5 - Esther
5
Y232
Albatross, tanah jajahan Waisenburg—
Setelah terompet kemenangan dikumandangkan, Camilla bersama para tenaga medis Waisen serta para prajurit mereka yang terluka dipaksa berlayar oleh pasukan Dyre dengan kapal penjelajah milik kekaisaran. Perang berarti membunuh atau dibunuh, namun para tenaga medis adalah ranah yang tidak siapapun boleh sentuh. Itu adalah satu-satunya hal paling etis yang dapat terjadi di situasi biadab seperti perang. Namun, bagaimanapun, Waisenburg kalah bukan karena menyerah—sehingga, adalah keputusan pintar memaksa antek-antek kerajaan adidaya itu dari tanah Albatross.
Dengan tenaga medis yang tersisa, Esther buncah bolak-balik belarian dari satu sisi barak ke sisi lainnya merawat para prajurit. Ia beristirahat tidak lebih dari lima jam sehari dan kelelahan tampaknya timbul di permukaan wajahnya layaknya wabah, sebab pelayan pribadinya, Teresa, selalu mengingatkannya untuk duduk sejenak kala sempat. Sekujur punggungnya didera pegal serta letih, tungkainya lelah akibat merunduk terlalu lama. Tetapi, melihat senyum dan kilau harapan di manik para prajurit menghapus segala lelahnya. Dan itu, pikir Esther, adalah mengapa para dewa-dewi menciptakannya.
Esther tidak lupa mengunjungi Raphael. Esther akan menyeka keringatnya ketika peluh membasahi pelipisnya, mengganti kemejanya, bahkan mencukur anak rambutnya karena Raphael belum cukup sadar untuk merawat dirinya sendiri. Lukanya tidak lagi menganga, dadanya naik turun konstan, dan warna sudah kembali ke permukaan kulitnya. Hanya saja, kesadaran Raphael masih mengarungi lautan antah-berantah. Camilla meyakinkan Esther bahwa segalanya akan baik-baik saja. Raphael hanya sedang mencari jalan pulangnya.
Tetapi, melihat pria itu tidak sadarkan diri membuat Esther resah. Tangannya selalu menemukan tirai putih itu, menyibaknya setiap kali langkahnya tidak jauh dari bilik tersebut. Esther akan mengintip, memastika pria itu baik-baik saja dan tidak kepanasan atau tidak kehausan. Hatinya tidak bisa mengabaikan pria itu sekalipun benaknya kerap mengingatkan bahwa tindakannya akan membuatnya kesulitan melepaskan Raphael.
Oh. Tentu Esther akan mengakhiri hubungannya dengan Raphael. Itu adalah keputusan yang telah lama ia tetapkan ketika ia berupaya membangkitkan jiwa baru dalam dirinya. Keberanian baru, semangat baru. Mereka telah saling melukai dan akan terus melukai satu sama lain setelahnya. Esther tidak kuasa membayangkan betapa terlukanya Raphael saat mengetahui rahasia yang dikuburnya. Raphael selalu memimpikan masa depan yang penuh anak-anak, keluarga hangat yang serupa dengan tempatnya tumbuh dan berkembang. Sedangkan bersama Esther, Raphael tidak akan pernah menemukan keluarga.
Esther tidak bisa membiarkannya terluka mengetahuinya karena, kemudian, kekecewaan Raphael akan melukai dirinya lebih dalam. Nyaris kehilangan Raphael membuat Esther sadar bahwa ia masih mencintai pria itu. Ia pikir perasaan itu sudah lumpuh. Sebagai seseorang yang memahami kemauan hatinya, ia tahu hatinya mustahil berdusta. Ia tidak bisa membayangkan kehidupannya tanpa Raphael, namun ia juga tidak bisa membayangkan ketersiksaan Raphael harus menghabiskan seluruh hidupnya bersama Esther. Raphael baru saja selamat dari cengkeraman kematian—demi dewa-dewi, pria itu berhak mendapatkan masa depan yang ia inginkan.
Maka dari itu, menjalani kehidupan masing-masing adalah jalan terbaik bagi mereka. Setidaknya, kini, Esther menemukan tujuan baru selain cinta konyolnya. Kehidupan barunya yang jauh dari kata romantis, sekurang-kurangnya, tidak akan membuatnya terluka. Lagipula, ia masih memiliki seluruh anggota keluarga mendukungnya juga keponakan. Ia tidak akan kekurangan senyuman, meskipun ia tidak tahu apakah dapat menemukan kebahagiaannya kembali.
Siang itu, Esther sedang mengunjungi bilik Raphael kala ia mendengar suara familiar dari balik punggungnya.
"Esther?"
Memutar badannya, Esther tidak mengedipkan kelopak matanya barang sedikit pun, takut wanita itu lenyap dalam satu kedipan. Di hadapannya bukan lain adalah kakak perempuannya, Petra—sehat dan, di atas semuanya, bahagia. Sosok cantik kakaknya masih sama seperti yang membekas di ingatannya hampir tiga tahun lalu. Bentuk matanya seiras dengan milik Kania dan Ibu, dapat seketika melumpuhkan pria manapun yang menantangnya. Tetapi, Esther tidak mungkin mengabaikan kilau pada kedua manik biru kelabunya. Entah bagaimana, Petra tetap sama dan, dalam waktu yang bersamaan, menjadi sosok yang berbeda.
Tidak butuh sedetik bagi Esther untuk menghambur ke pelukannya. Ia amat merindukan kakaknya. Merindukan waktu di mana segenap keluarganya berkumpul, menghasilkan tawa demi tawa dan mendebatkan politik hingga hal-hal tidak penting. Waktu di mana tidak ada hati yang terluka, hanya ada kehangatan serta kebersamaan.
Esther merasakan tangan Petra menuruni kepalanya dengan kelambatan yang disengaja. "Apa kabar Daria? Aku dengar ia mendapat masalah karenaku. Kuharap ia baik-baik saja."
"Karenamu?" Esther memberikan jarak di antara mereka. Matanya menemui manik kakaknya yang sewarna dengan miliknya. "Daria selalu mendatangkan masalah bagi dirinya sendiri, Kak. Ia sendiri memutuskan menyelinap diam-diam ke kapal perang Reibeart untuk menemuimu. Kau harus tahu betapa ia menjadikan Ibu gila tanpa dirimu yang dapat mengendalikannya," ujar Esther. "Akhir bulan ini ia akan dibebaskan dari masa penahananya—" Lalu, Esther mendadak bergumam pelan, "seharusnya."
Sekarang, kecemasan menggeluti relung hatinya. Menyaksikan beberapa prajurit Waisenburg berubah gila dan menyerang Reibeart meragukan keyakinannya bahwa Daria baik-baik saja. Terutama, setelah Camilla mengungkapkan siapa dirinya, apa yang tengah terjadi di Reibeart—yang mana sesungguhnya, tidak masuk di akalnya—Esther berubah khawatir. Kekhawatiran itu tampaknya menular ke setiap kedut wajah kakaknya.
Daria selalu menjadi titik lembut hati kakaknya. Dan Petra tidak mudah melupakan utang budinya kepada orang lain, terutama setelah Daria membantunya melarikan diri. "Aku dengar dari Daria bahwa kau bersama seorang pria. Seorang Albatross."
"Apa?" Petra membelalakkan matanya. "Ia memberitahumu?"
"Lebih tepatnya, ia memberitahu seluruh anggota keluarga kita."
Petra menghela napasnya. "Aku bermaksud menjadikannya kejutan. Rhys berencana mengunjungi Reibeart ketika keadaan memungkinkan."
"Rhys, huh?" Esther mengangkat sebelah alisnya.
Kakaknya mengangguk, "Kalian bertemu tiga hari lalu—meskipun saat itu jelas bukan situasi yang tepat untuk saling berkenalan."
Tunggu. Tiga hari lalu? "Ah. Pria itu." Pria yang menyelamatkan Raphael. Esther rasa ia dapat menyukai kakak iparnya.
Ketika Esther mengembalikan pandangan kepada kakaknya, ia mendapati sorot mata Petra menerawang ke balik jendela. Esther membalikkan punggungnya, menemukan titik temu pandang kakaknya jatuh pada dua orang pria. Ia mengenali salah satunya sebagai Rhys. Pria itu membawa dirinya dengan percaya diri seakan-akan ia tidak sedang berdiri di samping pria yang menjulang sekitar tiga senti lebih tinggi dan menguarkan aura mematikan.
Pria pirang di sampingnya memiliki wajah kedewa-dewaan yang dimaksudkan untuk dihindari. Sesuatu mengenai permukaan mata kelabunya bersinar indah, memesona siapapun yang menatapnya. Namun, seseorang dengan kewarasan lebih akan berhati-hati untuk tidak mendekatinya, sebab di balik kolam perak itu adalah lubang tanpa dasar. Ia memandangi manusia dengan bosan, seakan tengah menonton sebuah sandiwara. Pria itu tampan. Terlalu tampan.
Lalu, seolah menyadari tatapannya, pria pirang itu membalas pandangan Esther. Kedua sudut bibirnya membentuk senyuman—tetapi, tidak ada kehangatan pada ulasannya. Esther jadi bertanya-tanya malapetaka macam apa yang mengubah orang sedemikian rupa. Bencana yang Esther alami cukup membuatnya gila dan ia kesulitan keluar dari pusaran kemalangannya itu. Tetapi, pria di hadapannya tampak tidak susah payah berusaha keluar dari pusaran tersebut. Berniat saja tidak. Ia menyukai kehancuran yang bergelung dalam dirinya, partikel demi partikel.
Esther mendongak, melihat raut resah kakaknya. "Ada apa?"
"Bukan masalah besar," ujar Petra. "Rhys kurang menyukai sepupunya."
"Pria Dyre itu sepupunya?" Esther mengerjapkan matanya.
"Oh, ya. Sepupu jauh. Ibu Rhys adalah kerabat ibu sang Pangeran." Petra memeluk Esther sebelum berkata, "Aku harus pergi. Rhys memerlukan aku untuk menghadapi sepupunya."
Esther menahan pergelangan tangan Petra. "Apa kau akan mampir nanti?"
"Tentu saja," ucap Petra. "Aku akan datang sore nanti. Kurasa Rhys akan sangat senang mengenalmu." Ibu jari Petra mengusap pipinya. "Kau tampak sangat lelah. Beristirahatlah, Esther." Lalu, sosok kakaknya hilang ditelan tirai putih.
Esther hendak pergi ketika ujung matanya menangkap gerak-gerik gelisah Raphael. Esther meraih kain bersih dan mulai menyeka peluh dari dahinya. Kemudian, pada sisi wajahnya di mana segaris luka membentang. Kian turun, menuruni dagu dan lehernya. Mendapati kemejanya basah oleh keringat, Esther tidak yakin Raphael mampu tidur tenang. Sehingga, Esther membuka koper yang prajuritnya serahkan semalam. Semua benda berharga milik Raphael dikemas di dalam tas tersebut mengingat tendanya digunakan sebagai tempat beristirahat prajurit yang terluka.
Tangan Esther meraih sehelai kemeja biru gelap. Esther selalu menyukai warna biru gelap pada Raphael. Warna itu mampu membuat matanya semakin bersinar dan menonjolkan ketampanan bak pangerannya. Tepat saat itu, secarik kertas jatuh ke lantai dari kompartemen atas koper tersebut. Esther merunduk, meraih kertas itu, mendapati ukiran tangan Raphael di baliknya. Tulisan rapi dan elegan yang Esther kenal.
Esther Tersayang,
Aku merindukanmu. Aku merindukan surat-suratmu. Kenapa kau tidak menulis untukku?
Seribu pisau seakan menyayat hatinya. Tarikan napas Esther berubah tajam dan ia tidak mampu mengelak dari gentar yang membuat bibirnya gemetar. Ingatannya menyeruak, sebagaimana ketakutan dan kesedihan membuatnya enggan menulis surat untuk Raphael. Bagaimana Esther terus menorehkan tinta pada kertas, namun tiada satupun surat yang berhasil ia kirim. Kesemua tulisannya berubah menjadi abu, sebab Esther terlampau takut Raphael menyadari cacat dalam dirinya. Raphael jelas kurang mencintainya dan Esther tidak dapat membuatnya semakin tidak mencintainya.
Tetapi, secarik kertas di tangannya merupakan bukti bahwa ketakutan Esther menjadi sumber ketersiksaan Raphael. Ia mengingat cerita-cerita Raphael di medan perang. Bagaimana pria itu memberanikan diri demi dirinya dan prajurit-prajuritnya kendati, sesungguhnya, dirinya selalu diliputi ketakutan amat mendalam. Saat tubuh-tubuh itu berjatuhan di hadapanku, aku jadi bertanya-tanya, ujar Raphael malam itu, apakah selanjutnya giliranku?
Esther tidak mengerti sebelumnya, terus mengalunkan ketenangan dan optimisme. Namun, sedikit ia ketahui, bahwa dunia yang Raphael hadapi adalah neraka. Selama tiga hari belakangan, Esther melihat berbagai macam manusia. Manusia yang kehilangan anggota tubuhnya. Manusia yang kehilangan segalanya. Manusia yang kehilangan harapannya. Manusia yang kehilangan kewarasannya. Di antara itu semua, Raphael berdiri seorang diri menjadi pria yang mampu memimpin prajurit-prajuritnya ketika, sesungguhnya, pria itu tidak siap kehilangan.
Sekarang Esther mengerti, bahwa alunan mutiara dari mulutnya itu tidak ubahnya harapan kosong. Tidak, pria itu tidak membutuhkan orang lain meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Raphael membutuhkan seseorang yang senantiasa menemaninya menempuh perjalanan panjang di medan perang. Raphael membutuhkan sesuatu yang dapat dijadikan pegangan, sebuah harapan di dunianya yang sering kali gelap gulita. Dunianya yang merenggut apapun, siapapun, dari hadapannya.
Raphael membutuhkannya. Surat-suratnya. Dan di saat pria itu membutuhkannya, Esther tidak berada di sisinya.
Teruslah menulis untukku. Demiku. Suratmu adalah satu-satunya harapan bagiku di antara kekacauan ini.
Tangis mengemukakan jejak pada pipinya. []
3 CHAPTER TUNTAS!!!
Jangan lupa tanggapan, kritik, dan sarannya gaes!
Tapi di atas semuanya, terus jaga kesehatan yah :)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top