q. hear
Bel rumah yang kian berbunyi membuat Aeri yang sedang duduk di balkon belakang rumahnya bergegas menuju pintu utama. Melihat siapa tamu yang berkunjung sepagi ini ke rumah. Tak mampu Aeri pungkiri memang jika wanita itu mengharapkan yang datang adalah Taehyung.
Setelah ia membuka setengah dari lebar pintu, justru yang ia lihat adalah sosok wanita. Sosok yang menamparnya beberapa pekan lalu, Lee Hera.
Mata mereka bertemu untuk sepersekian sekon. Namun, tanpa basa-basi Aeri bergegas menutup pintu itu kembali walaupun Hera berhasil mencoba mencekalnya, namun gagal. Pintu itu kembali tertutup.
Aeri tidak pergi dari pintu, ia berdiri di belakang pintu itu sambil tertunduk. Bohong jika ia mengatakan baik-baik saja, karena tak ada yang merasa baik ketika merasa cemburu hanya dengan menatap mata seseorang.
Hera mengetuk pintu beberapa kali, memanggil nama Aeri terus-menerus tanpa henti.
"Aku tau kau di sana. Bisakah kita bicara?"
Tidak, tidak bisa!
Aeri menyadari bahwa ketika ia berbicara dengan Hera, itu berarti ia mengorbankan segala hatinya untuk siap hancur berkeping-keping.
"Aeri-ssi? Aku tahu kau masih di sana."
Benar, wanita itu memang masih ada di sana, tepat di balik daun pintu yang menjadi sekat antara keduanya.
"Aku tahu kau bertanya untuk apa aku ke sini bukan? Aeri, demi seluruh kehidupan, aku bersumpah kau tak pantas sedemikian terhadap Taehyung."
Mendengar hal tersebut Aeri hanya terkekeh kecil, merotasikan bola matanya sembari mendongakkan kepala merasa tak habis pikir. Ah, membela kekasihmu, bung?
"Ia hanya berniat menolongku. Katakanlah aku yang bersalah, aku yang egois menginginkan Taehyung bersamaku ketika jelas ia telah mutlak menjadi milikmu. Tetapi Aeri-ssi—tahukah kau seberapa hangat hati Taehyung ketika ia menceritakanmu dan Gyura padaku?"
Ada hening sejenak untuk Hera mengatur napas sebelum.ia melanjutkan, "Bahkan Taehyung menceritakan bagaimana pertama kali Gyura memanggilnya Ayah, kapan langkah pertama Gyura, dan tentang rasa cemburunya padamu karena Gyura lebih senang bersamamu dibandingkan dengan Taehyung."
Hati kedua wanita itu mencelos, Aeri dengan segala ketidak percayaannya. Dan hera dangan segala kecemburuannya. Kedua wanita itu sama-sama menahan diri, mengepalkan tangan mereka untuk perasaan yang berbeda. Namun, mereka sedang sama-sama menerima sebuah fakta.
"Tatapan dan senyumnya begitu hangat. Aku mengenal Taehyung dengan sangat baik. Ketika aku melihat itu, aku menyadari bahwa tak ada sisa ruang untukku sedikitpun di sana. Mungkin kau tak menyadarinya, bahkan Taehyung sendiri. Tapi aku yakin bahwa dia mencintaimu."
Helaan napas Hera terdengar begitu berat di telinganya sendiri, wanita itu menjeda pembicaraannya beberapa saat.
"Maafkan aku. Maaf karena aku masih di sini, aku tau ini menyulitkan kalian. Tetapi, sungguh kami tidak pernah melakukan hal kotor melebihi batas seperti yang kau pikirkan, Aeri. Dan ... Ah, kau pasti pernah menemukan beberapa bercak lipstik di baju Taehyung bukan? Tidak, sungguh kami tidak berbuat apapun. Taehyung bermain sesuatu dengan Taeguk dan lipstik sebagai hukumannya." Hera terkekeh kecil, membayangkan malam di mana Taehyung dan putranya bermain semalam suntuk, sampai-sampai Taeguk yang menangisi Taehyung ketika pria itu pergi. Taehyung memang begitu menyukai anak-anak sedari dulu, tak pernah berubah.
"Taehyung sudah membasuh bercak itu sebelum pulang, namun ku rasa itu masih membekas karena ia hanya mengelapnya dengan sedikit air. Aku menyuruhnya agar mencuci kemeja dengan bercak noda itu secara terpisah ketika ia pulang, takut kau akan salah paham sedemikian. Namun, kau tahu apa yang Taehyung katakan? Ia menjawab dengan enteng bahwa istrinya tidak akan berpikiran dangkal dan menuduhnya berselingkuh. Taehyung begitu yakin, bahwa kau mempercayai Taehyung sebagai suaminya."
Tubuh Aeri membeku di balik daun pintu. Ia tentu saja tak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu, tetapi jika memang benar—Aeri merasa dirinyalah yang paling bersalah di sini. Perasaannya begitu hancur saat ini, membayangkan di mana Taehyung dan seberapa berat ia melewati semua ini sendirian.
"Dan kau bisa membayangkan betapa ia mampu menahan kecewa ketika kau menuduhnya melakukan hal kotor seperti yang ada di dalam kepalamu denganku?"
Tangisnya pecah dengan isakan yang tertahan. Harusnya Aeri memang tidak begitu gegabah menuding kesalahan-kesalahan tanpa memberikan pihak lain untuk menjelaskan. Aeri tidak tahu apa-apa, selama ini dialah yang egois. Berpikir bahwa ia adalah pihak yang paling tersakiti, padahal pihak lain bukannya tidak lebih terluka. Mereka tak kalah pandai menutup lukanya, bahkan hingga titik akhir.
"Taehyung pria baik, itu sebabnya ia disandingkan denganmu. Pria bodoh itu mungkin belum pernah mengatakan bahwa ia mencintaimu. Tetapi, apa kau pikir Taehyung tipe orang yang akan dengan mudahnya mau disandingkan begitu saja dengan wanita yang tak ia ketahui sama sekali? Jangan konyol Aeri."
Hera menghentikan ucapannya, hanya ada hening di sana. Dan saat itu ia mendengar isakan Aeri dari balik daun pintu. Isakan yang tertahan.
"Pasti ada suatu hal dari dirimu yang membuat Taehyung memilihmu untuk ia jadikan pendamping. Aku berani bertaruh bahwa Taehyung sudah tertarik denganmu dari awal. Jadi, ku mohon. Percaya padanya, dia yang mempin lebih dari setengah hidupmu. Dan aku bisa menjamin, bahwa kau meletakkan duniamu di tangan pria yang tepat."
Aeri terus terisak, ia ingin sekali mempercayai apa yang Hera katakan. Tetapi ia terlalu takut, takut bahwa segala kepercayaannya akan dihempas begitu saja. Kecewa tidak mengenal siapa dan kapan, ia selalu menghinggapi perasaan seseorang tanpa pamit. Aeri benci hal itu.
"Kau yakin tak ingin menunjukkan wajah cantikmu? Kalau begitu, aku akan permisi pergi, Aeri."
Tubuh Aeri bergetar, ia mendengar langkah kaki Hera yang mulai menjauh. Sampai dengan seluruh sisa keyakinan yang ia miliki, Aeri membuka pintu tersebut yang membuat Hera terkejut dan membalikkan badannya untuk melihat Aeri.
Aeri terlihat kacau, bahkan sangat kacau. Seperti ia sedang tersesat dalam sebuah pilihan kehidupan. Berusaha memilih mana yang seharusnya ia percaya dan mana yang tidak.
"Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Hera dengan senyum yang turut mengembang.
Wanita di hadapannya begitu kaku, terus meremas ujung baju yang ia kenakan sampai terlihat lusuh.
"Aku—a-aku ingin mempercayaimu. Aku ingin sekali mempercayai semua yang kau katakan. Tetapi aku harus bagaimana?"
Aeri terisak dan terus menatap kebawah tanpa mau menatap Hera sedetikpun. Yang Hera temukan di sana adalah luka Aeri yang telanjur menghitam, itu yang membuat Aeri begitu kesulitan.
Hera melangkah mendekat, merengkuh tubuh Aeri yang terlihat begitu lemah. Hera tak kuasa, sungguh. Ia tahu bagaimana perasaan Aeri, rasanya ia ingin menebus segala rasa sakit yang Aeri rasa dengan jiwanya. Dengan apapun.
Ia membelai surai Aeri ketika masih dalam pelukannya, berbisik lembut dengan penuh ketulusan. "Hey, tak apa. Kau memang harus percaya padaku—tidak, lebih tepatnya kau harus mempercayai Taehyung untuk keluar dari segala sesak yang sedemikian mengganggumu."
Hera mencoba menenangkan isak tangis Aeri, tanpa melupakan usahanya untuk meredam segala air matanya juga. Karena, bukan Aeri saja yang ingin melepas air matanya di sana.
"Taehyung akan kembali, kau hanya perlu menunggu. Sepertinya dia hanya memberimu waktu untuk menjernihkan pikiranmu."
Aeri hanya mengangguk. Sembari merapalkan doa disela isak tangisnya. Berdoa agar semua berakhir dengan baik-baik saja.
---
To Be Continue
Gimana part ini menurut kalian?
Pengen marah ke siapa kalo udah gini? Ke aku? Sok lah :v
Daaaaan menurut kalian ini mendekati ending atau tidak? 😂
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top