16 - Raphael
16
Di hadapan Raphael adalah hamparan tanah hijau yang membekas di benaknya selama hampir tiga tahun terakhir. Pemandangan itu tidak pernah berubah, masih sama seperti yang melekat pada ingatannya. Bukit hijau di kejauhan, puncaknya mencucup langit biru menciptakan kontras yang terkesan hangat dan sarat akan nostalgia. Dinding krem kediaman utama keluarganya berdiri kokoh di samping bukit, rumah ayah dari ayahnya, dan leluhurnya. Raphael tahu betul kediaman utama keluarganya akan kosong untuk beberapa minggu ke depan; para Schiffer tidak bisa beristirahat di masa-masa genting bagi Reibeart seperti saat ini.
Namun, kemudian Raphael dikabari Kania—terberkatilah adik iparnya yang pintar itu—begitu Pesta Topeng usai, Esther bergegas pergi ke Selatan. Tempat di mana estat keluarganya berada, sekaligus kediamannya—rumahnya. Itu memberikan Raphael secercah harapan bahwa mungkin saja upayanya memperjuangkan Esther berbuah hasil. Sebab, sepanjang yang ia ketahui dari desas-desus, Esther tidak pernah menginjakkan kaki ke kediamannya semenjak kepergian Raphael ke medan perang.
Bagaimanapun, Raphael tidak boleh menyiakan harapan yang ada. Sehingga ia mengikuti harapan itu dengan intensitas usaha yang lebih dalam dari sebelum-sebelumnya, berdiri di depan pintu kediamannya sembari tangannya menggenggam seikat bunga. Verbena. Alih-alih menyukai mawar seperti kebanyakan wanita, Esther selalu menyukai verbena. Bunga dengan banyak khasiat untuk kesehatan, katanya.
Kepalannya baru saja terangkat untuk mengetuk ketika seorang pria berumur enam puluhan membuka pintu dengan ayunan terlatih. Jika tangan Raphael terbiasa menggenggam pedang, maka pria tua di hadapannya menjadikan integritas dan etika sebagai senjatanya.
Sir Potter, kepala pelayannya yang paling setia, membungkuk dan membuka daun pintu lebih lebar. "Lord Schiffer, apabila Anda mengabari kedatangan Anda sebelumnya, saya dapat mempersiapkan air untuk mandi."
"Aku bisa mandi belakangan." Raphael melangkah masuk. Aula rumahnya yang sama: lantai kotak-kotak hitam putih dan dinding berlapis wallpaper merah marun. Tetapi, sesuatu mengenai atmosfirnya sama sekali berbeda. Seakan-akan rumah itu tidak dibangun lima tahun lalu dengan model terkini, melainkan sudah berdiri di tanah itu selama seabad lamanya. "Di mana istriku?"
Raut wajah Sir Potter jarang menampakkan ekspresi, namun kali itu mata biru pucatnya membesar. "Lady Schiffer sedang menyantap sarapan, my lord. Apakah saya perlu mengabari sang Lady mengenai kedatangan Anda?"
Hubungan mereka jelas membaik, sedikit demi sedikit. Esther tidak lagi mengabaikan kehadirannya ataupun mengalihkan perhatiannya dari Raphael. Namun, Raphael tahu masih butuh perjuangan yang lebih panjang untuk membuat wanita itu nyaman bersama dirinya. Setiap kali, setiap saat, ia berada di dekatnya, Esther menciptakan benteng tak kasat mata yang melindungi dirinya sendiri dari Raphael. Ia mustahil salah menerka ketidaknyamanan Esther, seakan-akan wanita itu menyimpan rahasia darinya.
Tentu saja, tidak ada yang lebih diinginkan Raphael dibandingkan memandangi wajah jelita istrinya. Tetapi, supaya benteng pertahanan itu runtuh, ia harus memberikan jarak yang cukup bagi Esther bernapas.
"Biarkan Lady Schiffer menikmati sarapannya. Dia membutuhkan segala gizi itu lebih dari apapun," ujar Raphael. "Kalau begitu siapkan bak mandiku, Sir Potter, dan—" Raphael menyerahkan seikat verbena kepada pria tua itu, "simpan bunga ini di dalam vas, lalu letakkan di kamarku."
Sir Potter membungkuk. "Baik, my lord." Tubuh jangkungnya pergi dengan keanggunan yang ditempa selama lebih dari separuh hidupnya mengabdi kepada keluarga Schiffer.
Langkah panjang Raphael melesat, berbelok kanan di puncak tangga menuju koridor kamarnya berada. Begitu tangannya mendorong gagang pintu kamarnya, angin musim panas menerpa wajahnya dari seberang ruangan. Raphael mendapati jendela kamar terbuka lebar, tirai seolah menari bersama semilir angin. Aroma rumput terbawa bersama aliran angin, menggantikan amis darah dan besi yang memadati paru-parunya selama di medan perang. Ranjang rapi mengundangnya untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya. Memang, bagi seorang prajurit, pulang adalah hadiah terbaik yang dapat diperoleh.
Raphael menghampiri jendela, mengedarkan pandangan ke bercak hitam di kejauhan—desa tempat Esther kerap melarikan diri ketika ia merasa kesepian di kediaman yang teramat luas. Sir Potter berkata bahwa Esther memiliki reputasi baik di antara penduduk desa, mengingat kemurahan hatinya mengobati para pasien secara cuma-cuma. Semua penduduk desa mencintainya, mengagungkan Esther layaknya dewi yang turun untuk menghapus segala rasa sakit dan pedih di dunia.
Seperti yang Esther selalu lakukan terhadapnya. Dan Raphael akan menebus seluruh kesalahannya. Menjilat luka tidak kasat mata pada lubuk hati istrinya, menyembuhkan pedih itu hingga tidak terbersit sedetik pun dalam pikiran Esther untuk bercerai dengannya.
Mari kita bercerai.
Rongga mulut Raphael berubah pahit kala ingatannya mengulang tiga kata tersebut. Tiga kata dengan bilah lebih tajam yang pernah menyayat tubuhnya. Menggores hatinya dalam segala cara yang tidak mampu ia bayangkan. Ia marah dan terlampau sedih saat itu, namun segala emosi itu bukan untuk istrinya, melainkan teruntuk dirinya sendiri. Hingga detik ini, Raphael masih bertanya-tanya mengapa pemikiran itu sempat terbersit di benak istrinya. Dengan semua optimisme yang ada di muka bumi, Raphael tahu hubungan mereka retak di sana-sini, tetapi ia tidak pernah berpikir untuk menyudahi cintanya.
Tangannya menyusuri pinggiran meja sebelah ranjang, membayangkan berapa banyak pagi yang Esther lalui, bangun tanpa Raphael di sisinya. Sebab, setiap pagi di medan perang, Raphael selalu merindukannya. Namun, ketika rindu itu semakin meneguhkan rasa cintanya—Raphael tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk Esther. Raphael meninggalkannya pada saat tidak tepat dan bukan mustahil cinta yang semula kekal mewujud menjadi kenangan masa lalu.
Raphael juga menyadari Esther menanggalkan cincin pernikahan mereka. Logam putih itu tidak menghias jari manisnya. Raphel tidak ingin mempercayai bahwa hubungan mereka telah usai. Begitu ia berhasil mendapatkan hati Esther kembali—ia akan memastikan cincin itu kembali melingkari jari indah wanita itu. Sumpah.
Didorong oleh rasa penasaran, Raphael menarik buka laci pertama dan—napasnya tercekat.
Di dalam laci, terjajar rapi adalah sepasang kaus kaki pink pastel, terlampau mungil untuk kaki seorang anak kecil. Kaus kaki seorang bayi. Bayi. Jantung Raphael menabuh malapetaka itu, mendekat dan semakin mendekat. Butuh sekitar satu hingga dua detik bagi Raphael untuk—memahaminya. Dunianya seketika berputar seratus delapan puluh derajat, keseimbangannya berhamburan entah ke mana. Lututnya bergetar hebat kala menekuk, hendak meraih selapis kain mungil itu. Tiap napas adalah siksaan saat seluruh kemungkinan itu berkelebat di benaknya. Tidak mungkin, tidak mungkin—
Baru kemudian ia menyadarinya. Gaun-gaun bernuansa gelap yang selalu Esther kenakan. Raphael seharusnya tahu lebih baik. Ia seharusnya tahu lebih baik. Esther menyukai warna-warna muda, nuansa yang menghidupkan helaian perunggunya. Bukan ungu gelap. Bukan juga abu-abu. Ataupun hitam. Kesadaran itu menghantamnya, lebih keras dari tinju yang Caiden ayunkan ke rahangnya. Esther sedang berduka. Dan wanita itu berniat untuk terus membawa kehilangan itu bersamanya. Mengubur rahasia di balik keteguhan bentengnya.
Raphael tidak hanya meninggalkannya di saat tidak tepat—ia meninggalkan Esther di masa-masa terberatnya. Bulir tangis wanita itu di opera menjelaskan segalanya. Raphael tahu Esther tipikal wanita emosional dan ia pikir wanita itu sedang menangisi kenyataan sedih yang harus dihadapi Rosalind. Tetapi, dengan selapis kaus kaki itu di dalam genggamannya, mungil dan sempurna, Raphael mengerti tangis itu bukan untuk pertunjukan opera. Kesedihan itu, segalanya, adalah apa yang selama ini... selama dua tahun terakhir harus Esther tanggung seorang diri.
Seorang. Diri.
Ini rahasianya. Rahasia Esther—
Rentetan ketuk Sir Potter berkumandang dari seberang ruangan. Lebih memekakkan dari letusan meriam. Kali ini, Sir Potter tidak menunggu balasannya sebelum membuka pintu, lebar-lebar. Wajahnya pucat dan berantakan, matanya membesar, napasnya tidak karuan. "Lord Schiffer, sang lady—" ia menelan ludahnya, "tukang kebun berkata bahwa mereka melihat sang Lady pergi ke danau, my lord. Saya sudah memperintahkan mereka untuk mengejar sang lady, tetapi saya merasa harus—"
Ketakutan menjalari punggung Raphael, membekukan aliran pembuluh darahnya. Sir Potter mustahil tidak mengetahui keguguran Esther. Dan, mungkin juga, kesedihan Esther setelahnya yang menjadikan atmosfir rumahnya tidak lagi sama, berat oleh kehilangannya. Sir Potter tahu kegilaan macam apa yang merenggut rona bahagia dari wajah istrinya. Sir Potter yang teliti, tahu—bahwa istrinya tidak bisa berenang.
Raphael berlari. Berlari meruntuhkan dunia di balik punggungnya. Langkah panjangnya menelan bumi dengan intensitas yang mematikan. Mematikan, sebab ini adalah persoalan hidup dan mati. Esther tidak lagi sama. Biru kelabu maniknya yang berkilat oleh mimpi, kini keruh akan sesuatu yang tidak mampu ia bayangkan. Kehilangannya itu menyiksanya. Tidak heran Esther ingin menyudahi hubungan mereka—ia ingin melupakan segala kesedihannya. Tapi, Raphael, pantang menyerah seperti manusia paling bodoh—tidak menyadarinya lebih cepat. Andaikan ia tahu—kesedihan apa yang meranggaskan jiwa dan hati istrinya... Raphael akan memberikan segalanya. Ia akan mengorbankan segalanya untuk Esther. Apapun yang wanita itu minta. Apapun. Asalkan bukan nyawanya.
Raphael tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Esther. Dunianya tanpa pelita, tanpa matahari. Ia bisa jadi pergi mengikutinya—surga, neraka, ke manapun wanita itu pergi. Tapi, demi dewa-dewi, ia bersumpah di altar pernikahan untuk menjaganya. Apabila wanita itu ingin menghapus kesedihannya dalam cara terburuk—membunuh dirinya sendiri—ia harus melangkahi mayat Raphael sebelum mewujudkannya.
Esther tidak bisa berenang. Masih membekas hangat kecelakaan yang wanita itu alami lima tahun lalu di Kastil Seymour. Tergelincir ke bagian danau yang lebih dalam saat menemani saudara-saudaranya berenang. Teriakan Esther memberhentikan detak jantungnya. Tanpa sempat berpikir, Raphael segera melompat menyelamatkannya. Menyelamatkan cintanya. Itu adalah ketakutan terbesarnya. Teriakan Esther. Kehilangan wanita itu untuk selamanya.
Tidak. Tidak mungkin. Ia tidak akan membiarkan Esther—
"ESTHER!" Raphael memekik dengan minimnya udara di dalam paru-parunya. Ketakutannya bebas dari kungkungan mimpi buruknya—mewujud menjadi sesuatu yang nyata, ketika ia mendapati—
Ia sudah terlambat. Amat sangat terlambat. Larinya kurang cepat. Esther sudah mengambang, kini, di atas permukaan danau. Hanyut. Wanita itu mengambang dan hanyut dan tidak bernyawa.
Dan semua ini salahnya. []
Selamat hari Jumat semuanyaaa!!!
Jangan lupa dukungannya yah gaessssssssss muah muah <3
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top