3 - Esther

3

Sebelum tangannya sempat menyibak tirai putih, sosok pria Albatross itu memenuhi jarak pandang Esther. Kedua bahunya lebar dan kokoh, tampak janggal sekaligus tidak pada tempatnya, berdiri tegap di antara tubuh tak berdaya lawannya. Sorot matanya menemui biru kelabu manik Esther. Tatapannya hangat meskipun wajah dan sela kukunya kotor oleh cipratan darah. Sedangkan salah satu sudut bibirnya pecah, darah membasahi lembap permukaannya; sebuah bukti pertarungan. Setangguh apapun kekuatan pria itu tampilkan, ia tetap manusia. Manusia bisa saja terluka dan sangat mungkin meninggalkan dunia. Tidak terkecuali Raphael.

            Menyadari kerut resah pada dahi Esther, pria Albatross itu membuka mulutnya. "Aku harap dia baik-baik saja."

            "Ya—" napasnya tercekat. "Terima kasih," ucap Esther. Ia tidak lagi peduli siapa dia, Albatross atau bukan, musuhnya atau bukan. Tidak ada lagi yang membatasi hitam dengan putih. "Terima kasih untuk tidak membunuhnya."

Melenggang masuk ke balik tirai, Esther spontan menghirup udara dalam-dalam. Membendung kesiapnya, meneguhkan pilar-pilar kekuatannya. Tubuh Raphael terkapar di atas ranjang serba putih. Asisten Camilla melucuti lembar terluar seragamnya, menampakkan kemeja putihnya basah oleh darah. Cairan merah itu seakan tiada henti mengalir dan di setiap cucurannya, darah merembes keluar dari jantung Esther.

Lalu, entah bagaimana, Esther mendapati dirinya kembali pada tragedi dua tahun lalu. Dinding-dinding kamarnya menjadi saksi dari kemalangannya. Darah tidak berhenti mengalir dari antara selangkangannya, terasa lengket pada kedua telapak tangannya. Tangisnya, jeritannya. Lututnya melemah sementara jiwanya pergi perlahan melebur menjadi atom-atom sebelum akhirnya—hilang. Lenyap.

Dan bencana itu adalah tepat apa yang tengah ia rasakan, detik itu juga. Bencana yang menggulung perlahan ketika kemeja putih Raphael dirobek dari tubuhnya. Cincin nikah mereka yang ia kalungkan di lehernya kotor oleh darah. Luka yang tersembunyi dari balik seragam gelapnya, kini terpampang jelas. Kulitnya koyak, tikaman yang diterima Raphael dalam, jelas menyasar organ vitalnya. Meskipun tidak cukup jitu, namun hal itu tidak berarti bahwa luka tersebut tidak mengikis kesadaran Raphael, setitik demi setitik. Menuju kematian.

Esther bahkan tidak tahu, saat itu, dari mana ia mendapatkan seluruh kekuatan untuk berdiri di atas kedua tungkainya.  Memandangi wajah Raphael membiru dan bibirnya memucat. Dengan langkah tertatih, Esther mengambil tempat di samping ranjang. Kuasa tidak kasat mata mempertemukan tangannya dan tangan Raphael dalam satu genggaman. Ia merunduk, mendekatkan bibir pada alis Raphael.

Hangat timbul di pelupuk matanya dan Esther terkejut dirinya masih memiliki kemampuan untuk menangis. Ia pikir tangisnya sudah kering dan bersamaan dengan itu, hatinya mengeras. Ia pikir setelah kejadian berdarah itu, tidak ada lagi yang mampu membuatnya takut. Ia telah melalui malam-malam panjang, melawan bisikan yang nyaris membuatnya gila, dan ia berhasil menaklukan tremornya setiap melihat darah. Ia pikir rasa sakit itu akan menumpul. Namun, kehilangan tidak pernah mudah.

Tidak pernah.

Bibirnya bergetar saat membuka, menghela udara yang memadati paru-parunya. Esther kemudian menyadari dua luka baru pada wajahnya yang tidak ia kenal. Satu di dahinya sementara yang lain membentang dari dekat mulutnya dan berakhir di balik surai pirangnya. Anak rambut membayangi garis-garis rahangnya. Kerut dekat kedua matanya lebih dalam, lebih menyedihkan. Dua tahun telah mengubah Esther sebagaimana waktu itu mengubah Raphael. Ia tidak lagi tampak seperti pangeran dalam mimpi-mimpinya, tidak sempurna. Ia tampak manusia.

Setelah bertahun-tahun mengenal kematian sebagai teman baik, Esther tidak perlu meneliti wajah Raphael lebih jauh untuk tahu bahwa kesempatan yang dimiliki pria itu setipis helai rambut. Kenyataan itu menyakitinya. Pada akhirnya, semesta akan merebut segala hal darinya sampai-sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk direnggut.

"Dia tidak akan selamat." Itu bukan lagi pertanyaan. Sekadar kenyataan yang menanti diwujudkan.

Suara yang keluar dari mulut Camilla adalah aliran air tenang. "Aku masih dapat mendengar detak jantungnya meskipun samar," gumam Camilla. "Ia beruntung dapat bertahan hidup selama itu. Biar kulihat apa yang dapat aku lakukan."

            Sebelum Esther mampu membuka mulutnya, apa yang tampak seperti api biru membungkus kedua tangan Camilla.  Menyaksikannya membangunkan sesuatu di dalam diri Esther yang telah lama terlupakan. Ujung lidahnya berusaha membentuk kata-kata, tapi percuma. Darah di dalam pembuluhnya berdesir seakan dirinya mengenali kekuatan itu. Secara alamiah dirinya tertarik pada kekuatan magis tersebut. Berbagai bisik memenuhi wilayah yang tak tersentuh pada benaknya. Bisikan yang mendorongnya untuk membangkitkan kekuatan itu pada dirinya.

             Mata Esther mengikuti setiap gerak tangan Camilla. Kedua tangannya mengambang di atas tubuh Raphael dan selayaknya air, api biru itu tumpah membasahi lukanya. Atas komando Camilla, api itu bekerja secara ajaib, meresap ke dalam luka tikaman Raphael. Esther mampu melihat api itu menyatukan lapis demi lapis jaringan tubuh Raphael yang koyak. Darah berhenti mengalir dan kulitnya terjalin bersih nan sempurna. Tidak ada satu pun dokter atau penyembuh yang menyangka bahwa sebuah luka pernah menganga pada dadanya. Sebab, kekuatan supranatural itu tidak menyisakan keberadaan lukanya.

            Esther tidak yakin ia bernapas kala mendongakkan kepalanya menemui manik cokelat Camilla. "Bagaimana kau melakukannya?" Pertanyaannya itu hampir menyerupai bisikan.

            Alih-alih menjawabnya, tangan Camilla kembali mengambang tepat di atas dada kiri Raphael. Dengan satu gerakan tangannya, ia memberikan sentakan pada jantung pria itu, memacu organ penting itu berdetak. Rona dengan perlahan mulai mewarnai wajah tampannya, bibirnya, dan kulitnya. Raphael tampak hidup. Sangat, sangat hidup. Dan Esther tidak mampu mendeskripsikan perasaan yang membasuh lubuk hatinya. Namun, ia tahu bahwa detik itu, Esther tidak boleh membiarkan jiwa Raphael terselip dari jemarinya lagi. Sehingga, ia menggenggam tangan pria itu, lebar dan kasar, dengan seluruh kekuatannya.

            Esther mendaratkan sebuah kecupan ringan pada punggung tangan Raphael. Kini, tangis kembali membasahi sudut matanya, tetapi untuk alasan yang sama sekali berbeda. "Terima kasih," gumam Esther, entah kepada siapa. Mungkin kepada dunia yang masih memberikan ampun dan kesempatan terhadap pria di hadapannya. Lalu, sekali lagi, lebih jelas, menemui tatapan Camilla, "Terima kasih, Miss Camilla."

            Camilla menghela napasnya terlampau berat seolah ia baru saja mengarungi peperangan. Tetapi, kemudian, mereka memang berada di tengah medan perang. Ia menjulurkan sebelah tangannya kepada Esther. Tangannya yang sedari tadi terkepal sementara kekuatan itu memperbaiki kemustahilan. Di permukaan telapaknya tersampir sebuah batu sehitam onyx. Batu itu mempengaruhi Esther dalam cara-cara yang sama seperti kali pertamanya melihat kekuatan magis Camilla. Jantung Esther berderu seakan mendengar panggilannya.

            "Zahl," mulai Camilla. "Sebelum Perang Agung dua puluh enam tahun lalu, semua orang mengenal kekuatan itu sebagai Zahl."

            Zahl, Esther melafalkan istilah itu dalam hatinya. Zahl. Dan darahnya berdesir.

            "Batu ini adalah medium. Sumber kekuatan pengguna Zahl Penyembuh sepertiku—" Untuk sepersekian detik, Camilla berhenti untuk mencari sesuatu di kedalaman mata Esther. "—dan sepertimu."

            Bibir Esther membelah terbuka tidak percaya. "Aku?"

            "Ya, Tuan Putri, dirimu. Seorang pengguna Zahl akan mengenali pengguna Zahl lainnya. Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya, tetapi di suatu titik dalam hidupmu, kau pernah membangkitkan kekuatan tersembunyi itu." Camilla menyelipkan medium ke dalam saku jas putihnya.

"Dan entah bagaimana, kau mengubur kekuatan itu jauh di dalam dirimu. Ingatanmu bisa saja mengelabuimu, tetapi tubuhmu tidak," Dari tangan kanannya, api biru itu kembali bersinar terang layaknya pantulan bulan pada permukaan danau. "Putri Reyes."

            Bahu Esther berkedut, kesadarannya melonjak akan panggilan tersebut. "Siapa dirimu sesungguhnya, Miss Camilla?"

            Miss Camilla membusurkan kedua alisnya seakan tidak menduga pertanyaan tersebut. "Tergantung dari sisi mana kau hendak mengenalku. Di Cardinia, aku dikenal sebagai seorang pengkhianat. Pencemar sumpah suci Keluarga Mercier kepada Dewi Penciptaan. Di Waisenburg—aku dikenal sebagai salah satu anggota Dewan Kegelapan. Salah satu kepercayaan Lord. Kau lihat semua prajurit Waisen yang menggila di luar sana?"

            Esther tidak perlu melirik ke luar jendela demi mengetahui apa yang Camilla maksud. Kegilaan yang dimaksud membuat nyawa Raphael tergelincir dari tangannya. Prajurit-prajurit tanpa kehendak, hanya patuh kepada perintah, dan mengemban kekuatan yang sama seperti yang Camilla tunjukkan. Kekuatan yang juga mendekam di dalam diri Esther. Kepalanya mengangguk samar.

            "Itu hasil karyaku dan seorang dokter lainnya," ujar Camilla seakan tengah membicarakan hujan, matahari, langit, dan bintang. Detik ketika Esther menyangka bahwa perasaan sudah lama meninggalkan hati wanita dingin di hadapannya, mata cokelatnya banjir emosi. Camilla menanggalkan persona bajanya, meninggalkan seorang wanita bertubuh mungil dan pundak yang terlalu rapuh untuk menanggung beban dunia. Seorang wanita yang malang.

            Sama seperti dirinya.

            Camilla merunduk memperhatikan dengan saksama kedua tangannya sebelum ia mendongak, menatap Esther seakan ia adalah secercah harapan di dunianya yang kelam. "Tetapi, bukan berarti aku bangga dengan—dengan itu semua." Suaranya parau. Berbagai perasaan berkelebat di tiap katanya. "Aku membencinya. Aku membenci fakta bahwa aku begitu tidak berdaya, membiarkan mereka mengancam kesejahteraan orang-orang yang kucintai. Aku menjadi iblis demi melindungi mereka.

            "Dan Komandan Schiffer adalah satu-satunya orang yang mampu melihatku sebagai manusia. Bukan sekadar pecundang yang ditendang keluar oleh keluarganya. Bukan juga monster, iblis, atau pengkhianat."

            Esther memahami perkataan Camilla sebagaimana ia mengenal Raphael selama hidupnya. Raphael mampu melihat apa yang dilewatkan orang-orang. Ia melihat manusia dan menerawang jauh ke dalam diri mereka. Ia melihat Camilla sebagai manusia yang dapat terluka, dokter yang brilian, tetapi bukan iblis. Ia melihat Esther sebagai sosok luar biasa. Bukan wanita biasa-biasa saja, tetapi seorang wanita dengan sejuta warna.

            Esther mengerti.

            "Untuk itu, Tuan Putri, aku berutang budi kepadanya," bisik Camilla.

            Esther juga berutang budi. Cinta saja tidak pernah cukup. Esther harus mengusahakan kebahagiaan Raphael, namun hal tersebut sudah terlambat bagi dirinya. Kesempatan itu sudah hilang, pergi bersama bagian jiwanya yang melebur entah kemana. Bersama dirinya, Raphael tidak akan pernah bahagia. Tidak ada kebahagiaan yang selalu mereka impikan bersama. Esther sudah hancur sebelum Raphael sempat mengetahuinya.

            Andai saja. Andai Esther dapat memutar balik waktu. Andai saja—

            Putri Reyes. Panggilan itu bergema dalam benaknya.

            Andai saja. Mungkin saja. Luka Raphael sembuh secara magis. Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan itu—Esther menarik napasnya tajam, membuyarkan jalan pikirannya. Harapan itu bersinar di balik kelopak matanya, namun Esther sudah cukup muak bergantung pada apa yang tidak nyata. Lalu, entah bagaimana, benaknya tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan yang ada. Andai saja.

            "Pergilah ke Cardinia, Tuan Putri."

            Esther mendongakkan kepalanya satu detik terlalu cepat. "Cardinia?"

            "Untuk mengakhiri kegilaan ini, kau perlu mempelajari kekuatan di dalam dirimu. Cardinia menyimpan rahasia yang lebih kuno dari hidup yang kau kenal. Temui Horace. Katakan kepadanya bahwa aku mengirimmu."

            "Lalu, apa?"

            "Lalu, semuanya tergantung pada pilihanmu. Apakah kau akan membuat kesalahan yang sama sepertiku—atau sebaliknya," ujar Camilla. "Kau perlu tahu bahwa bagiku, semua sudah terlambat. Namun, tidak bagimu. Kau memiliki pilihan-pilihan dan—"

            Tepat saat itu, terompet kemenangan dibunyikan. Suaranya nyaring dan menghantarkan perayaan. Seluruh prajurit di dalam barak bersorak amat kencang, menembus langit-langit. Para perawat terisak menangis, saling berpelukan satu sama lainnya. Di luar barak, prajurit Dyre menyerukan kemenangan. Pejuang Albatross mengitari seseorang—pria yang menolong Raphael—sedang mengibarkan bendera hitam. Siluet burung kemerahan tergambar pada tengahnya. Burung kesayangan Dewa Perang, membentangkan sayap selebar-lebarnya. Albatross menang. Mereka berhasil merebut kembali tanah mereka. Hak-hak mereka. Kemerdekaan. Kebebasan.

            Namun, tampaknya, saat itu, tidak lagi penting pihak mana memenangkan peperangan. Perang telah usai. Penderitaan mereka berhenti sampai di sini. Mereka dapat pulang setelah bertahun-tahun merindukan rumah di kala malam. Kebahagiaan itu menular dari satu prajurit ke prajurit lainnya. Dari setiap nyawa yang bernapas detik itu, di sana.

            "Albatross memenangkan pertarungan," gumam Camilla.

            Esther tidak tahu apakah ia harus senang atau sedih. Pikirannya berkelana jauh, berandai-andai. Mungkin saja ia dapat mengembalikan sesuatu miliknya yang hilang.[]

Halo kakak-kakak pembacaku <3 aku pingin kasih tau kalau untuk berbagai hal, besok aku gak bisa upload lanjutan cerita Esther, namun sebagai gantinya aku akan upload 3 bab yah hari ini KHUSUS untuk kalian <3

Jangan lupa dukungan dan meninggalkan jejak di kolom komentar karena saya suka yang ramai-ramai, kalau perlu kita rusuh bareng-bareng WKWKWKWK

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top