13 - Esther
13
Esther menghabiskan beberapa hari setelahnya menghindari Raphael. Sekalipun pria itu tidak terang-terangan mencari dirinya karena tumpukan kerjaannya menjelang opera, entah mengapa, Esther selalu berhasil menemukan kehadiran pria itu. Terkadang, Esther akan menolehkan kepala ke kiri dan kanan, mencari aroma mint yang mendadak menyerbu penciumannya hanya untuk mendapati bahwa tiada seorang pun di sekitarnya. Tidak jarang juga telinga Esther menangkap suara familiarnya, namun lenyap ketika ia menjulurkan leher ke sumber suara.
Bukan. Ia tidak menghabiskan hari-harinya menghindari Raphael. Lebih tepatnya, ia berusaha mengalihkan perhatiannya dari pria itu. Sebab, kini Raphael berada begitu dekat dalam jangkauannya dan hati Esther selalu berusaha mengkhianati keputusan yang telah ia buat.
Ia tidak menyadari minggu sudah nyaris berakhir hingga sore itu, Ibu menggebrak pintu kamarnya. Para pelayan seketika menyerbu kamarnya, membawa deretan gaun langsung jadi dari salah satu butik ternama di Reibeart. Esther segera memahami maksud dari puluhan gaun indah di hadapannya. Kepulangan Esther dari Albatross berpapasan dengan Perayaan Musim Panas Reibeart dan tidak ada perancang busana bodoh yang bersedia menerima pembuatan gaun—terutama untuk keluarga kerajaan—dalam waktu singkat.
"Pilihlah satu gaun untuk kau kenakan ke opera," kata Ibu. Lalu, menambahkan sebelum melesat keluar dari kamarnya, "Jangan berpikir untuk mengenakan gaun berwarna gelap."
Napas Esther tercekat akan keterkejutan yang meletup di dalam dadanya. Ibu menyadari pola warna pakaian yang selama dua tahun belakangan ia kenakan, tidak pernah jauh dari nuansa kelam. Esther tidak lagi mengingat kapan terakhir kali ia mengenakan warna selain ungu, abu-abu, hijau lumut, atau cokelat gelap. Sebab, ia ingat sebagaimana gadis yang telah meninggal di dalam dirinya mencintai warna pastel, pita, serta renda. Ia tahu gadis itu senang berpenampilan layaknya putri dari negeri dongeng.
Tetapi, itu sebelum si gadis mengenal dunia tempatnya berpijak. Sebelum kejadian tragis itu: merah darah menodai kepolosan rok gaunnya, kesedihan mengoyak pita dan rendanya. Sebelum gadis itu mengenal kehilangan pertamanya dan mati perlahan, serpih demi serpih. Dan ketika Esther memutuskan untuk mengenakan warna hitam pertama kali dalam hidupnya—hal tersebut tidak hanya mengawali masa berkabungnya, namun juga sebagai pengingat bahwa ia bukan lagi putri dari mimpi-mimpinya.
Dengan berat hati, Esther meraih gaun krem yang cukup sederhana untuk tidak menarik perhatian banyak orang. Para pelayan bergegas membantunya berpakaian, menata rambutnya, lalu membubuhkan sedikit perona pada pipi kurusnya. Sepanjang pelayaran kembali ke Reibeart, Raphael selalu memastikan Esther memperoleh gizi yang teratur. Berat badannya berhasil naik karena pantauan ketat pria itu, namun, entah bagaimana cekung pada pipinya sukar musnah. Mungkin, pipi cekungnya bukan lagi masalah seberapa banyak ia makan, tetapi lebih dari itu—krisis kebahagiaannya.
Diri kecilnya tidak pernah kekurangan senyuman, apalagi kebahagiaan. Pipinya bulat, bersinar, dan merah. Sedangkan sosok yang balik memandanginya dari cermin kini adalah wanita terluka, tidak sempurna, dan penuh kekecewaan. Aneh, sebagaimana dua sosok yang sama sekali berbeda ada pada satu tubuh sama.
Esther sedang memandangi hadirin memenuhi kursi-kursi opera ketika mendengar sepupunya, Sienna Reyes, menyerukan namanya, "Esther!"
Menolehkan kepala, Esther mendapati leher Sienna terjulur dari balkon sebelah tempat keluarga pamannya, Gideon Reyes, menyaksikan pertunjukan. Sepupunya itu menumpukan tubuhnya pada susuran balkon sembari melambaikan tangan terlampau semangat. "Kau tampak cantik malam ini!"
Esther mampu merasakan dua sudut bibirnya berkedut, seakan hendak membentuk sebuah senyum. Namun, senyuman adalah kemewahan yang sulit ia peroleh, sehingga Esther balas melambaikan tangannya, "Kau harus berhati-hati agar tidak jatuh dari balkon, Sienna."
"Apa?" Sienna mencondongkan tubuhnya semakin menempel pada susuran balkon. Esther harus membendung gigil membayangkan apa jadinya bila tubuh sepupunya itu terjengkang jatuh.
"Aku bilang," Esther menghirup napasnya dalam-dalam, menyadari bahwa ricuh para hadirin meredam suaranya, "berhati-hatilah—"
Tangan hangat itu membungkus sikunya dengan perhatian yang ia kenal akrab. Esther mendongakkan kepalanya, menemui manik sebiru samudera itu balas memandanginya. Sepasang mata yang selama beberapa terakhir ia coba hindari. Apa yang keluar dari bibirnya adalah sebuah bisikan, namun sekalipun opera riuh oleh suara para tamu undangan, telinga Esther mampu menangkap suara berat pria itu. Jernih dan jelas.
"Kau juga perlu berhati-hati, Esther," Raphael menariknya menjauh dari susuran balkon, sebab tanpa ia sadari, ia mencondongkan tubuhnya dalam sudut yang lebih berbahaya dibandingkan Sienna. Lalu, pria itu menoleh ke balkon sebelah dan memperingatkan sepupunya. "Sienna, menjauhlah dari balkon itu."
Pandangan Esther jatuh pada genggaman Raphael di sikunya. Pria itu mengenakan sarung tangan, tetapi bahkan dari balik lapisan pakaian itu, Esther mampu merasakan rasa kulit Raphael pada miliknya. Betapa singgungan singkatnya dengan Raphael di kamar hari itu membakar hasratnya lebih dari yang ia tahu. Tidak—beberapa hari lalu itu bukanlah sekadar singgungan singkat. Itu adalah kerinduan mereka, meluap dan berbahaya. Ancaman bagi kebahagiaan masing-masing dari mereka.
"Maafkan aku," Raphael segera melepaskan sentuhannya. "Apabila itu membuatmu tidak nyaman."
"Aku pikir kau tidak akan datang." Itu asumsi Esther. Sebab, para bangsawan Reibeart tahu bahwa keluarga Schiffer nyaris tidak pernah duduk di balkon menyaksikan pertunjukan opera. Keluarga Schiffer memiliki peranan penting bagi pertahanan Reibeart dan mereka mengemban tanggung jawab tersebut secara menyeluruh. Ketika bangsawan lain menikmati pameran seni, keluarganya akan berkutat dengan keamanan keluarga kerajaan. Ketika bangsawan lain sibuk mencari tempat duduk di opera, keluarga Schiffer akan mengamankan perimeter gedung.
Dan itu merupakan alasan mengapa Esther ada di balkon Schiffer. Pernikahannya dengan Raphael menjadikannya seorang Schiffer dan ia memanfaatkan hak tersebut, selama dua tahun belakangan, untuk menghindari kumpulan pelamar keras kepala Kania yang mengerumuni balkon keluarga kerajaan seperti lebah. Setidaknya, ketika Esther menghadiri sebuah opera, ia berniat menikmati pertunjukan tanpa bising dengung para pria itu.
"Tadinya," ujar Raphael. "Tetapi, kemudian, aku melihatmu nyaris jatuh dari balkon."
Esther menyadari rambut pirang Raphael yang berantakan. Naik turun dadanya yang tidak teratur. Kenyataan bahwa Raphael melesat menghampirinya membuat hatinya terenyuh.
"Aku tidak nyaris jatuh," Esther mengelak. Jalan satu-satunya baginya untuk mengabaikan degup detak jantungnya.
Apabila Raphael tampak tidak percaya, pria itu tidak menunjukkannya. "Kalau begitu, aku akan kembali—" Pada detik Raphael membuka mulutnya, seluruh cahaya di opera padam, meninggalkan panggung pertunjukan bersinar.
"—atau tidak." Raphael menyelesaikan ucapannya.
"Tampaknya tahun ini, Lord Schiffer," Esther menumpukan kedua sikunya pada pinggiran balkon, "kau terpaksa meninggalkan pekerjaanmu untuk sementara."
"Kurasa begitu." Raphael membalikkan tubuh menghadap jajaran kursi kosong. "Apakah kita tidak akan duduk?"
"Silakan duduk," ujar Esther tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya, "tetapi, aku terbiasa berdiri karena dengan begitu aku dapat lebih menikmati pertunjukan."
"Benarkah?" Pria itu mengambil posisi tepat di sampingnya, memandanginya sedikit khawatir. "Apa tungkaimu tidak lelah?"
"Sssh." Esther mengacungkan telunjuk ke hadapan bibirnya. Penyanyi utama opera hari itu, mulai menggaungkan suara emasnya. "Jika kau akan menikmati opera, Lord Schiffer, kuharap kau mulai berhenti bertanya."
Dari sudut matanya, Esther menangkap sekelebat ulasan senyum Raphael sementara pria itu mengalihkan perhatiannya ke panggung. Kemudian, terlintas di benaknya bagaimana hampir seumur hidupnya, Raphael tidak pernah sungguh-sungguh menonton Opera Tahunan Reibeart. Raphael menghabiskan sebagian besar masa remajanya bertarung dan berperang, dunia yang sama sekali tidak Esther kenal. Meskipun pria itu memusatkan perhatiannya ke panggung, Esther mampu menerka keheranan pada kilat matanya. Bagi seseorang seperti Raphael—seperti keluarganya, kewajiban mengabdi pada kerajaan adalah prioritas nomor satunya. Kewajiban itu melekat pada hidup mereka, memastikan orang-orang seperti Esther dapat menyaksikan opera dengan tenang.
Simpati merebak di hati Esther kala menyadari kenyataan tersebut. Maka dari itu, beberapa menit setelah cerita dimulai, Esther kembali membuka mulutnya.
"Wanita itu, dia tokoh utama cerita hari ini. Ia baru saja menikah dengan—" Esther menunjuk seorang pria sedang berputar dan bernyanyi bersama sekumpulan pemain latar lainnya. "pria itu."
Raphael menganggukkan kepalanya. "Mereka tampak... kurang bahagia."
"Ya, mereka—" dan segala cerita itu tumpah dari lidah Esther. Pertunjukan hari itu diadaptasi dari salah satu novel yang pernah ia baca. Ia ingat menemukan buku itu di salah satu rak perpustakaan. Tidak seperti kebanyakan kisah yang ia baca, novel satu itu mengisahkan cinta tragis sang tokoh utama wanita. Bahkan sebelum menamatkan ceritanya, tangan Esther tidak pernah terdorong untuk meraih buku itu lagi. Diri kecilnya tidak pernah menyukai kisah-kisah menyedihkan. Tapi, kemudian, kenyataan tidak pernah semanis akhir dongeng-dongeng yang bagai gulali.
Rosalind—tokoh utama wanita opera hari itu—adalah seorang wanita bangsawan biasa yang hidup tenang di desa. Suatu hari sepucuk surat datang dari raja negara tetangga, seorang raja gagah perkasa, kaya, dan memiliki tanah yang luasnya tidak terkira. Keduanya berkorespondensi untuk beberapa lama, hingga akhirnya sang Raja melamarnya—melalui surat, tentu saja. Memintanya datang ke tanah kerajaannya.
Rosalind tidak sabar mengunjungi kerajaan sang Raja yang disebut-sebut sebagai permata hijau di barat. Lalu, ia mendapati bahwa kerajaan sang Raja tidak seindah yang ia bayangkan. Sebagian besar wilayah mereka hancur karena perang takhta yang berkelanjutan. Ia juga mendapati bahwa sosok sang Raja yang ia kenal dari surat-suratnya, bukanlah sosok sebenarnya dari sang Raja.
Sang Raja memerlukan seorang istri dari keturunan keluarga bangsawan, namun tidak cukup kaya, tidak memiliki tanah ataupun kekuasaan yang dapat mengancam kesejahteraan takhtanya. Namun, kemudian, Rosalind telah jatuh cinta segenap hatinya kepada sang Raja, sekalipun pria itu sama sekali bukanlah sosok yang ia harapkan.
Pernikahan mereka—adegan ketiga dari opera ini—adalah pernikahan paling megah sepanjang abad, tetapi Rosalind tidak tampak bahagia. Sebab sang Raja lebih mencintai selir-selirnya dibandingkan dirinya. Esther mengerti mengapa, dahulu, ia tidak pernah lanjut membaca cerita Rosalind. Awalan cerita ini lebih menyedihkan dari yang diri kecilnya mampu percayai. Tetapi kemalangan sang tokoh utama wanita tidak berhenti sampai di sana—
Seluruh udara dalam paru-paru Esther seakan menguap saat panggung berubah gelap, menyoroti Rosalind duduk berlutut. Darah merembes dari gaun darahnya. Pilu mengalun dari mulut Rosalind seolah-olah petaka yang ia alami menyayat tenggorokannya. Esther melupakan satu poin penting dari cerita Rosalind—alasan mengapa wanita polos itu berubah menjadi ratu yang akan menaklukan kerajaannya. Rosalind gagal melahirkan barang satu anak pun bagi sang Raja. Dan karena kegagalannya itu, pria satu-satunya yang ia cintai mengabaikannya.
Tidak. Tidak dibenci, hanya saja, ia diabaikan. Barang yang sudah rusak tidak bisa dibuat semakin rusak, sehingga orang-orang mengabaikannya. Rosalind mengorek luka Esther yang tidak sepenuhnya sembuh.
Bulir tangis menuruni pipi Esther. Ia masih mampu merasakannya, kesepian yang melandanya dua tahun lalu. Bagaimana jiwa yang ia kandung selama enam bulan terselip dari genggamannya. Kehilangan itu menghancurkan tidak hanya dirinya, tetapi juga mimpi-mimpinya—dan itulah pukulan terberatnya. Hantaman yang menyebabkan lubang menganga di hatinya.
Sebab, mimpi-mimpi itu tidak hanya milik dirinya sendiri. Raphael juga mendambakan apa yang ia impikan. Mimpi-mimpi itu milik mereka berdua; sebagaimana perkarangan luas kediaman mereka dipenuhi oleh jeritan buah hati mereka, tawa anak dari anak mereka, dan seterusnya. Sementara ia dan Raphael akan menyaksikan di bawah pohon teduh, keluarga kecil mereka berubah besar.
Itu adalah akhir bahagianya. Seharusnya. Sebelum vonis dari dokter persalinannya menjadi penghakiman paling absolut. Sebelum dunia menyingkap permainan bejat mereka di hadapannya. Sebelum ia mengurung diri dan hendak mengakhiri segala penderitannya. Detik. Itu. Juga.
Ketika Esther mengira ia menyembunyikan tangisnya dengan baik, tanpa ia sadari, tangan Raphael merambat perlahan. Menggenggam tangannya. Jemari panjang itu bertaut dengan jari-jarinya, membentuk jalinan hangat nan erat. Esther menengadahkan kepala, melihat profil tampak Raphael memandangi panggung opera. Bertanya-tanya apakah pria itu, akhirnya, menyadari ketidaksempurnaan dirinya. Bertanya-tanya apakah pria itu, akhirnya, memahami kehilangan yang meranggaskan jiwanya.
Namun, kemudian pria itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Ia mematri pandangannya ke panggung opera seakan-akan ia menikmati pertunjukan. Tetapi, Esther lebih memahami makna dari tindakannya, dari perilakunya. Sebagaimana bahunya memberikan suaka bagi Esther melampiaskan seluruh tangisnya. Sebagaimana ibu jarinya dengan konstan mengelus punggung tangannya, terus menerus. Pria itu ingin membuainya tanpa sedikitpun membuat dirinya merasa lemah, tidak berdaya, kurang sedikitpun. Kendati pria itu tidak mengetahui apa alasan di balik kesedihannya.
Dan itu menjadikan Esther berandai-andai. Kendati ia sudah lelah bermimpi, tetapi, andai saja.
Andai saja dua tahun lalu Raphael berada di sisinya.
Pria itu akan menggenggam tangannya, di sampingnya.
Seperti ini. []
Seperti ini.
SEPERTI ITU LOH GAESSSS.
WKWKWK, selamat malam minggu kalian semua!! Semoga kalian suka dengan dua chapter terakhir yang aku update yah :')
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top