Chapter 7
"Be my wife and Annie's Mother."
Kalimat pendek namun penuh arti yang terucap dari bibir Leon membuat Anna membeku seketika, sebelum kemudian berkata "B-Be... w-what???"
"Perlu aku ulangi lagi? Be my wife a..."
Sebelum Leon melanjutkan, Anna sudah terlebih dahulu mendorong tubuh pria itu menjauh. Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya yang entah sejak kapan hilang ke mana, Anna pun segera menunpukan tubuhnya pada ujung meja. Kembali memandangi mantan tunangannya, Anna kembali berucap "Are you crazy?"
"So what's your answer, Belle?" Tanya Leon dengan seringaiannya yang khas.
"Of course..."
"Of course the answer is yes!" jawab Leon sambil berkacak pinggang.
"What do you mean?"
"Ada beberapa alasan sebenarnya... dan aku yakin kamu ga akan menolak satu diantara ketiganya."
Anna benar-benar tidak habis pikir dan bertanya-tanya mengapa ia diizinkan untuk mengenal pria seperti Leon Demetrius Wiryadinata ini. Selain ketampanannya yang memang sedikit di atas rata-rata, dan kepintarannya yang sedikit lebih tinggi darinya, menurutnya tidak ada lagi yang bisa membuatnya jatuh hati. Kedua alasan itu pun sudah lama dipatahkan oleh Anna sendiri pasca also one night stand yang berakibat fatal yang dilakukan mantan tunangannya itu.
Menahan kegeramannya, Anna pun berkata "sebutkan... Dan kita lihat apa itu bisa menjadi bahan pertimbanganku. Try me..."
Leon pun kembali duduk di kursinya. Kepercayaandirinya sedang berada di level tertinggi saat ini. Anna tahu itu. Jujur saja, ia kesal setengah mati karenanya.
"One, just as I explained before, aku akan mengajukan tuntutan atas 'penculikan' yang kamu lakukan atas Annie dan juga kasus pencemaran nama baik yang telah menyebabkan kerugian perusahaan. Kamu tahu kan kalau kasus ini akan membuat nama baik kamu tercoreng. Setelahnya, jangan harap kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu untuk mengajar. Say goodbye to your dream."
"That's number one," lanjut Leon masih mempertahankan senyumnya. Senyum yang dulu pernah membuat Anna jatuh cinta setengah mati.
"Two, you will never meet Annie again if you refuse to marry me."
"Apa maksud kamu? You want to take her away?"
"I'll take her away as far as I can. Trust me I will."
Anna tidak habis pikir. Bagaimana mungkin pria di hadapannya ini tega menjadikan anak selucu Annie sebagai umpan. Dia bahkan menjadikannya bahan ancaman.
Hah! Anna lupa! Tentu saja seorang Leon Demetrius Wiryadinata memang sudah tidak memiliki hati! Menelantarkan putrinya hingga mengalami tindak kekerasan saja dia mampu. Pria itu bahkan sempat menutup mata dan tidak ingin ikut campur ketika Anna hendak menyampaikan laporannya.
"Kamu pikir kedua ancamanmu ini berhasil, Mr. Leon?" tanya Anna sembari berjalan ke arah mantan tunangannya itu. Ia pun maju dan duduk di atas meja, tepat di hadapan Leon.
"Kamu seharusnya mengenalku lebih dari beberapa orang, Sayang," lanjut Anna sambil menelusuri rahang tegas Leon. Bicaranya sangat lembut sekali.
Sedangkan sang pemilik rahang? Tentu saja diam sekaku tiang listrik. Raut wajahnya datar tak terdeteksi.
"I am not afraid of your lovely threats, Leon. Kamu bisa mengajukan tuntutan kamu. Kalaupun aku harus kehilangan pekerjaanku, let it be. Aku masih bisa melakukan beberapa hal lain. Lagipula aku percaya aku akan menang. Pertama, karena aku ga bersalah. Kedua, I have people behind my back who'll be ready to help. Kasus kekerasan dan penelantaran anak itu bukan kasus kecil, Sayang. Many parties will stand for us. I mean for me and Annie."
Mendengar hal tersebut justru membuat Leon tertawa. "It's been a long time since you call me with 'sayang'. But I like it," lanjutnya lagi. "Tapi aku belum selesai, Belle. I still have one last thing for you to consider."
Yeah! Anna lupa jika Leon memiliki 3 'alasan' yang harus mengharuskannya untuk menerima pernikahan yang ditawarkan. Sudah pasti ada senjata terakhir yang pria itu persiapkan. Sepertinya ia terlalu bersemangat dalam menghancurkan alasan-alasan sebelumnya. Tapi tak apa. Ia yakin alasan selanjutnya pun tak akan berbeda dan mudah untuk dicari jalan keluarnya. Toh ia tidak akan semudah itu jatuh.
"Tell me then," balas Anna, yang meskipun masih tersenyum, namun tatapan matanya jelas tajam dan mematikan.
"Your family's business, PT. Sastrawijaya Semesta Makmur Tbk... "
Belum sempat Leon menyelesaikan kalimatnya, kerahnya telah ditarik oleh Anna. Raut wajahnya langsung berubah dari seorang Ibu Peri baik hati menjadi Singa betina kelaparan yang siap melahap mangsanya. Siapapun. Tidak terkecuali. Apalagi pria dihadapannya ini.
"Don't you dare to mess with my family! Masalahmu cuma sama aku, bukan sama keluargaku! Deal with it properly. Ga usah bermain kotor sampai melibatkan pihak lain!"
"Belle... Belle... You haven't changed even in a tiny bit, Babe. Kamu masih si cantik yang pemarah. Anyway, it's not me who mess up with your family's business. Instead, I'd like to offer you some help."
"What do you mean?"
"Jadi begini. Perusahaan papamu sedang pailit. Terancam bangkrut karena masalah internal perusahaan sendiri. Ada yang berkhianat dan korupsi hingga perusahaan merugi triliunan rupiah. Saat ini para pemegang saham juga mulai menarik diri dari perusahaan karena kerugian yang ditanggung terlalu besar. If you want to know how I can get this info, don't bother. You know I can, with my money and connection right now."
Perusahaan? Merugi? Sejak kapan?
"Seeing your blank face right now, I bet you just found it now," tebak Leon. "Tapi aku bisa memaklumi. Dari dulu kamu memang tidak pernah mau tahu tentang urusan perusahaan. You always prioritize your dreams, aren't you?"
***
"Halo Ci"
"Halo, Ton..."
"Lu kenapa ci? Tumben nelpon di siang bolong? Kangen ya sama adek kesayangan lu ini?"
Anna dapat membayangkan Anthony dengan senyuman khasnya ketika sedang saling meledek di seberang sana. Dia sungguh merindukan suara adiknya itu. Rasanya ingin segera memeluknya ketika bertemu...
"Iya nih kangen banget gue. Saking kangennya sampai pengen gue getok kepalanya."
"Makanya pulang dong. Jangan ngumpet terus di puncak," sindir Anthony dari seberang sana
"Iya tenang aja. Gue pasti pulang ko minggu ini. Udah sumpek juga di sini. Anyway... perusahaan gimana? Aman?"
Awalnya Anna ragu ingin menanyakannya. Namun, daripada terus berandai-andai, sebaiknya ia bertanya langsung pada sumbernya. Maka Anna pun memberanikan diri menanyakannya.
"Tumben lu nanya?"
"Gapapa. Gue cuma lagi penasaran aja. Kemarin ngobrol-ngobrol sama teman gue soal saham. Ya dikit-dikit belajarlah tentang business. Jadi penasaran aja sama kondisi perusahaan kita," jawab Anna berusaha memberikan alasan yang masuk akal.
Wajar saja jika Anthony adiknya bingung. Entah apa yang merasuki dirinya sekarang sehingga seorang Anna yang tidak pernah tertarik topik tentang perusahaan tiba-tiba bertanya tentang perusahaan. Ya... Anna bisa mengerti hal itu.
Dari dulu ia memang tidak mau memikirkan perusahaan. Awalnya orang tuanya ingin Anna yang menjadi pemimpin. Toh mereka bukanlah penganut kepercayaan 'laki-laki adalah yang utama dan segalanya'. Bagi mereka laki-laki dan perempuan sama berharganya. Namun setelah Anna mengakui bahwa business bukanlah bidangnya dan ia sama sekali tidak ingin terlibat dengan perusahaan, orang tuanya pun menghormati keputusannya. Mereka bahkan mendukung passion Anna di bidang pendidikan. She do feel blessed having parents like Anastasia and Alexander Sastrawijaya.
Berbicara tentang Anthony, adiknya itu memang seorang pebisnis handal. He's a natural born leader and have a great sense of business. Jadi ya wajar saja jika akhirnya Anthonylah yang menggantikan sang ayah. She do support him a lot... They do support each other. Once again she thanked God having them all as family.
Keheningan tampak menjadi jeda yang lumayan lama bagi kedua saudara itu. Sebelum akhirnya Anna mendapatkan jawabannya. "Perusahaan aman ci. Well, memang ada masalah sedikit, tapi masih bisa dihandle ko. Ga usah dipikiran. Bukan lu banget tahu ga sih! Hahaha..."
Uh! What an answer! Bukan ini jawaban yang Anna inginkan. Ia tahu bahwa adiknya pasti hanya sedang berusaha mencairkan suasana.
"Ton, please be honest. Gue dengar perusahaan lagi pailit ya? Ada masalah internal gitu?"
Anna tahu bahwa adik kecilnya itu pasti sedang gelagapan disana. Bingung ingin memberikan jawaban apa. "Ton, gue... ada yang bisa gue bantu ga?"
"Lu apaan sih, Ci? Sudah ah gausah mikir ya enggak-enggak. Gue kan sudah bilang masih bisa dihandle. So just focus on doing your job."
"Tapi Dek..."
"Ci, gue udah dipanggil rapat nih. Nanti gue baru hubungi lu ya. Bye! Oh ya... see you on weekend!"
Akhirnya panggilan pun dimatikan tanpa ada jawaban yang lebih jelas. Namun setidaknya, Anna telah mendapatkan satu kesimpulan. Perusahaannya memang sedang tidak baik-baik saja. And... she must do something about it.
***
Saat ini kondisi rumah Anna terlihat kacau. Polisi bertebaran dimana-mana dan mata semua orang tertuju padanya. Bahkan beberapa orang masuk ke ruang kerjanya. Anna bahkan tidak dapat melakukan apa-apa karena pihak kepolisian telah mengantongi izin penggeledahan. Meski mereka semua tidak berlaku kasar padanya dan para pekerja, mereka tetap mengawasi rumah ini termasuk penghuninya.
Namun bukan itu masalah utamanya. Leon, si tersangka dari 'musibah' yang dialami Anna hari ini, justru tidak ditemukan dimana-mana, apalagi ruang tamu, tempat dimana pria itu seharusnya berada. Anna benar-benar naik pitam dibuatnya.
"Bu, tamu saya kemana ya?" tanya Anna kepada Bu Tuti sejak masuk kembali ke dalam rumah.
"Wah, gatau Non. Daritadi Ibu di dapur soalnya. Terus ditanyain sama Bapak detektip yang baju kotak-kotak itu," jawabnya sambil menunjuk salah seorang pria yang sedang berbincang dengan pelayannya yang lain.
Pikiran Anna seketika melayang kepada Annie di kamar atas. Secepat kilat ia lari menaiki tangga menuju kamar Annie. Tidak akan ia biarkan Leon membawa anak selucu Annie jika hanya untuk ditelantarkan lagi. Sayangnya, di tengah jalan, ia justru mendengar suara yang familiar.
"MOMMY!!!"
***
Hi2 semua! Hope you are all good!
Daku juga mau mengucapkan selamat hari raya Idul Adha bagi umat Muslim yang merayakan!
NB: Maaphkeun daku baru muncul kembali. Hopefully bisa benar-benar rutin update yaa starting next month!
Feel free to read and give inputs! God bless! :)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top