12 - Kania / Thalia
12
Kania Octavius of Reyes menyadari bahwa Pameran Seni tahun itu tidak semeriah tahun sebelumnya. Ia juga menyadari, kala menumpukan kedua sikunya pada jendela di malam hari, tidak ada kembang api warna-warni yang menghiasi langit dari Festival Malam. Reibeart sedang berduka, kata salah seorang pelayan. Kepulangan para prajurit dari medan perang kali ini membawa awan nelangsa yang menggantung di atas Reibeart.
Dan di sini Kania, di galeri Pameran Seni sedang mendengarkan Tharon, Pangeran Mahkota Fitzalbert, mengoceh tentang kekuatan tersembunyi militer kerajaannya. Sebagaimana tentara-tentaranya dengan mudah menumpas semua musuh Reibeart, dan kemalangan yang mereka alami dapat dicegah. Kania hanya tersenyum layaknya putri yang diharapkan semua orang—jalannya untuk mencegah bola matanya berputar mendengar omong kosong itu.
Omong kosong karena pertama, musuh Reibeart saat ini adalah Waisenburg dan kerajaan seperti Fitzalbert mustahil mengalahkannya. Perang melawan kerajaan adidaya itu bukan lain sebuah tindakan bunuh diri, kecuali seluruh negara di dunia bersatu menentangnya. Kedua, Fitzalbert tidak pernah ikut serta dalam perang yang tidak menyangkut kepentingannya. Mereka hanya akan menjilat siapapun yang kelak menjadi pemenang. Apabila pria itu berusaha menikahinya dengan bualan macam itu—ia sudah gagal sejak kata pertamanya keluar.
Kekaisaran Dyre. Itu satu-satunya peluang Reibeart mengalahkan Waisenburg. Kekaisaran itu memiliki reputasi buruk di Benua Tengah dengan kegilaan para pemimpinnya. Kegilaan tersebut, konon, adalah sebuah bayaran yang dipinta dewa-dewi atas kemakmuran wilayah Dyre. Kania tidak pernah mengunjungi kekaisaran, namun dari cerita guru pribadinya, ia mampu membayangkan tanah yang begitu hijau dan sedemikian luas. Tidak ada benih yang tidak tumbuh di Dyre. Tidak ada musim kemarau yang berkepanjangan ataupun musim hujan yang berlebihan.
Namun, kemudian, Kania tahu bahwa Reibeart enggan mengetuk pintu kekaisaran, setelah nyaris dua abad lamanya, Dyre selalu menempati urutan pertama daftar hitam Reibeart. Konflik tersebut terjadi ketika salah seorang putri Reibeart dinikahi sang kaisar dan alih-alih diangkat sebagai permaisuri, putri itu dijadikan selir. Tindakan tersebut tidak ubahnya penghinaan bagi Reibeart yang menjunjung tinggi kehormatan. Ketegangan di antara kedua kerajaan tidak kunjung mereda ketika tiga puluh satu tahun yang lalu, kekaisaran itu membantu pihak yang hendak menggulingkan rezim keluarganya.
Pilihan yang buruk, tetapi satu-satunya yang mereka punya untuk menghadapi kerajaan sebesar Waisenburg.
Entah bagaimana, lagi-lagi, untuk kesekian kalinya dalam hari itu, langkah Kania membawanya ke tempat yang sama. Salah satu sudut di galeri Pameran Seni, tempat di mana tepat setahun lalu, ia bertemu pria misterius itu. Seorang Dyre dengan suara berat, namun menabuh manis lubuk hatinya. Mengapa seseorang dengan keindahan seperti Anda, melukiskan kesepian yang mendalam?
Pria itu berhasil melihat melalui topeng yang Kania kenakan. Senyum palsu yang terukir pada bibirnya. Senyum yang mengelabui banyak orang, tetapi tidak dirinya. Pria itu menyadari realitanya; kenyataan bahwa ia lelah menjadi seseorang berbeda, putri yang dikukung di dalam kerajaannya sendiri. Ia lelah diperlakukan seperti benda cantik, diagung-agungkan dari jauh, tiada satupun yang berani mendekatinya.
Namun, pria itu memberikannya satu kesempatan untuk mencicip apa itu kebebasan di luar dinding istananya. Mustahil Kania melupakan riuh tawa para penduduk ataupun letusan kembang api Festival Malam yang memekakkan telinganya. Kania tidak mungkin melupakan satu malam penuh kebebasannya itu. Kania tidak mungkin melupakan pria itu ke titik di mana ia bersikeras mempelajari bahasa Dyre. Berharap bahwa suatu saat kelak, ia kembali menemukannya.
Mungkin, itu menjelaskan mengapa tanpa sadar, langkahnya selalu berhenti tepat di titik yang sama. Sebab, Kania terus menerus mencari-cari keberadaannya. Atau, seberkas kehadirannya. Helai pirangnya. Manik peraknya. Namanya.
"Wah, lihat ini," Tharon menyentuh tangan Kania yang menggandeng lengannya, memotong alur pemikirannya, "lukisanmu, Tuan Putri."
Kita sudah memutari galeri berkali-kali dan kau baru menyadarinya sekarang? Kania tersenyum. "Benar, Yang Mulia."
Tharon berdecak dalam cara yang berlebihan. "Bakat luar biasa di usia yang begitu muda."
"Terima kasih atas sanjungannya, Yang Mulia," ujar Kania. "Tetapi, perjalanan yang harus saya tempuh masih panjang. Lukisan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan karya seniman lainnya."
Tharon mendengus sebelum menyemburkan tawa kecil. Seakan-akan apa yang dikatakan Kania sama mustahilnya dengan seseorang menumbuhkan tanduk di kepala. "Kau tidak mungkin bermaksud untuk terus melukis hingga tua dan mengotori gaun mewahmu saat menjadi ratuku, bukan?"
Ratunya? Terkutuklah ia bila terbersit sedikit saja di otak sempitnya itu bahwa Kania bersedia menikahinya. Kania menghirup napasnya dalam-dalam, memilah kata demi kata yang akan tumpah dari lidahnya. "Ibuku sendiri terus melukis di waktu senggangnya, Yang Mulia. Mungkin, jika diusahakan, kita akan berhasil menemukan titik tengah dari kewajiban dan seni."
"Tidakkah kau suka acara minum teh? Semua wanita suka berbincang dan minum teh. Kau harus mengalihkan kegemaranmu ke hal-hal—yang kurang jelata." Tharon mengangkat kedua bahunya tidak acuh. "Ada alasan mengapa seseorang dengan darah bangsawan seperti kita, Tuan Putri, cenderung menikmati seni dari jauh dibandingkan menciptakan seni itu sendiri."
"Dan ada alasan mengapa seseorang dengan pikiran lebih pintar tidak berpegang pada prinsip sekonyol itu."
Tharon menghentikan langkahnya. "Maaf, Tuan Putri?" Sebelah alisnya terangkat saat memandangi Kania, memastikan pendengarannya. Manik hijaunya membelalak, sarat akan keterkejutan dan sepercik amarah. Pria itu tidak pernah ditentang siapapun dalam hidupnya. Semua yang dilakukan dan diucapkannya selalu disanjung sampai-sampai pria itu berpikir dirinya adalah kebenaran.
"Ya, Yang Mulia?" Kania tersenyum, menyunggingkan sudut mulutnya tanpa cela. Membuyarkan ingatan sang Pangeran dari ucapan tajamnya. "Apa ada yang salah?"
"Tidak. Aku rasa—" Tharon menggelengkan kepalanya. "Untuk beberapa detik aku membayangkan hal yang mustahil."
"Benarkah?" Tangan Kania menutup mulutnya dalam gestur terkejut. "Kurasa sudah saatnya kita beristirahat di kamar masing-masing."
"Aku setuju. Menghadiri pameran seni seharian bukanlah pekerjaan mudah, bukan?" Tharon menghela napasnya sebelum meraih tangan Kania, mengecup punggung tangannya. "Sampai bertemu di opera minggu nanti, Tuan Putri?"
"Aku sangat menantikannya." Wajah Kania mulai lelah tersenyum lebar. Kania menekuk lututnya. "Sampai jumpa, Yang Mulia."
"Sampai jumpa, Tuan Putri."
Dan detik ketika Tharon membalik punggungnya, Kania menyirnakan senyum dari wajahnya.
***
Thalia memerhatikan putri bungsunya dari salah satu balkon yang menghadap galeri. Pancaran kecantikannya menarik perhatian siapapun di sekitarnya. Memukau setiap mata yang memandang, seakan-akan ia tak ubahnya dewi yang memutuskan untuk berjalan di antara manusia. Dengan paras jelita itu, Kania bisa saja mendapatkan hati pria manapun, kaisar atau raja atau pangeran, jika—dan hanya jika—seseorang mampu melihat lebih jauh dari sekadar penampilannya.
Thalia tahu, sebagaimana putrinya itu tersenyum terlampau lebar dan pada detik setelahnya berubah sedatar permukaan dinding, bahwa Tharon sekalipun gagal mendapatkan hatinya. Thalia mengembuskan napasnya, sedikit terlalu kencang.
"Ada apa, Sayang?" Tangan Alec merangkul pundaknya, sementara bibirnya mendaratkan kecupan pada pelipis Thalia. "Keputusasaanmu terdengar hingga seberang ruangan."
Ia menyeringai mendengar ucapan suaminya, tetapi gurauan itu tidak cukup mengangkat beban di kedua bahunya. "Kania," ujar Thalia. "Ia memutuskan bahwa Tharon tidak cukup baik baginya."
"Well, aku sendiri kurang menyukainya, Thalia. Aku akan dikenal sebagai mertua paling buruk sepanjang sejarah bila bocah arogan itu menjadi menantuku."
Kedua mata Thalia menyipit. "Alec."
"Aku serius. Sekalipun ibunya—siapa? Sepupu jauhmu?"
Thalia masih mematri tatapan tidak setuju kepada suaminya.
"Hei," Alec menggenggam kedua tangan Thalia. "Tidakkah kau menginginkan masa depan bahagia bagi mereka semua?"
"Tentu saja—"
"Keempat anak kita menentukan kehidupan mereka masing-masing," Alec mengingatkan. "Mengapa kau membatasi Kania untuk memperoleh hal yang sama?"
"Kau tahu mengapa." Thalia bersedekap, memandangi punggung putrinya pergi meninggalkan galeri. Ia harus melindungi sesuatu mengenai putrinya. Sesuatu yang tidak boleh diketahui manusia hidup mana pun. Sebab, begitu rahasia tersebut diumumkannya kepada dunia, kepada kegelapan yang mengintai dari sudut dan ujung dunia, Kania harus siap mempertaruhkan nyawanya. Dan, keselamatan anak-anaknya adalah hal terpenting baginya. Tidak lebih dan tidak kurang. "Kau selalu tahu mengapa aku bersikeras melindunginya."
"Bertahun-tahun lalu, kau sudah mengatasi Kania. Bahkan kau tahu sendiri, Esther tidak setitik pun mengingat kekuatan itu dalam dirinya," ujar Alec.
"Kuharap begitu. Kuharap mempercayai keyakinan itu lebih mudah dari menghadapi kenyataan yang ada." Thalia memandangi suaminya, matanya berkaca-kaca oleh emosi yang meluap. Suaranya retak di sana-sini, saat berkata lirih, "Perang Agung akan sekali lagi meletus karena keputusan kita di masa lalu, Alec."
Alec menangkup wajah Thalia dan membiarkannya larut dalam dekapan pria itu. Sekalipun beberapa pasang mata melirik penasaran. Sekalipun mereka tidak lagi muda, tetapi cinta mereka utuh dan kekal. Konstan detak jantung Alec menenangkan keresahannya sementara tangan pria itu mengelus rambutnya. "Apa yang terjadi di masa lalu, tetaplah masa lalu, Thalia. Biarkan masa lalu menjadi sejarah dan sejarah menjadi pelajaran. Dan apabila perang itu akan datang seperti yang kau perkirakan—maka kita harus memusnahkan pedang itu, untuk selamanya."
Thalia memberikan jarak di antara mereka, menemui manik biru kelabunya yang mengingatkannya pada segala yang ia cintai. "Tapi Waisenburg bukan lagi sekutu kita, Alec. Mereka adalah kegelapan yang selama ini selalu aku takutkan. Dan—aku tahu mereka akan mengincarku. Bagi mereka aku adalah ancaman terbesar mereka—"
Rahang Alec mengeras seiring dengan kian eratnya genggaman pria itu pada tangannya. "Aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku akan bertarung di sisimu, seperti sebelum-sebelumnya, melindungimu ketika kau lemah, menjadi pedangmu ketika tungkaimu cukup kuat untuk berdiri. Demi dewa-dewi, aku bahkan akan menukarkan nyawaku demi dirimu."
"Alec." Jemari Thalia mengelus sisi wajahnya. Beberapa anak rambut putih yang menghiasi wajah tampannya. "Dari sekian banyak hal yang kutakutkan—kehilangan dirimu adalah ketakutan terbesarku. Dan mereka tahu betapa berharganya dirimu bagiku." Thalia menggelengkan kepalanya, membuyarkan bayangan berdarah dari benaknya. "Apa yang akan aku lakukan ketika kehilangan dirimu?"
Alec menghela napasnya, memandangi Thalia dengan kepedihan yang sama. "Jangan jadikan aku kelemahanmu, Thalia, karena aku tidak bisa melindungi dirimu dari diriku," ujar Alec. "Ketika kau kehilangan diriku, jadikan kenangan bersamaku kekuatanmu. Ketika kau kehilangan diriku, Thalia, hiduplah dengan kenangan itu membekas di hatimu. Hiduplah dengan masa-masa bahagia kita di setiap embusan napasmu. Hiduplah, panjang dan cukup lama, untuk menyaksikan keluarga kecil kita berubah besar. Hiduplah, dan terus ketahui bahwa aku mencintaimu."
Thalia mampu merasakan hangat yang membasahi pipinya. Alec meminta sesuatu yang sulit ia berikan. "Alec," suara Thalia tersendat oleh isaknya.
"Berjanjilah." Alec mencengkeram kedua bahunya dan seketika, Thalia merasa kecil. Alec secara tidak langsung mengingatkannya bahwa dalam melindungi sesuatu, ada pengorbanan yang harus ia lakukan. Tetapi, Thalia tidak pernah andal memilih. Ia selalu memutuskan untuk melindungi semuanya, segalanya—dan hasilnya adalah kehancuran di ujung mata.
"Aku hanya akan berjanji," ujar Thalia, "jika kau berjanji akan hidup bahagia, panjang dan lama menggantikanku menyaksikan kebahagiaan anak-anak kita, ketika kau kehilangan diriku."
Butuh lima hingga sepuluh detik sebelum Alec berkata lirih, "Aku berjanji." Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Thalia.
Sebab, sesungguhnya, mereka tahu betapa sulit menjalani hidup tanpa satu sama lainnya. Mereka hidup karena cinta dan cinta itu akan membunuh mereka, perlahan. []
HALO HALO kembali lagi hari Sabtu bersama saya di sini!!!
Jangan lupa berikan dukungan kalian yaaaah~
Sementara itu aku upload next chapter dulu WKWKKW
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top