10 - Esther
10
Pohon di taman belakang Kastil Gemma itu menyimpan banyak kenangan bahagia. Ia ingat menciptakan beberapa langkah pertamanya di bawah pohon itu. Ayah dan Ibu kelewat bangga, membanjirinya dukungan dan pujian. Masih melekat juga di benaknya Ibu mengadakan piknik kecil yang kemudian berubah menjadi kapal pecah tepat saat Daria mulai melempar makanan ke Petra. Atau, permainan kejar-kejaran yang kerap Esther lakukan bersama saudaranya, dan berakhir lelah, megap-megap, lalu tertidur pulas di bawah bayangan pohon.
Namun, dari semua kilas balik yang berputar di pikirannya, hanya satu yang mampu membangkitkan ribuan kupu-kupu di dalam jantungnya.
Kala itu adalah musim panas ketujuhbelas dalam hidupnya. Lady Godfrey, guru etikanya, selalu memperingatkannya bahwa tidak ada perempuan baik-baik yang menerima undangan seorang lelaki di malam hari. Terutama di tempat termaram dan tersembunyi dari cahaya. Katanya, hanya ada iblis dan monster mengintai dari sudut-sudut gelap. Esther yang tidak pernah memberontak seumur hidupnya, untuk kali pertamanya mengelak. Apa yang perlu ia takutkan ketika bersama Raphael?
Raphael baru saja pulang dari perangnya di Waisenburg. Esther sempat mengintip sosoknya di ruang takhta, Ibu menyematkan tiga lencana—tiga lencana!—ke dada kirinya, sebelum para prajurit mengawalnya pergi menjauh dari ruangan tersebut. Perang bukan untuk perempuan manis sepertinya, kata mereka. Tetapi, di mana Daria akan memberontak dan menyerbu masuk, Esther kembali ke ruangannya. Ia melarikan jemarinya di sepanjang rak bukunya seakan-akan masih ada buku yang belum ia baca—hingga ketukan di pintunya berkumandang.
Seseorang menyelipkan secarik kertas dari celah sempit pintunya. Dari tulisan rapinya, Esther mengenali penulis rahasia itu sebagai Raphael, meminta Esther untuk menemuinya di taman belakang malam kelak. Tidak sulit meminta Katarina de Clare, dayang ibunya, membantunya. Ia menyelinap begitu gelap tiba dan menemukan pangerannya, bersih dan tampan, di bawah pohon itu.
Mereka berbincang sembari duduk di atas permadani rumput, disinari sinar perak bulan. Mereka menceritakan semua yang tidak mampu mereka tuangkan di dalam surat. Hari-hari membosankan yang Esther lewati. Minggu-minggu mencekam di mana Raphael merasa ia akan kehilangan nyawanya, cepat atau lambat. Esther menyukai setiap ceritanya, sebab Raphael tidak memperlakukannya berbeda hanya karena dirinya seorang perempuan.
Perang pertamaku, ujar Raphael manik birunya gemerlap di bawah cahaya bulan. Aku tidak tahu apakah aku dapat kembali—tetapi surat-suratmu memberikanku harapan. Kau tidak pernah melewatkan untuk menceritakan rumput hijau, langit biru, dan tawa para penduduk. Kau membawa Reibeart hidup dari tulisanmu dan hal itu mendorongku untuk memperjuangkan hidupku, hari demi hari.
Tidak. Aku pikir itu tulisan-tulisanmu. Aku pikir itu surat-suratmu. Atau, samar aromamu yang melekat pada permukaan kertas. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa cintamu yang menjadikan aku mampu berjuang dari cengkeraman kematian. Untuk itu, Esther—
Kurasa aku telah jatuh cinta padamu.
Lady Godfrey salah. Oh, sungguh teramat salah. Raphael bukan iblis yang bersembunyi dalam kegelapan. Di antara cahaya maram itu, Raphael adalah pangeran yang menggenapkan mimpi-mimpinya. Mereka saling tertarik pada satu sama lainnya, merapatkan jarak layaknya pasangan manapun yang belum pernah mengenal kecupan. Setiap jarak yang mereka hapus, menabuh jantung Esther sepersekian detik lebih cepat. Kelopak mata Raphael setengah mengatup, mengamati setiap gerak-gerik bibirnya. Dan bibir itu, akhirnya, menemui bibir Esther. Manis, lembut, dan—
Gigi mereka berseteru. Keras.
Raphael tertawa. Napasnya menerpa wajah Esther. Itu ciuman pertamaku. Kurasa masih banyak yang harus aku pelajari.
Esther pun tidak mampu mengelak geli di perutnya. Mereka muda, tetapi cinta mereka membakar lebih terang dari bulan. Ia meraih jemari Raphael, menjalin genggaman mereka menjadi satu. Kita akan belajar bersama. Melalui semuanya bersama karena ketika bersamamu, aku tahu aku akan baik-baik saja.
Tetapi, kini, batin Esther memulangkan pikirannya dari detik-detik yang telah usang, supaya semuanya baik-baik saja, seperti yang aku janjikan, aku tidak bisa berada di sampingmu selamanya.
Bisikan beracun Margaret adalah awal dari kehancurannya. Ia hanyalah seorang gadis naif dan bodoh, berpegang pada selama-lamanya, ketika keabadian dan akhir bahagia bukanlah sesuatu yang nyata. Apa kau pikir Rafe akan selamanya menjadi milikmu? Margaret membuktikan, hari itu, di ruang kerja suaminya bahwa tidak ada selamanya bagi Esther. Tidak ada ibu peri yang akan mengubah mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Apabila ia menginginkan cinta suaminya, maka ia harus berusaha memberikan satu-satunya kebahagiaan yang Raphael butuhkan.
Keluarga. Anak-anak.
Namun, dunia merenggut kesempatan itu darinya. Gadis yang siapapun kenal telah meninggal, mati bersama bagian jiwanya yang hilang. Untuk beberapa waktu yang lama, Esther adalah kerangka tulang, darah, dan daging. Ia tidak bernyawa, tidak bernama karena ia tengah menyaksikan kehancuran dirinya. Di saat-saat seperti itu, Esther tidak sedikit pun menyalahkan Raphael yang jauh dari sisinya. Tidak. Ia paham bahwa segala kehancuran ini adalah kesalahannya. Ia tidak sempurna.
"Esther?" sebuah suara familiar bergema dari koridor di balik punggungnya.
Esther berbalik, mendapati Katarina de Clare—kini kakak iparnya—perutnya bengkak berkali-kali lipat dari terakhir kali Esther mengingatnya. Ia berjalan ditemani dua pelayan yang menopang tangannya dari dua sisi berbeda. Jika perhitungan Esther benar, maka dalam hitungan satu atau dua bulan, akan ada tambahan anggota baru dalam keluarga besar mereka.
Untuk itu, Esther tidak sabar menantikannya. Ia dipastikan akan menemani Katarina sepanjang persalinan, seperti ia membantu ibu-ibu di desa melahirkan. Setidaknya, pikir Esther, sekalipun ia kehilangan kesempatan tersebut, ia akan menua dengan banyak keponakan berlarian di sekelilingnya. Dan ia akan menjadi bibi yang baik, mencintai setiap dari keponakannya seperti ia mencintai anaknya sendiri.
"Kat!" Esther menghampirinya, nyaris memeluk teman masa kecilnya itu kalau bukan karena gaunnya yang kotor. Kehidupan di kapal dalam pelayaran yang panjang memaksa dirinya menomorduakan pakaian bersih. Ia mengenakan gaun yang sama selama tiga hari berturut-turut dan ia enggan mengotori gaun mewah Katarina. Sehingga, kedua tangan Esther menggenggam bahunya. Katarina memiliki postur tubuh yang mungil dan membuatnya tampak layaknya raksasa. "Kau membengkak."
"Kau belum lihat kakiku," ujar Katarina. "Aku tidak tahu bahwa bagian tubuh selain perutku dapat membesar. Apa kau tertarik untuk menikmati teh bersamaku di taman?"
"Sangat." Esther mampu merasakan perutnya bergejolak lapar. Makanan di kapal tidak selamanya nikmat. "Biarkan aku mengganti gaunku terlebih dahulu."
Katarina mengangguk. "Aku akan menunggumu, tepat di gazebo dekat danau."
Esther melesat ke kamar yang pelayan siapkan untuk dirinya. Setelah pernikahannya dengan Raphael, Esther tidak pernah menempati kamarnya terdahulu. Ia menyadari bahwa dinding kamarnya terlalu krem. Ruangannya terlalu luas. Tirai ranjangnya terlalu merah muda. Rak bukunya terlampau padat oleh imajinasi masa kecilnya. Ketika ia memutuskan untuk meninggalkan kediaman suaminya, ia kemudian menempati kamar yang jauh lebih sederhana berukuran sedang di dekat kamar saudara-saudaranya.
Dan Esther lekas mendorong pintu kamarnya, sebab apa ia perlu mengetuk pintu kamarnya sendiri? Pemandangan kamarnya tersingkap perlahan dari belahan daun pintunya—beserta sosok seorang pria. Esther, bukanlah wanita berhati kuat seperti kakak-kakaknya, terkesiap, nyaris teriak, dari dasar tenggorokannya.
Pria di hadapannya ikut terkejut. Esther mampu menangkap samar kedua bahunya melonjak mendengar kesiapnya. Tapi, apa yang mengejutkan Esther adalah kenyataan bahwa siapa yang sedang berdiri di depannya bukanlah sembarang pria. Dan di atas segalanya, tidak ada satu pun benang menempel pada torsonya meskipun pria itu memiliki cukup kesopanan untuk tidak berkeliaran tanpa celananya.
Esther menjulurkan lehernya ke koridor, berjaga-jaga apabila keterkejutannya menarik perhatian para pelayan. Nihil. Esther segera menutup pintu di balik punggungnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Esther berdesis.
Raphael mengeringkan rambut pirangnya dengan handuk yang ia gantung di lehernya. "Mereka bilang ini kamarku."
"Ini kamarku," ujar Esther, mengalihkan pandangannya dari tubuh Raphael ke vas bunga dekat ranjang. "Pasti ada sesuatu yang salah."
Daun telinga Raphael samar bergerak mendengar pernyataannya. Ia mengambil satu langkah lebih dekat—satu langkah lebih sulit bagi Esther mengalihkan perhatiannya. Bahkan dari jarak yang mereka ciptakan, Esther kuasa merasakan hangat tubuh Raphael menguar dari setiap permukaan kulitnya.
"Apa yang salah?" tanya Raphael, sebelah alis pirangnya terangkat.
Esther melambaikan tangannya ke ruangan. "Ini." Lalu, Esther menggelengkan kepalanya. "Kalau kau menginginkan kamar ini, Rafe, aku akan pindah ke kamar lain. Tidak masalah."
"Apa?"
Esther mengulangi ucapannya, "Kalau kau menginginkan kamar ini, aku akan pindah ke kamar lain."
"Bukan," Raphael berdecak. "Bukan itu, Esther. Apa yang kau maksud dengan ucapanmu?"
"Aku memaksudkan apa yang aku maksudkan, Rafe."
Tungkai panjang Raphael mengambil langkah maju, tetapi Esther yang keras kepala memusatkan perhatiannya pada karpet merah ruangan. "Tidak. Aku tahu itu bukan apa yang kau maksud." Sebelah tangan Raphael meraih sisi wajahnya. "Aku ingat, kau membenci kebudayaan bangsawan yang mengharuskan sepasang suami istri tidur terpisah."
"Itu—" Esther mendongak dan seketika, ia menyesal. Wajah Raphael terlalu tampan. Selama sebulan penuh Esther berusaha menghindari manik biru itu, kini berujung sia-sia. Sebab, manik biru itu selalu berhasil menarik Esther tenggelam bersama keindahannya. Bentuk bibir Raphael mempesonanya dalam cara-cara yang membangkitkan kenangan dahulu. Dan adalah sebuah dusta jika Esther tidak mengingat hangat kulit telanjang itu mencucup sepanjang tubuhnya.
Itu adalah letak kesalahan terbesar Raphael. Pria itu membuai Esther dengan memori-memori cinta. Angan-angan yang rapuh. Pria itu terlalu sempurna, bahkan dengan luka di wajahnya—pria itu tidak pernah tampak lebih sempurna. Lebih maskulin. Lebih mendominasi. Siap menerkam Esther ke dalam dekapannya.
Dan Esther bukan tidak mengingat apa yang diucapkannya. Ia mengingat setiap katanya, sebagaimana ia tidak ingin tidur terpisah dari suaminya kelak seperti bangsawan kebanyakan. Ia ingin menghabiskan tiap malamnya menutup mata di hadapan pria yang paling dicintainya. Ia ingin dibangunkan tiap paginya oleh embusan napas pria yang memiliki separuh hatinya. Tetapi, itu sebelum ia mengenal kehilangan. Sebelum ia tahu bahwa Raphael tidak akan bahagia bersamanya.
Tekad Esther sudah lama bulat. Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk bangkit menjadi seseorang yang berbeda. Ia bukan lagi gadis dengan imajinasi naif. Ia seorang wanita yang pernah terluka dan kedekatan di antara mereka hanya akan melukai satu sama lain lebih dalam. Lebih pedih, juga. Seperti menabur garam di atas luka. Raphael berhasil hidup, demi dewa-dewi. Pria itu berhasil melarikan diri dari cengkeraman Dewi Kematian. Pria itu berhak mendapatkan masa depan yang ia inginkan.
Sementara, bagi Esther, masa depan itu sudah hancur menjadi serpihan beling di bawah telapak kakinya. Tajam dan mengiris kulitnya, setiap kali ia berusaha berjalan. Sehingga, Esther berkata:
"Mari kita bercerai." []
Yuhu saya datang menemani kalian yang kesepian di malam minggu!!!
Jangan lupakan dukungan kalian! Terima kaseh banyak!!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top