19 - Esther [21+]

19

Tidak lama setelahnya, Esther kembali terlelap. Kelelahan selama di Albatross seakan menggunung dan setiap kali Esther memejamkan mata, rasa kantuk segera menyeret kesadarannya. Ia lalu terbangun oleh samar suara ketukan pintu. Jantungnya mencelus kala menyadari ranjang di sampingnya kosong. Hanya ada selimut kusut serta sisa kehangatan Raphael. Kehampaan itu mengingatkannya pada hari-hari di mana ia harus membendung rasa kesepiannya ketika Raphael tidak berada di sisinya.

Esther berusaha bangkit, menumpukan sikunya pada ranjang dan mendapati terik matahari menggantung begitu tinggi di langit. Tengah hari. Ia belum lama tertidur. Sejurus kemudian sosok tampan Raphael mewujud di hadapannya. Pada kedua tangannya, Raphael membawa senampan makanan. Aroma yang dikuarkannya menarik perhatian perut kosong Esther mengingat semenjak pagi, ia belum makan. Makan selalu menjadi prioritas nomor dua Esther, tetapi bagi Raphael, itu adalah segalanya.

Ia menyadari, sebesar apapun ia mengelak perhatian dari Raphael, Esther menyukai segala perhatian yang pria itu curahkan.

Raphael berhati-hati meletakkan nampan di atas ranjang. Manik biru itu terpatri pada setiap gerakan Esther, setiap kunyahannya. Ketika Esther bertanya apakah ia tidak lapar, Raphael hanya menjawab bahwa ia sudah cukup kenyang memandanginya makan. Raphael memastikan Esther menuntaskan seluruh makanannya seperti yang selalu pria itu lakukan selama pelayaran. Namun, alih-alih kembali merawat para prajurit terluka, mereka menghabiskan waktu bercengkerama serta bercanda.

Tidak butuh lama bagi gairah menguasai Esther dan Raphael. Mereka kembali bercinta, sekalipun sekujur otot paha Esther seolah akan putus. Namun, Raphael adalah kekasih yang maha mengerti. Tangannya telaten memijat otot-ototnya yang tegang, melegakan nyeri di antara tungkainya dengan ratusan kecupan malas, sebelum Esther siap dan Raphael kembali mengubur dirinya di antara dinding-dindingnya. Setiap ayunannya pelan dan lambat, seakan-akan mereka memiliki seluruh waktu di dunia.

Semburat keunguan mewarnai langit jingga saat Esther membuka kelopak matanya. Ia terlelap lagi. Tetapi, sudah berapa lama semenjak ia merasa aman dan cukup seperti ini? Rasanya seabad seolah sudah berlalu. Kali ini, Esther mendapati kehangatan melingkupinya, dada bidang Raphael di hadapannya. Pria itu tidur, menyandarkan kepala pada bisepnya. Napasnya konstan, begitu pula naik turun dadanya.

Esther melarikan jemarinya sepanjang luka di pipinya. Bertanya-tanya, bagaimana sabetan itu menggores wajahnya. Mengagumi keindahannya, ketidaksempurnaannya yang sempurna.

"Aku sudah lama menunggumu bangun," Raphael berkata, sama sekali tidak membuka matanya. Membiarkan dirinya dibuai sentuhan Esther.

"Benarkah?" Esther bermain dengan helaian pirang Raphael sebelum merapikannya dari dahi pria itu. Raphael tampak lebih muda beberapa tahun, seakan ia bukan prajurit yang baru pulang dari medan perang. Seorang anak petani, mungkin, tertidur melalui sore hari oleh embusan angin. "Kau seharusnya membangunkanku."

"Kau tampak begitu cantik terlelap," ujarnya. "Aku tidak tega membangunkanmu." Raphael meraih tangan Esther, mengecup telapak tangannya. "Apa pahamu masih sakit?"

Nyeri itu sudah sirna, berkat kesabaran Raphael. "Tidak pernah lebih baik sebelumnya."

"Bagus." Kecupan Raphael beranjak ke buku-buku jarinya. Keusilan menari pada senyumannya.

"Kenapa kau tersenyum?" Esther tidak mampu menyembunyikan riang pada nada suaranya. "Apa kau berpikir untuk—"

"Tentu saja aku memikirkannya. Aku, bagaimanapun, adalah pria yang sehat dan aktif bersamamu. Aku bahkan berpikir untuk mengurungmu seminggu penuh, membayar tahun-tahun ketika aku jauh dari dirimu."

"Bukankah kita sudah terlambat untuk hal semacam itu?"

"Tidak ada kata terlambat," jawab Raphael lugas. "Apa kau ingat malam pertama kita?"

Malam pertama mereka. Penuh rasa penasaran serta ketidaktahuan, jantung yang berdebar dan kecanggungan. Ibu sudah terlebih dahulu memberikannya cukup pengetahuan mengenai apa yang terjadi pada malam pertama sepasang suami istri. Bagaimana penyatuan itu terjadi dan rasa sakit yang harus ia antisipasi. "Tentu."

"Seandainya aku dapat memperlakukanmu lebih baik saat itu. Seandainya aku, setidaknya, memiliki pengalaman—aku tidak akan membuat malam pertamamu penuh rasa kecewa."

Napas Esther tercekat. Esther adalah wanita pertamanya dan selamanya. Kesetiaan seperti itu tidak dapat dibeli sekalipun Esther menjual hidupnya. "Tapi, aku tidak menyesalinya," bisik Esther.

Raphael membuka matanya dan Esther seolah bercermin pada permukaan birunya yang cerah. Bagai pantulan samudera di hari yang cerah. "Sungguh?"

Esther mengangguk. "Semua waktuku bersamamu—aku tidak pernah menyesalinya. Lagipula," Esther menyeringai, "kau cepat belajar dan, setelah itu, kau mengompensasikannya dengan lebih kreatif dan..." Jemari Esther menuruni rahangnya dengan kepelanan disengaja, berhenti pada dagunya yang terpahat keras. Idaman para wanita. "... dan bervariasi."

Sebuah tawa kecil lolos dari bibir Raphael. Ia kembali memejamkan matanya, namun Esther yakin ia tengah mengingat masa-masa yang lampau, sebab garis senyum dekat mulutnya mendalam. Esther jadi bertanya-tanya, bagian mana yang diingatnya. Apakah saat itu di perpustakaan—atau mungkin, di ruang makan?

"Tapi, aku tidak akan pernah memaksamu," ujar Raphael. "Apabila kau membutuhkan tidur yang nyenyak dan nyaman, maka kita akan tidur, nyenyak dan nyaman. Apabila kau ingin bercinta, maka kita akan melakukannya seperti yang kau inginkan. Aku tidak akan pernah memaksamu." Ia berkata lirih bagai doa, "Kau terlalu berharga untuk keegoisanku."

Itu Raphael—pria yang selalu menempatkan kebahagiaannya nomor satu dibandingkan berbagai hal lainnya. Dan Esther tahu, satu-satunya cara untuk membalasnya adalah dengan membahagiakannya. Hatinya berdecit sakit. Ia menyadari, apa dirinya sekarang tidak akan pernah mampu membahagiakan Raphael.

Tapi, alih-alih membiarkan pisau itu menancap lebih dalam pada jiwanya, jemari Esther menuruni sisi lehernya yang kokoh. Mengembuskan sentuhan sepanjang ketukan konstan nadinya. Turun, mengukir jejak pada sepasang tulang selangkanya, lalu menyusuri bidang dadanya, mengagumi otot keras di balik lapisan kulit perunggunya. Turun dan turun dan—

"Esther," suara Raphael parau, anggur bagi gendang telinganya. Manis serta memabukkan di saat yang bersamaan. Apakah ini yang Raphael rasakan setiap kali membuat dirinya bergetar oleh keinginan?

"Hmm?" Esther mendongak, mendapati manik biru cerah itu balas memandanginya.

"Apa yang kau lakukan?" Raphael bangkit, menumpukan tubuhnya pada satu siku.

"Aku?" Telunjuk Esther membentuk lingkaran di sekitar pusar sempurna Raphael sebelum menyisiri rambut halus kecokelatan yang hilang ke balik selimut. Lapisan putih itu menonjol pada bagian tertentu, antisipasi yang menggumpul dalam diri Raphael. Esther menggesekkan kukunya dengan lembut sepanjang tepian selimut. "Penasaran."

Raphael menahan sebuah erangan. "Kemarilah." Ia meraih dagu Esther, begitu mungil pada telapaknya yang lebar. "Biarkan aku menciummu."

Esther mendekatkan wajahnya pada wajah Raphael—pria itu selalu memiliki daya tarik yang sukar ditolak. Ia membiarkan bibirnya mengambang, tidak cukup dekat untuk sebuah kecupan. Napas Raphael berubah memburu, menerpa wajahnya hangat.

"Tapi, aku penasaran." Esther melarikan diri dari sentuhan Raphael, menyingkap selimut itu dari tubuh Raphael. Kejantannya mencuat, lebih keras dan besar dari yang Esther bayangkan. Pemandangan itu, secara magis, mengalirkan adrenalin di sekujur tulang punggungnya. Raphael bergairah karenanya dan, entah bagaimana, fakta itu membuatnya senang tiada kira oleh kekuatan. Kekuasaan.

Tungkai Raphael bergerak gelisah di bawah pandangannya. "Esther," pintanya sekali lagi.

Mengabaikan panggilannya, jemari Esther kembali mengikuti kemana rambut halus itu bermuara—berhenti dekat kejantanannya. "Aku penasaran bagaimana kau memuaskan dirimu sendiri selama tiga tahun terakhir."

Raphael mengerang. Kali ini, tidak ada lagi yang ia sembunyikan. "Kau dapat memuaskanku—"

"Tangan." Sentuhan Esther menggesek permukaan kejantannya; lembut dan keras di saat yang bersamaan. Dari hulu menuju puncaknya yang basah. Dari sudut matanya, Esther mendapati Raphael melempar tubuhnya tidak berdaya ke atas ranjang, menggila akan sentuhannya.

"Bagaimana kau melakukannya dengan tanganmu?"

Raphael menelan ludahnya sebelum memandangi Esther, pandangannya berkabut. "Kau tidak ingin melakukannya."

"Oh." Telunjuk Esther menciptakan gerakan memutar pada puncaknya. Tepat pada titik paling sensitifnya. Raphael kembali mengerang, menyebut namanya penuh permohonan. "Aku sangat yakin aku ingin melakukannya."

"Nakal," gumam Raphael.

Esther mengangkat sebelah alisnya. "Aku sekadar penasaran."

"Genggam aku."

Dengan kelambatan yang disengaja, Esther membungkus jemarinya satu per satu pada milik Raphael. "Seperti ini?"

"Ya, dan mulailah—" Kalimat Raphael raib oleh gerakan tangan Esther memompa kejantanannya naik dan turun. Raphael mengerang, "Oh, demi dewa-dewi."

Dan Esther terus memompa Raphael, menjadikan pria itu gila di bawah sentuhannya. Esther mampu merasakannya, kenikmatan yang timbul seperti bencana dalam dirinya sendiri selagi ia membawa pria itu semakin dekat, lebih dekat ke puncak. Klimaks. Sementara Raphael melemparkan kepala ke belakang, buku-buku jarinya memutih. Pria itu menikmati sentuhannya, mendesah, dan—

"Esther—" sebutnya dari antara napasnya yang terengah-engah. "Aku menginginkan—"

"Apa yang kau inginkan?" Tangan Esther masih bekerja mempertahankan irama. "Memohonlah kepadaku."

"Hisap aku. Bawa aku ke dalam mulutmu, demi dewa-dewi. Aku mohon. Tolong—"

Bibir Esther mengecup puncaknya sebelum membawanya panjang pria itu ke dalam mulutnya. Penuh.

"Ya—" Tangan Raphael menemui rambut merah kecokelatan Esther dan mulai menuntunnya. Naik. Turun. Hisap. Jilat. Cium. Menggesekkan giginya sepanjang kejantanannya. Raphael mengerang dan mendesah dan menggeram. Apa yang keluar dari mulutnya bukan lagi kata-kata. Kutukan dan doa di saat yang bersamaan. Tubuhnya menggelinjang seiring isapannya, pinggulnya bergoyang mengikuti irama pompanya. Dan mendapati inti dirinya basah—ia menyadari bahwa sesungguhnya ia sedang membawa mereka ke puncak. Pelepasan.

Tetapi, Esther membutuhkan Raphael di dalam dirinya. Membesar dan menegang di antara dinding-dindingnya. Sehingga, dengan satu jilatan panjang, Esther meninggalkan kejantanan manis itu, mengurung pinggul Raphael di antara lututnya. Sementara kedua tangannya menahan tubuh Raphael terpaku pada ranjang sembari memosisikan ambang hangatnya di atas milik pria itu.

"Kau tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Raphael berkata susah payah. Segala udara dari paru-parunya seakan raib. "Apa kau yakin?"

"Aku tidak tahu," Esther menggigit bibirnya. "Tapi, aku akan mencoba."

"Wanita liar." Raphael menyeringai. "Kau perlu tahu aku bukan kuda poni, Sayang." Sebelah tangan Raphael menangkup pipinya. "Jika kau akan mengendaraiku—maka kau harus melakukannya dengan keras."

Dengan pesan terakhirnya itu, Esther membawa pinggulnya turun—turun dan—oh. Demi. Dewa. Dewi. Dalam posisi ini, Raphael lebih besar dari yang ia ingat. Dan—Esther mulai menggoyangkan pinggulnya. Naik dan turun. Nyaris melompat oleh euforia yang menggumpal di balik kelopak matanya. Esther mengendarainya, berusaha keras memompanya. Kencang. Dan ia mampu merasakan betapa tempo itu menguasainya bersamaan dengan gairah yang datang bersamanya. Ia mengerang dan mendesah, kedua tangan Raphael mencengkeram pinggulnya, menghujamnya yang satu lebih kuat dari sebelumnya.

Esther begitu dekat dengan puncaknya, pelepasan absolutnya. Ledakan yang akan membuyarkan jiwanya menjadi seribu serpih. Tapi, sebelum ia terjun bebas dari bibir jurang, Raphael meraih tubuhnya, membalik tubuhnya sehingga Esther memunggunginya. Tangan pintar Raphael menangkup kedua payudaranya, meremas gundukan ranum tersebut saat pria itu menghujamnya dari belakang. Jauh, jauh lebih dalam. Ia mencium sekujur permukaan punggung Esther serta tidak jarang menggigit, menjilat, semakin naik dan naik.

Bibir basah itu, akhirnya, menemui tengkuk lehernya. Napas hangat Raphael membangkitkan bulu kuduknya sementara kedua tangannya memberikan perhatian luar biasa pada kedua puncak payudaranya. Ia masih mempertahankan irama entakannya, menggoyahkan kaki ranjang akan serbuan gairah.

"Aku mencintaimu," bisiknya, menghujam Esther. "Aku mencintaimu. Demi dewa-dewi, sangat mencintaimu." Lagi. Lagi. Dan lagi. "Kau tidak perlu balas mencintaiku—" klimaks berkelebat di balik kelopak mata Esther saat Raphael kembali menggeram, "Kau tidak perlu mencintaiku—kumohon biarkan aku memilikimu. Biarkan aku memilikimu—"

Dengan hujaman terakhirnya, mereka menegang di saat yang bersamaan sebelum Raphael meledak di dalam dirinya. Hangat. Panas. Mereka tumbang ke atas ranjang, berkeringat dan lemah terkulai. Tetapi, tampaknya Esther masih memiliki kekuatan saat bertanya,

"Apa itu benar—kau mencintaiku?" Bahwa hari itu adalah dusta. Saat kau berkata kau tidak mencintaiku.

Raphael mematahkan semua yang ia percayai selama ini. "Aku selalu mencintaimu." Raphael mencium daun telinganya, penuh rasa sayang. "Itu satu-satunya hal yang lebih konstan dari waktu."

Dan kemudian, Esther tahu apa yang harus ia korbankan. []

SELAMAT MALAM MINGGU SEMUANYAAAA, ini bab kuupdate untuk menemani malam minggu kalian :*

Terima kasih buat dukungannya semua!! Semoga chapter kali ini juga memuaskan kehausan kalian yahhh <3

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top