4. Sakit
Aku dan Karma terpaksa pulang selarut ini dari museum karena kata Karma... aku tidak sadarkan diri cukup lama selepas kejadian tak terduga di sana tadi. Agaknya tidak sebentar, kami saling menutup mulut. Canggung. Yahh, memang begini adanya. Toh kami memang tidak saling mengenal dengan baik.
Sesekali aku melirik ke arahnya, di bawah keremangan lampu jalan aku bisa melihat wajahnya yang.. agak begitu pucat mungkin? Tak lama, kami tiba di depan rumahku--Karma benar-benar keras kepala mengantarkanku hingga kemari--dan aku berterima kasih atas tindakan keras kepalanya itu. Aku mengulas senyum, samar-samar ku lihat dia juga membalas dengan senyuman.
"Sampai bertemu di sekolah, Akabane-kun" tanganku melambai ke arahnya kala aku menutup pintu gerbang rumahku dari dalam. Karma berjalan sendirian di keremangan malam, entah aku salah lihat atau tidak jalannya agak sempoyongan. Seketika aku khawatir, apa dia sedang baik-baik saja?
><><><
"Ohayaou minna-san!" Guru berwujud seperti gurita itu meletakkan buku-buku yang ada di tangannya ke meja guru. Suaranya yang khas serta senyuman dengan deretan gigi yang selalu terekspos kapan saja, menghentikan masing-masing kegiatan dari murid-muridnya--termasuk aku yang tadinya sibuk mengutak-atik handphone ditanganku.
"Konnichiwa Koro-sensei" kami menyapa balik. Tentu saja kami tidak salah, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.
"Nyunyaa.. seharusnya kalian membalas dengan 'Ohayou' juga minna-san! Meskipun ini sudah siang kalian harus memiliki semangat pagi~" jelas Koro-sensei diiringi koor 'oh' ria serempak dari kami semua. "Baiklah, sensei akan memulai pelajaran" imbuhnya.
Koro-sensei menjelaskan banyak hal. Mulai dari kulit terluar mata pelajaran IPA hingga intinya, dari cerita pengalaman sensei ke Hawaii hingga ke kutub utara. Semua dibahas oleh Koro-sensei dengan mendetail, dan kadang menimbulkan rasa bosan pada segelintir muridnya--contohnya aku. Aku memandang ke sekeliling kelas, banyak yang terlanda kebosanan seperti diriku. Okuda-san sangat bersemangat sekali menyimak penjelasan sensei mengenai uji coba glukosa menggunakan larutan-larutan yang tak kuketahui namanya. Lain halnya dengan lelaki bersurai merah di bangku sebelahku, dia tampak tidak bersemangat sekali untuk menyimak pelajaran. Memang sih, Karma itu pintar alami dan ini bukan kali pertama dia bersikap acuh pada penjelasan para sensei. Hanya saja, wajah tidak bersemangatnya itu lain dari yang biasanya ia perlihatkan.
Kring!
Bel istirahat kedua berbunyi disambut sorak gembira dari kelas E ini. Banyak murid yang berhamburan keluar kelas.
"Hei Akabane-kun.. tumben kamu nggak ke markas mu? Nggak biasanya lho" yang ku ajak bicara menoleh dengan malas. Tunggu apa-apaan itu wajahnya yang memerah hampir seperti warna rambutnya!
"Enggak" jawab Karma singkat dengan suara yang lebih berat dari biasanya. Aku beranjak dari dudukku, mendekat ke arahnya. Dengan gerakan cepat, kini punggung tanganku sudah berada di dahi Karma. Benar dugaanku, suhu tubuhnya sangat panas.
"Akabane-kun kamu--" Alis lelaki dihadapanku naik sebelah. "--pfftt.. huahahaha. Setan merah sepertimu bisa demam juga rupanya!" Tawaku meledak begitu saja.
"Ya ampun.. teman sakit malah diketawain. Gini-gini aku masih manusia yang bisa jatuh sakit juga [Name]-chan"
"Oke, maaf. Jadi kenapa kamu masih masuk sekolah?" Aku jadi heran. Karma memang lelaki dengan kepala batu yang suka memaksakan diri.
"Maunya sih gitu. Tapi.. yahh namanya anak yang berbakti pada orang tua ya mau gak mau tetap masuk." Karma menyandarkan dagu pada salah satu telapak tangannya. Saat ini, sebisa mungkin aku menahan tawa karena ucapannya tadi.
"Ngomong-ngomong," ia menghadapkan badannya ke arahku sepenuhnya. "[Name]-chan ternyata orangnya perhatian juga.. sampai repot-repot menanyakan keadaanku" imbuhnya membuat raut mukaku berubah. Sial, aku benar-benar merutuki mulutku yang seenaknya bicara di depannya tadi. Lihat disaat dia sedang sakit pun perangai menyebalkannya masih menempel saja!
><><><
Jam pulang akhirnya datang juga. Setelah dengan keteguhan hati selama berjam-jam berkutat dengan berbagai macam pelajaran, akhirnya aku bisa melangkahkan kaki keluar dari gedung kelas 3-E ini. Hahh, padahal hari ini tidak ada materi yang melibatkan kemampuan fisik kami, namun entah rasanya sangat lelah sekali.
"[Name]-chan, ayo cepat!" kulihat Kayano sudah berada jauh di bawah tangga menyadarkanku. Terkutuklah kelas 3-E yang harus melewati tangga-tangga panjang ini. Rasanya aku ingin meminjam baling-baling bambu Doraemon kalau sedang lelah begini.
"Oh ya [Name]-chan tahu rumah Karma-kun?" tanya Kayano yang melenceng dari pembicaraan awal kami secara tiba-tiba. Kini kami sudah berjalan di sisi trotoar jalan raya menuju rumah kami. "Hah?" aku menggelengkan kepala, Kayano tampak kebingungan.
"Anoo.. aku tadi dititipi Koro-sensei ini. Sensei lupa memberikan ke Karma sebelum dia pulang tadi. Akhirnya aku yang dimintai tolong membawakan ini ke rumahnya. Andai kamu tahu [Name]-chan aku sudah berjanji ke orangtua ku untuk pulang lebih awal." ujar gadis di sebelahku panjang lebar. Aku mendengarkannya seksama. Masalah Karma, memang benar tadi dia dipulangkan lebih awal ketika jam pelajaran berlangsung oleh Koro-sensei. Karena.. well, kalau kalian melihat keadaan si setan merah saat itu tadi, wajahnya benar-benar semerah rambutnya. Siapapun pasti mengetahui demamnya sudah parah meski Karma dengan sok memasang tampang 'baik-baik saja'.
"Yahh Kayano-chan.. kenapa tidak sekalian kau titipkan ke Nagisa tadi?" dia menyengir kuda. "Orang lupa mau bagaimana lagi? ya.. ya.. [Name]-chan mau kan?"
"Bagaimana kalau besok? aku yakin besok dia bakal masuk." tawarku disambut dengan gelengan kepala darinya. "Sensei berpesan padaku untuk segera di berikan." Aku mengangguk dengan sedikit berat hati. Kayano tersenyum senang kemudian menyerahkan bungkusan itu kepadaku.
"Ya Tuhan! sudah jam berapa ini? [Name]-chan maaf aku harus duluan!" Kayano melesat begitu saja dengan berlari. Tak lupa ia melambaikan tangan padaku sampai punggungnya benar-benar tak terlihat lagi di pandanganku. Aku membalas dengan lambaian juga seruan hati-hati dengan senyum yang merekah di bibirku. Namun, tidak lama senyumku memudar. Aku lupa satu hal. Rumah Karma dimana ya?
><><><
Saat matahari sudah hampir tenggelam aku baru saja menginjakkan kaki di sebuah rumah berpalang "Akabane". Kekesalanku masih belum reda akibat ketidakjelasan dari pengarahan anak-anak kelas 3-E lewat grup chat tentang dimana letak rumah Karma. Kenapa juga si setan merah itu tidak on? semakin merepotkan saja.
ting
Agaknya lama tak ada balasan, saat hendak memencet bel untuk yang kedua kalinya terdengar bunyi cekrek dari pintu dalam.
"Masuklah" begitu kata Karma tatkala membukakan pintu pagarnya. Aku mengikutinya dari belakang, Karma berjalan dengan langkah gontai.
"Gak nanya-nanya nih?" ujarku memecah keheningan. Karma yang sedang menuangkan air mineral mengerutkan dahinya. "Bukannya sudah jelas, kalau kau menjengukku? duh duh belum setengah hari padahal. Rupanya kamu khawatir." Pletak! Sungguh, aku tidak bisa menahan hasrat untuk menjitaknya. "Astaga [Name]-chan.. aku salah apa?"
"Nih.. dari Koro-sensei. Sensei lupa memberikan itu sebelum kamu pulang tadi. Sebenarnya Kayano-chan yang ia suruh memberikan ini ke rumahmu. Namun, dia berhalangan dan meminta tolong padaku." Karma terdiam sejenak kemudian ber-'oh' sembari mengambil tas kertas yang kuletakkan di meja.
"Terimakasih." aku mengangguk kecil dan berusaha melongok isi di dalam tas itu. Karma menyingkirkannya dengan cepat. "Memang isinya apaan sih?"
"Rahasia"
"Heh" celetukku kesal. Kemudian aku mengeluarkan ponselku untuk mengecek notif-notif yang masuk.
"Ibuku barusan keluar ke supermarket tadi. Ayahku belum pulang kerja." Aku mengalihkan pandangan yang semula berkutat pada handphoneku kini memandangnya. "Lalu?" tanyaku heran.
"Ya barangkali kamu heran kenapa rumah ini sepi." Aku mengangguk-anggukkan kepala. Tadi memang berniat menanyakan hal itu sih, tapi entah pikiran itu tiba-tiba ngilang begitu saja. "[Name]-chan betah ya disini?" imbuhnya lagi.
"Akabane-kun asal kau tahu, berputar-putar mencari rumahmu saja aku menghabiskan waktu satu setengah jam hanya untuk mengantar barang itu. Sebelum balik, setidaknya izinkan aku beristirahat sejenak." Karma terkekeh pelan, kemudian dia mendudukkan diri tak jauh dari sampingku. Aku kembali memperhatikan handphoneku dan membalas beberapa private chat. Saat melihat suatu foto yang dikirim di grup kelas membuatku tak tahan menahan tawa. Karma yang penasaran menyambar handphoneku tanpa permisi. Dia ikut tertawa namun detik kemudian dia terbatuk. Derita orang sakit memang tidak sebebas biasanya.
Dengan masih memegang handphoneku, kini Karma tidak lagi melihat di chat room grup kelas. Dia menjelajahi beberapa bagian di handphoneku. "Hei hei itu privasi!"
"Akabane-kun kembalikan!" aku sudah berusaha meraih handphoneku dari tangannya namun Karma beberapa kali bisa menghindari.
"Tidak akan sampai--"
Hembusan napas yang panas terasa menerpa di wajahku. Astaga. "Akabane-kun menyingkirlah. Kau itu berat" Karma tidak mengindahkan perkataanku malahan menunjukkan seringaiannya.
"--sampai kau memanggil nama kecilku."
Entah dapat kekuatan darimana aku bisa mendorongnya menjauh. Biar kata tidak etis menyakiti orang yang lagi sakit tapi toh ini semua karena dia.
"Nggak, makasih Akabane-kun. Aku tersanjung. Cepat sembuh" jawabku ketus sambil melangkah menuju pintu. Saat memutar kenop pintu, aku baru sadar akan satu hal ulah setan merah sialan itu.
"Pamitan yang sopan dong sama tuan rumah." Karma memutar-mutar kunci di jari telunjuknya.
"Terimakasih, Akabane Karma. Urusanku sudah selesai, mau pulang nih boleh kan?" dia menggeleng. Aku menghela napas berat.
"Karma-kun aku mau pulang. Bisa bukakan pintunya?" Tentu saja aku tahu apa yang dimaksud si setan merah itu. Menyebalkan.
"Bingo!" ia tersenyum penuh kemenangan dan membukakan pintu serta mengantarkanku hingga pagar.
"Besok jangan masuk ya!" ujarku sambil melambaikan tangan dan mengulas senyum. Dapat kulihat dari kejauhan raut mukanya menjadi masam. Sakit yang lama juga nggak apa. Karena sebenarnya, aku masih belum bisa menahan malu akibat peristiwa barusan. Apa-apaan itu tadi?!
Di dalam keremangan malam, mungkin tanpa ku sadari semburat merah tipis muncul di pipiku. Dan sungguh aku sangat menyesal menerima tawaran Kayano tadi.
><><><
TBC
(A/N)
hai apa kabar? sudah lama ya FF ini nggak apdet. huhu maafkan Kay ya readers T_T
maaf kalau chapter ini gaje, ooc, typo, dll. Semoga readers suka.
Nantikan kelanjutannya ya😄
but first, vomment plis
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top