27 - Esther

27

Pertarungan pecah dan alih-alih menyaksikan dari pinggir seperti yang selama ini ia lakukan, Esther berada di tengah disorganisasi tersebut. Kerumunan merah maju memberikan pukulan terlebih dahulu. Sementara pasukan di sisi lain ruangan segera membentuk dinding pertahanan dengan perisai serba emas khas Cardinia. Menyembunyikan kedua orangtuanya dari pandangan Esther. Membendung gelombang ledakan Zahl prajurit-prajurit Waisenburg yang menggila.

Tapi, tidak ada gading yang tak retak. Duke merangsek maju. Zahl menguasai larinya secepat kilat, mengukuhkan kekuatannya yang seakan-akan mampu menggerakkan gunung. Sepersekian detik selanjutnya, dikuasai merah sekujur tubuhnya, Duke meraih salah satu perisai, melempar lempengan logam itu ke luar jendela. Tangannya melakukan gerakan penuh presisi saat mencekik pemilik perisai, menikam jantungnya dalam waktu yang teramat singkat.

Tubuh itu tumbang ke atas karpet ruang takhta. Cucuran darahnya menandakan pembukaan dinding perisai itu. Neraka yang terbang bebas. Prajurit Waisen lainnya tidak menyia-nyiakan waktu, merembes masuk dari celah tersebut. Menyerang segala sisi pertahanan pasukan Cardinia.

Balthazar terbukti seorang komandan yang siap mengorbankan nyawanya demi Cardinia dan keselamatan dunia. Kendati dengan satu perisai di tangannya, ia tidak gentar menghalau satu demi satu prajurit Waisen. Merah pekat menyelimuti tubuhnya sembari ia menyerukan baik komando maupun perintah. Diterobos bukan berarti pasukan Cardinia tidak memberikan perlawanan. Tiap-tiap dari mereka melawan Zahl dengan Zahl, seperti yang diembuskan Dewi Penciptaan kepada para Ksatria Suci pertama. Hingga titik darah penghabisan.

Mereka melawan tebasan dengan perisai. Meraih pedang-pedang yang berjatuhan dari genggaman pasukan Waisen. Balas menyerang dalam kesempatan-kesempatan sempit. Duke dihadang tiga pria sekaligus; Jenderal Schiffer yang sudah mengincarnya, Castiel, serta seorang prajurit Cardinia. Sementara di sisi lain Balthazar menyapu satu demi satu prajurit berzirah merah. Tubuh-tubuh mulai bertumbangan. Lebih banyak putih. Namun, tidak jarang merah.

William tampak kehabisan kesabaran. "Aku akan membunuh si pirang itu," desisnya kepada diri sendiri. Esther tidak perlu bertanya siapa yang ia maksud, sebab pria itu sudah mendorong Esther ke tepi ruangan, menghampiri Baltahzar.

Punggung Esther keras menyentak kandil lilin. Selama beberapa detik, Esther mengalami disorientasi dan diperburuk dengan hantaman dari seorang prajurit Cardinia yang mendorong mundur Waisen. Esther berserah kepada gravitasi, jatuh terduduk di permukaan lantai. Kandil jatuh pelan menghantam kepalanya sebelum berguling ke atas pahanya.

Selagi meredakan nyeri di kepalanya, pandangan Esther mengarah pada pergumulan dua orang prajurit tidak jauh darinya. Prajurit berzirah putih itu melayangkan tinju berturut-turut. Setiap pukulannya keras dan Esther mengernyit tiap ia mendengar tulang belulang yang patah.

Esther baru saja hendak beranjak mencari tempat lebih aman ketika suara sobekan kulit yang familiar menusuk pendengarannya. Prajurit putih itu mendadak tumbang, menggelepar. Lawannya mendorong tubuh tidak bernyawa tersebut ke samping, menampakkan tancapan belati di perutnya. Meraih belati, prajurit merah itu memberikan tiga tikaman tepat ke dada kiri prajurit putih. Menghentikan segala gelepar dan napasnya.

Pemandangan di hadapannya tidak sama seperti ketika Esther menyaksikan perang dari pinggiran. Tubuhnya membeku, melambatkan dentaman jantungnya. Untuk sepersekian detik yang terasa bagaikan seabad, Esther tidak bergeming. Memandangi wajah berlumuran darah prajurit merah, hidung patah serta giginya yang tanggal. Ia menyeringai, menampakkan geligi yang basah oleh darah sembari tangannya mencabut belati dari tubuh tanpa nyawa itu.

            Kakinya pincang sebelah, tetapi tidak menghalangi perjalanannya menghampiri Esther. Ia memutar belati itu di antara jemarinya, sementara Esther beringsut semakin mundur dan mundur. Namun, dinding menghentikan pergerakannya. Tidak ada jalan keluar. Lagi-lagi tidak ada pilihan. Sejak kapan dunia begitu murah hati memberinya pilihan?

            Sebelum tangan berlumuran darah itu menarik pergelangan kakinya, Esther segera meraih kandil. Esther menghirup napas dalam-dalam, kemudian dengan seluruh tenaga dari lengan kurusnya, ia mengayunkan kandil ke kepala si prajurit. Satu. Dua. Tersentak, prajurit itu terhempas ke belakang. Belati tergelincir dari tangannya. Esther mengambil momentum itu untuk merangkak di atasnya, menghantam sekali lagi wajah berlumuran darah itu.

            Dikuasai insting bertahan hidup, Esther menggapai belati dan menikam dada kirinya tiga kali, persis sama seperti di ingatannya. Batuk prajurit itu menyemburkan darah, membasahi wajah Esther dengan aroma besinya. Menyadari ada satu tubuh prajurit lain yang oleh ke arahnya, Esther segera menarik belati dan bangkit, menepi ke sisi dinding. Menyelaraskan napas terengah-engahnya. Berkedip beberapa kali menjernihkan pandangannya yang kabur.

            Lalu Esther melihatnya. Ayah dan Ibu, diarahkan oleh segugus prajurit Reibeart ke sebuah pintu rahasia di balik bendera Cardinia. Jalan evakuasi dihadang para Waisen, namun para prajurit Reibeart seakan telah siap mati demi raja dan ratunya. Ibu menangkap kehadirannya, menjulurkan tangan ke hadapannya dan mulutnya membentuk seruan yang tidak mampu Esther dengar dari sekian banyak jeritan di sekelilingnya.

            Sehingga, Esther berlari menghampiri kedua orangtuanya. Sebisa mungkin menyatu dengan dinding. Ia melangkah tanpa henti sekalipun tersandung mayat. Genggaman pada belatinya semakin erat sementara langkahnya menipiskan tentang. Sedikit lagi. Esther memacu larinya lebih cepat. Ia tidak selincah kedua kakak perempuannya, namun, setidaknya, ia dapat mencoba.

            Dari sudut penglihatannya, Esther mendapati sang Raja menerobos pasukan Reibeart dengan rentetan tebasan. Esther memindai ke sekitar ruang takhta. Tidak ada lagi sosok Balthazar yang besar dan kuat mengisi ruangan. Tidak juga seruan komandonya yang menyentak simfoni formasi pasukan Cardinia. Hanya ada Castiel yang tampak setengah mati melawan Duke, telinga kirinya tidak lagi berada di tempat seharusnya.

Kesadaran itu menggigilkan jantungnya. Sang Raja berhasil membunuh Balthazar. Sang Raja tidak akan membiarkan kedua orangtuanya melarikan diri begitu saja. Target selanjutnya sang Raja adalah kedua orangtuanya. Dan Esther tidak akan membiarkan sang Raja melakukannya dengan mudah.

Sedikit lagi. Beberapa meter dan lautan manusia menuju kedua orangtuanya. Tetapi, lebih cepat dari kilat, sang Raja menghadang Ayah dan Ibu. Ayah, selalu mencintai Ibu segenap jiwanya, membawa Ibu ke balik punggungnya. Menjadi dinding di antara kebengisan sang Raja dan nyawa wanita yang paling dicintainya. Ayah mengacungkan pedang yang ia peroleh dari prajurit lawan, mulai melancarkan tebasan kepada sang Raja.

            Sang Raja, seperti yang dikisahkan pada surat-surat kabar, adalah petarung luar biasa. Mengelak dan menghindar seakan-akan ia mampu memprediksi tiap gerakan Ayah. Namun, Ayah sendiri adalah seorang petarung andal. Diselimuti Zahl merah sekujur tubuhnya, pedang Ayah selalu berhasil menemukan celah pembukaan di antara elakkan William. Esther nyaris bersorak girang ketika garis tebasan Ayah, akhirnya, akan menemui pembuluh di leher sang Raja.

            Dalam detik sengit, William mengangkat pedangnya sekali lagi. Bilah logam yang seharusnya mencucup lehernya, seketika hancur. Ibu meneriakkan nama Ayah berkali-kali, memperingatkannya. Ayah tersentak mundur, oleng akan keterkejutannya. Sementara sang Raja maju, langkahnya adalah milik seorang predator yang berhasil menyudutkan mangsanya. Esther tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Amat sangat tahu. Sebab kemalangan itu seolah mengungkapkan diri secara lambat di hadapanya.

            Esther melaju demi dirinya, demi orang-orang yang dicintainya, demi keluarganya, demi kerajaannya. Dengan belati di genggaman tangannya, Esther menancapkan ujung tajamnya pada pundak kanan William. Namun, ia tahu segala keterlambatannya kala Ibu menjerit, memekakkan telinganya.

            "ALEC!" Begitu histeris, begitu menyayat hati siapapun yang mengenal sosok teguh ibunya.

            Esther tidak lagi menghiraukan tangan William meraih belati yang ia tancapkan di pundaknya. Tidak juga memedulikan sang Raja berbalik menghadapnya. Atau ketika tiga prajurit Cardinia memukul sang Raja mundur.

Seluruh darahnya merembes keluar dari tiap pori-pori kulitnya memandangi—ayahnya, terkapar tidak berdaya dengan sabetan panjang nan dalam melintasi tubuhnya. Cairan merah itu dengan cepat membentuk kolam kematian di sekitar ayahnya. Sementara Ibu berlutut di samping kepala Ayah, komat-kamit mendengungkan kedamaian, keputusasaan, puja sembah kepada dewa manapun yang mendengar.

            Esther merangsek, berlutut di dekat Ayah. Tangannya gemetar saat mengeluarkan dua medium dari saku gaunnya. Hitam. Mediumnya masih sekelam malam. Sekelam masa depan yang menanti mereka. Tetapi, Esther tidak mungkin membiarkan Ayah—

            Ayah menggapai pergelangan tangannya. "Jangan. Apapun yang kau pikirkan, Esther—jangan."

            Tangis membanjiri raut wajah Ibu. Suaranya sarat pilu saat berkata, "Esther, kau bisa menyerap seluruh energiku—"

            "Jangan." Esther tidak tahu bagaimana Ayah mampu memperoleh seluruh kekuatan itu untuk berbicara. Luka di tubuh Ayah bagai jaminan kematian. "Thalia—kau telah berjanji kepadaku."

            "Tidak. Tidak. Tidak, Alec." Ibu mengais sesuatu, tetapi apapun upayanya hanya berbuah percuma. "Tidak. Kita bisa membawamu balik ke Reibeart atau menunggu hingga medium Esther—"

            Kalimat Ibu dipotong tiga lemparan meriam tiba-tiba ke ruang takhta, menggemparkan pilar-pilar ruangan. Atap bergemuruh oleh ledakan. Semakin banyak prajurit Waisen tumpah ruah dari pintu masuk, membawa obor yang nyala oleh api.

            "PERGI! SEGERA PERGI! MEREKA AKAN MEMBAKAR TEMPAT INI!" Seru seseorang, namun Esther tidak yakin siapa.

            "Aku hanya akan..." Darah meluap dari antara bibirnya, "...membuat kalian terbunuh." Ayah menggapai wajah Esther dan Ibu. Anugerah paling indahnya. Tangis menuruni pipi Esther.

            Ibunya menggeleng. "Tidak. Tidak—"

            Seruan Jenderal Schiffer menggelegar. "Thalia! Kita harus segera pergi. Mereka membakar—" Langkahnya berhenti mendadak di hadapan Ayah yang terkapar tidak berdaya. Raut wajahnya penuh keterkejutan, tetapi sang Jenderal tahu di mana prioritasnya berada. Ayah memberikan satu anggukan sarat pengertian kepadanya dan, seketika, sang Jenderal mengerti. Mengerti.

            "Kita harus segera pergi," suaranya parau oleh pelbagai perasaan, namun di atas semuanya, kewajiban. Ibu adalah kunci kepemimpinan Reibeart. Ibu adalah pemimpin yang sah, sementara Ayah—

            Ibu berteriak, kakinya menendang udara membabi buta saat sang Jenderal menggaet lengan Ibu menuju keselamatan. "TIDAKTIDAKTIDAK! ALEC!"

            Esther masih belum beranjak sekalipun api dengan cepat menyebar ke seisi ruangan. Ia menggenggam telapak lebar Ayah. Tangan yang mengisi hidupnya dengan kehangatan, usapan, pelukan, dan rasa sayang tiada kira. Tapi, Ayah tersenyum. Senyum yang selalu disunggingkannya ketika ia merasa bangga kepada anak-anaknya. Esther menggelengkan kepalanya. Tangis tidak berhenti menuruni pipinya. Sebuah bentuk luapan perasaannya. Ketidakberdayaannya. Mengapa, mengapa, mengapa—

            Kemalangan seakan tidak berhenti menimpanya seperti aliran deras air terjun. William, berlumuran darah serta murka, menebas satu per satu lapisan pasukan Reibeart yang mengelilingi mereka. Salah seorang prajurit kasar menarik lengannya menjauh dari tubuh Ayah. Sejurus kemudian, Esther mendapati pedang Sang Malaikat berkelebat, hitam dan merah, menikam jantung prajurit di sisinya. Tubuh tidak bernyawa itu seketika tergelincir ke atas permukaan lantai. Dan Esther tahu pasti ke mana garis tebasan selajutnya menuju. Batang leher Esther.

            Esther pernah memikirkan segala kemungkinan kematiannya. Ia pernah membayangkan menenggelamkan dirinya, hingga air danau mengisi kekosongan di paru-parunya. Ia juga pernah membayangkan terjun dari lantai kamarnya, membiarkan langit menjadi saksi dari jatuh dan kemalangannya. Ia juga pernah berniat menggantung dirinya sendiri dengan tali menganggur yang ia temukan di istal kuda.

            Tetapi, ia tidak pernah menyangka, kematian akan datang dengan satu sabetan bersih di lehernya. Ia tidak menyangka bahwa kematian akan semudah itu. Datang bergelung secara perlahan, namun takhtanya pasti dan absolut. Di bawah pengampunan pedang Sang Malaikat. Sehingga, Esther memejamkan matanya, menyambut tebasan itu.

            Hangat darah menciprat wajahnya. Menghantarkan seribu keterkejutan ke sekujur syarafnya. Esther membuka mata dan mendapati Raphael menebas habis tangan kanan sang Raja. Pedang terkutuk itu tergelincir ke permukaan lantai bersamaan tangan yang menggenggamnya. Ekspresi sang Raja tidak terbaca. Ia tidak mengantisipasi serangan mendadak tersebut, tetapi juga tidak lagi kuasa merasakan sakit. Ataupun, kehilangan.

            Detak jantungnya membeku untuk beberapa saat yang terasa layaknya seabad, memandangi darah mengucur deras dari lengan sang Raja. Sebelum akhirnya kesadaran menyentak, Esther segera beringsut meraih pedang hanya untuk menemukan Duke, anjing sang Raja yang paling setia melesat. Mengamankan pedang Sang Malaikat. Untuk sepersekian detik, jurang dalam mata Duke berjumpa dengan miliknya. Tidak ada kemanusiaan di balik permukaannya. Hanya ada kegelapan yang semakin pekat, kian dalam ia menyelam.

            Kontak singkat itu putus oleh ambruknya langit-langit ruangan di antara mereka. Jika bukan karena Raphael, Esther tidak yakin ia mampu selamat dari tragedi itu. Tatapan Esther masih terpatri pada sosok sang Raja tidak bergeming. Api membakar lantai di sekelilingnya. Pembantaian terjadi di sekitarnya. Zahl menjadi minyak yang memantik kekacauan. Raut wajah sang Raja tetap tak terbaca. Rahangnya kaku akan kelu.

Baru beberapa saat ketika Raphael membawa Esther berderap menuruni tangga, auman murka sang Raja menggelegar seisi Cardinia, menghantarkan kehancuran.  []

:') Sedihnya, sebentar lagi cerita Esther bakal selesai juga :')

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top