2 - Esther

2

Y232

Albatross, tanah jajahan Waisenburg—

            Selama hampir seminggu, terlelap adalah kemewahan yang sukar diperolehnya. Esther tahu betapa mengerikan kantung hitam di bawah matanya. Ia tidak lagi menghitung berapa cangkir kopi yang ia minum supaya terjaga, merawat para prajurit yang bertumbangan akibat serangan para Albatross. Seperti yang telah diperkirakan Waisenburg sebelumnya, bangsa yang dicintai Dewa Perang itu melancarkan serangan pembebasannya. Burung legendaris yang menjadi lambang bangsa tersebut membentangkan sayap selebar-lebarnya, mengepakkannya menuju kemerdekaan.

            Waisenburg selalu cekatan sekaligus intuitif, mengantisipasi serangan-serangan dari daerah jajahannya. Mereka mengendus perlawanan berbulan-bulan lebih awal, mengingat pengalaman mereka menaklukan daerah jajahan lainnya. Intensitas penyerangan yang dilakukan Albatross meningkat pesat dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir. Sehingga, tidak mustahil apabila kerajaan adidaya itu menghendaki tambahan pasukan medis dari tiap sekutu yang dimilikinya. Itu bukan lain adalah mengapa Esther terjebak dalam medan perang berbahaya tersebut.

            Mulanya Waisenburg berhasil mempertahankan benteng terakhirnya—kendati tidak untuk waktu yang lama. Serangan-serangan Albatross semakin mematikan dan Esther memahami alasan di baliknya. Baru hampir setahun yang lalu Waisenburg juga Reibeart kehilangan prajurit paling berharga mereka; sang Malaikat Kematian. Kakak perempuan tertua Esther, Petra Alexius of Reyes, memutuskan memihak Albatross untuk alasan yang masih belum diketahui. Daria mengatakan bahwa Petra menemukan cintanya. Di sisi lain, Esther merasa lebih karena Petra akhirnya menemukan tempat di mana ia mampu merasa nyaman mengenakan kulitnya sendiri. Namun, di atas semuanya, bagaimanapun, Petra tetap keluarganya. Darah yang sama mengalir di pembuluh mereka. Dan sebagai keluarga, mereka melindungi satu sama lainnya. Reibeart bertekad untuk bungkam, mengumumkan ketidaktahuannya atas tindak-tanduk salah satu anggota keluarga kerajaan.

            Kemudian, ledakan lain mengguncang medan perang. Esther tengah membersihkan luka seorang prajurit ketika menangkap sekelebat kapal perang asing muncul. Kapal itu meletuskan sejumlah meriam, menenggelamkan kapal terakhir Waisenburg serta mengacaukan formasi. Dalam sekejap, medan perang dibanjiri prajurit berzirah hitam-merah dari segala sisi dan ruang. Apabila Albatross adalah kekuatan kecil yang mampu Waisenburg pukul kembali ke sarang—tamu baru mereka, Kekaisaran Dyre adalah kekuatan yang setara dengan kerajaan adidaya tersebut. Kekaisaran itu memiliki seluruh kemampuan untuk menghancurkan benteng pertahanan Waisenburg menjadi abu.

            Tubuh-tubuh mulai bertumbangan dengan pesat. Barak medis berubah menjadi neraka tempat sekumpulan jiwa manusia tersiksa dan disiksa. Para korban perang menangis, menjerit, dan merintih. Pemandangan mengerikan itu adalah kali pertamanya bagi Esther. Jiwanya sama terguncangnya dengan prajurit yang kehilangan anggota tubuhnya. Seakan-akan berada tepat di barak itu, menyelamatkan para prajurit ke sana dan kemari, perlahan mengikis pergi kewarasannya. Namun, Esther mencuatkan dagunya, menangani para korban dengan tangan besi dan presisi. Tidak ada jalan kembali. Ia tahu apa yang ia akan hadapi ketika memohon izin Ibu pergi ke medan perang. Ini adalah langkah beraninya. Di dalam dirinya adalah Esther yang sama sekali berbeda.

            Tetapi, kemudian, sesuatu di luar nalarnya terjadi. Waisenburg mulai menyerang Reibeart. Sekutu mereka sendiri. Prajurit kerajaannya dibantai satu per satu. Beberapa prajurit Waisen berubah gila, membabi buta menghabisi penduduk sebangsanya. Darah para Reibeart membasahi tanah Albatross dan—

            Segala hal terjadi secepat kilat. Esther tahu otaknya lelah, namun ia mustahil keliru.

            Sekeras apapun Esther berusaha menghapus Raphael dari hatinya, ia selalu berhasil menemukan pria itu. Sosok kokohnya yang tidak gentar melawan gelombang demi gelombang musuhnya. Tatapannya yang garang nan siaga mengupas taktik lawannya. Suaranya yang mengumandangkan sebuah komando bagi Reibeart untuk mundur. Sebab, mereka sedang dibantai dan Esther paham bahwa setangguh apapun Raphael, pria itu selalu mengutamakan nyawa semua prajuritnya.

            Lalu, darah Raphael menyembur tepat di depan matanya. Sebuah tikaman, Esther tidak tahu pasti apakah bilah itu menyasar organ vitalnya, tetapi memandangi tubuh tegap pria itu ambruk ke atas tanah mengirimkan gigil ke sudut-sudut jemarinya. Genggamannya pada perban melonggar. Jantungnya menabuh detak-detik mematikan.

            Esther tidak lagi yakin apakah ia mencintai Raphael. Ketakutannya sendiri menguras rasa cintanya. Apa kau pikir Rafe akan selamanya menjadi milikmu? Suara Margaret menghantuinya bertahun-tahun. Reka ulang pemandangan itu mewujud jadi kutukan hidupnya. Ditambah dengan rahasia yang dirinya simpan—kehilangannya, nelangsanya—Esther tahu tidak lagi ada masa depan bagi mereka. Tiada lagi akhir yang bahagia. Cinta adalah sebab dari tragedi yang menimpa kehidupannya.

            Namun. Namun—detik itu Esther tidak siap kehilangan Raphael.

            Melesat keluar dari barak, Esther menyerukan nama Raphael dari dasar tenggorokannya. Dasar hatinya. Dasar jiwanya. "RAPHAEL!" Tangannya gemetar. Tungkainya lunglai. Tetapi, Esther tidak mampu membiarkan tubuh Raphael terkapar tidak berdaya jauh darinya. Setidaknya biarkan Esther menolongnya terlebih dahulu. Mengerahkan seluruh kemampuan dan pengetahuannya. Mengerahkan segalanya. Dan ketika segalanya tidak berjalan sesuai kehendaknya—maka, setidaknya biarkan Raphael meninggal dalam rangkulannya.

            Esther menerjang maju hanya untuk ditahan seorang prajurit.

"Tuan Putri, tenangkan diri Anda. Medan perang sangat berbahaya," ujarnya memperingatkan. Kepalanya bercucuran darah, tetapi akalnya cukup sehat. Tidak seperti Esther.

Seorang Albatross mendekati Raphael, percaya diri seolah-olah tiada siapapun selain dirinya di medan perang. Sebuah belati tersampir pada genggamannya saat pria itu merunduk, melekatkan dua jarinya pada nadi leher Raphael. Oh, tidak. Jangan. Esther masih mampu menangkap naik turun dada Raphael kendati samar dan—dan Albatross itu akan membunuhnya. Itulah medan perang. Membunuh atau dibunuh.

"Jangan!" Esther berteriak, suaranya serak oleh tekanan pada kalimatnya. "Jangan! Kumohon. JANGAN!" Esther bahkan tidak yakin pria itu mendengarnya.

Di luar dugaannya, Esther mendapati pria itu mengangkat Raphael ke punggung lebarnya. Apapun yang terbersit di benak pria itu, Esther yakin tidak setitik pun berhubungan dengan membunuh. Langkah panjangnya mendekati barak medis dengan kemudahan. Seakan-akan Raphael bukan pria bertubuh besar dan berkali-kali lipat lebih berat dari Esther. Kehadiran pria itu menimbulkan kasak-kusuk menggelisahkan di barak. Beberapa prajurit bangkit resah sekaligus penasaran. Di sisi lain, dada Esther dibasuh perasaan lega tiada kira. Terberkatilah pria itu—siapapun dirinya, demi dewa-dewi.

Dari jarak mereka kini, Esther dapat menerka garis-garis wajahnya. Pria itu memiliki fitur-fitur wajah mengesankan, ketampanan yang enak dilihat. Kulitnya menyerupai perunggu dan Esther mampu menebak bahwa pria itu menghabiskan sebagian besar waktunya di luar ruangan. Tetapi, apa yang mengejutkan Esther adalah warna unik matanya. Biru keunguan, terang membara seakan tidak pernah kehilangan harapan.

Esther harap ia dapat menjadi dirinya. Tidak pernah kehilangan harapan. Namun, bagi Esther, semuanya sudah terlambat.

            "Esther?" Pria itu mengenalinya.

            Kendati dilanda keterkejutan, Esther tidak kuasa memutar otaknya, menggali tahu mengapa pria itu mengenalinya. Satu-satunya yang terpenting adalah bahwa pria itu menyelamatkan Raphael. Sebab, setelah semua yang berarti baginya meninggalkan dirinya satu demi satu, setelah tekadnya untuk menjadi pribadi yang baru—ia menyadari hidupnya selalu berporos pada Raphael. Esther tidak siap kehilangan Raphael. Tidak akan pernah siap.

            Sehingga, merasakan tangis mengaliri sisi wajahnya, Esther meraih telapak tangan Raphael. Untuk sepersekian detik yang singkat, sentuhan itu membangkitkan seluruh masa lalunya. Menghidupkan kerinduannya. Dan Esther menggenggamnya tangan yang mulai kehilangan kehangatannya itu, seperti ia berpegangan pada gagang pintu Dewi Kematian. Memohon untuk tidak merenggut nyawa Raphael.

            "Ada apa ini?" Miss Camilla muncul dari balik barak. Kepala pasukan medis Waisenburg. Setelah apa yang Esther saksikan di medan perang, keraguan merayap dalam dirinya. Jika Esther bertekad untuk menyelamatkan Raphael, maka ia tahu dengan pasti bahwa wanita di hadapannya bukanlah jawabannya.

            Kedua mata wanita itu membelalak. Seluruh udara di paru-parunya terenggut oleh kuasa entah. Bibirnya bergetar saat menyadari sosok di balik punggung pria misterius itu. "Komandan Schiffer?" tanyanya, nyaris tidak percaya.

            Paham bahwa waktu ialah harta paling berharga, wanita itu membalikkan punggungnya, berseru lantang ke dalam barak. "Siapkan bilik yang satu itu. Aku butuh semua peralatanku di sana dengan segera!" Lalu, kepada si Albatross, "Ikuti asistenku. Baringkan dia di bilik yang sudah kusiapkan."

            Esther menggenggam erat tangan Raphael. "Kau akan membunuhnya," bisik Esther selirih napas.

Camilla tidak bergeming. Mata tajamnya seakan menuduh Esther dari ujung kepala hingga ujung jari kakinya. Esther pernah mendengar betapa berbakatnya wanita di hadapannya. Sebagaimana kemampuannya menandingi dokter-dokter terkenal di Republik Whiteford.  Namanya tidak pernah luput dari surat kabar yang Esther baca. Prestasinya, talentanya, dan kecerdasannya.

Camilla adalah kesayangan Waisenburg. Dan justru itu adalah letak kesalahan terbesarnya. Sebab, Camilla adalah kemungkinan terbaik yang Raphael miliki—sekaligus kematiannya paling absolut.

"Tidak," ujar Camilla dingin. "Kau, Princess, akan membunuhnya."

Kalimat itu menggema dalam diri Esther. Bersamanya, Raphael tidak akan pernah bahagia. Bersama Esther, Raphael akan membunuh dirinya sendiri.

Pilihannya ya atau tidak. Keduanya mungkin saja membunuh Raphael. Setiap detik yang mereka habiskan berdiri di ambang jalan masuk barak, semakin dingin permukaan kulit Raphael. Sehingga, kendati seluruh hatinya menjerit histeris, Esther memutuskan untuk melepaskan genggamannya. Tindakannya itu membawa tubuh Raphael kian menjauh dan menjauh dari dirinya, lenyap ditelan tirai putih.

Esther memandangi tangannya. Seluk di mana jari-jari Raphael menyentuhnya. Tempat di mana telapak tangan besar itu menyinggung miliknya. Rasa yang selalu Esther coba kandaskan dua tahun belakangan ketika dunianya lebih gelap dari malam. Seharusnya rasa itu tidak lagi ada. Tekadnya sudah begitu bulat. Ia tidak lagi ingin kembali menjadi sosoknya yang menyedihkan, naif, dan polos. Ia tidak ingin bergantung lagi pada harapan dan mimpi. Tidak, setelah semua yang ia lalui. Betapa pedih itu membekas dan tak pernah pergi.

Lalu, bagai pelita di dalam kemaraman, ingatan itu menyeruak.

            Kau memiliki tangan yang indah.

            Langkah Esther mengikuti Raphael ke balik tirai putih. []

HALOOO gais! Sampai sini aja yah updatenya!! HUAHAHAH lanjut lagi minggu depan atau besok mungkin, tergantung dari dukungan kalian semuaa! <3

Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya gais!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top