Chapter 13


"Ada masalah apa? What's wrong?" tanya Leon begitu dia dan istrinya telah berdua di kamar.

Istri. Ada secuil rasa menggelitik di hatinya ketika mengingat status wanita di hadapannya ini. Namun tentu enggan ditunjukkan oleh manusia sedingin Leon. Khususnya di hadapan Anna yang pernah mematahkan hatinya hingga berkeping-keping.

Sebagai jawaban, wanita itu memberikan handphone yang sejak tadi dipegangnya. "Baca ini!" bentaknya. "What do you mean by this?!"

Ah! Ini rupanya yang menjadi alasan Anna meledak. Pantas saja wajahnya begitu kusut setelah menjawab panggilan itu. Meski istrinya itu terlihat biasa saja, bahkan cenderung menawan seperti biasa, namun tetap saja Leon menyadari perubahan ekspresi itu. Bukan sehari atau 2 hari mereka baru saling mengenal.

"Ah! Sudah keluar rupanya. Harusnya dari semalam sudah heboh," jawabnya santai.

"Really? Begitu jawabanmu??" tanya Anna sengit.

"Apa ada yang salah dari berita ini?" Leon kembali bertanya tanpa rasa bersalah. Sejujurnya konfrontasi ini sudah ia nantikan. Meski sedikit terlambat dari perkiraan.

"Are you crazy, Leon?! Kamu sudah janji sama aku kalau pernikahan kita ga akan diumumkan ke media! Dan apa ini?!" balas Anna semakin marah.

"Hari Patah Hati Sedunia Kembali Lagi! LEON WIRYADINATA, CEO AL ENTERTAINMENT, TELAH RESMI MENIKAH DI AMERIKa" Anna membacakan judul berita tersebut. "Mereka bahkan tahu dimana kita menikah, Leon! Ga cuma di Indonesia, di Amerika juga beritanya merajalela!"

Teriakan Anna semakin bertambah besar. Untung saja Annie sudah dititipkan pada Kylie dan Richard saat acara makan keluarga selesai. Jika tidak, tentu putrinya tersebut akan terkena serangan jantung mendadak melihat mommy kesayangan berubah karakter dari malaikat cantik yang baik hati jadi maleficent jahat yang menyeramkan. Begitu menurut Leon.

Sementara Anna mengeluarkan makian-makiannya yang tajam, Leon hanya berdiam diri dan memperhatikan. Mendengarkan? Tentu saja. Namun harus ia pilah pilih. Jika tidak, bisa semakin sakit hati. Sayang, kediamannya justru membuat Anna kesal setengah mati.

"Kamu kok ga ada jawaban?! Ga ada alasan?! Ngaku kalau kamu salah?" tanya Anna kesal.

"No, I'm not. Kenapa aku harus merasa salah. Tidak ada kesepakatan yang dilanggar kan?" jawab Leon lagi.

"Hah?! Tidak ada kesepakatan yang dilanggar?! KAMU KENA AMNESIA YA?! PERLU AKU BAWA KE DOKTER! AH TIDAK... KURASA... KITA LANGSUNG KE PENGADILAN SAJA!!!"

Baru saja ia ingin beranjak ke arah pintu, lengannya sudah ditahan oleh Leon. "Kamu mau kemana?"

"Kamu tuli? Barusan aku baru bilang kan? Ayo ke pengadilan. Aku ga bisa menerima lebih dari ini lagi. You lied to me. Jadi perjanjian kita batal. Kamu juga ga memberikan alasan apapun. Itu artinya kamu juga tahu kamu salah," Tak ada rasa bersalah di wajah Anna saat mengatakan hal itu. Karena begitulah di pikirannya.

"Bisa kamu duduk dulu? Kalau kamu ingin mendengar penjelasanku, please jangan pakai urat. Tapi kalau kamu tetap ingin pergi, silahkan. Hanya saja jangan salahkan aku kalau berita yang keluar akan lebih parah dari ini." kata Leon sambil melepaskan tangganya.

Melihat Anna yang hanya diam saja, Leon pun berkesimpulan jika wanita ini sedang menimbang. "Kalau mau mendengarkan aku, just sit down. Duduk."

Tak butuh waktu lama untuk Anna menuju ke arah kursi di samping ranjang dan duduk di sana. Ia pun menarik nafasnya lalu membuang pelan-pelan. Tampak sekali berusaha mengontrol emosinya.

"So explain to me. I'm listening," kata Anna singkat.

"Good," balas Leon dengan senyuman. "Finally you're listening."

Sepertinya Anna sudah kebal dengan sindiran macam itu. Wanita itu hanya memutar dua bola matanya tanpa berkata apa-apa. Sudah lelah membalas ucapan seorang Leon Wiryadinata yang memang terkenal jago bersilat lidah.

"Pertama, aku ingin bertanya, apa ada nama kamu di setiap berita yang keluar? Lalu, apa kamu lihat foto-foto kita berdua disana?"

Anna pun kembali memeriksa setiap berita yang dikirimkan padanya. Memang tidak ada namanya di sana. Identitasnya sama sekali tidak dibocorkan. Foto-foto pernikahan mereka pun tidak tersebar. Hanya foto-foto gedung dan beberapa mobil tamu yang diambil dari arah lobby hotel.

"Tidak peduli ada aku atau tidak di sana. Tetap saja..." kata Anna yang masih berusaha membela dirinya.

"Jawab saja pertanyaanku. Yes or No? Ada nama kamu di berita-berita itu?" potong Leon dengan tenang. Namun tak menghilangkan ketegasannya.

"N-no.... N-nama aku gaada di berita manapun," jawab Anna dengan terbata-bata.

"Jadi apa masalahnya? Hanya namaku aja kan yang ada di sana? Bukan pernikahan kita yang aku umumkan. .Hanya pernikahanku aja. It's my marriage that I announced. Not ours."

Anna pun menatap Leon dengan tajam. "You know what's the problem, Leon. Gimana kalau mereka malah mencari tahu tentang identitas istri pengusaha besar Leon Wiryadinata. Ya berita seperti itu kan akan jadi perbincangan hangat dan punya nilai jual tinggi. Kalau sampai itu terjadi dan terdengar sama keluarga di Jakarta kan bisa bahaya," kata Anna lagi.

Leon hanya terkekeh setelahnya. "Kalau soal itu kamu tenang aja. For your information, Mrs. Wiryadinata, kalau kamu lupa, beberapa dari tamu penting yang hadir di pernikahan kita kemarin itu pemilik media-media besar di Indonesia. Aku sudah info juga kalau pernikahan kita sangat private dan identitas kamu ga boleh diumumkan. Aku undang mereka untuk mempererat relasi, supaya kita ga jadi santapan mereka. Once again, tenang aja, you and you're family will be safe. I'm in control of them."

"Kalau begitu apa tujuan kamu harus mengumumkan pernikahan ini? Bukannya lebih baik keep it private?" Tanya Anna lagi. Tentu saja ia tidak ingin kalah akan situasi ini.

"Anggap saja ini untuk kepentingan bisnisku. Kalau sampai aku terlalu private. Justru rahasia pernikahan ini akan jadi senjata makan tuan. Jika aku terlalu menutupinya dari media, justru mereka akan semakin mencari. Just trust me, Belle. I know what's best for us. Ada Annie juga yang harus aku lindungi,"

Terdiam sejenak, Anna pun memejamkan matanya selama beberapa saat. "Ok. Aku percaya kamu untuk sekarang. But only for now. Kalau ada hal yang kamu langgar lagi. Aku ga akan segan untuk bercerai," ancam Anna setelah membuka matanya kembali.

Leon pun menganggukkan kepala tanda setuju. Ia juga sudah lelah bertengkar tentu saja. Baru sehari mereka menikah, seperti sudah dapat diprediksi masa depan seperti apa yang mereka akan jalani. Ya. Konflik akan selalu menjadi sahabat keduanya hingga akhir. Itu pun jika mereka benar-benar bertahan satu sama lain. Seperti yang Leon rencanakan.

"Ada lagi yang mau kamu bicarakan lagi, Belle?"

"Tidak ada."

"Baik. Then, shall we go back to the lobby? Kita masih harus mengantar Richard dan Kyle ke bandara."

"Yes, of course."

Leon pun mengulurkan tangannya. Sayang, niat baiknya tidak disambut oleh Anna yang langsung berdiri dan berjalan menuju pintu kamar. "Cepat, Leon!" kesal Anna yang tentu saja terburu-buru.

Sepertinya Anna baru sadar jika mereka sudah terlalu lama di kamar. Seharusnya Kylie dan Richard sudah menuju ke bandara setengah jam yang lalu karena mereka harus kembali ke Indonesia sore nanti. Sayang, pasutri tersebut justru masih harus mendapat tugas menjaga Annie di lobby sana karena belum ada keluarga suaminya yang putrinya kenal.

Baru saja mereka menutup pintu, handphone Leon justru berbunyi. Mengetahui siapa peneleponnya, ia pun mengubah panggilannya jadi mode loud speaker.

"Halo, Richard. Kita lagi mau turun ini..."

"Leon... you guys need to come down asap. Kylie lagi berantem sama tante lu di lobby. It's because of Annie. She's also crying right now."

***

Tepat seperti yang dikatakan Richard. Pemandangan itulah yang mereka temukan di lobby. Kylie yang sedang bertengkar dengan salah satu bibi Leon dan Annie yang sedang menangis di belakang sepupunya itu. Anna pun langsung menghampiri sang putri. Annie yang memang sejak awal memang sudah gelisah karena kehilangan Anna langsung memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.

Saat memeriksa keadaannya, barulah Anna mengetahui apa yang dialami Annie. Anna pun segera membawa gadis kecil itu ke toilet untuk mengganti pakaiannya yang basah. Leon, di sisi lain, langsung menghampiri Kylie dan bibinya yang masih sibuk berdebat. Bertengkar lebih tepatnya.

"Ada apa ini?" tanyanya dalam bahasa Inggris yang memang dimengerti oleh keduanya.

Bibinya yang sangat berapi-api langsung menjawab dengan lantang, "Annie, suddenly she's wetting the lobby's sofa. Out of nowhere. Because of her shameful act we need to replace the hotel's sofa with a new one. How come she hasn't learnt to pee by herself?"

(Anakmu itu tiba-tiba saja mengompol di sofa. Gara-gara ulahnya kita harus mengganti sofa mahal ini. Seharusnya jangan diajak kalau masih menyusahkan begini. Malah merepotkan kamu dan istrimu.)

Tentu saja Kylie tak terima dengan jawaban tersebut. "Dear Auntie, She is just a 5 years old kid. Wetting is just a normal thing for kids around that age. I've told you before that she might be panicking since there was no one close to her around. She couldn't tell anyone so she chose to hold it."

(Bibi tersayang, dia hanya anak kecil yang masih berumur 5 tahun. Mengompol itu hal yang wajar untuk anak dengan rentang usia 1 - 5 tahun. Sudah kukatakan mungkin saja dia panik karena tidak ada orang terdekatnya. Jadi dia tidak bisa mengatakannya pada kita dan dia memilih menahannya.)

Sayang sang bibi sama sekali tidak mempedulikan ucapan Kylie. Begitu juga dengan keluarga lainnya. Mereka malah sibuk sendiri atau memperhatikan Kylie dengan tatapan menghakimi. Seakan apa yang ia lakukan adalah salah besar.

"Leon, kamu tidak seharusnya membawa putrimu jika dia belum tahu caranya mengurus diri sendiri. Dia bahkan belum bisa untuk melakukan hal kecil seperti meminta tolong. Pada akhirnya dia menciptakan masalah besar dan kita harus membayar atas kesalahannya," kata sang bibi yang langsung mengganti bahasanya menjadi Mandarin. Lebih nyaman katanya. Dan tentunya dia tidak ingin bahasanya dimengerti semua orang. Terutama sepupu menantu baru mereka yang sejak tadi terus melawannya.

Baru saja Leon akan menjawab, namun kalimatnya dipotong.

"So can we go now? Kylie and Richard will be late for the flight."

(Apakah kita bisa pergi sekarang? Kylie dan Richard akan terlambat.)

Ternyata sudah ada Anna yang berdiri di depan lorong toilet sambil menggandeng tangan Annie. Ia baru saja selesai mengganti pakaian Annie yang basah akibat ompolan gadis kecil itu. Tentu saja Anna dengan senyuman ramahnya adalah satu paket. Namun senyumnya Kali ini sangat dipaksakan.

Anna memang tidak terlalu mengerti bahasa Mandarin, tapi karena para tetua di keluarganya juga menggunakan bahasa tersebut, sedikit banyak ia mengerti meski tidak pandai berbicara. Mendengar nama putrinya disebut serta adanya kata 'masalah' tentu saja membuatnya sedikit kesal dan sensitif. Untung saja dia tidak melihat awal kejadian. Jika iya, tentu jiwa protektifnya akan muncul dan siapapun tidak akan lolos dari serangan seorang seorang Annabelle Clarinne Sastrawijaya.

Bukannya lebih tenang, justru sang bibi memanggil Anna dan kembali memberikan saran-saran yang lainnya.

"Haiya... Anna. Let me give you some advice. I know it's hard to educate a child that is not yours. And this one is quite troublesome. Just don't spoil her too much, ok? It's not good if she's spoiled. Discipline her now and she'll be useful later on."

(Haiya... Anna, biarkan aku memberikanmu saran. Aku tahu akan sulit mendidik anak yang bukan milikmu. Apalagi yang ini sepertinya cukup bermasalah. Jangan terlalu memanjakan dia, ok? Tidak baik jika dia menjadi anak manja. Disiplinkan dia sekarang agar dia menjadi anak yang berguna di masa depan)

"Did you say that my daughter is troublesome?" geram Anna yang mendengar saran sok tahu dari bibi tersebut. Ia masih berusaha menahan diri meski emosi sudah berada di ubun-ubun kepala.

(Apakah kamu baru saja mengatakan kalau anakku bermasalah?)

"Ya. Leon already told you about her, right? If you need any advice, you can ask this aunty," balas bibinya yang sama sekali tidak peka.

(Ya. Leon sudah mengatakan kepadamu tentangnya, kan? Kalau kamu membutuhkan saran, kamu bisa bertanya pada bibi ini.)

Tidak terima dengan kritikan sang bibi, Anna hendak membalas lebih lagi. Namun justru Leon berbisik kepadanya, "Kita harus mengantar Richard Dan Kylie ke bandara."

Kemudian pria itu pun bertanya pada Kylie yang ada di sampingnya, "Kita berangkat sekarang. Barang-barang kalian sudah siap?" yang dibalas anggukan olehnya meski raut wajahnya masih sangat kesal.

"Sudah, orang tua jangan dilawan. Jangan menyusahkan istri gue ke depannya dengan sikap lu. Apa yang lu lakukan pasti akan berdampak sama image Anna di keluarga gue. So please, just control yourself," bisik Leon lagi yang membuat Kylie berusaha mengubah sikapnya menjadi biasa saja. Tidak ada lagi pembicaraan yang perlu dilanjutkan.

"Auntie, thankyou for your advice. If there's more to talk, we can continue it later on. But right now we need to take them to the airport." Leon pun berkata sopan pada bibinya sambil menunjuk Kylie Dan Richard. Berharap dapat segera mengakhiri pertengkaran kecil ini

(Bibi, terima kasih atas saranmu. Jika ada lagi yang perlu dibicarakan, nanti saja kita lanjutkan. Sekarang kami perlu mengantar mereka ke bandara.)

"But the sofa... (Tapi sofanya...)"

"We'll pay for it," balas Leon mengakhiri perdebatan yang ada.

***

"So, here we are. Gue balik dulu ya. See you next week."

Disinilah mereka berlima. Mengucap perpisahan sejenak sebelum bertemu lagi minggu depan. Kylie dan Richard tidak bisa terlalu berada di Amerika. Pekerjaan kantor mereka menumpuk Dan menunggu untuk diselesaikan.

Sehabis memeluk Anna, Kylie berbisik padanya. "Na, lu jagain tuh si Annie baik-baik. Feeling gue ga enak sama ni keluarga gara-gara kejadian tadi. Just keep an eye on her."

"Lu tenang aja. Gue juga berpikir begitu. Ga boleh nih Annie jauh-jauh dari gue."

Sementara Richard dan Leon sendiri sedang membicarakan beberapa hal terkait bisnis mereka. "Oke deh bro. We gonna talk about it more when you come back next week."

Setelah memberikan ucapan selamat tinggal, mereka pun segera pergi check-in, meninggalkan keluarga kecil yang baru terbentuk tersebut. Tak lama Leon pun kembali membuka suaranya. "Ok everyone. Kita harus segera pulang dan membereskan barang-barang kita."

"Loh, Leon, bukannya kita tetap stay di hotel? Apa yang perlu dibereskan. Barang-barang masih rapi," tanya Anna yang kebingungan.

"No, we're not. Kita akan menginap di rumah nenekku sampai minggu depan."

"No way...."

***

Hi2 semua!

Sorry banget turns out masih harus update akhir bulan begini karena kehectic-an yang ada... TT

Hopefully bisa lebih rutin next month ya. 

Enjoy the story and feel free to give inputs! ^^



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top