22 - Esther

22

Esther menghabiskan beberapa hari setelahnya mengusahakan berbagai cara menyelinap ke perpustakaan kastil yang dijaga ketat. Cardinia disebut sebagai kerajaan tertua bukan tanpa alasan. Beberapa orang percaya bahwa Cardinia adalah peradaban yang diciptakan Dewi Penciptaan pertama kali. Penduduk di Cardinia menjaga tradisi kuno mereka dengan mencatat dan menulis. Sehingga catatan atas beribu-ribu tahun sejarah tersimpan rapi pada deretan rak yang menjulang tinggi.

            Esther jadi iri terhadap Daria yang terbiasa menyelinap ke manapun sesuka hatinya tanpa terdeteksi. Tidak seperti kakaknya yang berjiwa petualang dan banyak akal, Esther tidak lebih dari seorang pengecut. Setiap kali mendengar entakan kaki bergema mendekati rak tempatnya bersembunyi, Esther akan lekas-lekas mengembalikan buku ke tempat semula. Alhasil, Esther hanya mampu menangkap seberkas demi seberkas catatan mengenai Zahl.

            Zahl adalah kekuatan yang dianugerahi Dewa Pengetahuan untuk meningkatkan peradaban manusia. Tutup. Ada tiga macam Zahl, ofensif, penyembuhan, dan penciptaan. Hanya mereka dengan jiwa berapi-api diberkati dengan Zahl Ofensif. Hanya mereka dengan hati lembut diberkati dengan Zahl Penyembuhan. Hanya mereka dengan pemikiran tak biasa diberkati dengan Zahl Penciptaan. Tutup. Setiap manusia memiliki Zahl dalam dirinya, tetapi mereka dengan darah Ksatria Suci mengemban potensi yang mampu menghancurkan atau melindungi dunia. Tutup.

            Demi dewa-dewi. Esther begitu putus asa, namun ia tidak cukup berdaya. Setiap malam ia sulit mengantuk dengan ribuan pertanyaan di benaknya, bergerak gelisah di atas ranjang sampai-sampai Raphael pernah sekali terbangun. Sehingga, hari itu ia kembali mendapati dirinya sendiri menyusuri koridor taman belakang kastil menuju perpustakaan membawa tas perkakas kedokterannya. Alasannya kali ini adalah melakukan pemeriksaan kesehatan gratis kepada anak yatim piatu dan—

            "Aku dengar para Reyes pantang menyerah. Tapi, aku tidak menyangka mereka sekeras kepala ini."

            Langkah Esther mendadak berhenti. Horace berdiri di hadapannya, menghadang perjalanannya. Jubah putih keemasannya adalah kesempurnaan, menutupi seluruh tungkai tubuhnya. Kedua tangannya bersedekap di depan dada dan ekspresi yang ditampakkan wajahnya adalah raut wajah seorang ayah yang menangkap basah ulah anaknya. Kacamatanya bertengger di ujung hidungnya, mata hijau itu meneliti keresahan Esther.

            "Father."

            "Tuan Putri." Ia merundukkan kepalanya.

            "Kau tidak akan mengerti. Hidupku bergantung kepada pengetahuan itu. Aku telah melalui banyak hal, bahkan perang dan kekuatan itu dapat membantuku—"

            Horace mengedikkan kepalanya ke arah taman. Kumpulan anak-anak yang berlari serta cucuran air mancur. "Jalanlah bersamaku, Tuan Putri."

            Mulanya Esther ragu, namun kemudian ia mengeratkan genggaman pada tasnya dan mereka mulai berjalan beriringan. Ketukan langkah Horace mencerminkan usianya yang tidak lagi muda. Semangat yang menggebu-gebu dan pemikiran revolusioner bukan apa yang memercikkan kehidupannya. Namun, lebih karena keinginan untuk menikmati sisa detak detik hidupnya yang tidak lagi panjang. Kendati Horace tidak mengemukakan alasannya, Esther sedikitnya mengerti mengapa pria itu enggan mengajarinya.

            "Bagaimana kau mengenal Camilla?" Horace memecahkan hening di antara mereka.

            Esther mengingat darah yang merembes dari pakaian Raphael. Jiwa pria yang dicintainya di ambang kematian. Wajah pucat pria itu mengindikasikan harapan yang runtuh. Semua ketakutan terbesar Esther bisa saja terwujud apabila Camilla tidak di sana, tepat saat itu, dengan intensi menyelamatkan pria tercintanya.

            "Aku berutang budi kepadanya. Ia menyelamatkan suamiku di perang Albatross beberapa bulan lalu," ujar Esther. Ia tidak merasa harus menutupi suatu hal pun.

            "Komandan Schiffer." Horace mengangguk. Mustahil pria itu tidak mengenali suaminya. Esther dan Raphael dikenalkan pada hari pertama kedatangan mereka.

            "Kau tahu," Horace kembali berkata kala Esther membuka mulutnya, "nama itu adalah aib terbesar keluarga kami."

            "Anda kerabatnya." Esther tidak terkejut. Kemiripan di antara Horace dan Camilla begitu nyata nan jelas. Selayaknya Esther dan keempat saudaranya. Sebuah keluarga.

            "Adik laki-lakinya," koreksi Horace. "Nicholas adalah cucunya. Kedua orangtua bocah itu meninggal karena keegoisan Camilla dan keluarga kami harus menanggung malu atas dosa-dosanya."

            Suara Camilla bergema dari ingatannya. Kau perlu tahu bahwa bagiku semua sudah terlambat, namun tidak bagimu. Kau memiliki pilihan-pilihan. Pilihan-pilihan. Sekelebat rasa memedihkan hati Esther. Camilla tidak memiliki pilihan dan ia mengorbankan keluarganya. Untuk apa, Esther tidak yakin. Tetapi, satu hal yang pasti adalah bahwasanya mereka tidak jauh berbeda. Esther memilih dan mengorbankan pilihan lainnya demi kemungkinan masa depan yang lebih baik. Pilihan mereka tidak akan selalu tepat. Tidak akan selalu sempurna. Namun, itu adalah keindahan dalam memilih.

            "Beberapa orang, Father," Esther berkata, demi dirinya sendiri, "tidak memiliki kesempatan selain memilih."

            Horace menghentikan langkahnya. Esther mengikuti titik temu pandangnya yang jatuh pada sekumpulan anak yang tengah bermain. Salah satu di antaranya adalah pemilik sepasang manik kelabu yang Esther kenal. Nicholas. Esther tidak mampu membendung rasa iba yang merebak dalam dirinya, memikirkan sebagaimana kesepian anak itu kehilangan orangtua di usianya yang belia. Kehilangan bukan hal mudah, terutama untuk seseorang semuda Nicholas.

            "Kuharap kau benar." Horace menghela napasnya.

            Esther mengingat kegilaan yang terjadi di medan perang. Prajurit-prajurit Waisenburg tanap kehendak serta Zahl yang tidak seharusnya mereka miliki. Masih tidak terpikirkan di benak Esther betapa dahsyat kekuatan yang diemban Camilla. Bagaimana wanita itu terpaksa menggunakan kekuatannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan prinsipnya. Membunuh orang-orang, alih-alih menyelamatkan mereka. Nada sendu yang keluar dari bibirnya kala berkata, kau memiliki pilihan-pilihan.

"Ia masih menyesalinya hingga titik ini," ujar Esther lirih. "Mencari-cari cara untuk menebus kesalahannya." 

"Kau lihat itu?" Kalimat Horace mengindikasikan pada tiga sosok di kejauhan, berjalan cepat ke salah satu bilik kastil sembari membicarakan hal tampak penting nan genting.

Ayah, Ibu, dan kepala keluarga Mercier, Balthazar Mercier. Bukan sang Ratu Cardinia, melainkan kepala dari keturunan Ksatria Suci paling setia. Fakta itu tidak mengejutkan Esther, sebab sepanjang sepengetahuannya, ratu yang kini duduk di takhta Cardinia tidak lebih dari seorang anak perempuan berumur delapan tahun. Ratu Cardinia tidak melaksanakan kewajiban politik seperti pemimpin kerajaan lainnya, tetapi lebih sebagai perwujudan sang Dewi Penciptaan. Sang Ratu bertugas memberikan pertimbangan atas kepentingan-kepentingan religius Cardinia. Sementara Keluarga Mercier adalah gerigi roda yang menggerakkan Cardinia, sekaligus pelindung utama kerajaan suci ini.

Di belakang ketiga sosok berwibawa itu, Raphael dan ayahnya, Tristan, mengekori dari belakang. Mata biru Raphael menangkap kehadiran Esther, memberikan senyum indahnya sebelum ikut lenyap ke dalam ruangan. Sudah berapa tahun Esther menikahi pria itu, namun ia masih belum terbiasa dengan pesona yang pria itu pancarkan. Lututnya masih berubah lemas tiap kali melihat senyumannya, kerlingan matanya, atau sekadar mendengar suara paraunya. Tetapi, Esther tahu lebih baik untuk tidak terlarut begitu dalam, begitu puas atas cinta Raphael kepadanya. Setidaknya, sebelum Esther mampu menciptakan masa depan yang mereka berdua dambakan.

"Alasan kedua orangtuamu datang ke Cardinia tidak luput dari dosa-dosa yang telah diperbuat oleh Camilla," ujar Horace. "Aku memiliki alasan tersendiri, Tuan Putri, mengapa aku perlu berpikir panjang sebelum mengajari seseorang mengenai..." Horace melambaikan sebelah tangannya ke hadapan Esther dan dalam sekejap, api biru melingkupi telapak tangannya. Meliuk dan membangkitkan sekujur bulu kuduk Esther. "... Zahl."

"Di Perang Agung dua puluh enam tahun yang lalu, ibumu melakukan hal yang mengubah dunia untuk selamanya," jelas Horace. "Dan aku tidak merasa apa yang ibumu lakukan salah. Kekuatan seperti Zahl membakar ego manusia semakin terang, hanya membawa petaka dan keputusan ibumu membinasakan kekuatan itu adalah keputusan tepat. Tetapi ibumu lupa bahwa terang ada bersama dengan kegelapan, sama halnya seperti penciptaan dan kehancuran. Ibumu bisa saja mengubah dunia untuk selamanya, tetapi keseimbangan tidak akan pernah berubah. Selama kegelapan masih ada di dunia ini, Zahl akan terus ada di antara umat manusia. Antara kekuatan itu menjadi perisai melawan kegelapan... atau sebaliknya—" Horace meredupkan kekuatan itu dari telapak tangannya. "—merupa pedang yang menyerang terang."

"Untuk hal itu," Horace menghela napasnya, "Camilla memilih jalan yang salah. Ia tergoda oleh kegelapan, seperti kebanyakan pengguna Zahl lainnya kendati ia tahu bahwa hal tersebut akan mengorbankan keluarganya. Dan," Horace menyeringai, "kini ia mengutus seorang putri keras kepala, pantang menyerah, dan memiliki kegemaran menyelinap ke perpustakaan."

Horace meraih sebuah buku familiar dari sakunya, melambaikan buku tebal itu di hadapan Esther. Buku yang beberapa hari terakhir ia curi-curi baca. Horace memberikan buku itu kepadanya. Esther ikut menyeringai. Namun, ia seluruh kata-kata seakan raib dari ujung lidahnya. Tergoda oleh kegelapan. Esther jadi bertanya-tanya, sejauh mana apa yang disebut sebagai kegelapan itu? Tindakan Camilla jelas salah, tetapi tindakannya—

Horace merogoh sesuatu dari sakunya, mengeluarkan batu permata kebiruan yang menguarkan aura magis layaknya pancaran Zahl. "Kuharap aku tidak salah. Kuharap Camilla tidak salah," gumam Horace lalu meletakkan batu itu di atas permukaan telapak tangan Esther.

"Ini adalah medium. Semua pengguna Zahl Penyembuhan memilikinya."

"Bagaimana kau menyimpulkan aku memiliki Zahl Penyembuhan dan bukan yang lain?"

"Kau... hanya mengetahuinya. Ketika kau menguasai Zahl, kau akan mengetahuinya," balas Horace, lalu ia melanjutkan. "Zahl adalah pengetahuan berbahaya bagi manusia yang tidak pernah menggunakannya. Kau perlu tahu bahwa Zahl digunakan bukan tanpa bayaran. Zahl Ofensif yang digunakan berlebihan akan menggerus kesehatan penggunanya. Zahl Penciptaan yang digunakan di luar batas akan menggerogoti kewarasan penggunanya. Zahl Penyembuhan dapat menyerap kehidupan dari penggunanya untuk menghidupkan jiwa lainnya—Zahl paling berbahaya bagi seseorang sepertimu, Tuan Putri."

Esther menimbang berat medium pada telapak tangannya, begitu pula kepercayaan yang diberikan Horace kepadanya.

"Medium ini adalah batas kekuatanmu. Secara magis medium ini menyerap energi dari tubuhmu, tapi tidak berlebihan. Para pengguna Zahl Penyembuhan selalu memiliki energi meluap dibandingkan Zahl lainnya dan medium menampung kelebihan energi mereka. Satu hal yang pasti, Tuan Putri," Horace memperingatkan, "jangan pernah gunakan kekuatanmu lebih dari seharusnya. Pengorbanan Zahl Penyembuhan tidak mengenal waktu, Tuan Putri, ia bisa saja merebut sesuatu milikmu di masa kini—atau sesuatu di masa depan. Ketika medium berubah hitam, itu adalah saatmu untuk berhenti. Jika tidak, kekuatan itu akan menjadi kutukan yang berbalik kepada dirimu sendiri."

            ***

            Kutukan. Kutukan.

            "Esther? Apa yang kau pikirkan?" suara Raphael menariknya dari pusaran pemikiran.

            Esther mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum kenyataan kembali ke dalam pemandangannya. Raphael sedang berada di atas tubuhnya, memuja setiap incinya seperti yang pria itu lakukan setiap malam. Kecupan demi kecupan yang seharusnya membuat Esther menggila akan kebutuhan. Menginginkan pria itu, lebih dan lebih. Tetapi, malam itu tidak ada yang Esther inginkan selain merenung.

Kedua mata biru Raphael sarat akan pertanyaan. Kerut di dahinya mendalam. Esther melarikan tangannya di sepanjang bahu kokoh Raphael, mengagumi jalinan ototnya. "Aku memikirkan kepulangan kita beberapa hari lagi."

"Benarkah?" Raphael mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak memercayai Esther. Ia terlampau mengenalnya.

Esther mengangguk, menyunggingkan sebuah senyum. Raphael tidak boleh mengetahui rahasianya. Sejauh yang ia ketahui, Raphael tidak tahu mengenai rahasia yang diembannya. Apa yang terjadi dua tahun lalu. Apa yang berniat Esther lakukan dengan pengetahuan baru akan Zahl Penyembuhan. Ia akan membuat Raphael menjadi pria yang paling bahagia. Mereka pasangan yang paling bahagia.

"Jika sesuatu mengganggumu," mulai Raphael meraih jemarinya, mendaratkan ciuman, "aku akan mendengarkan setiap keluh kesahmu."

Mustahil aku mengungkapkannya kepadamu. Kau hanya akan menjauhiku begitu tahu aku tidak memiliki kapasitas untuk melahirkan anak. Kau mendambakan keluarga yang bahagia bersamaku, anak-anak kecil berlarian dan tertawa. Tetapi, aku tidak dapat memberikan satu hal itu padamu. Aku tidak dapat mewujudkan mimpi kita dan aku takut cintamu kepadaku akan semakin berkurang dan berkurang. Terutama setelah aku mengetahui bahwa kau mencintaiku selama ini. Selama ini. Aku tidak ingin mengecewakanmu.

Esther melingkarkan lengan di seputar leher Raphael, membawa pria itu turun, mengulum bibir manisnya. "Aku mencintaimu."

Dan Raphael menghujamnya, membawa Esther ke puncak pelepasannya. Tetapi, kali itu, tidak ada Raphael dalam pikirannya. Hanya ada kemungkinan dan kemungkinan.

***

Esther lagi-lagi tidak bisa tidur. Ia nyaris bergerak gelisah di atas ranjangnya saat mengingat bahwa Raphael harus bangun pagi-pagi sekali untuk bekerja. Ia tidak mungkin merenggut satu-satunya waktu istirahat suaminya. Esther memutuskan untuk membaca. Membaca selalu menjadi jalan untuk menenangkan pikirannya. Membalikkan badannya, Esther mengecup pelipis Raphael sebelum beranjak dari kasur, memijakkan kaki ke dingin lantai kamar.

Sorot bulan menyelinap dari sela-sela tirai jendela, menerangkan jalan Esther menuju meja bacanya. Menyalakan lilin, Esther meraih buku yang Horace serahkan kepadanya. Ia mulai membuka buku tebal itu perlahan, berhati-hati dengan lemnya yang mulai aus. Kertasnya cokelat dan rapuh di bawah sentuhannya. Apabila buku kuno itu rusak di tangannya—maka bisa jadi Esther membayar buku itu dengan hidupnya.

Esther melanjutkan di halaman terakhir yang ia baca kemarin. Secara garis besar kelanjutan dari buku itu mengungkapkan apa yang sudah Horace sampaikan. Zahl tidak datang dengan gratis. Kekuatan itu berputar pada prinsip mengambil dan memberi. Zahl akan memberikan kekuatan bahkan kesembuhan untuk sebuah harga. Harga yang bervariasi. Zahl sendiri selayaknya pembatas bagi ego manusia. Bagi iblis di dalam diri setiap manusia.

Menarik laci mejanya, tangan Esther meraih medium yang Horace berikan. Medium itu bukan hanya sekadar pembatas kekuatannya, namun juga kepercayaan yang pria itu berikan. Kepercayaan yang mulanya Camilla limpahkan kepada Esther, lalu Horace memutuskan untuk memercayainya. Sebab pria itu tahu kerusakan seperti apa yang Camilla telah lakukan dan Esther—adalah jalan menuju penebusan.

Tetapi, sedikit pria itu ketahui bahwa Esther juga menghendaki hal lainnya. Hal lainnya—napasnya berubah tercekat. Esther mengusap batu kebiruan itu di antara jemarinya. Mengagumi sudut tumpulnya, bertanya-tanya bagaimana permata itu mampu menampung energi yang dimiliki para pengguna Zahl Penyembuhan. Medium ini adalah batas kekuatanmu. Jangan gunakan kekuatanmu lebih dari seharusnya. Jika tidak, kekuatan itu akan menjadi kutukan yang berbalik kepada dirimu sendiri.

Berbalik kepada dirimu sendiri. Kata-kata terakhir Horace menggema di dalam dirinya, menguak memori yang terkubur baik.

Kilas balik itu menyerbu benaknya. Alasan mengapa ketika kali pertama belajar seni penyembuhan kepada Bibi Kassia, tidak ada hari yang Esther habiskan tanpa muntah melihat darah. Bahkan sekadar menghirup amis darah dapat menimbulkan gemetar sepanjang tubuhnya. Keringat dingin yang bercucuran tidak beraturan. Napas yang memburu seakan dunia merenggut seluru isi paru-parunya tidak bersisa.

Karena malam itu.

Malam badai musim panas tujuh belas tahun lalu. Siapapun tahu badai musim panas tidak mengampuni. Kilat menyambar lebih berbahaya. Angin mengetuk permukaan jendela begitu liar. Guntur bergemuruh seolah-olah langit akan membelah buka, membawa berbagai kemalangan serta bencana ke dunia.

Selayaknya anak kembar, Esther dan Daria selalu ditempatkan sekamar. Malam itu, Esther berusaha untuk tidur, namun percuma sebab Daria sibuk menyusun drama pertarungan antar bonekanya. Mengeluarkan suara menyerupai kelontang pedang berkali-kali. Tapi itu bukan masalah utamanya. Semenjak kecil Esther mudah khawatir dan mengetahui kakaknya duduk pada tepian sempit jendela menggelisahkan pemikirannya. Esther sudah memperingatkan berkali-kali kepada Daria untuk segera turun. Namun, kepala kecil kakaknya lebih keras dari tekad seekor banteng.

Lalu, petir menggelegar dekat tembok kastil, menggetarkan seisi ruangan. Esther memejamkan matanya, memeluk dirinya sendiri seperti yang selalu ia lakukan kala petir menyambar. Sejurus kemudian, ketika ia membuka kelopak matanya—adalah pemandangan yang datang langsung dari neraka. Ketakutannya merupa kenyataan. Daria terjatuh dari tempatnya duduk, kepalanya menghantam sudut tajam dinding kamar. Darah Daria membasahi putih dinding, membentuk kolam lengket di sekitar tubuhnya.

Esther menjerit dan menjerit. Umurnya tidak lebih dari lima tahun, tetapi ia tahu bahwa Daria mustahil hidup dengan kehilangan sedemikian banyak darah. Ia berlari menghampiri Daria, telapak kaki telanjangnya memijak amis darah yang seolah merayap dan mengancam Esther bahwa kakaknya tidak akan bisa selamat. Daria tidak akan memiliki kesempatan untuk bernapas lagi.

Ketakutan dan histeria membangkitkan sesuatu dalam dirinya kala itu. Kekuatan yang familiar. Selama tujuh belas tahun lamanya, Esther melupakan satu memori spesifik ini sebagai mekanisme pertahanan diri. Kejadian itu adalah trauma terbesarnya. Darah dan nyaris kehilangan keluarganya.

Tetapi, kini Esther mampu melihatnya dengan jelas. Bertahun-tahun yang lalu. Kekuatan yang muncul dari kedua tangannya. Api kebiruan berpendar di sekeliling tangannya sebelum tumpah ruah ke luka Daria, darah yang terus mengucur dari robekan kepalanya. Esther tidak tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya bisa berharap bahwa Daria tidak akan meninggalkannya pergi. Daria tidak akan mati. Daria tidak boleh mati. Dan luka itu seakan menjahit dirinya sendiri tepat seperti apa yang Camilla perbuat kepada luka menganga di tubuh Raphael.

Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya, tetapi di suatu titik dalam hidupmu, kau pernah membangkitkan kekuatan tersembunyi itu. Kalimat Camilla menggaungkan gemetar ke sekujur tubuhnya. Gemetar akan kesadaran bahwa ia—Esther telah membangkitkan kekuatan itu jauh sebelum ia mengetahuinya.

Esther mengangkat tangannya, memandangi api biru itu membungkus kulitnya. Pendar biru itu melawan sinar jingga lilin. Ini kekuatannya. Kekuatannya—

Medium ini adalah batas kekuatanmu.

Tapi, tujuh belas tahun lalu ia tidak menggunakan medium untuk menyembuhkan Daria. Ia ingat mengerahkan seluruh kekuatannya sebelum pingsan dan menemukan dirinya sendiri di bilik kesehatan kastil. Ibu menangis, pelukan Ayah erat nan hangat. Caiden dan Petra menatapnya nanar. Mereka nyaris kehilangan Esther dan Daria dalam waktu yang bersamaan. Namun, kala itu Esther tidak mengetahui bayaran atas keselamatan kakaknya.

Ia menggunakan kekuatan itu, menjalin kembali serpihan hidup Daria yang berserakan ke mana-mana tanpa menyadari—bahwa kekuatan itu telah merenggut sesuatu yang penting bagi dirinya. Satu hal spesifik. Sebab, Zahl akan memberikan kesembuhan dengan sebuah harga. Dan diri kecilnya tidak sedikit pun tahu.

Jangan gunakan kekuatanmu lebih dari seharusnya. Jika tidak, kekuatan itu akan menjadi kutukan yang berbalik kepada dirimu sendiri.

Tangan Esther gemetar menyentuh permukaan perutnya. Tepat di bagian ajaib di mana seorang wanita dapat menghadirkan kehidupan baru. Tepat di sana, di mana mimpi-mimpinya lahir dan bersamaan hancur. Tepat di sana. Esther menghirup napasnya, tajam. Sakit. Sekarang, ia tahu kenapa.

Sekarang, ia tahu untuk merebut kembali apa yang telah direnggut. []

Ternyata oh ternyata...

Selamat malam semuanyaaaa! Lama tidak berjumpaa~

Maaf banget aku belum bisa bales komentar kalian satu-satu... minggu-minggu belakangan ini bener bener aku sibuk sekali :') rasanya kepala mau meledak HAK HAK HAK

Semoga kalian suka yaa dengan chapter kali inii

Komentar dan Vote kalian akan sangat berarti buat aku semangat!!!

KALIAN JUGA SEMANGAT YAAA!!!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top