Prolog

Prolog


Musim gugur Y229, tiga tahun yang lalu—

Hari itu Esther adalah wanita yang paling bahagia.

Tangan hangat itu melingkupi genggaman Esther, mendorongnya untuk menengadahkan kepala, menemui profil tampan—pada akhirnya, setelah bertahun-tahun—suaminya. Raphael Adolwulf Schiffer. Sesuatu mengenai ketampanan pria tercintanya itu berbeda. Sesuatu mengenai caranya menolehkan kepala perlahan, sudut-sudut bibirnya tersungging lebih dalam dari yang pernah Esther saksikan. Sesuatu mengenai matanya, sebagaimana manik biru itu memandangi Esther bagai ia adalah dunianya, satu-satunya wanita dalam semestanya. Esther tahu, begitu tahu, jiwa romantisnya bergejolak—Raphael sama bahagianya seperti dirinya.

Lalu, seakan-akan cintanya selama bertahun-tahun tidak pernah cukup, detik itu Esther semakin mencintainya. Lagi dan lagi. Mereka sepasang kekasih muda, Esther berusia sembilan belas tahun dan Raphael dua puluh empat tahun. Cinta mereka selayaknya musim semi, begitu belia, warna-warni, dan bermekaran di sana-sini. Tetapi, siang itu ketika mereka mengikrarkan pernikahan di atas altar yang suci nan sakral, tiada perasaan lebih abadi dari yang Esther rasakan di dadanya. Perasaan membahagiakan dengan sedikit sentuhan keajaiban.

Magis bagai dongeng yang Esther baca sebelum tidur semasa kecil. Romantis tak ubahnya novel cinta yang kerap Esther baca dalam keremangan lilin di malam hari, meskipun telah diperingatkan Ibu, sang Ratu Reibeart, berkali-kali. Esther cinta membaca cerita cinta karena ia menyukai akhir yang bahagia, detik-detik di mana sang putri diselamatkan oleh pangeran berkuda putih dan hidup bahagia untuk selamanya. Dan Esther kecil yang pemalu selalu mengimpikan satu hal: menemukan pangeran serta akhir bahagianya.

Raphael Schiffer adalah pangerannya. Detik itu, perayaan pernikahannya di taman utama kediaman Schiffer, adalah akhir bahagianya. Apa lagi yang bisa Esther harapkan?

Raphael merundukkan kepalanya, cukup dekat bagi Esther untuk menelusuri iris matanya yang sebiru samudera, gelap pada bagian terluarnya. Tulang pipinya yang tinggi dinaungi bulu mata tebal dan tampak keemasan seakan-akan matahari senja menari di tiap helainya. Terseret ke dalam pesonanya, Esther perlahan memejamkan mata, merasakan kehadiran Raphael dari balik kelopak matanya. Sebagaimana pria itu mendekatkan wajahnya inci demi inci. Napasnya menggelitik kulit pipi Esther sebelum ia menghantarkan sebuah bisikan:

"Lady Schiffer, kau tampak luar biasa dalam gaun putih itu."

Esther Michaelis Schiffer. Senyum lebar mengembang di wajahnya. Nama barunya tidak buruk, sungguh. Sama sekali tidak. Ibu jari Esther mengusap punggung tangan Raphael. "Terima kasih, My Lord."

Raphael mengecup pipinya singkat sebelum berkata, "Aku mencintaimu, kau tahu?"

Esther menyeringai sembari jemarinya menemui garis rahang Raphael. "Aku tahu." Seutuh jiwanya, segenap raganya, mengetahuinya. Ia kesulitan mempercayai bahwa mimpinya menjadi kenyataan, namun ia memuja fakta bahwa mereka saling mencintai. Tiada satu hal pun yang mampu menyelinap di antara mereka.

Sepersekian detik kemudian, sebuah tawa menggelegar kencang, dengan mudah merebut momen di tersebut. Esther mengerjapkan matanya sementara Raphael terkekeh kecil sambil beringsut memberi jarak. Ia mengikuti sorot pandang Raphael dan menemukan sumber tawa di antara tamu undangan. Kakak peremuannya, Daria Valencius of Reyes, dengan mata berbinar-binar sedang mendengarkan gurau konyol kedua adik kembar Raphael, Michael dan Gabriel. Tidak lama setelahnya, Daria kembali tertawa dan menenggak anggur dengan keanggunan seorang bajak laut.

Kerumunan yang terbentuk di sekeliling kakaknya berseru, menyoraki Daria untuk minum lebih banyak. Raphael tak bisa membendung tawanya menyaksikan tindak-tanduk kakaknya dan Esther pun tak mampu mengelak geli yang tercipta di perutnya. Ia baru saja hendak turut tertawa, penglihatannya menemui raut pasrah Ibu, duduk di meja bersama kedua orangtua Raphael. Ayah menyikut pinggang Ibu, menyeringai, lalu mengatakan sesuatu tentang membiarkan Daria mendapatkan kebebasannya untuk sekali saja. Dada Ibu mengembang lama sebelum mengempis dengan teramat perlahan, berupaya menjaga ketenangan pikirannya.

Kakaknya yang satu itu terkenal sebagai pembuat onar dan terlampau liar untuk disebut sebagai seorang tuan putri. Ketika Esther membawakan puisi cinta di kelas seninya, Daria akan membacakan seribu satu alasan mengapa guru seni mereka perlu menikah di usianya yang sudah tua. Ketika Esther hanya bisa memandangi Festival Malam dari kesunyian bilik kamarnya, Daria akan menyelinap dan memanjat dinding benteng kastil menuju keriuhan.

Daria selalu memerlukan orang lain untuk menjaganya diam dan Esther tahu bahwa tugas itu kini jatuh di kedua pundaknya. Kakak sulungnya, Caiden, memiliki urusan mendadak yang harus segera ditangani di ibukota Reibeart, Gemma. Begitu ikrar pernikahan Esther dan Raphael usai, kakak laki-lakinya itu segera memacu kereta kudanya menuju ibukota. Sedangkan Petra, kakak perempuan tertuanya, sedang menjalankan kewajibannya sebagai salah satu prajurit berbakat kerajaan melawan pemberontakan Albatross di tanah jajahan sekutu mereka, Waisenburg. Sementara Kania—Esther melirik adik bungsunya yang teramat jelita—baru genap enam belas tahun. Belum cukup dewasa untuk menangani Daria.

Sehingga, Esther bangkit dari kursinya, melintasi lantai dansa dan menghampiri Daria. Melihatnya mendekat, Michael dan Gabriel segera menyingkir, cukup pintar untuk menghindari segala kemungkinan terburuk. Daria, di sisi lain, tampak tidak menyadari malapetaka yang mungkin saja menimpanya.

Ia mengambur ke dalam pelukan Esther. "Selamat atas pernikahanmu. Berjanjilah kau akan menceritakan malam pertamamu. SELENGKAP-LENGKAPNYA."

Esther tidak mampu menyembunyikan rona wajahnya. Ia lupa bahwa kakaknya adalah pribadi yang penasaran. Beberapa tahun lalu, Daria bahkan mengorek segala informasi mengenai ciuman pertamanya. Untuk berjaga-jaga, balasnya. Tapi, sungguh sulit membayangkan kakaknya itu menyikapi seorang pria dengan serius. Pembawaan kakaknya yang riang dan ceria menjadikannya teman yang sempurna—namun, kekasih? Daria membutuhkan pria yang mampu mengendalikannya.

"Daria, ingat batasmu."

Daria berbisik sambil mencuri lirik ke arah tempat Ibu duduk. "Apa Ibu marah?"

"Belum," ujar Esther, "tapi, akan."

"Kau benar." Daria melepas pelukannya. "Kapan Ibu tidak pernah marah kepadaku?" Dan ketika Esther pikir Daria akan berhenti minum, dalam satu tegak Daria menuntaskan cairan merah tersebut. Ia membanting cangkir sebening kristal itu ke meja terdekat.

Esther membusurkan kedua alisnya. "Daria, kakakku, kau senang hidup secara berbahaya."

Daria mengangkat kedua bahunya. "Anggur yang satu itu mahal, Esther, adikku. Kita tidak boleh membuangnya dengan percuma."

Ketika Daria meninggalkannya, Esther baru menyadari tumit kaki kakaknya lecet dan telanjang. Sebelah tangannya menenteng sepasang sepatu kremnya. Daria selalu menemukan kenyamanan lebih dalam sepatu bot dibandingkan sepatu hak. Esther berkacak pinggang, memandangi punggung kakaknya menjauh, menghampiri Ibu dan mendaratkan kecupan minta maaf di pipi ibunya. Esther tidak habis pikir apa jadinya ia bila dianugerahkan anak seperti Daria.

Tapi, kemudian, pada akhirnya segala hal bukan lagi masalah. Kini, apa yang terpenting adalah kebersamaannya dengan Raphael. Mereka akan memenuhi kediaman dengan derap kecil anak-anak mereka—liar ataupun tidak—seperti yang mereka selalu harapkan. Miniatur Raphael dan dirinya, berlarian bebas di taman. Tawa dan kehangatan yang tidak akan pernah usai. Gambaran keluarga yang Esther impikan.

Esther baru saja hendak kembali ke kursinya kala menemui tatapan familiar dari seberang lantai dansa. Seorang wanita cantik dengan rambut sewarna api dan wajah sebening pualam memutuskan untuk tidak berdansa. Tulang pipinya terpahat tinggi, menekankan keindahan bola mata kelabunya. Bibirnya penuh dan ranum, menyiratkan sensualitas sebagaimana bagian-bagian tubuhnya yang lain. Dagunya mungil nan angkuh, terangkat percaya diri yang mampu menggoyahkan lutut pria manapun.

Menyadari kecantikan wanita itu, sebersit rasa sakit timbul di hati Esther. Sebab, wanita itu bukan lain adalah Margaret Crawford. Teman masa kecil Raphael. Keluarga Crawford merupakan tetangga Keluarga Schiffer untuk lima generasi. Pertemanan keduanya lebih lama dibandingkan hubungannya dengan Raphael. Mereka sudah menjelajah kediaman Schiffer bahkan sebelum Esther mampu berhitung hingga seratus. Mereka seperti saudara, jelas Lady Anatasia Schiffer, ibu Raphael suatu kala.

Tetapi, pikir Esther, tatapan Margaret mengungkapkan sebaliknya. Wanita itu selalu menunjukkan kemarahannya terhadap Esther semenjak acara pertunangannya berbulan-bulan lalu. Menuduh Esther dengan tatapan tajamnya, seakan-akan Esther telah merebut sesuatu—lebih tepatnya, seseorang—miliknya. Karena alasan tersebut, Esther tidak pernah benar-benar berbincang dengan wanita itu. Bagaimana tidak—mulut merah Margaret seolah siap menumpahkan racun paling berbahaya.

Mungkin itu hanya ketakutan berlebihan Esther. Raphael kerap menceritakan memorinya bersama Margaret dalam cara-cara yang menyenangkan. Dari ceritanya, Margaret tampak sama sekali berbeda dari apa yang Esther kenal. Dari ceritanya, Margaret terdengar layaknya wanita baik dan pemberani dan memiliki humor cerdas. Sementara, di sisi lain, Esther berteman dengan putri bangsawan yang gemar membaca, pendiam, dan pemalu. Ia seratus delapan puluh derajat kebalikan dari kepribadian Esther. Tetapi, sungguh, tidak ada salahnya mencoba berteman dengan teman masa kecil suaminya, bukan?

Langkah Esther begitu pasti memutari lantai dansa. Ia berpapasan dengan beberapa tamu dan ribuan ucapan selamat sebelum mencapai Margaret. Wanita itu melipat tangannya di depan dada, garis gaunnya rendah sehingga dadanya tercetak sempurna. Salah satu kekurangan Esther dari sekian banyak ketidaksempurnaannya. Mustahil tiada pria yang menginginkan wanita itu. Margaret sempurna.

"Miss Crawford," sapa Esther menyadari Margaret tidak mengucap salamnya. Esther terbiasa menerima hormat dari sebagian besar populasi bangsawan di Reibeart sebagai putri dari sang Ratu. Disikapi dengan dingin bukan bagian dari rutinitasnya. Namun, Esther bukan pribadi angkuh dan Ibu selalu mengajarkan tidak ada salahnya menyapa orang-orang terlebih dahulu. Tidak ada salahnya menyapa terlebih dahulu dan—

"Tuan Putri, sungguh, jangan berharap terlalu tinggi." Tatapan margaret memindai ujung rambutnya hingga ke sudut-sudut jari kakinya. Berhenti lebih lama, lebih jengkel, pada jari manis tangan kirinya.

"Maaf, Miss Crawford?" Esther mengerjapkan matanya, tidak percaya. Namun, ia tidak mampu memutuskan mana yang lebih mengejutkannya. Lidah tajam Margaret atau sesuatu jauh di dalam dirinya. Seratus bilah pisau menggesek lapisan lubuk hatinya. Esther tidak tahu mengapa.

Margaret menghapus jarak mereka dua inci lebih dekat, lebih akrab. Namun, tidak ada kehangatan pada kata-katanya, "Aku sedang memberikanmu nasehat penting, Tuan Putri, karena kini kita akan menjadi tetangga dan aku harap—aku bisa menjadi teman baikmu—"

"Ya—" pandangan Esther menemui bola mata abu-abu Margaret. Tatapannya sarat dengan kekuatan yang memiliki intensitas berbahaya. Mengancam prinsip hidupnya. Mimpinya. Hubungannya bersama orang-orang tercinta. Dan sebelum Esther mampu membalas lebih lanjut, Margaret berbisik, menumpahkan racun yang selama ini Esther takutkan.

"Apa kau pikir Rafe akan selamanya menjadi milikmu?"

Itu pesannya. Racunnya.

Tentu saja. Ini adalah akhirnya yang bahagia. Tetapi bibirnya gentar oleh gemetar, seolah-olah Margaret telah memberikan pukulan kuat pada impian kecilnya. Mimpinya yang indah. Cerita cinta yang seharusnya membahagiakan. Raphael adalah pangeran berkuda putihnya. Pernikahan ini adalah akhirnya yang bahagia.

Seharusnya.

Dan, untuk berbulan-bulan setelahnya, Esther mampu merasakan racun itu lambat laun menggerogoti kebahagiaannya. []

Hai gais! Pembaca lamaku ataupun baruku HEHEH! Jangan lupa tinggalkan jejak dan komentar yah!  <3

Pastikan kalian memperlakukan Esther dengan baik yah :') Ceritanya adalah favoritku semenjak Katarina <3

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top