya menaruh atensi pada si English Girl.
"Iya mbak bule?" Rio terkikik geli. Godaannya dibalas balik oleh [Name], dan ia tak habis pikir.
"Gak kangen mas pujaan nih?"
"Hah?"
"Yaelah sok gak ngerti. Gak kangen Karma?"
"Lah, memang dia ikut? Aku tak melihatnya daritadi."
Mata [Name] berkedip bingung. Selanjutnya ia menghela napas berat, berusaha mengatur detak jantung yang mendadak berdegup kencang. Wanita itu tidak bisa menjadi munafik, ia tahu dirinya sedang merindu, dan itu tak bisa dipungkiri. Rindu terhadap teman-temannya sudah terobati oleh mereka semua yang berada di sini, menghabiskan waktu bersama untuk membersihkan gedung penuh kenangan itu. Tetapi rindunya belum utuh terobati. Lelaki yang delapan tahun lalu mendekapnya di saat perpisahan hari terakhir, tak memunculkan batang hidung.
[Name] merapikan baju, kemudian menengadah menatap Rio di hadapannya. Wanita yang ditatap tersenyum kemudian ibu jarinya diacungkan ke arah belakang. [Name] mengangguk, lantas beranjak.
><><><
"[Name]-chan, okaeri." Tutur pria yang tengah duduk di atas dahan pohon tanpa menoleh.
Pohon itu tumbuh semakin besar dan kuat. Dahulu saja sudah dapat dinaiki dan diduduki dua orang, dan sekarang makin kokohlah ia.
Wanita yang berada di bawah mendongak sambil tersenyum. Ia tidak percaya, bahwa orang itu juga datang. Tanpa berpikir lama, [Name] mendekatkan diri ke batang pohon, ditarik napasnya sejenak sebelum dengan lihainya ia memanjat ke atas.
"Hisashiburii Karma-kun."
[Name] mendudukkan diri dengan hati-hati tak jauh dari sang lelaki berambut merah. Ditatapnya lelaki itu dari samping, memperlihatkan bentuk wajah rupawan yang sempurna. Ia menahan napas juga kala menghirup parfum maskulin yang menguar dari tubuhnya.
"Hee~ [Name]-chan lagi menikmati 'pemandangan indah' ya? Aku tahu aku semakin tampan, tapi jangan mencuri-curi pandang begitu dong."
Plak
[Name] memukul pelan lengan Karma dengan kesal bercampur wajah yang memerah.
"Oi, semakin dewasa kenarsisanmu juga semakin besar, Bakabane!"
Yang jadi tersangka hanya terkekeh, membatin karena sifat sensi wanita di sampingnya juga tak berubah.
"Jadi, kau memilih menjadi duta besar negaramu dibanding hidup sejahtera dengan pekerja lain di sana?" Karma mengalihkan topik pembicaraan, disambut sunggingan senyum di bibir [Name].
"Ah, jangan-jangan karena kau ingin bertemu denganku ya?" Lanjutnya. [Name] mengerucutkan bibir, tetapi tak bisa menyangkal. Alasan lain mengapa ia memilih pekerjaan ini adalah berdasarkan kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang ia dapat selama tinggal di sini beberapa waktu lalu. Kan sayang kalau tak dilanjutkan. Lagipula ini juga sebagai sarana mengabdi pada negeri.
Semilir angin berhembus. Dedaunan yang ada di dahan dan ranting menari-nari. Seiring berhembusnya angin, suasana menjadi hening. [Name] berdeham, kemudian menatap Karma.
"Karma-kun. Kita sudah dewasa saat ini, sudah bekerja, dan sudah lama tak bertemu meski masih berkomunikasi via smartphone," Karma menoleh, balik membalas tatapan wanita tersebut---menyimak dengan serius.
"Aku juga sudah susah payah mewujudkan impianku hingga kembali mencapai di sini, bersikap acuh terhadap potensi-potensi bagus lain yang seharusnya kumiliki,"
Jeda sejenak, wanita itu menarik napas sebelum melanjutkan.
"Jadi, mana kalimat ajaibmu?"
Mata Karma membulat mendadak, sebentar, kemudian ia mengulas senyum indah. Hal yang mungkin tak pernah orang lain lihat dari Karma seumur hidupnya.
Lagi-lagi pipi [Name] memerah karena memanas, melihat senyum Karma yang menyejukkan hati sekaligus membuat jantungnya serasa ingin copot. Karma menatap gadis di sampingnya dengan seksama, dari ujung kaki yang mengayun-ayun indah di bawah dahan itu, hingga ujung kepala yang memandang lelaki itu heran.
"Wah, aku salut. [Name]-chan sekarang benar-benar tumbuh besar."
Sontak, manik mata itu membulat.
"APA YANG KAU PERHATIKAN BAKABANE!"
PLAK
Brugh
Awalnya wanita itu hanya berniat memukul lengan Karma dengan tenaga normal. Namun karena kelewat kesal, yang terjadi malah ia memukulnya dengan sekuat tenaga akibat kalimat ambigu Karma.
Dan, pukulan tersebut membuat tubuh keduanya di dahan itu limbung---hingga membuat mereka terjatuh ke hamparan rumput di bawahnya.
Punggung Karma terjatuh pertama, dengan tangannya yang memeluk pinggang [Name] di atas tubuhnya---melindungi wanita itu dari rasa sakit akibat terjatuh. Sejenak ia meringis, namun rasa sakitnya mendadak hilang saat menatap wajah [Name] yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Mereka terhening sejenak, membiarkan desiran angin ikut mendesirkan hati keduanya. Lantas, mereka terkekeh---mentertawakan diri sendiri akibat habis terjatuh dengan tidak etis.
"Lihat, ini semua salahmu lho [Name]-chan. Wanita nakal harus dihukum." Ujar Karma setengah berbisik.
Detik berikutnya, tanpa ada perintah, tanpa sadar mereka saling menghapus ruang yang ada di antara wajah mereka. Menempelkan dahi, kemudian menyatu dalam ciuman lembut, tanpa nafsu.
Menyalurkan rasa cinta masing-masing, yang meski belum terucap, setidaknya mereka saling mengerti akan adanya rasa yang mengisi relung hati.
"I Love You,"
"Will you marry me?"
Itu adalah kalimat ajaibnya. Yang terucap setelah ciuman itu disudahi.
Usai sudah permainan menjaga hati. Yang menguras keteguhan dan kesabaran untuk dapat dipertemukan kembali.
Usai sudah penantian panjang, untuk dapat kembali merasakan dekapan sang kekasih. Kini, mereka sudah saling memiliki. Dan menjadi kebahagiaan yang hakiki.[]
END
DAH KELAR YEYY
Bagaimana epilognya menurut kalian? Dan bagaimana juga menurut pendapat kalian tentang keseluruhan cerita ini?
Terima kasih sudah mengikuti hingga sampai sini! //bow
Ciyee yg diajak nikah sama Karma HEHEHE😆
Jangan lupa vote dan komen ya!
Omake
"Sebentar, aku akan menyalakan keran airnya di belakang gedung." Isogai berlari agak kencang. Mereka berencana menyirami tanaman dengan selang panjang yang terhubung keran di belakang gedung tua itu.
Langkahnya mendadak terhenti, bahkan ia hampir tersungkur ke depan saking mendadaknya Isogai mengerem. Tak jauh dari pandangannya, di bawah hamparan rumput, dia melihat dua insan yang tengah bercumbu. Antara senang, terharu, juga memelas---Isogai belum memiliki kesuksesan dalam menjalin hubungan seindah itu. Ia hanya menggeleng, kemudian beranjak lagi untuk menjalankan maksudnya setelah tersenyum sejenak.
"Isogai, lama sekali sih kamu!" Gerutu Kataoka Megu tatkala Isogai kembali memunculkan batang hidungnya.
"Teman-teman. Tak lama lagi kita akan mendapat undangan."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top