36. All Hell Breaks Loose

All hell breaks loose: Menggambarkan situasi yang tiba-tiba kacau balau, penuh konflik dan kemarahan.
.
.
.
Selama 26 tahun hidupnya, Naura cuma pernah pacaran sekali dan entahlah itu bisa dianggap berpacaran atau tidak.

Naura, Lesty, Della dan Gilang sudah akrab sejak tahun pertama kuliah. Meskipun cuma Gilang satu-satunya mahasiswa Pendidikan Dokter di antara para calon perawat itu, mereka tetap sering bertemu karena berada di organisasi kemahasiswaan yang sama. Setelah dua tahun saling kenal, Gilang menyatakan perasaannya dan Naura menerimanya tanpa mesti berpikir puluhan kali, toh dia juga nyaman bersama pria itu.

Namun, setelah jadian beberapa minggu, baik Naura maupun Gilang sama sekali tidak merasakan adanya perubahan meski status mereka bukan lagi sekedar sahabat. Dibanding pergi kencan berdua, mereka lebih sering pergi berempat. Mereka tetap bergosip seperti biasa dan bercanda seolah tidak ada yang terjadi. Tidak ada kata-kata romantis, tidak ada malam mingguan berdua dan tidak ada kejutan-kejutan manis. Bagaimana dengan pelukan, gandengan atau ciuman? Tentu saja hal tersebut tidak berlaku. Naura merasa aneh membayangkan melakukannya dengan Gilang, sementara Gilang tidak ingin mati muda di tangan Naufal. Alhasil, selain Lesty dan Della, tidak ada yang percaya kalau mereka benar-benar pacaran.

Naura sempat mengira dirinya menderita kelainan karena tidak cemburu sedikit pun tiap kali ada perempuan yang mendekati Gilang. Dia malah harus sekuat tenaga menahan lidahnya agar tidak bilang 'cie', lalu menggoda pacarnya itu habis-habisan. Hingga akhirnya mereka berdua sadar kalau semuanya salah sejak awal. Naura salah mengartikan kenyamanannya sebagai cinta, sementara Gilang salah menduga ketertarikannya lebih dari sekedar sahabat. Tepat dua bulan setelah jadian, mereka sepakat untuk putus. Namun setidaknya Naura masih sempat datang ke reuni dengan menyandang status 'tidak single'. Itu lumayan ampuh untuk menangkal gosip masa lalu.

Jadi begitulah.

Bahkan pasca putus pun tetap tidak ada perubahan yang mereka rasakan. Saat Gilang akhirnya jatuh cinta pada teman se-jurusannya, Naura termasuk jajaran terdepan yang terlibat dalam proses penembakan, acara lamaran dan pesta pertunangan keduanya. Dampaknya, makin tidak ada yang percaya kalau mereka pernah pacaran.

Sampai sekarang kejadian salah pacaran itu masih menjadi guyonan bagi mereka berempat. Lesty dan Della akan mengungkitnya tiap ada kesempatan dan Naura cuma ingin tertawa tiap kali diingatkan kalau Gilang adalah seorang mantan.

Makanya Gilang sama sekali tidak layak menjadi korban kemurkaan seorang Rafisqi.

***

Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini Naura mendatangi gedung Mavendra Corp. dengan emosi campur-aduk. Dia melangkah terburu-buru ke bagian departemen produksi dan hanya membalas tiap sapaan yang ditujukan padanya dengan senyum tipis. Setidaknya kali ini para resepsionis tidak lagi menghambatnya dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Kalau iya, mungkin mereka akan berakhir menjadi korban salah amuknya Naura.

"Eh, Mbak-"

"Mana Rafisqi?" potong Naura sebelum Vita sempat menyelesaikan perkataannya.

Meski terlihat bingung, sekretaris Rafisqi itu mengarahkan tangan ke pintu di samping meja kerjanya. "Tapi Pak Rafi sedang ada tamu."

Memangnya Naura peduli? Tanpa pikir panjang dia membuka pintu abu-abu di depannya dan melangkah masuk. Rafisqi yang duduk di salah satu sofa sontak mendongak dari berkas-berkas di tangannya. Tadinya pria itu terlihat ingin protes, tapi begitu melihat Naura,  ekspresinya berubah heran seketika. Selain Rafisqi ternyata ada dua pria lainnya. Naura mengenali David, asistennya Rafisqi, yang duduk di sofa terpisah. Namun dia tidak menyangka juga akan mengenali pria yang satunya lagi.

"Well, isyarat untuk pergi."

Pria berjaket denim itu bangkit dari duduknya dan menolehkan kepala ke arah Naura dengan satu sudut bibir terangkat. Naura mengamatinya dengan kening berkerut. Rambut yang dikuncir di bagian tengkuk, tindikan di telinga dan tato di sisi leher. Tidak salah lagi, itu pria asing yang menyelamatkannya tempo hari.

Kenapa bisa ada di ruangan Rafisqi?

Pria itu melangkah mendekat dan berhenti di depan Naura. "Halo, Miss, kita ketemu lagi," sapanya santai. "Sudah bisa menyeberang dengan selamat?"

"Aris!"

Pria itu menoleh ke Rafisqi dan membalas hardikan barusan dengan dengusan pelan. "Iya," gerutunya, terang-terangan memperdengarkan nada kesal. "See you, Miss." Setelah mengucapkan itu sambil lalu, pria bertampang sangar, yang sepertinya bernama Aris, membuka pintu dan menghilang di baliknya.

Naura berdiri menyamping dan terdiam memandangi pintu yang baru saja ditutup dari luar. Sebuah kecurigaan menyusup di hatinya. Menurutnya Aris tidak terlihat seperti jenis orang yang datang kesana karena urusan bisnis. Namun dia kembali teringat dengan tujuannya dan kembali fokus pada Rafisqi. Di tengah ruangan, Rafisqi menaruh kertas-kertas di tangannya dan berdiri menyongsong Naura yang masih mematung di dekat pintu. Pria itu menyambutnya dengan senyuman dan sayangnya Naura tidak ada niat untuk balas tersenyum.

"Nau-"

Rafisqi tidak sempat menyelesaikan sapaannya karena tangan kanan Naura sudah lebih dulu bergerak. Barusan adalah tamparan keduanya untuk orang yang sama dan Naura bersumpah dia tidak akan menyesalinya kali ini.

"Kau apa-apaan?!" cecarnya, nyaris berteriak.

Ekspresi Rafisqi tidak menunjukkan perubahan sedikit pun. Terlepas dari pipi kirinya yang mulai memerah, pria itu cuma memandangi Naura dengan sorot mata tanpa emosi. Melihat sosok itu tetap berdiri tegap seolah tamparan barusan bukanlah apa-apa, membuat Naura kesal sendiri. Dia sudah menampar dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati sampai tangannya perih, tapi efeknya sama sekali tidak sesuai ekspektasi. Si Rafisqi meringis pun tidak. Perlukah tamparan susulan?

"Kembalikan Gilang!" Suara Naura naik beberapa oktaf. "Tiba-tiba dia dipindahkan ke rumah sakit lain. Terlalu mengerikan untuk disebut kebetulan!" Naura menyorot Rafisqi dengan tatapan dingin terbaiknya. "Ini ulahmu kan?!"

Tadi pagi, baru saja Naura menginjakkan kaki di lobi rumah sakit, dia dikejutkan dengan kabar mutasinya Gilang ke rumah sakit lain yang lokasinya jauh dan letaknya cukup terpencil. Kabar itu sukses menghebohkan banyak orang, karena sejak awal nama Gilang tidak pernah ada dalam daftar pemindahan tersebut. Pemberitahuan direktur rumah sakit memang terlalu tiba-tiba, sampai Gilang yang malang nyaris kehilangan kata-kata waktu tahu kalau minggu depan dia sudah harus hengkang dari sana.

Saat itu juga, Naura langsung tahu siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban.

"Ya."

Satu kata dari Rafisqi ibarat bensin yang memperbesar bara api di hati Naura.

"Kenapa?!" bentaknya. Saking emosinya, Naura mencengkeram kedua lengan Rafisqi dan mengguncang-guncangnya, berharap dengan begitu Rafisqi bisa kembali menggunakan akal sehatnya. "Kembalikan seperti semula!"

"Sudah kubilang kan? Kau yang menjauhinya atau aku yang membuatnya menjauhimu," Rafisqi tetap terlihat tenang. Sama sekali tidak terlihat terganggu, apalagi menyesal. "dan karena kau menolak untuk menjauhinya, maka-"

"Gila, ya?!" sela Naura. "Itu namanya mempermainkan hidup orang!"

"Gilang itu ancaman."

"Ancaman apa?" Naura tidak mempedulikan suaranya yang semakin meninggi. "Dua bulan lagi Gilang nikah! Dan gara-gara sikap seenakmu, pernikahannya terpaksa ditunda!" Rumah sakit yang dituju Gilang mengharuskannya tetap sendiri dulu tanpa adanya tanggungan selama satu tahun. Naura sendiri tidak habis pikir kenapa ada kebijakan seperti itu.

"Ditunda. Bukan dibatalkan."

Gimana bisa dia tetap setenang ini setelah berbuat kriminal?

Naura curiga kalau direktur rumah sakitnya "ada main" dengan Rafisqi. Mengingat sebesar apa uang dan kekuasaan yang dimiliki keluarga Mavendra, Naura tidak akan heran. Pria yang ada di depannya ini memang bisa berbuat apa pun.

"Apa karena aku pernah pacaran dengan Gilang? Keterlaluan!" Naura mulai merasakan pemandangannya mengabur. Kalau sudah begitu artinya dia benar-benar sudah ada di puncak emosi. "Dia sudah seperti uda keduaku. Teganya kau melakukan ini!" Dadanya terasa semakin sesak dan suaranya mulai parau karena sejak tadi terus bicara dengan volume tidak normal. Kapan terakhir kali dia merasa semarah ini? Sepertinya belum pernah.

"Naura. Sekali lagi kau membela orang itu di depanku, kupastikan pernikahannya tidak lagi ditunda, tapi benar-benar batal."

Kedua mata Naura melebar shock. Tangan kanannya kembali terangkat. Namun kali ini Rafisqi bergerak lebih cepat dengan mencengkeram pergelangan tangan Naura dan dengan mudah menahan tamparannya.

"Dan beraninya kau menamparku demi pria lain."

Naura menarik tangannya dan mundur perlahan sambil memberi Rafisqi tatapan horor. Bohong kalau dia bilang tidak merasa ketakutan saat ini. Rafisqi sudah membuktikan perkataannya dengan menyingkirkan Gilang jauh-jauh. Naura tahu kalau pria itu juga tidak main-main dengan ancaman barusan.

Naura merasakan tubuhnya dikunci oleh sepasang iris berwarna russet di depannya. Jantungnya berdentum semakin cepat di balik rongga dada dan instingnya kembali meneriakkan kata 'lari'. Namun sekuat apa pun mencoba, Nuara tidak bisa mengalihkan pandangan dari tatapan tajam sedingin es itu.

"Kenapa kau seperti ini?" Suara Naura melemah dan bersamaan dengan itu setetes air mata luruh ke pipinya.

Aku kecewa.

"Padahal ... aku mulai berpikir kalau aku ...." Naura menarik napas dalam-dalam dan lanjut bicara pelan. "Kalau aku ... pada akhirnya bisa berdamai dengan masa lalu." Dia cepat-cepat menyeka air mata dan balas menatap Rafisqi lekat-lekat. "Aku bodoh karena mengira bisa mencintaimu lagi."

Lesty benar-benar salah kali ini. Naura tidak mungkin mencintai orang tidak berhati seperti Rafisqi. Itu ketidakmungkinan yang selamanya akan tetap tidak mungkin. Zero possibility. Ever.

Namun kenapa memikirkan itu malah membuat air mata Naura mengalir semakin deras?

"Kau mengecewakanku, Rafisqi. Lagi."

Rasanya sakit.

"Naura ...." Rafisqi mengambil langkah mendekat dengan sebelah tangan terangkat berusaha menggapainya, tapi Naura kembali mundur menjauh sambil menggeleng pelan.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Naura berbalik dan membuka pintu. Dia tidak ingin ada disana lebih lama lagi. Dia marah, sedih, dan kecewa. Semuanya bercampur aduk menjadi satu dan yang Naura inginkan saat ini cuma menangis dan berteriak sepuasnya.

***

"Mbak tunangan."

Naura yang sedang berdiri sendirian di depan lift, sambil sesekali menyeka sisa air matanya, sontak menoleh waktu merasakan seseorang menyentuh bahunya. Begitu berbalik, dia menemukan seorang pria berkacamata dan berkemeja biru muda sudah berdiri di belakangnya.

"David?" Naura berujar pelan, merasa agak heran mendapati asistennya Rafisqi sedang berdiri di depannya.

David mengangguk sambil tersenyum, membuat Naura menyadari sebuah cekungan lesung pipi di sudut bibir bagian kirinya. Di pertemuan sebelumnya Naura terlalu fokus mengamati Vita, sehingga jadi tidak terlalu memperhatikan pria itu.

"Mari kuantar."

Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka dan menampilkan ruangan kosong. David memasuki kotak besi itu duluan dan menahan tombol agar pintu tetap terbuka. "Ayo, Mbak."

Meski tidak mengerti apa yang terjadi, Naura melangkah masuk dan berdiri canggung di sebelah David yang langsung menekan tombol bertuliskan "GF". Pintu lift menutup dan Naura sontak tertawa lirih saat mengetahui betapa kacaunya penampilannya saat ini.

"Memalukan sekali," tukasnya tanpa melepaskan pandangan dari bayangannya yang terpantul di kaca yang menempel di pintu lift. Padahal dia cuma menangis sebentar, tapi efeknya benar-benar menyedihkan. Kira-kira apa yang dipikirkan para karyawan waktu melihatnya keluar dari ruangan Rafisqi dengan mata merah dan sembab seperti ini?

"Aku bersyukur masih hidup buat melihat Fiqi ditampar seseorang."

Naura menatap David lewat pantulan kaca di hadapannya dan mendapati pria itu tertawa geli sambil menggeleng-geleng.

"Nih, kukasih dua jempol."

Melihat David mengangkat dua jempolnya membuat Naura tertawa kecil. "Tadi pasti sinetron banget, ya?" tanyanya saat teringat kalau David juga ada di ruangan Rafisqi dan pastinya menyaksikan semuanya.

"Mbak tunangan-"

"Naura saja." Suasana hati Naura sudah cukup buruk tanpa perlu diingatkan lagi tentang statusnya. "Dia menyuruhmu menyusulku?"

Jeda selama beberapa saat sebelum akhirnya David menjawab. "Ya. Fiqi menyuruhku mengantarmu pulang."

Naura cuma mendengus pelan. Apa Rafisqi mengira dia akan kembali melunak dengan perlakuan baik seperti ini?

Terdengar bunyi dentingan yang menandakan lift ppsudah sampai di lantai dasar.

"Tidak perlu." Pandangan Naura tertuju pada pintu yang membuka perlahan di depannya. "Aku bisa sendiri. Terima kasih."

Ternyata David menyusulnya keluar lift dan ikut melangkah di sampingnya. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan, Mba- Naura."

Naura bersikap seolah dia tidak menyadari keberadaan pria itu dan terus berjalan menuju pintu keluar lobi. David pastinya ada di pihak Rafisqi dan Naura sedang tidak ingin mendengarkan pembelaan dalam bentuk apa pun.

"Naura," David sepertinya tidak peduli dengan keinginan Naura untuk tidak-mau-mendengar-apa-pun. "ini penting. Kau harus tahu tentang Tata."

***

Sedikit cerita~
Sebagian orang nganggep kalau ada dua orang "Teman" yang berubah status jadi "Pacar", hubungan mereka pasti nggak akan sama lagi kalo nantinya putus. Tapi bagiku enggak semua. Soalnya aku kenal dua orang yang kayak Naura-Gilang.

Jadi, dua orang temanku itu akhirnya mutusin buat pacaran setelah temenan dari zaman SMP. Jadiannya pas awal-awal kuliah. Beberapa minggu kemudian ... mereka putus. Katanya sih karena ternyata nggak ada bedanya juga pacaran atau enggak.

Sebagai teman yang udah tahu mereka dari SMP dan juga tempat curhat yang baik, diriku sukses dibuat bingung (tapi langsung ngakak dalam hati) waktu mereka putus dan malah balik kayak bisa. Waktu itu, aku yang polos ini langsung mikir, "Jadi bisa gitu juga ya?"
Ternyata yang kayak gitu emang ada, euy 😂

(Kalian berdua sungguh menginspirasi. Tengkyu~ :*)
(Semoga mereka ga baca ini. Amin)

Okee, jumpa lagi di chapter depan.
Spoiler: ada penjelasan tentang "Tata" (emang ini bisa disebut spoiler? 😅)

Xoxo,
MTW :)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top