ED 14 | Miscarriage
Sooji membuka mata dan menemukan dirinya sedang berbaring di atas ranjang, menatap sekeliling dan merasa heran karena masih berada dalam kamar hotel. Kepalanya agak pusing tapi tidak sehebat sebelum ia tidak sadarkan diri, Sooji memejamkan mata sejenak sebelum menggerakkan tubuhnya untuk duduk.
Ia terus menatap kamar hotel ini dengan pandangan asing, bukan seperti ini yang dipikirkannya. Tadi, sebelum pingsan ia tau apa yang akan terjadi tapi kenapa ia masih terlihat baik-baik saja?
"Oh ya Tuhan. Akhirnya kau sadar, kau tidak apa-apa?"
Sooji langsung menoleh saat mendengar suara Sehun yang terdengar cemas bercampur panik, ia mengernyitkan kening menatap pria itu.
"Aku kenapa?" Tanyanya heran, Sehun mendekat dengan segelas air mineral di tangannya.
"Kau tiba-tiba pingsan setelah menghabiskan tehmu. Aku sangat panik tapi dokter yang kupanggil ke sini mengatakan kau baik-baik saja." Jelas Sehun tersenyum lega, pria itu duduk di sisi ranjang lalu menyodorkan segelas air yang sedari tadi ia pegang pada istrinya.
Sooji tidak langsung menerima alih-alih menatap curiga gelas tersebut, Sehun meringis dengan wajah tersinggung, "kau tidak percaya padaku?" tanya Sehun, pandangan Sooji langsung beralih kepadanya kemudian menggeleng pelan.
"Ma--maaf, aku hanya sedikit pusing," gumam Sooji menerima gelas Sehun.
"Ini vitamin untukmu, aku mendapatkannya di tasmu," kemudian pria itu mengulurkan dua butir pil berwarna putih kepadanya. Sooji mengernyit saat melihat pil itu, ia lagi-lagi tidak langsung mengambilnya.
"Sooji sayang, dengan pandangan curigamu itu kau menyakitiku. Kau tau?" gumam Sehun pelan, ia menarik tangan Sooji dan meletakkan pil tersebut di sana, "minum ini dan istirahatlah. Kita akan pulang saat keadaanmu sudah lebih baik."
Sooji hanya terdiam menatap punggung Sehun yang berjalan menjauhinya, ia tidak bisa membela diri di depan pria itu karena kenyataannya saat ini ia memang sedang curiga. Serangan yang didapatkannya tadi bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, ia tau hal itu. Tapi, melihat wajah Sehun ia tidak bisa serta merta mencurigai pria itu kan? Sehun adalah suaminya, suami terbaik di dunia ini jika perlu mengingatkan dirinya sendiri. Bagaimana pria itu memaafkan dan menerimanya kembali atas semua kesalahan yang telah ia perbuat, Sehun tidak berhak mendapatkan rasa curiganya.
"Sepertinya aku terlalu paranoid." Sooji bergumam pada dirinya sendiri sebelum menelan vitaminnya dan meneguk air mineral, setelahnya ia menghela nafas kemudian kembali membaringkan tubuhnya.
Ia sangat lelah dan ingin tidur, berharap saat bangun nanti semua perasaan tidak enaknya akan menghilang.
*
Ia terbangun, kali ini merasa familiar dengan tempatnya terbangun. Sooji melirik ke samping dan menemukan Sehun sedang tertidur pulas, ia menghela nafas panjang sebelum turun dari ranjang.
Melirik jam di atas nakas ia kembali mendesah, masih jam 4 subuh. Mungkin semalam ia tertidur sangat lelap di hotel sehingga Sehun enggan membangunkan dan memilih memboyongnya pulang ke rumah dalam keadaan tidur. Ia bersyukur tidak berada di hotel itu lagi saat terbangun, karena entah mengapa ia menjadi tidak suka dengan kamar hotel itu. Membuatnya merasa cemas.
Sooji keluar dari kamar untuk menuju ke dapur, perutnya berbunyi dan ia membutuhkan makanan segera. Memeriksa kulkas, ia mengambil beberapa sayuran dan buah. Salad bukanlah pilihan buruk untuk mengisi perutnya saat ini, akhirnya ia memilih untuk membuat salad yang praktis.
Beberapa menit kemudian Sooji sudah terlihat menikmati saladnya, dalam diam ia berpikir lagi. Apa yang telah terjadi di hotel tidak benar-benar bisa ia lupakan begitu saja, ia sangat yakin saat itu bukanlah suatu kebetulan semata. Sakit yang dirasakan tubuhnya bukanlah sesuatu yang wajar, sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya ia sudah sangat yakin jika sesuatu yang buruk pasti terjadi, tapi sampai saat ini ia merasa tidak seperti terjadi apa-apa.
"Apa aku memang hanya paranoid?" Sooji menggumamkan pertanyaan itu, ia menewarang menatap langit-langit dapur berusaha memecahkan apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya.
Hingga ketika merasakan gejolak di perutnya, ia langsung beranjak ke wastafel dan mengeluarkan isi perutnya. Ini kali pertama ia mual selama kehamilan setelah tiga bulan, dan itu membuatnya bertanya-tanya.
Kenapa baru sekarang?
Serangan itu datang lagi dan Sooji kembali memuntahkan isi perutnya, tubuhnya berangsur-angsur lemas. Ia menyandarkan diri di pinggiran wastafel dengan mata terpejam, rasa mualnya sudah berkurang tapi sakit di perutnya tidak menghilang. Susah payah menegakan tubuhnya untuk berdiri, Sooji mencoba untuk berjalan menuju kamar. Tidak, ia tidak boleh kehilangan kesadaran di sini. Tidak tanpa sepengetahuan Sehun karena itu akan berbahaya untuk kandungannya.
Akhirnya setelah berusaha keras untuk sampai di kamar, Sooji mendekati ranjang. Ia berdiri di sisi di mana Sehun berada dan menunduk.
"Se--Sehun..." Sooji hanya mampu bergumam lirih karena perutnya kembali terasa sakit, kali ini lebih hebat dari sebelumnya sehingga ia merasa tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Sooji terduduk di samping ranjang, berusaha untuk tidak kehilangan kesadarannya sampai Sehun terbangun. Ia menyentuh lengan pria itu dengan mengeluarkan suara-suara kecil.
"Se--hun, pe-rut-ku sa--sakit..Se--hun," Sooji menarik nafas putus-putus, ia tidak kuat. Rasanya semakin sakit, satu tangannya mencengkram perutnya yang terasa melilit kemudian matanya melotot ketika melihat darah mengalir di kakinya.
Ia sangat panik tapi terlalu lemah untuk bereaksi sampai ketika kesadarannya hampir hilang, ia merasakan pergerakan dari ranjang. Dengan lemah ia menoleh menatap Sehun yang kaget, pria itu langsung meloncat dari tempat tidur dan membopongnya.
"Tahan sebentar sayang. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Setelah mendengar Sehun mengatakan itu, Sooji tidak menahan dirinya lagi. Ia membiarkan kegelapan menyergapnya.
***
Sooji membuka matanya, ia merasa bosan setiap kali tersadar ia harus terbaring dengan tubuh yang lemah. Kali ini ia tidak akan heran jika menemukan dirinya di dalam kamar rawat, tapi bukan itu yang jadi masalah di sini.
Pasalnya, tepat ketika membuka mata ia merasakan perasaan itu. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia rasakan, tapi ia tidak bisa menghindarinya karena saat ini perasaan itu semakin kuat ketika instingnya membawa satu tangannya bergerak untuk menyentuh perutnya, hampa. Ia merasakan kehampaan saat menyadari tidak ada kehidupan di dalam perutnya.
Airmatanya langsung terjatuh, ia tidak bergerak. Tubuhnya masih terlentang di atas ranjang dengan tangan menopang perutnya. Airmatanya semakin deras namun, ia tidak mengeluarkan suara apapun. Ia menangis dalam diam.
"Kau puas sekarang?"
Suara itu menyentaknya, masih dalam keadaan terisak ia menoleh dan menemukan dokter Jung berdiri di ujung ranjang dengan tangan bersidekap di depan dada. Ini pertama kalinya ia melihat tatapan sinis wanita itu kepadanya dan ia menjadi takut atas apa yang akan dokter Jung katakan padanya.
"Kau puas telah membunuh anak itu kan?" Soojung kembali bersuara, wajahnya datar tapi matanya terlihat sangat marah, "itu yang kau inginkan bukan, melenyapkan anak itu."
Sooji tidak menjawab, dadanya terasa terhimpit mendengar tuduhan itu. Kepalanya menggeleng beberapa kali mengisyaratkan bahwa bukan dirinya yang melakukan ini, tapi tidak ada suara yang mampu ia keluarkan. Hanya isakan tertahan.
Ia akui benar kata Soojung, ia memang tidak menginginkan anak ini. Sangat. Tapi bukan yang seperti ini harapannya, ia tidak tau akan merasa sehampa ini saat bayinya telah tiada. Benar kata pepatah, kau baru akan merasa memiliki ketika sesuatu itu benar-benar hilang. Dan saat ini Sooji merasakannya, ia merasa sesak saat tau anaknya sudah tidak ada. Anaknya, bayi yang tumbuh di janinnya.
Soojung berdecak, "kau pikir dengan menggugurkan bayi itu Myungsoo akan melepasmu? Jangan harap. Kau akan melihat apa yang sanggup dilakukan pria itu karena kau telah membunuh anaknya."
Nafas Sooji tercekat. Myungsoo. Ia melupakan pria itu, bagaimana reaksinya saat tau anaknya telah tiada? Sooji menggelengkan kepala membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu kepadanya.
Dia pasti akan membunuhmu Bae Sooji.
Ia membenarkan suara batinnya. Lebih baik ia mati saja, anaknya telah tiada. Sesuatu yang setengah mati ia tolak kehadirannya saat ini telah tiada, seharusnya ia merasa senang namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Ia tidak rela, anaknya--yang telah memiliki detak jantung, yang baru saja akan mendapatkan sepasang tangan dan kaki, yang baru akan memiliki wajah, yang baru--
Sooji tidak bisa meneruskannya. Ia menyesal. Anaknya yang tidak berdosa.
"Anak kita tidak berdosa."
Soojung hanya berdiri menyaksikan Sooji meratapi dirinya sendiri, ia mendengus ketika mendengar lirihan wanita itu diantara tangisannya yang memanggil anaknya. Semua sudah terlambat dan Sooji berhak mendapatkan rasa sakit itu karena telah berani melenyapkan anaknya sendiri.
Tadi ia sangat terkejut saat mendapatkan kabar dari salah satu perawat bahwa dokter Bae sedang berada dalam ruang operasi, dengan segera ia langsung bergegas ke sana dan menemukan tim dokter telah menyelesaikan penangangan pertama untuknya. Lututnya langsung gemetar saat melihat tubuh Sooji tergolek lemah di atas meja operasi dan sebuah ember besi yang berisi gumpalan darah berada di kaki ranjang. Ia menggelengkan kepalanya, ini tidak mungkin terjadi. Seharusnya janin itu baik-baik saja, bukannya berada dalam ember itu.
Dengan menyeret kakinya yang lemah, Soojung mendekati seorang perawat yang ikut dalam operasi pengangkatan janin tersebut.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya pelan, sang perawat menggelengkan kepala dengan wajah menyesal.
"Kami menemukan senyawa prostagladin dan kandungan Misoprostol dalam darahnya. Itu yang menyebabkan janinnya lemah dan akhirnya tidak dapat bertahan."
Soojung tercekat, ia menutup mulutnya tidak percaya. Bagaimana bisa Sooji menggunakan obat penggugur kandungan di saat usianya sudah memasuki tiga bulan? Itu sangat berbahaya.
Sooji merasakan jantungnya berhenti berdetak saat mendengar penjelasan Soojung. Senyawa Prostagladin dan Misoprostol? Bagaimana bisa dua zat yang sangat berbahaya bagi kandungan bisa masuk ke dalam tubuhnya? Ia tidak merasa pernah memakan makanan yang tidak jelas kandungannya. Setelah memutuskan untuk mempertahankan bayinya ia selalu menjaga pola makan dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya.
Jadi bagaimana bisa--
Tiba-tiba saja kejadian di hotel terulang dalam benaknya, ia meminum teh buatan Sehun dan setelah pingsan ia kembali disodorkan dua buah pil yang katanya adalah vitaminnya. Sekarang ia bisa mengingat dengan jelas jika vitamin itu tidam ada dalam tasnya, siangnya saat baru menebus vitamin itu di apotik ia meletakkan di dalam ruangannya di rumah sakit. Ia tidak membawa serta vitamin itu bersamanya.
"Se--hun?" Sooji bergumam tidak percaya, apakah Sehun yang menjejalkann obat penggugur kandungan kepadanya? Tapi bagaimana bisa dia setega itu.
"Aku sudah menelpon Myungsoo dan mengatakan keadaanmu. Dia sedang dalam perjalanan kembali dari Jepang."
Sooji merasakan punggungnya menggigil saat mendengar kalimat Soojung, tangisannya masih tersisa tapi sudah tidak sehebat tadi. Ia memandang takut pada dokter kandungannya itu, "a--aku ti--tidak..."
"Kau ingin mengatakan bahwa bukan kau yang menggugurkan bayi itu?" Soojung menyela ucapan Sooji, wanita itu menggeleng menandakan memang bukan dirinya yang melakukannya, "lantas siapa? Siapa lagi yang paling menginginkan kematian bayi itu selain kau?"
Sooji menggigit bibirnya kalut, ia tidak bisa mengatakan siapa pelakunya, tapi melihat tatapan tajam Soojung ia mendesah panjang, "Se--Sehun."
Soojung menggeram mendengar nama itu, ia mengepalkan kedua tangannya. Memejamkan mata berusaha untuk menahan emosi.
"Aku tidak peduli siapapun yang memberimu obat, yang kutahh kau ikut andil dalam pembunuhan ini, karena kau sama sekali tidak menolak saat meminum obat itu."
Sooji meringis. Pembunuhan. Ia pembunuh, tangisannya sudah hampir pecah, tapi suara Soojung membuatnya tersadar. Ia tidak boleh menangis saat ini, menangis hanya akan membenarkan tuduhan wanita itu kepadanya.
"Kau jangan khawatir, aku hanya memberitahu Myungsoo bahwa kau terjatuh dari tangga dan bayimu tidak dapat diselamatkan," ucap Soojung santai, Sooji langsung menatapnya, "tapi jangan senang dulu. Aku tidak akan segan-segan memberitaunya mengenai obat penggugur kandungan itu kalau kau tidak bisa mengambil sikap yang benar."
"Terima kasih Soojung-ssi," gumam Sooji pelan, ia tau cepat atau lambat Myungsoo harus tau penyebab sebenarnya tentang kematian anaknya, tapi untuk sekarang ia membutuhkan waktu untuk memberitau semuanya.
"Jangan berterima kasih padaku. Aku melakukan ini bukan untukmu, tapi untuk kakakku."
Sooji tersenyum lirih saat mendengar desisan kesal Soojung, ia mengangguk mengerti.
"Ingat. Jangan mengulur waktu atau aku sendiri yang akan memberitau Myungsoo dan kau tau akibatnya bukan? Dia bisa melakukan apa saja, termasuk membawamu bertemu anak kalian."
Mata Sooji terpejam. Ia membiarkan Soojung keluar dari kamarnya lalu kembali menangis, ia percaya ucapan wanita itu. Myungsoo pasti akan sanggup melakukannya. Pria itu akan membalasnya atas apa yang terjadi kepada anak mereka.
Anak mereka.
Hati Sooji tersayat saat menggumamkan kata itu. Anak yang setengah mati ditolaknya. Anaknya, anak Myungsoo. Anak mereka.
"Anak kita, telah tiada." Bisiknya dalam ruangan kosong itu, Sooji menarik nafas tajam lalu mengeluarkannya dengan susah payah. Ia merasa sulit untuk bernafas, tidak ada pasokan oksigen tersisa di paru-parunya saat kembali memikirkan nasib bayinya.
Dan penyesalan benar-benar telah mengerogoti hati dan pikirannya.
*
"Sooji, kau sudah sadar?"
Jiwon langsung mendekati ranjang saat melihat pergerakan dari ranjang, ia menatap Sooji yang sudah membuka matanya dengan pandangan menyesal. Sooji tersenyum miris, ia sudah tau semuanya.
"Aku sudah tau Jiwon," lirihnya pelan dan dengan itu tangisan Jiwon pecah, wanita yang sejak dulu dikenalinya sangat tangguh saat ini terlihat rapuh di hadapannya. Jiwon menunduk untuk memeluknya dalam tangisan dan ia kembali menangis, mendengar isakan lirih sahabatnya membuatnya tidak bisa untuk tidak memikirkan nasib malang anaknya yang harus direnggut paksa tanpa dibiarkan menatap dunia.
Mereka berpelukan sambil menangis untuk beberapa lama, Sooji yang lebih dulu dapat mengendalikan tangisannya kemudian menepuk pundak Jiwon.
"Sudah, ini sudah takdir Jiwon. Kita harus menerimanya."
"Ta--tapi dia masih sangat kecil," gumam Jiwon, menjauhkan tubuh dari Sooji lalu duduk di tepi ranjang, "dia bahkan belum sempat bernafas," ucapan Jiwon membuat Sooji ingin menangis lagi, tapi ia tidak ingin semakin berlarut-larut dalam kesedihan.
"Sehun terlihat sangat terpuruk," tambah Jiwon, Sooji menegang di tempatnya saat mendengar nama pria itu, "sejak kau dipindahkan ke kamar ini, dia menenangkan diri di cafetaria. Kau ingin aku memanggilnya?"
Sooji baru akan menggeleng namun, pintu kamarnya telah terbuka. Di sana pria itu berdiri dengan wajah sendu menatapnya, Jiwon ikut menoleh dan tersenyum kecil.
"Aku baru akan memanggilmu, Sooji sudah sadar," ujarnya bangkit dari ranjang untuk mendekati Sehun, "aku tau kalian membutuhkan waktu berdua. Aku ada di luar jika kau membutuhkanku, Sooji." Setelahnya Jiwon keluar dari ruangan itu, menutup pintu, membiarkan Sooji tinggal berdua bersama Sehun.
"Hei," Sehun tersenyum pahit, ia mendekat dan duduk di tempat Jiwon tadi, ia mengusap wajah kaku Sooji yang menatapnya dalam diam, "are you okay?"
Sooji hanya diam, dalam hatinya ia menahan gejolak amarah yang ingin dikeluarkan untuk pria itu, tapi ia tidak melakukannya. Ia ingin Sehun mengakui perbuatannya sendiri.
"Jangan diam saja sayang, bicaralah," gumam Sehun, pria itu menunduk untuk menciumnya namun Sooji menyingkirkan wajahnya. Ia tidak ingin dicium oleh pria itu sebelum mengakui semuanya.
"Sayang?" Nada suara Sehun terdengar bingung namun, pria itu tidak menuntut lebih banyak. Ia menghela nafas sebelum menggenggam tangan Sooji.
"Aku melakukan sesuai keinginanmu. Kau menginginkan anakku, dan kita akan segera mendapatkannya. Bukankah kau senang? Kita akan berbahagia sayang, selamanya."
Sooji tercekat, ia tidak bisa mengatakan apa-apa saat mendengar penjelasan Sehun yang sama sekali tidak merasa bersalah. Pria itu malah tersenyun lebar.
"Aku hanya ingin membuatmu bahagia."
"Ka--kau mengatakan kau menerimanya," gumam Sooji tidak percaya, "kau memaafkanku. Tapi kenapa--"
"Aku memang menerimanya," Sehun masih tersenyum saat mengucapkan itu, "tapi kau tidak. Aku hanya melakukan apa yang kau ingin lakukan sebelumnya dan sekarang kita berhasil."
Sooji menepis tangannya dari Sehun, ia tidak percaya bahwa pria yang dicintainya sanggup melakukan hal sekeji ini.
"Teganya--"
"Kau sendiri yang mengatakan menginginkan anakku, apa yang salah?" Sehun bertanya tidak mengerti dan Sooji menatapnya frustasi.
"Kita bisa menunggu setelah anak ini lahir. Kau tidak harus membunuhnya."
"Tapi yang kulihat kau tidak ingin menunggunya lahir. Kau menginginkan anakku saat ini bukan nanti."
Sooji menarik nafas tajam. Sehun tidak akan pernah merasa bersalah atas perbuatannya, ia sadar itu jadi percuma berbicara padanya karena pada akhirnya hanya ia yang akan disalahkan. Ia yang membunuh anaknya.
"Keluarlah, aku ingin tidur."
"Aku bisa menemanimu di sini."
Sooji menggeleng, ia berbaring menyamping memunggungi Sehun dan bergumam, "aku ingin sendiri. Kumohon."
Sehun memandang punggung Sooji beberapa lama, ia mendesah kemudian beranjak dari ranjang. Menundukan tubuhnya mendekati kepala Sooji dan memberikan kecupan di sana.
"Kau tau aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu, sayang."
Meskipun dengan membunuh, Sooji membenarkan dalam hati. Ia memejamkan mata saat mendengar langkah Sehun menjauh dan ketika pintu tertutup Sooji menenggelamkan tubuhnya lebih dalam menahan rasa sakit di hatinya.
Ia tau setelah ini tidak akan ada yang sama lagi, semuanya telah berbeda.
Tamat.
Boong deh 😂
CONTINUED.
Aku kan udah janji akan dedikasikan part ini untuk komentator yang benar dan dari semuanya gk ada yang benar. Tapi karena aku lgi baik jdi aku dedikasi ke yg hampir men dekati benar. Yaitu wargacantik Dia bilang karena "setelah sehun tau ayah bayi itu myungsoo, sehun mau menghilangkan bayinya". Benarnya cuma bagian sehun menggugurkan bayinya, selebihnya masih salah.
Yang mau tau kenapa Sehun bisa tiba-tiba berubah begitu...nanti ada penjelasannya, semoga kalia8n bisa nangkep maksudnya ya.
Oke yang kedua, kemarin yg kasih tebakan kalau sehun bakal selingkuh atau org dri masalalu sehun muncul ato Sohee bakal mengacau, sorry to say, aku gak suka sama cerita yg konfliknya ttg perselingkuhan/org ketiga 😂 aku merasa konflik itu terlalu mudah di tebak (contohnya hampir semuanya menebak sehun akan selingkuh) dan buat ketegangan dalam cerita itu berkurang 😅
Tapi bukan berarti aku nanti akan benar-benar tidak mengambil tema perselingkuhan itu dalam ceritaku. Mungkin akan ada, tapi dalam kondisi yang tdk akan kalian bisa tebak 😅 (oke sepertinya aku bicara melantur disini)
Intinya sedapat mngkin aku itu gk mau pake konflik perselingkuhan (kecuali benar" harus di pake) karena pada dasarnya aku gak suka. Dulu saat aku masih aktf membacapun aku menghindari bacaan yg tokohnya berselingkuh karena gk kuat 😭😭😭 hati dedek lemah bang 😢
Ya udah sekarang tebak"an lagi, apa yg bakal myungsoo lakukan ke suzy??
See you next part 🙌🙌🙌 (gk janji update cepat)
[08/08/17]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top