14 - Esther
14
Tidak butuh lama bagi para tamu pria menyadari siapa dirinya di pesta topeng tahun itu. Rambut sewarna tembaganya menonjol di antara helai gelap anggota keluarganya yang lain. Lalu, topeng macam apapun yang ia gunakan, ia tidak akan mampu menyembunyikan identitasnya, karena selama dua tahun belakangan, pasangan dansanya bukan lain sepupunya sendiri, Devon Reyes. Esther selalu mencintai pesta topeng, namun baru sekarang ia mengerti kenapa Daria menganggap pesta ini sebagai sebuah lelucon.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Kania, adik bungsunya yang teramat jelita, adalah permata kerajaan Reibeart. Pria bangsawan manapun terpukau oleh tekukan lututnya, pembawaan anggun namun pintarnya dalam bersosialisasi, serta kecantikan legendarisnya. Kania adalah piala yang diperebutkan para pria semenjak ia debut pertama kali. Esther tidak pernah heran akan kenyataan tersebut.
Hanya saja, Esther mengira masa debutnya sudah berakhir. Ia pikir ia bukan lagi bunga merah muda yang baru mekar. Ia adalah wanita yang sudah menikah—tetapi, kemudian fakta tersebut tidak menjelaskan kerumunan pria di sekelilingnya. Pria-pria lebih dewasa, bukan para jiwa muda yang tengah merebut giliran dansanya dengan Kania. Dari pria di sekelilingnya, Esther mengenali beberapa duda, ilmuwan, dan bangsawan dengan gelar tua.
Esther jadi bertanya-tanya kabar seperti apa yang kumpulan pria di hadapannya dengar. Esther tahu kabar mengenai hubungan retak pernikahannya menyebar bagai wabah di seantero Reibeart. Esther juga tahu desas-desus mengenai perceraiannya dengan Raphael—bahkan sebelum Esther menentukan bulat-bulat keputusannya! Mungkin, kenyataan bahwa selama berhari-hari Pameran Seni, Esther tidak mengumumkan kehadirannya bersama pasangan pria lain. Mungkin, kenyataan bahwa setelah dansa pertamanya, Esther segera menyandarkan punggungnya pada salah satu dinding—bukan balkon tempat keluarga kerajaan berstirahat.
Esther ingin mengutuk dirinya sendiri, meskipun mulutnya tidak pernah mengutarakan satupun kata mutiara seumur hidupnya. Seharusnya ia segera melarikan diri bersama kedua orangtuanya alih-alih menyendiri ke salah satu sisi aula dansa dan terjebak dalam labirin manusia di hadapannya. Tetapi, sekarang sudah terlambat baginya untuk menyesal.
Pengap bisa saja membunuhnya jika bukan karena campur tangan Sienna. Sepupunya itu menyelip melalui tubuh-tubuh manusia dan menggaet lengannya. Dengan senyum manis serta sopan santunnya yang tiada cela, Sienna membawanya menjauh dari siksaan duniawi tersebut. Mereka berjalan, mengelilingi aula sembari memandangi aneka warna gaun berputar di tengah lantai dansa, membungkus seragam serba hitam para pria.
"Untung saja ada aku menyelamatkan malammu," ujar Sienna.
Esther memandangi Sienna dan seolah tengah memandangi dirinya sendiri. Mereka tidak ubahnya anak kembar, begitu Ibu dan Bibi Kassia kerap berkata. Tidak hanya usia mereka yang terpaut satu tahun—rambut mereka adalah selingan pirang, merah, dan cokelat yang sama, sebuah warisan dari nenek mereka, Adara of Reyes. Namun, di mana pipi Sienna menonjol oleh rona, milik Esther cekung akan tangis di hari-hari lampau yang mengiris pesona mudanya.
"Aku tidak tahu apa yang mereka lihat dariku," gumam Esther.
Dahi Sienna mengerut seakan-akan mempertanyakan kewarasan Esther. "Apa yang mereka lihat darimu?"
Sebelum Esther mampu mengangkat bicaranya, Sienna menyambar. "Kau luar biasa cantik. Perangaimu tidak kelaki-lakian seperti kakak perempuanmu. Ibumu adalah sang Ratu. Kau berdansa, kau menjahit, kau seorang penyembuh! Mustahil ada pria yang tidak ingin menikahimu." Pandangan Sienna memindai Esther dari ujung kepala hingga sudut jari kakinya. "Di atas itu semua, kurasa gaunmu menunjukkan keberanianmu."
"Apa yang salah dari gaunku?"
"Semenjak pernikahanmu dengan Raphael," ujar Sienna, "kau selalu menggunakan gaun-gaun yang sederhana. Abu-abu, ungu, hijau gelap, dan sebagainya. Kau tidak pernah mengenakan gaun merah yang menarik perhatian seperti ini. Merah itu warna yang sensual, Esther, penuh dosa. Warna yang amat berani, sesungguhnya. Dan separuh Reibeart mengira kau sudah siap untuk hubungan baru."
Esther terperanjat mendengar ucapan Sienna. "Hubungan baru?" Jadi, itu alasan mengapa sekumpulan pria itu mengerumuninya. Mereka pikir Esther sedang mencari suami baru, demi dewa-dewi. Memang terbersit di benak Esther sebagaimana ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Raphael. Tetapi, mencari suami baru? Pemikiran akan hal tersebut menjadikan lidah Esther selumpuh batu.
"Gaun ini," Esther menunjuk dirinya sendiri, "disiapkan oleh pelayan pribadiku. Aku tidak ada campur tangan dalam menyiapkannya." Baru sore tadi, langkah Teresa berderap memasuki kamarnya. Tangan pelayannya itu penuh oleh gaun yang ia siapkan. Esther akui, walaupun seumur hidupnya ia tidak pernah mengenakan pakaian berwarna merah marun, gaunnya malam itu luar biasa indah. Menyiratkan keberanian dan kedewasaan putri pemalu sang Ratu.
"Aku mengerti. Tetapi, coba kau katakan itu kepada para pria yang sedari tadi melirikmu."
Esther mengintip dari balik bahunya, membuktikan kebenaran ucapan Sienna. Ia menarik perhatian banyak pria lebih dari yang ia kira. Ia harus segera meninggalkan lantai dansa, beristirahat bersama keluarganya. "Aku harus duduk bersama orangtuaku."
"Sebaiknya begitu!" Tangan Sienna mengipas wajahnya sendiri. "Aku juga akan merasa gerah dengan segala perhatian itu. Lagipula," Sienna menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, mencari sesuatu entah sebelum melanjutkan, "ke mana Raphael di saat-saat seperti ini?"
"Raphael—" Esther segera menutup kembali mulutnya, mengundang kerutan yang kian dalam pada dahi Sienna. Ia jelas tahu ke mana Raphael di saat-saat seperti ini, mengapa batang hidungnya tidak tampak di antara tamu yang hadir. Mengutamakan kewajibannya, seperti biasanya. Hidup pria itu seakan tidak pernah lepas dari tanggung jawab. Tapi, kemudian, Esther tidak ingin terlihat seolah ia memerhatikan pria itu. Esther tidak ingin terlihat seolah sejak memasuki aula dansa, ia terus menerus mencari kehadiran Raphael—sehingga, ia mengoreksi ucapannya, "Aku tidak tahu."
"Hmmm." Sienna tampak tidak percaya, namun sebelum sepupunya itu dapat menggodanya, sosok seorang pria menghadang langkah mereka.
Pria itu membungkuk dan mengundang Sienna untuk satu dansa. Sienna mengulurkan tangannya, raut wajahnya penuh rasa bersalah. Pandangannya seakan-akan meminta maaf kepada Esther karena tidak bisa menemaninya. Tapi, Esther tahu bukan sopan santun baik menolak tawaran dansa seorang pria. Maka dari itu, setelah memastikan sepupunya memasuki lantai dansa, Esther kembali melangkah menuju anak tangga yang mengarah ke balkon keluarganya.
"Lady Schiffer?"
Esther tidak terbiasa dengan panggilan tersebut mengingat ia sudah cukup lama meninggalkan kediaman suaminya. Namun, Esther tahu dirinya yang dimaksud si pemanggil, bukan Lady Schiffer lainnya. Esther memutar tumitnya ke arah sumber suara yang terdengar tidak asing baginya dan—menemukan Margaret Crawford bersama tiga orang temannya berdiri di dekat meja makanan pencuci mulut.
Korset pada tubuhnya sudah cukup merenggut kapasitas bernapasnya, tetapi melihat empat wanita itu di hadapannya menjadikan udara di paru-parunya menguap. Esther mustahil melupakan tiga wanita lainnya; tatapan mengejek Miss Williams, tawa sumbang Lady Ledger, serta sandiwara Miss Allen. Margaret memperkenalkan teman-temannya dalam suatu acara minum teh yang wanita itu adakan. Tiga wanita yang dengan senang hati ingin menjadi teman Esther, kata Margaret kala itu. Bagaimana mungkin Esther menolaknya? Esther kesepian.
Tetapi, andaikan Esther tahu lebih baik—ia tidak akan pernah menginjakkan kaki ke acara minum teh sore itu. Mereka jelas-jelas kacung Margaret dan terkutuklah diri polos Esther yang masuk langsung ke dalam perangkap jahat mereka.
"Lady Crawford," Esther menganggukkan sedikit kepalanya, namun tidak terlampau dalam, "Lady Ledger, Miss Williams, Miss Allen, selamat sore."
Jika tatapan dapat membunuh, maka manik hijau Miss Williams sedang mengiris penampilan Esther. "Anda luar biasa cantik malam ini."
"Begitu pula dengan Anda, Miss Williams," ujar Esther setenang es sekalipun kakinya gatal melangkah pergi. Entah siksaan macam apa yang akan wanita iblis ini lancarkan—tepat saat itu di aula dansa milik keluarganya sendiri.
"Aku sudah lama tidak melihatmu di wilayah Selatan. Semua penduduk desa merindukanmu," Margaret berujar. "Kapan kau kembali, Lady Schiffer?"
Kediaman Raphael menyimpan sejuta mimpi buruknya. Kenangan-kenangan berdarah itu. Seketika gigil mengaliri tulang punggung Esther, namun sebuah determinasi timbul di dalam dirinya. Untuk mengatasi segala ketakutannya. "Aku masih belum bisa memastikan—tetapi, aku harap aku dapat berkunjung secepatnya."
"Apakah alasanmu meninggalkan wilayah Selatan berhubungan dengan mengapa kau datang tanpa Lord Schiffer?" tanya Miss Allen, raut wajahnya penuh pura-pura.
"Lord Schiffer memiliki beberapa kesibukan yang tidak bisa ia tinggalkan." Itu fakta. Selama dua tahun belakangan, ia terbiasa menyendiri. Namun, entah mengapa, kali ini, kenyataan itu lapisan hati terdalamnya.
Lady Ledger tertawa. Tawa yang menimbulkan gejolak menjijikan di perut Esther. "Kesibukan. Kita semua tahu kesibukan seperti apa yang selalu Keluarga Schiffer hadapi. Kita juga mengetahui, suami seperti apa yang tidak mencintai istrinya."
Esther membeku. Lagi-lagi kejadian di acara minum teh akan terulang di hadapannya dan Esther tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawannya. Ia tidak pernah pintar berkata-kata seperti Kania. Ia juga tidak seberani Daria—tetapi, setidaknya, kali ini Esther tidak ingin lari dan menangis. Setidaknya, kali ini, Esther mengangkat sedikit dagunya, meneguhkan ketegarannya, sekalipun ia tidak berkata-kata.
Sebelah sudut bibir Margaret terangkat sarat akan ketertarikan. Seakan-akan keberanian Esther menghiburnya untuk melancarkan senjata pamungkasnya. "Sudahlah, teman-teman. Tidak sepatutnya kita menghancurkan suasana hati seorang wanita di malam dansanya."
"Tapi, aku ingin memastikan—Lady Schiffer," Miss Allen mencondongkan tubuhnya, kemudian berbisik, "Apa kabar itu benar?"
Lady Ledger menyampirkan tangan ke depan mulutnya dalam keterkejutan. "Apakah itu benar, Lady Schiffer? Bahwa Lord Schiffer tengah mengurus perceraian?"
Esther mengerutkan dahinya. Kabar yang mereka dengar berkebalikan dengan fakta sesungguhnya. Tetapi, sebelum ia mampu menjawab, Miss Williams menimpali, "Lalu, apakah itu kesibukan yang Anda maksud, Lady Schiffer?"
"Sungguh disayangkan," Miss Allen berdecak. "Seorang wanita cantik sepertimu berhak mendapatkan pria yang lebih baik. Tapi, oh—" ia tertawa, "kurasa itu apa yang kau dapat ketika merebut sesuatu milik orang lain."
Lady Ledger mengipasi wajahnya, panas oleh ketegangan yang memuncak. "Mata untuk mata. Suami untuk suami?"
"Kurasa aku tidak akan melupakan candaan itu untuk beberapa tahun ke depan," Miss William tertawa di balik kipasnya.
Dan di sana Margaret berdiri, melipat tangan di depan dada, menantikan penuh antusiasme keruntuhan Esther. Seperti tiga tahun lalu. Ia menantikan tangisnya, derap lari Esther dari hadapan mereka. Rasa malu Esther adalah minyak yang membakar api amarah Margaret semakin dahsyat. Tapi, kali ini, Esther tidak berniat mengalah pada tangis sedemikian mudah. Margaret mustahil paham apa yang telah ia lalui. Kata-kata tidak lagi menyakitinya. Bilah pisau setajam apapun tidak akan membuatnya pedih.
Diri Esther di masa lalu selalu bergantung pada orang-orang di sekitarnya. Tetapi, ia memutuskan untuk berubah. Ia memutuskan untuk menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang terluka, namun setidaknya, lebih kuat. Ia bukan lagi putri dari negeri dongeng—ia akan menunjukkan kepada wanita-wanita iblis itu bahwa mereka tidak bernilai bagi tangisnya.
Tarik napas. Buang. Tarik—
"Selamat sore, ladies." Suara berat itu menggaung dari balik punggungnya.
Esther memutar tubuhnya satu detik lebih cepat. Sebab, ia tidak ingin para wanita iblis itu mengetahui permukaan matanya berkaca-kaca membendung tangisnya. Dan bibir Esther membelah terbuka memandangi Raphael—tampan dalam jas hitamnya. Topeng emasnya memantulkan kilau manik birunya. Esther tidak mungkin salah mengenalinya, terlebih lagi empat wanita yang tercengang di belelakang.
Dada Esther kembali sesak, tetapi oleh perasaan entah. Sebagaimana Raphael mematahkan segala kenyataan yang ia dan banyak orang percayai. Bahwa Raphael tidak pernah berada di sisinya. Bahwa Raphael tidak mencintainya. Kehadiran Raphael, detik itu, di hadapannya, membuktikan kepalsuan dari semua kenyataan itu.
Atau, mungkin Esther sedang bermimpi. Kenyataan tidak mungkin seindah ini—bukan?
"Sayang," ujar Raphael, menyunggingkan senyuman seolah Esther adalah satu-satunya wanita di dunia. Di matanya. Membuat iri wanita manapun yang memandangi mereka. Kesiap tiga wanita di balik punggungnya merupakan senandung paling indah yang pernah Esther dengar.
Ia mengulurkan tangannya, "Maafkan aku, tapi, apakah sudah terlambat untuk sebuah dansa?"
Esther menerima uluran tangannya. Menyelami kehangatan genggaman Raphael seperti yang ia lakukan di opera. Dan ketika ia pikir masa-masa debutnya sudah berakhir, ketika ia pikir jantungnya sudah lelah berdegup layaknya seorang remaja—
Jantungnya berdebar. []
Selamat sore semuanyaaaa <3
Maafkan daku yang minggu lalu nggak bisa upload. Begitu banyak urusan yang mengharuskan daku rehat sejenak HAHAHAH <3
Semoga kalian menikmati chapter ini dan jangan lupa dukungannya!
<3 Kecup basah untuk kalian semua <3
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top