26 - Raphael / Esther
26
Raphael mengibaskan tangannya sembari menuju tempat di mana Esther berada. Buku-buku jarinya merah dan membengkak. Darah mengucur dari pundak kirinya, sakit itu menjadikan sekujur lengannya kebas. Sabetan Myles tidak cukup dalam. Mantan kapten pasukannya itu sudah setengah oleng kala mengayunkan pedangnya. Raphael mungkin saja diantarnya ke hadirat Dewi Kematian jika ia tidak melayangkan tinju jitunya tepat ke ulu hati Myles. Lalu, melakukan tikaman terakhir ke jantungnya.
Raphael memastikan, tidak seperti Myles, bahwa ia tidak salah tikam. Tancapan bilah itu menembus berlapis pakaian serta jaringan kulitnya. Darah hangat membasahi tangannya dan dengan itu, Raphael tahu ia telah melakukan yang seharusnya sudah ia lakukan, berbulan-bulan lalu. Pengkhianatan bukan perkara sepele. Terlebih lagi ketika pengkhianatan itu dilakukan oleh salah satu prajurit kepercayaannya. Raphael bersedia mengorbankan nyawa demi pasukannya dan jelas bukan timbal balik seperti itu yang ia harapkan.
Langkahnya sedang menghampiri tikungan di ujung koridor kala membaui darah menggantung di udara. Masih menggenggam pedang di tangan kanannya, Raphael mulai berjalan satu tempo lebih lambat. Meski demikian, jantungnya memacu kencang bersama pemikiran yang keluar masuk tidak menentu. Ada pembantaian di depan, Raphael tahu dengan sekujur bulu kuduknya. Tidak ada jalan selain melalui pembantaian tersebut. Bila suatu hal terjadi kepada Esther—Raphael tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Sejurus kemudian, pandangannya menemui sepasang manik kelabu besar. Seorang bocah laki-laki berperawakan lima atau enam tahun. Pakaian serba putih emasnya mengindikasikan bahwa ia seorang yatim piatu yang dibesarkan Cardinia. Darah mengotori wajah, tubuh, dan ujung-ujung rambutnya.
Mata bocah itu perlahan turun ke bilah pedang yang dipegangnya. Wajahnya seketika memucat, seluruh darahnya merembes keluar. Tubuh kecilnya gemetar dahsyat seolah-olah ia sedang menyaksikan kiamat itu sendiri. Apapun yang telah dilalui bocah itu pasti bukan hal baik.
Raphael menyingkirkan pedang dari hadapannya. Bertumpu pada kedua lututnya, Raphael berkata lirih, "Semua baik-baik saja. Aku tidak akan menyakitimu." Lalu, ia menimpali dengan pertanyaan, "Apa kau mengenal Tuan Putri?" Tidak ada tuan putri lainnya di Cardinia kecuali Esther.
Bocah itu mengangguk samar, terlalu terguncang untuk berbicara.
"Apa kau tahu ke mana dia pergi?"
Jeda panjang menyesakkan dada Raphael. Namun, pada akhirnya, bocah itu mengangguk.
"Bantu aku menyelamatkannya," mohon Raphael. Suaranya pecah akan kecamuk perasaan di relung dadanya.
***
Pria itu mencengkeram lengannya tanpa perlu berusaha. Cengkeramannya bagai belenggu yang Esther secara sukarela kenakan, bukan atas dasar paksaan. Tidak ada pilihan lain bagi Esther apabila ia ingin hidup. Begitu Esther mengacungkan belati, pria itu seketika menyambar logam tajam tersebut, membuangnya ke sudut yang tidak tergapai. Dengan seluruh kemampuannya, Esther tidak akan kuasa melawannya. Terutama saat pandangannya menangkap kobaran aura merah gelap di sekitar tubuhnya. Zahl Ofensif.
Ia menyeret Esther melalui pelbagai koridor dan lorong yang di tiap dindingnya Esther menemukan bercak-bercak darah. Tubuh-tubuh prajurit Cardinia yang tidak lagi bernyawa. Esther tidak terkejut jika pria di hadapannya adalah dalang dari kematian yang berjajar di kastil. Ia tidak seperti pejuang ataupun petarung yang dikenal Esther. Ia selayaknya mesin. Tidak berperasaan dan dingin.
"Kau tidak seharusnya di sini," bisik Esther kala pria itu berdiri diam di hadapan sebuah pintu. Esther tahu ke mana pintu itu mengarah. Ruang takhta kerajaan. Berbelas-belas prajurit sudah tumbang baik di sisi kanan maupun kiri pintu.
Ucapan Esther, tampaknya menarik perhatian pria itu, "Di mana seharusnya aku berada?"
Dyre. Esther tahu dari Petra bahwa Rhys berjanji untuk membantu Sang Pangeran merebut takhta ayahnya. Janji yang sesungguhnya enggan digenapkan Rhys. Namun, janji bagaimanapun adalah janji.
Esther tiada kunjung menumpahkan jawaban dari lidahnya. Apabila pria itu kehilangan kesabarannya, alih-alih menunjukkannya, pria itu menendang pintu takhta. Di dalam ruangan adalah lautan seragam merah emas. Warna kebanggaan Kerajaan Waisenburg. Tetapi, bagi Esther saat itu, warna tersebut tidak lebih dari sekadar penentu akhir hidupnya.
Esther juga menyadari Zahl yang terasa asing menguar dari masing-masing tubuh prajurit. Zahl yang persis seperti miliknya, namun menyentuh kesadarannya dalam cara sama sekali berbeda. Seperti dua anak yang terlahir dari dua rahim berbeda. Zahl mereka tidak memiliki kemurnian yang Esther kenal.
Pria itu membawanya menembus kerumunan bagai tengah membelah samudera. Satu demi satu prajurit menggeser badan, membentuk jalan bagi langkah mereka. Esther mampu menangkap sosok di ujung jalan. Sosok tinggi, perkasa, dan gagah. Sosok yang mengisi masa kanak-kanaknya dengan renda khas kerajaannya. Buku-buku bersampul keras edisi terbatas. Hadiah-hadiah yang mengucur deras. Dulu, Esther menganggapnya selayaknya keluarga. Seorang paman.
Tidak lagi.
"ESTHER!" Ibu memekik di sisi lain ruangan dekat singgasana. Raut wajahnya adalah milik seekor induk yang kehilangan anaknya. Ayah sama histerisnya, namun dengan luapan amarah luar biasa kentara. Seakan-akan ia mampu menelan dunia.
Esther mendapati pasukan elit Cardinia berjajar di belakang kedua orangtuanya—gugusan pengguna Zahl berdarah Mercier—dipimpin sendiri oleh Balthazar dan putra tunggalnya, Castiel. Sementara pasukan berseragam biru perak berdiri tidak jauh, dikepalai pahlawan Reibeart, Jenderal Tristan Schiffer.
Pandangan William Wahrforce Waisenburg jatuh perlahan ke wajahnya. Tatapan yang mengisi memori Esther dengan kehangatan, kini dingin. Ia berkata, "Apa kau menemukan di mana Kunci berada, Duke?"
"Tidak, my Lord," ia berujar lirih. "Seperti dugaan kita, mereka sudah terlebih dahulu menganstisipasi gerakan kita."
"Bukan masalah," balas William. "Mereka pasti memindahkan Kunci ke tempat yang sudah kita duga pula."
Ayah menggeram, "Jangan berani kau menyakitinya." Sebuah ancaman. Ultimatum. Penanda perang.
William melingkarkan sebelah lengannya di seputar pundak Esther. Tangan bebasnya meraih pedang. Menekankan bilah hitam itu pada pipi Esther. Namun, bukan rasa takut yang merayap ke sekujur tubuhnya melainkan familiaritas. Kendati sekelebat, Esther mengenali pedang di genggaman William. Corak ukiran yang mustahil Esther salah terka. Pedang Sang Malaikat sebagaimana tergambarkan pada mural di salah satu dinding kastil Cardinia.
Asal muasal kejatuhan Lourdes, salah satu kesatria dari enam Ksatria Suci pertama. Pedang itu bukan mitos. Pedang itu akan membawakan kehancuran melebihi benda pusaka. Dan pedang itu berbisik langsung ke benak Esther.
Pintar.
Esther seketika dikuasai gigil.
Wajah Ibu sama pucatnya seperti Esther. Ia menggeleng, "Dua puluh enam tahun lalu, kau berjanji untuk menyimpan pedang itu, William."
"Oh. Aku menyimpannya," William menyunggingkan senyum miring, "dengan baik."
"Pedang itu hanya membawa kehancuran. Tidak akan pernah ada yang namanya perdamaian jika manusia terus tergoda oleh pedang tersebut. Lourdes—"
Lidah William tangkas memotong kalimat Ibu. "Jangan sampai aku mengayunkan pedang ini, Thalia. Kau tahu apa yang akan terjadi." Ia mengeratkan bilah tajam itu ke pipi Esther. Pedih mengiris pipinya, memberi jalan bagi darah menetesi hem gaunnya. Ini tidak seberapa. Ini tidak seberapa, batin Esther kepada dirinya sendiri.
Tetapi, bagi Ayah, darah itu adalah segalanya. Di mata Ayah, Esther selamanya adalah putri tercintanya. Ayah merangsek maju, nyaris melompat jika bukan karena gerakan tangkas Balthazar menyelamatkannya dari jebakan kematian.
"Tahan, Reyes. Tahan." Cengkeraman Balthazar kuat pada kedua bahu kokoh Ayah.
"Aku akan membunuhmu," desis Ayah dari celah giginya. Urat lehernya menonjol akan amarah. "Tidak ada yang selamat menyakiti anakku."
"Bagaimana kau coba rebut pedang ini dariku?" William mengedikkan bahunya. Lalu, menambahkan, menunjukkan secara spesifik, kepada siapa pertanyaan itu ia tujukan. "Thalia?"
Duke yang berdiri di samping Esther, berbisik kepada pasukan merah emas di balik punggungnya. "Bersiaplah."
Dari tegang genggaman William pada gagang pedang, Esther mempelajari bahwa bagi sang Raja, Ibu adalah ancaman terbesarnya. Esther tahu dari Horace, bakat luar biasanya diturunkan dari ibunya sendiri. Ibumu adalah pahlawan Perang Agung dua puluh enam tahun lalu yang memilih namanya dihapus dari sejarah, suara Horace bergema. Kekuatan Zahl yang dimilikinya melebihi bayangan siapapun, mampu mengendalikan pasukan kegelapan dengan jentikan jarinya. Ia adalah kunci kekalahan pemimpin kegelapan kala itu. Ancaman bagi kegelapan manapun yang kelak datang.
Ibu membentangkan kedua tangannya. Desir darah Esther mendadak cepat. Simfoni bisikan kuno memadati benaknya, mengingatkannya pada saat-saat di mana ia berusaha memanggil kekuatan dalam dirinya. Ibu sedang memanggil kekuatannya. Dan Esther mampu merasakannya, kekuatan yang luar biasa besar. Membasuhnya dengan gelombang demi gelombang yang menggetarkan jiwanya. Kekuatan yang melebihi bayangan siapapun.
Kelontang pedang diangkat mulai bersahutan dari dua sisi prajurit yang berlawanan. Ayah tidak kalah sigap, mengacungkan pedangnya. Tatapannya membawa seluruh neraka pada permukaannya. Mencairkan biru kelabu yang menyerupai miliknya. Balthazar bersiap, perisai besar di tangannya tampak mustahil ditembus. Tristan Schiffer mematok perhatiannya pada Duke—incaran utamanya. Dan Duke membalas perhatian sang Jenderal sama besarnya.
Darah Esther berdesir kian cepat dan semakin cepat. Angin tidak kasat mata berputar membentuk bencana yang akan terjadi. Badai peperangan. Pertarungan. Jantung Esther berpacu kencang, kehidupannya seakan berada di ujung tombak.
Lalu, seketika hening. Tidak ada ledakan kekuatan yang dahsyat. Tidak juga dentuman kecilnya. Tidak juga—
Ibu tersungkur di atas kedua lututnya. Suara jatuhnya terdengar putus asa. Tak ubahnya kekalahan di telinga Esther. Tangannya gemetar beserta dengan kesadaran yang perlahan melilit masuk. Lidah Ibu kelu seribu bahasa. Mata keemasannya membeliak, nanar memandangi kedua telapak tangannya. Seakan-akan ia telah kehilangan sesuatu mengenai jati dirinya. Siapa dirinya.
Selama dua puluh dua tahun hidupnya, Esther tidak pernah menyaksikan Ibu sedemikian rapuhnya. Thalia Ersa of Seymour adalah ratu yang tegar jika bukan kuat. Ibu selalu mempertahankan wibawanya, disegani penduduk di seluruh pelosok Reibeart. Ibunya tidak pernah tampak lemah, tidak juga tampak tidak berdaya. Kualitas yang diturunkan kepada kelima anaknya.
Dan detik itu hanya satu yang terpikirkan oleh Esther. Memecahkan keheningan. "Ibu!" Ibu membutuhkannya. Esther tahu apa rasanya kehilangan sesuatu yang menjadi segalanya bagi seseorang. Perih.
Beku yang merasuki ruangan perlahan cair. Perut William bergetar. "Hah." Ia tertawa. Sejadi-jadinya, membahana hingga ke sudut-sudut ruang takhta yang tidak terjamah. Menggenapkan bangkitnya kegelapan dalam dirinya. Bagai menyaksikan lelucon kali pertama dalam hidupnya. Tertawa—kemudian, hanya ada diam.
"Selama ini," William menggelengkan kepalanya, "aku takut akan kekuatan yang tidak pernah ada. Sejak kapan kau tidak menyadari Zahlmu hilang, Thalia?" William berdecak. "Kalau begitu," ucapnya dari sela-sela senyum miringnya, "sekarang giliranku."
Ketika Esther kira pedang itu akan menebas lehernya, William mengayunkannya ke udara. Bilah itu mencakar langit, membawa dendamnya kepada siapapun di sana. Kelam, sekalipun cahaya mentari menyinarinya. Seakan-akan melenyapkan segala terang yang ada.
Baru kemudian Esther menyadari bilah demi bilah tajam di dalam ruangan itu menyerpih jadi partikel debu kehitaman. Pedang yang digenggam setiap jiwa di ruangan itu musnah. Hanya dengan satu ayunan pedang Sang Malaikat. Kehancuran. Ini adalah kehancuran yang sesungguhnya. Kekuatan terkutuk yang diemban bilah hitam di tangan William. Meniadakan senjata macam apapun dalam pandangannya. Tidak ada yang mampu melawannya.
"Nah," William menurunkan pedangnya. Puas tercetak pada wajahnya. "Sekarang, mari kita bertarung." []
Sampai di sini gaess!!!!
Sekali lagi bener-bener aku minta maaf yang sedalam dalamnya karena baru bisa upload di hari minggu jam segini pulak :(
Maaf aku jadi nggak konsisten upload, apalagi bales komentar kalian :( kehidupan orang dewasa di dunia nyata itu sibuk sekali yah ternyata huhuhu gak siap dewasaaa
Semoga kalian menikmati cerita ini dan jangan lupakan dukungannya <3
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top