꧁14th Chapter ༺ First Date

Ramani Darlöf pernah bilang padaku kalau warna easy brownie sangat cocok dengan bentuk bibirku. Kemudian setelah ia mengatakan itu, aku memintanya untuk memberikan tanda dengan membuat lingkaran isolasi pada bagian bawah lipstik.
Aku tidak pernah membuat sulit diriku dengan memoleskan berbagai makeup, dan tidak terlalu rumit juga dengan berbagai macam bahan. Biasanya hanya memoleskan foundation, blush on dan lipstik. Bagian mata, lebih sering kuabaikan. Sentuhan lipstik pada bibirku tak sesulit yang orang lain pikirkan. Aku sudah terbiasa betul menggores bibir dengan gerakan cepat, dan sejauh ini tidak ada yang komplain dengan hasilnya.
Ah, ini sedikit tidak rasional. Aku tersenyum sendiri membayangkan jam yang akan kulewati nantinya. Bagaimana jantung ini bisa berdegup sangat kuat? Kuanggap tidak lazim seperti saat aku menghadapi musuh. Ini lebih menegangkan asal kalian tahu.
Bel di pintu luar berbunyi. Aku memeriksa arloji dan kedatangan orang itu benar-benar tepat waktu. Meski tanpa disadari, sebetulnya aku juga tepat waktu.
Bangkit dari kursi rias, aku memastikan black buckle sweater dress dengan long-sleeve dan Cowl-Neck sudah melekat baik di tubuh. Rambut sudah kupastikan rapi dengan membiarkannya tergerai dan bergelombang. Suara ketuk knee boot yang kukena menandakan bahwa langkahku sedikit terburu. Di atas kasur, aku meraih dark blue trench coat dan juga tas tangan. Tongkat kuluruskan. Bel kembali berbunyi untuk yang kedua kali. Dan aku — gugup.
Kacamata di atas hidung jerapah kusambar dan menenggerkannya cepat ke atas hidungku. Saat pintu kubuka, aroma Dave menguar begitu saja. Ia lebih wangi dari saat terakhir kali kami bertemu.
"Hai!" sapanya. "Kupikir aku akan menunggu lama."
Astaga, dari kalimatnya, kedengaran seperti aku terlalu banyak berharap akan kedatangannya. Aku salah langkah, dan itu membuatku semakin gugup. Alhasil, hanya senyum yang bisa kuberi untuk menyambut kedatangannya.
"Ellie, Huhh ... itu, lipstikmu. Bo-boleh aku?" "Kenapa?"
"Sedikit saja. Biar kurapikan sedikit—"
Dave, orang pertama yang komplain dengan lipstikku. Dave, pria pertama yang berani menyentuh bibirku dengan ibu jarinya. Lembut. Ia mengusap sudut bibir bawahku dengan penuh ketelitian. Napasnya terasa hangat di wajahku, terhirup segar. Wajahku kaku seperti manekin yang penurut. Jari Dave sedikit gemetar dan dari gelagat yang ditunjukkan, ia sedikit canggung dengan perlakuannya sendiri.
"Okey, ini sudah terlihat bagus." Ia meringis tawa di depan wajahku. Aku membenamkan bibir. Sedikit tersenyum. "Kau terlihat cantik malam ini."
"Trims. Aku menghargai pujian itu."
Lantas ia tertawa lagi. Bibirnya mungkin mengembang dan tiba- tiba aku membayangkan apa yang pernah dikatakan Helena soal ketampanan Dave.
Aku membalikkan tubuh setelah selesai mengunci pintu. Tanpa sengaja, ujung tongkatku mengetuk kaki Dave. Ia membuat gerakan sedikit melompat sambil mengangkat kakinya.
"Maaf, Dave. Aku tidak sengaja."
"Tidak apa, jika boleh kusarankan, sebaiknya kau lipat tongkatmu dan simpan benda itu di dalam tas. Lagi pula, ada aku yang selalu ada di sampingmu. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri."
Saran Dave kuterima. Tanpa protes, aku melipat tongkatku dan memasukkannya ke dalam tas tangan. Lantas, Dave mengambil tanganku dan menyimpannya di antara lekukan lengan. Membiarkan diriku menggenggamnya kuat. Dari situ, aku tahu ia mengenakan coat berbahan sama dengan yang kupakai.
"Kita akan ke mana?" tanyaku sembari berjalan menuruni anak tangga.
"Kafe Vinnea, makanan ala Prancis dan ... sebelumnya, apa kau suka makanan Prancis?"
"Hmm ... Aku tidak pernah tahu, tapi bisa kucoba."
"Well, kau pasti akan sangat suka dengan menu makanan di sana. Itu kafe baru, milik temanku."
"Oh, ya? Pantas, aku baru mendengar namanya."
"Itu artinya kau sudah memasuki semua kafe dan restoran di kota ini?"
"Mungkin ada beberapa yang luput."
Dan obrolan yang diciptakan Dave seolah menjadi tema pengiring perjalanan kami ke tempat tujuan. Ia menjadi penjaga yang baik saat membawaku di dalam mobil. Ia menjadi pria yang sangat tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Meski entah bagaimana caranya, Dave seolah mengubahku menjadi perempuan yang banyak bicara, tetapi tidak akan mau bicara jika tidak ditanya.
Udara merambat pada suhu dingin Dua derajat celsius. Satu telapak tanganku menghangat akibat terus berada di apitan lengannya. Ia memberitahuku saat hendak menaiki anak tangga, sejurus kemudian Dave menggenggam telapak tanganku mahir sekali. Semacam representatif dari ungkapan melindungi. Ia mendapat pelukan dua lengan dariku sekarang.
Seorang pelayan wanita meminta kami melepaskan mantel ketika sudah berada di dalam kafe. Suhu menghangat. Dari apa yang kusentuh, aku menerka Dave mengenakan setelan jas bodyfit. Terbesit rasa minder, berharap penampilanku mampu menyaingi dirinya. Atau paling tidak, kostumku menyesuai secara kebetulan.
Suara alunan musik jazz mulai sampai di telingaku. Orang-orang ramai berbicara dengan suara teratur. Beberapa dentingan sendok di atas piring saling beradu namun tidak seramai jika kau sedang berada di acara amal panti jompo. Dave membawaku dengan sangat hati-hati, tidak memperbolehkan satu orang pun menyenggol bahkan menyentuh kulitku ketika berpapasan. Ia akan berhenti sejenak, kemudian kembali berjalan setelah memastikan jalur yang kami lewati kosong. Bibirku tersungging kecil membayangkan raut wajah kewaspadaannya.
Musik diam sesaat, manakala Dave mempersilakanku duduk. Drum tiba-tiba dipukul keras, disusul dengan suara keras alunan melodi gitar. Telingaku langsung sakit dan berdenging. Aku belum sempat duduk dan ini tempat yang salah kupikir. Seharusnya Dave tidak membawaku ke tempat berisik seperti ini.
"Ellie? Kau kenapa?" Dave menyentuh bahuku begitu melihat wajahku meringis. Kedua tanganku spontan menutup telinga. Aku tidak sanggup menjawab. "Oke, maaf jika membuatmu tidak nyaman. Kita pindah meja saja. Ini terlalu dekat dengan panggung band. Ayo ...."
Mau tidak mau, aku menjadi penurut saat Dave menarik tanganku. Di meja yang kini dipilih Dave, kebisingan musik mulai berkurang. Aku duduk dengan gelagat berusaha menyamankan diri. Dave menepuk tangannya tiga kali, lantas volume musik berkurang dua oktaf. Mungkin ia meminta agar volume musik diturunkan.
"Bagaimana?" tanyanya sembari duduk di hadapanku. "Lebih baik," jawabku singkat.
"Maaf karena membuatmu terkejut." Bibirku tersenyum. Hanya tersenyum menanggapi kata-katanya. Terlebih saat ia sedang berbicara dengan seorang pelayan, aku mengisi kekosongan dengan mengetuk-ngetukkan jari di atas lenganku sendiri.
"Kau ingin makan apa?" Dave bertanya pada si pelayan apa saja menu terfavorit dan ia mendiktekannya untukku. "Kau punya pilihan Coq au Vin, Foie Gras, Ratatoulie, Cassoulet, atau ... mereka bilang Escargout paling diminati."
Aku menyeringai. "Aku tidak akan mempersulit acara makan malamku dengan siput rawa, Dave." Dan ia tertawa begitu saja seolah berhasil mempermainkanku.
"Aku hanya bercanda. Baiklah, kau boleh memilih sesuai selera. Atau kau butuh penjelasan tentang makanan Prancis—"
"Boillabaisse, tanpa kerang dan Confit de Carnard yang di panggang, jangan terlalu banyak bawang putih dan aku minta agar tulangnya disingkirkan."
"Hei, kau bilang kau tidak tahu makanan Prancis?" "Apa cuma kau yang boleh mempermainkanku?"
"Ya Tuhan, kau sudah pandai bercanda rupanya." Dave kembali tertawa renyah. "Baiklah, tapi bolehkah kau memesan Boillabaisse dengan menyertakan kerangnya? Aku bersedia menampungnya jika kau tidak suka."
"Tidak masalah."
"Okey, aku senang kita bisa berbagi makanan." Dave kembali berbicara dengan si pelayan. "Aku pesan Foie Gras dan Soupe a l'ognion dengan sedikit keju. Setelah itu berikan kami dessert terbaik."
Si Pelayan pergi. Beberapa menit kemudian pelayan lain datang menuangkan anggur pada gelas kami masing-masing. Aku meminta anggur Peny sedangkan Dave lebih suka anggur Merlot. Dan Dave pun kembali bercerita tentang suasana kafe sampai makanan kami tersaji lengkap di atas meja.
Menjadi pendengar yang baik untuk Dave ternyata tidaklah seburuk yang kupikirkan. Dia tidak kekanakan seperti yang kuduga saat pertama kali bertemu dengannya. Dave memiliki sisi dewasa dan dari apa yang ia beri tahukan, ternyata ia satu tahun lebih tua dariku. Ajaibnya, tanggal ulang tahun kami hanya selisih dua hari dari tanggal Lima Februari milikku setelahnya.
"Kita bisa merayakannya bersama jika kau mau. Tiga minggu lagi bukan? Pasti akan sangat menyenangkan."
Irisan daging bebekku berhenti. Mendadak lesu mendengar rencana itu. "Tapi dua hari ke depan, aku tidak akan tinggal di apartemen itu lagi, Dave."
"Kenapa? Kau mau pindah? Apa ada masalah dengan tempat itu?" "Tidak. Hanya saja, aku punya tugas yang tidak bisa kuceritakan padamu dan membuatku harus berada di tempat lain untuk waktu yang lama."
Alat makan di kedua tangannya tergeletak di atas piring. Kunyahan Dave melambat. Dia tidak menanggapi kalimatku selama beberapa detik. Seolah, sedang berpikir sesuatu.
"Kau tidak serius, 'kan?"
"Aku hanya sekali bercanda soal makanan Prancis."
Musik John Coltrane berjudul In Sentimental Mood mengalun dalam tempo lambat. Menggunakan garpu, irisan daging masuk ke dalam mulutku. Sementara Dave, belum meneruskan makannya.
"Kita masih bisa bertemu. Benar, 'kan?" Dave berusaha untuk tidak kecewa. Tampaknya ia akan tetap seperti itu meski kuutarakan ratusan alasan yang membuat waktuku tidak banyak dengannya. "Aku akan mendatangimu jika kau bersedia memberitahukan alamat tempat tinggal barumu. Itu bukan hal yang sulit buatku."
Tapi itu sulit buatku, Dave.
"Ellie?" Dave menggugah disela keterdiamanku beberapa detik. "Tidak apa jika kau tidak ingin mengatakannya padaku. Aku yakin, nantinya kau akan mengatakan itu sendiri." Ia kembali memainkan sendoknya menikmati sup. "Teruskan makanmu. Apa aku boleh mengambil kerangnya dari dalam Boillabaisse-mu?"
"Yah, ambillah."
Pria di hadapanku ini, bagaimana ia terlalu yakin jika aku akan memberitahunya begitu saja. Mustahil bagiku memberi tahu alamat Eagle Castle padanya. Terus terang, Dave ... bukan hanya kau yang kecewa dengan pertemuan singkat ini. Aku sendiri, entah kenapa, obrolan ini membuat pikiranku tidak bisa fokus pada hal lain kecuali membayangkan bagaimana hari yang akan kulewati tanpa orang-orang yang sudah mulai membuatku sedikit lebih hidup.
Satu per satu., aku mulai kehilangan Ny. Shawn, Catherine, kondektur bis yang sering kali membantuku naik turun, para tetangga di sebelah apartemen yang—meskipun mereka pernah jahat padaku, setidaknya mereka juga pernah membantuku. Namun, tampaknya kehilangan atau pun menjauh dari dirimu adalah sesuatu yang sangat mengganggu. Ini ibarat kau kehilangan sahabat terbaik. Dave, kurasa lebih dari itu.
Dave mengajakku bersulang. Untuk merayakan hari kedekatan kami katanya. Aku tertawa ketika ia mengatakan kalau ternyata aku adalah wanita yang memiliki selera kelas tinggi. Ia terpana dengan caraku makan yang tampak lihai dengan pisau dan garpu, ditambah dengan table manner yang di matanya tampak seperti wanita bangsawan. Barangkali aku lupa cara bersandiwara.
"Dave Leichner!"
Tiba-tiba sang vokalis band memanggil nama Dave. Keras sekali sampai aku menolehkan wajahku cepat ke arah kiri.
"Mereka memanggilmu?"
Dave tidak menjawabku. Mungkin ia hanya mengangguk dan menyapa orang yang memanggil namanya.
"Kemarilah, Mate. Jangan pura-pura menjadi pria lugu di sana. Persembahkan satu saja lagu untuk pasanganmu, Dave. Ayolah!"
"Sialan! Mereka mendadak sekali," umpat Dave. "Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak siap, Bruce!" Si vokalis kembali merayunya dengan candaan yang membuat para pengunjung tertawa dan aku berpikir mungkin saat ini meja kami menjadi pusat perhatian.
"Pergilah, aku juga ingin mendengarmu bernyanyi," bujukku.
"Ellie? Kau tidak dibayar Bruce, 'kan?" Aku tertawa. Dave menyentuh punggung tanganku kemudian berdiri. "Tetaplah di sini, aku akan terus mengawasimu."
"Cepatlah, aku sudah mulai risih karena kita menjadi pusat perhatian."
"Jangan terpesona denganku setelah ini."
Oh, yang benar saja ... pria itu terlalu percaya diri. Dave pergi menuju panggung sedangkan aku mempersiapkan telinga untuk bisa mendengar suaranya. Bruce meminta para pengunjung untuk bertepuk tangan dan aku turut serta. Tanpa sadar, senyumku merekah. Dave tidak menyuguhkan penampilannya dengan kata-kata pembuka. Aku bersyukur untuk itu. Piano mengambil nada, Dave mengambil napas. Sementara aku, mengapa aku yang jantungan?
Prekleto!
Apa yang dikatakan Dave jadi kenyataan. Aku terpesona dengan suaranya yang khas. Perpaduan yang sempurna. Ia menyanyikan lagu berjudul You're the Reason -Calum Scott, namun dalam versi suara Sam Smith. Lagi-lagi, perkataan Helena mengganggu, soal Dave yang sangat tampan dan keren. Aku yakin seratus persen, dari heningnya suara para pengunjung, mereka juga sama terpesonanya denganku. Dave pasti menjadi pusat perhatian. Aku tidak tahu bagaimana cara membayangkan wajahnya ketika ia meresapi setiap bait lagu, dan itu membuatku sedih pada kekurangan ini.
Saat lagu mulai memasuki tempo reff, Dave menghayatinya hingga membuat bulu kudukku merinding. Ia dihadiahi tepuk tangan sementara aku hanya bisa menunduk tak tentu arah. Lagu yang ia bawakan, membuatku membayangkan tubuhku berada di atas gedung paling tinggi. Angin menerpa, bintang di atas langit membentuk Milky Way dan sejenak, aku merindukan Mom. Merindukan masa kecilku. Merindukan pelukannya. Dan hal yang lebih menyedihkan, aku membayangkan tangan seorang pria memelukku dari belakang. Membuat kehangatan. Masih dengan jari yang saling menaut di bawah dagu, aku tersenyum pada diri sendiri, tapi dengan satu titik air mata.
Lagu pertama selesai. Dave kembali menyanyikan lagu kedua yang kutahu berjudul When a Man Loves a Woman. Kali ini dalam nada yang lebih keras dan beruntung telingaku bisa menyesuaikan. Tepuk tangan lebih meriah dari sebelumnya. Aku menikmati apa yang ia nyanyikan hingga tubuhku ikut sedikit bergoyang.
"Sepertinya kau menikmatinya, Ellie?"
Seseorang tiba-tiba saja duduk di kursi Dave. Aroma yang sangat kukenal ini, Van Yallen. Ia muncul begitu saja seperti hantu.
"Kau terkejut?" katanya lagi. Ia menuang anggur ke dalam gelas milik Dave. Suara gemercik cairan itu semakin membuat jantungku berdegup tak karuan. Aku tidak bisa berkata apa pun bahkan untuk membalas sapaannya. "Pria itu ... Dave Leichner. Apa dia adalah salah satu urusanmu yang katanya belum selesai?"
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Menikmati makan malam dan musik. Sama seperti yang kau lakukan."
Aku menggeleng pelan, meremas tanganku sendiri Bersama wajahku yang tidak bergerak ke arah mana pun. Van Yallen meneguk habis anggurnya, menuangkannya lagi hingga tak ada lagi tersisa di dalam botol.
"Kau mengikutiku?"
"Hahah ... menurutmu begitu?"
Nyanyian Dave mencapai tempo reff. Namun kedengarannya, ia tidak lagi menyanyikan lagunya secara maksimal. Ada penghayatan yang kurang. Tidak seperti saat lagu pertama dan intro awal pada lagu kedua.
"Sejak kapan kau menjadi penguntit, Tuan? Aku tidak pernah tahu jika ternyata kau memiliki keahlian itu."
Gelas diletakkan kasar. Van Yallen mengecap bibirnya kuat disusul dengan jarinya yang menjentik-jentikkan gelas. Aku mulai bisa membaca, ia benar-benar tidak suka dengan situasi ini. Begitu pun denganku, asal dia tahu.
"Aku tidak sedang bercanda, Ellie."
"Dan aku juga tidak sedang bercanda. Aku tidak suka jika kebebasanku diganggu."
"Kau terlalu bebas sehingga menyalahi aturanmu sendiri. Kau —" "Aturan apa yang sudah kusalahi?" Van Yallen terdiam. Tidak ada
tanggapan apa pun selama tiga detik. Napasnya mendesah kuat, tanda berarti ia kesal padaku. "Aku sudah bilang padamu aku akan menyelesaikan urusanku dalam waktu empat hari. Dan aku masih punya waktu satu hari."
"Kau minta Helena untuk tidak mengawasimu. Padahal aku sudah memperingatkanmu. Kau tidak pernah membangkang seperti ini sebelumnya."
"Helena adalah Eye-ku. Apa yang kusuruh, itu adalah perintahku. Tidak ada aturan yang kusalahi." Aku menghela napas. Tetap tenang. Dan ternyata aku berhasil mengontrol emosi. "Tunggu saja aku di kastel. Kau tidak perlu repot-repot menemuiku di tempat ini."
Lagu berakhir. Tepuk tangan kembali meriah dan kini, Dave mungkin sedang turun dari panggung.
"Aku hanya memperingatkanmu. Berhati-hatilah pada pria karena belum tentu pria yang kau kenal itu baik. Aku bicara sebagai seorang pria. Terlebih aku adalah pria yang sudah menganggapmu sebagai seseorang yang spesial."
"Kau berlebihan." "Harus!"
"Ellie?" Dave sudah berdiri di sebelahku. Sementara Van Yallen belum juga beranjak dari tempat duduknya. "Kau bicara dengan siapa? Apa pria ini mengganggumu?"
Ada surai abstrak jatuh menimpa kepalaku, seolah ini adalah situasi terburuk yang aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Dave mengusap punggungku, menunggu jawaban salah satu di antara kami yang sama terdiamnya. Van Yallen dengan keras kepalanya tak mau pergi, aku dengan keegoanku tidak mau bicara. Hanya napas yang terhembus kasar.
"Baiklah, kurasa dia benar-benar sudah mengganggumu."
"Tidak, Dave!" Aku meraih tangannya yang hendak menjauh. "Dia ... dia pamanku." Sialan, aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Yang ada di benakku hanyalah, usia Van Yallen yang memang lebih cocok menjadi pamanku ketimbang teman atau saudara laki-laki. Beruntung aku tidak menyebutnya sebagai paman penjual daging tempat biasa aku berbelanja.
"Pamanmu?" Aku mengangguk. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Astaga ...." Dave menyergap Van Yallen dan memberi pelukan sok akrab. Aku bisa mendengar Dave menepuk-nepuk punggung Van Yallen sampai pria itu terbatuk ringan. Tawa Dave lebar sekali, seperti orang yang sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun. "Hallo, Paman! Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini. Kenalkan, aku Dave Leichner. Teman dekatnya Ellie, tapi ... jika kau merestuiku, aku ingin menjadikannya pacarku."
Bibirku menganga mendengar pengakuan Dave yang serampangan. Bisa kubayangkan, bagaimana wajah terkejut bercampur marah milik Van Yallen.
Situasi makin kacau!
Fix!! mulai sekarang, You're The Reason jadi soundtracknya Eagle Dust versi melow. I LOVE IT!!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top