Bab 22


------------------------<<>>--------------------------

Sakti turun dari mobil. Ia meletakkan kunci mobil di kursi pengemudi.

"Saya kembali ke apartemen duluan. Kalau kamu mau menenangkan diri, saya tinggalkan kunci mobil di sini."

Gita kembali menangis. Air matanya terus turun tak terhenti. Dengan bantuan spion, ia melihat suaminya terus berjalan meninggalkannya di mobil. Suami yang mempertahankannya. Suami yang membelanya. Haruskah ia melepaskan suami seperti yang seperti itu?

-------------------------<<>>---------------------------

Sakti baru keluar dari kamarnya saat ia mendapati apartemennya terasa sepi. Sudah hampir lima bulan terakhir, ia tidak pernah merasa sesepi ini. Ia berjalan ke dapur dan menemukan sebuah sticky notes di pintu kulkas.

Berangkat lebih pagi.

Jelang tutup buku akhir bulan.

Gita.

Laki-laki itu melepas sticky notes dari pintu kulkas dan membuangnya ke tempat sampah. Ia mengembuskan napas pelan menyadari bahwa sang istri sedang menghindarinya.

Sakti bersyukur kemarin Gita tidak pergi kemana-mana. Istrinya masuk ke apartemen satu jam setelah ia meninggalkan parkiran. Sakti sengaja tidak menyambutnya, terlihat dari wajah Gita yang tampak lesu saat memasuki apartemen. Ia hanya mengintip sekilas dari balik pintu studio yang tak tertutup rapat.

Semalaman mereka berdua asyik mengurung diri di kamar masing-masing. Sakti memilih untuk mebiarkan istrinya menenangkan diri. Ia yakin pengakuan diri yang dilakukan Gita membuat perempuan itu merasa malu dan rendah diri.

Baginya sudah cukup mantan suami Gita saja mempermalukan dan menghina Gita. Sakti memilih untuk memberikan Gita waktu sendiri.

laki-laki itu melihat sekeliling. Ia tersenyum kecil menyadari bahwa hidupnya berubah banyak dalam lima bulan terakhir. Tepat setelah ia menikah dengan Gita. Sebuah foto pernikahan besar yang bertengger di dinding ruang tamu semakin memperjelas perubahan di apartemen itu.

Sakti segera merogoh ponsel dari saku celana trainingnya.

Me :

Pulang jam berapa?

Saya jemput

Setelah memastikan pesan darinya sudah memiliki tanda centang dua abu-abu, Sakti segera bersiap untuk berangkat kerja. Ia menunda sarapannya.

~~~

"Pak Sakti, masih di sini?" tanya seorang dosen saat melihat Sakti masih duduk di mejanya.

Sakti yang sedang serius menatap layar komputernya mendongak dan tersenyum sopan. "Iya, Bu."

"Saya pikir udah pulang. Semenjak menikah kan, di hari Senin begini, Pak Sakti nggak pernah lewat jam ashar, pasti sudah pulang."

"Bu Septi rupanya memperhatikan saya," kata Sakti sambil tersenyum..

Perempuan yang dipanggil Septi itu mendekat ke arah Sakti.

"Pak Sakti lagi ada masalah sama istrinya, ya?"

Sakti mengernyitkan dahi. Ia menatap rekannya dengan pandangan bertanya. Sementara dosen wanita yang usianya tidak jauh dari kakak pertama Sakti itu hanya tersenyum singkat.

"Saya sudah menikah lebih dari lima belas tahun, Pak. Segala macam gonjang-ganjing rumah tangga udah saya alamin semua. Alhamdulillah masih awet sampe sekarang. Nah, yang saya lihat sekarang, Pak Sakti itu tampak muram. Kelewat serius dari biasanya."

"Bu Septi ada-ada aja. Saya kan memang suka kelewat serius. Begitu, kalau kata mahasiswa. Dosen yang paling nggak bisa diajak bercanda."

Septi tertawa mendengar kalimat Sakti. "Pak Sakti, nih. Bisa aja bercandanya."

Sakti tersenyum. Ia tak mungkin menceritakan masalahnya kepada orang lain. Kembali matanya menekuri layar komputernya. Sejak mendengar pengakuan Gita tentang vaginismus, ia sudah berusaha mencari penjelasan tentang penyakit itu. Semua lama jurnal sudah ia lahap sejak semalam tapi sejauh ini belum ada hasil yang bisa memuaskan dirinya.

"Bu Septi, pernah dengar soal vaginismus?" tanya Sakti. Ia berusaha menjaga agar nada suaranya tetap tenang.

Sebuah tawa kecil justru keluar dari mulut rekannya. Sakti merasa khawatir pertanyaannya menyinggung Septi.

"Pak Sakti nih, ya. Pasti taulah. Masa saya nggak tahu?"

"Serius, Bu?" tanya Sakti antusias.

"Serius, Pak. Memangnya Pak Sakti nggak tahu?"

"Kenapa, Bu?"

"Saya ini pejuang vaginismus, Pak," kata Septi sambil tertawa kecil.

Sakti menatap rekannya tak percaya. "Tapi bukannya Bu Septi punya anak? Dua kan?"

"Halah. Kan saya bilang saya ini pejuang vaginismus. Bukan mandul. Emang siapa yang bilang kalo penderita vaginismus itu mandul?"

Sakti segera mengatur raut wajahnya. Di dalam hatinya ia sedikit bersorak karena mendapatkan info dari sumber yang valid.

"Maaf, Bu. Soalnya ini pertama kalinya saya dengar soal vaginismus."

Tawa di wajah Septi perlahan surut. "Jangan bilang ini tentang istri Pak Sakti?"

Sakti merasa tersudut dengan pertanyaan langsung yang dilontarkan Septi. Ia mendesah pelan lalu mengangguk kecil.

Septi pun tersenyum. "Satu saran saya, Pak. Tetap berada di sampingnya. Yang istri Bapak butuhkan bukan simpati atau rasa kasihan. Yang dia butuhkan adalah pundak yang lebih kuat yang bisa menahannya untuk tidak jatuh. Terutama jatuh dalam perasaan rendah diri akut."

Sakti tersentuh dengan pesan dari rekannya.

"Sudah diperiksa kemana saja?" tanya Septi.

Sakti menggeleng.

"Maksudnya? Belum diperiksa tapi sudah tahu vaginismus?"

Sakti tersentak. Ia gelagapan dan merasa malu karena tidak mengetahui hal apapun tentang penyakit yang diderita oleh Gita.

"Baru konsultasi ke SpOG langganan kakak-kakak saya. Itu juga baru satu kali." Sakti memberikan alasan yang menurutnya paling masuk akal.

"Saya nggak bermaksud mendeskreditkan dokter tertentu. Tapi kadang berobat atau konsultasi ke orang yang kurang tepat malah membuat kita menjadi lebih down."

"Bu Septi punya saran dokter yang tepat?"

"Wah, Pak Sakti nih, nggak sabaran rupanya," gurau Septi, "Saya kebetulan berobat ke dokter yang tepat. Tapi sayang beliau sudah almarhum."

Sakti terlihat kecewa mendengarnya. Kemudian Bu Septi mengeluarkan ponselnya.

"Tapi saya diberitahu teman sesama pejuang vaginismus, ada ig seorang dokter SpOG yang sangat membantu para penderita vaginismus. Bahkan username ig-nya pun memakai kata vaginismus."

"Boleh saya tahu akunnya, Bu?" Sakti pun turut mengeluarkan ponsel. Ia segera menekan aplikasi sosial media dengan ikon gambar kamera berwarna ungu-jingga-pink.

"Nah, ini akunnya, vaginismusindonesia. Semuanya pakai huruf kecil dan tidak ada spasi."

Sakti segera mengetik username yang disebutkan oleh Septi. Foto profil dari akun itu hanyalah sebuah huruf V besar dan tulisan vagismus indonesia di bawahnya dengan font berwarna putih dan latar belakang berwarna hitam. Nama lengkap dokter yang dimaksud oleh Septi tertulis jelas sebagai nama pengguna akun tersebut. Tertulis dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG. Nama rumah sakitnya pun tercantum, Limijati Hospital.

"Bu Septi yakin dokternya bagus?" Sakti kembali meyakinkan.

"Semua temanku yang berobat ke dokter itu mengakui, dia adalah dokter yang paling ramah terhadap penderita vaginismus. Yang paling utama adalah beliau tidak pernah menghakimi."

"Menghakimi?"

"Iya. Yang paling berat bagi perempuan yang menderita vaginismus adalah penghakiman. Karena itu saya sarankan sama Pak Sakti, kalau mau berobat carilah tenaga medis yang tidak menghakimi." Septi tersenyum bijak.

Segera Sakti menekan tombol ikuti. Itu adalah langkah awalnya. Selanjutnya adalah mengenalkan Gita kepada dokter ini.

Author Note :

Oke... part ini aku membawa sebuah akun instagram.

Dan ya, akun itu asli.

Nama dokternya asli.

Nama penyakitnya pun asli ya, bukan sekedar rekaan.

Silakan difollow @vaginismusindonesia, buat kalian yang mau mendapat ilmu dan pencerahan tentang penyakit ini.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top