63 | Total Eclipse [Part 1]

Wendigo meraung liar, merasa begitu marah pada Tadashi setelah belasan kali dihujani petir yang begitu dahsyat. Tadashi membuka matanya lemah, melihat makhluk itu mengangkat cakarnya tinggi-tinggi dan bersiap untuk mencabiknya lagi. Ia kembali memejamkan mata. Tubuhnya terlalu lemah untuk memanggil petir, atau bahkan untuk menghindar sedikit saja.
Tiba-tiba, sulur tanaman dan akar keluar dari dalam tanah, melesat cepat melilit lengan makhluk itu, kemudian melemparnya ke belakang. Wendigo meraung liar ketika tubuhnya terpental jauh, berguling di tanah yang keras.
"Hei! Lihatlah!" seru Evelyn itu.
Noah yang masih berusaha mengeluarkan api mendengar teriakan Evelyn. Refleks, pemuda berambut pirang itu menoleh, melihat Akando tertatih-tatih di kejauhan. Pria itu mengangkat tangan dan membuka telapaknya yang bergetar hebat. Tangan lainnya menopang tubuh dengan batang kayu panjang. Sulur tanaman dan akar yang dipanggilnya menjauh dari Wendigo dan kembali masuk ke dalam tanah. Tidak dapat menahan gejolak emosinya, pemuda itu tersenyum dan menitikkan air mata. Kekalutan yang baru saja dirasakannya seketika sirna ketika mengetahui bahwa kematian masih enggan untuk menjemput Akando. Pria tua itu masih ada di sini untuk dirinya.
Api yang melahap pohon sakral perlahan-lahan mengecil karena Noah tidak lagi menembakkan api. Jantung Wendigo kini telah berubah menjadi hitam pekat secara keseluruhan, perlahan-lahan luruh menjadi abu hingga habis tak bersisa. Sang alpha kembali berdiri dan hendak berlari menuju pohon besar yang terbakar itu. Namun, langkahnya menjadi limbung. Kulit kelabu di kakinya perlahan menghitam, menyebar ke seluruh tubuh. Retakan-retakan menjalar dari kaki hingga perut, dada, lalu berhenti di kepalanya. Makhluk itu membeku bagaikan patung, cahaya kehidupan di kedua matanya redup. Tubuhnya yang sudah sepenuhnya menghitam kemudian luruh seperti pasir dan berjatuhan di rumput. Lolongan yang memekikkan telinga perlahan mengecil, bergaung ke seluruh penjuru hutan dan menghilang.
Keheningan kembali meliputi Queens Forest Park. Tanpa berpikir lagi, Evelyn bangun dan berlari menuju Tadashi, meskipun sedikit pincang karena pergelangan kakinya terkilir. Ia bersimpuh dan menggendong tubuh pemuda itu, menepuk-nepuk pipinya pelan. "Hey, hey, Tadashi! Wake up!"
Noah, Kagumi, dan Akando menyusul gadis itu. Ketiganya berkumpul di sekitar Tadashi. Napas Evelyn kian memburu ketika kepanikan yang hebat melanda. Ia mengguncang tubuh Tadashi yang tidak memberikan respons apa pun. "Jangan bercanda! Hei! Bangunlah!" Namun, pemuda yang diajak bicara tidak kunjung menjawab. Kedua matanya masih terpejam.
Akando berlulut, meletakkan telapak tangan di luka Tadashi. Namun, tidak ada daun herbal yang keluar dari sana. Bahkan, Akando tidak merasakan sedikit pun magis di dalam dirinya. Rasanya hampa, seperti ketika dirinya masih sangat muda dan belum mengetahui potensi yang ada dalam dirinya. Ia menatap telapak tangannya, kemudian membelalak.
"Sihir penyembuhanku hilang ... bersamaan dengan jantung Wendigo yang kini telah menjadi abu," lirih pria tua itu. Ia mendongak pada Kagumi. "Ayahmu benar. Kemampuan kami akan hilang setelah Wendigo lenyap."
Noah pun menoleh pada Kagumi dan berkata, "Dan Tadashi telah menggunakan seluruh mantra perlindungan yang kau berikan." Kemudian, pemuda itu menunduk dan menatap Evelyn yang sedang kalut. Tanpa bisa dicegah, emosinya meluap. Matanya memburam karena air mata. Ia memejamkan mata dan menunduk. "Tadashi menggunakan perlindungan terakhirnya untuk menyelamatkanku."
Tangis Evelyn pun pecah. Sambil terisak, ia membawa Tadashi ke dalam pelukan, kemudian mengubur wajah di bahu pemuda itu. Kedua lengannya bergetar hebat. Amarah sekaligus kesedihan menderanya. "Mengapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri terlebih dahulu? Bangunlah! Kumohon, Tadashi .... Kalau kau mendengarku ...," ucap Evelyn parau di sela-sela isakannya. Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya.
Kagumi tersenyum tipis, berlutut dan menepuk pundak Evelyn. Gadis itu menoleh, tangisnya semakin kencang. Dibukanya kedua tangan, lalu Evelyn dengan cepat menghambur di pelukan wanita itu. Kagumi mengelus-elus punggung Evelyn untuk menenangkannya.
"Tadashi akan baik-baik saja. Ia hanya memerlukan sedikit waktu ...," bisik Kagumi.
Tiba-tiba saja, Tadashi tersentak dan membuka mata. Semua yang berada di sekitarnya tentu terkejut, termasuk Evelyn. Dengan segera gadis itu melepas pelukan Kagumi dan membantu Tadashi untuk bangun. Tadashi yang bingung pun menoleh ke sekitar, melihat wajah-wajah yang menunjukkan ekspresi sedih, kebingungan, tetapi juga lega. Ia yang merasakan sakit di seluruh tubuhnya pun meringis sambil memegang perut. Pemuda itu pun terkejut ketika melihat darah membanjiri hoodie-nya.
"Astaga ... apa yang–" ucapannya terhenti ketika Evelyn tiba-tiba memeluknya erat. Ia pun meringis ketika merasakan tulang-tulangnya seperti akan remuk. "Hei, pelan-pelan," ujarnya lemah.
Evelyn merasa dipermainkan oleh takdir. Emosinya bercampur aduk. Namun, rasa sedih dan kesal yang dirasakannya kalah telak oleh kelegaan yang luar biasa. Tanpa mengucapkan apa pun, ia menangis tersedu-sedu di bahu Tadashi. Sedangkan Kagumi, meskipun lega setengah mati karena sang anak kini telah siuman, ada perih yang dirasakan di hatinya. Perasaan kehilangan ... dan semuanya tidak akan pernah sama lagi. Senyumnya pun memudar.
"Hei! Hei! Ini Dakota! Sesuatu terjadi padanya!" Semua yang mendengar menoleh pada sumber suara. Robert yang baru saja keluar dari dalam hutan berteriak sambil melambaikan kedua tangan. Wajahnya dipenuhi ketegangan, panik, sekaligus ngeri.
Kagumi membelalak, seakan-akan seseorang menikam jantungnya secara tiba-tiba. Wanita itu membeku sesaat, rasa ngeri menjalar di lengan dan bahunya. Dengan segera ia menoleh pada Noah dan Evelyn, kemudian berseru, "Papah Tadashi dan bawa ia masuk ke dalam hutan!"
Keduanya mengangguk. Dengan sigap mereka membantu Tadashi yang masih kesulitan untuk berdiri, kemudian memapahnya. Meskipun tertatih-tatih, pemuda itu masih memiliki sedikit tenaga untuk melangkah. Kagumi memapah Akando yang juga kesulitan untuk berjalan. Kelimanya bergegas masuk ke dalam hutan mengikuti Robert.
Hanya sekitar lima meter dari jalan masuk hutan, Mereka mendapati Andrian yang berwajah kalut berlutut di samping salah satu pohon. Di sebelahnya, Dakota bersandar di batang pohon tersebut. Ia menekan dada untuk menahan sakit, napasnya pun memburu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi! Beberapa menit yang lalu, tiba-tiba Dakota mengerang kesakitan dan bajunya berlumuran darah. Aku tidak bisa langsung memanggil kalian karena Wendigo itu masih ada di sana. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semakin lama menunggu, keadaan Dakota semakin kritis! Kita butuh petugas medis!" Dengan panik, Robert menjelaskan panjang lebar bahkan tanpa mengambil napas.
Tadashi membelalak ketika melihat empat garis merah yang merembes di pakaian Dakota. Ketika menyentuh dadanya, ia tidak merasakan ada luka apa pun di sana, hanya hoodie-nya saja yang robek dan dipenuhi noda darah. Dengan segera ia melepaskan diri dari Noah dan Evelyn, kemudian berlutut di samping Dakota yang nyaris kehilangan kesadaran. Ia mengguncang lengan pria tua itu.
"Grandpa! Grandpa! Apa yang terjadi? Mengapa ... mengapa dadamu ...?" bisik Tadashi. Napasnya memburu. Ia memiliki firasat yang amat buruk. Mencoba untuk rasional rasanya begitu sulit ketika emosinya sedang mendominasi.
Dengan lemah, kelopak Dakota terbuka sedikit. Ketika melihat figur cucu kesayangannya, pria itu tersenyum tipis. Dengan sekuat tenaga, ia menggerakan tangan untuk menyentuh pipi cucunya yang kotor terkena debu dan tanah. Ada sedikit luka goresan di sana. Dakota mengelus lembut pipi Tadashi dengan ibu jari. "Semuanya ... telah berakhir ... kini ... kau bisa ... mewujudkan impianmu." Bisikan Dakota nyaris tak terdengar, terasa tertahan di tenggorokan dan sulit untuk keluar.
Tangis Tadashi pecah. Dakota merasakan air mata Tadashi jatuh membasahi kulit tangannya. Sambil terisak Tadashi menggenggam erat punggung tangan sang kakek di pipinya. Tangan dan rahangnya bergetar hebat. "Mengapa ada cakaran dan darah di dadamu? Luka itu tidak ada ketika aku menjemputmu di mimpi Akando. Kumohon ... Grandpa ... jawab aku ...," ucapannya yang bergetar terhenti. Tadashi terisak. Dadanya terasa begitu sesak. Ia menunduk, tidak sanggup melihat wajah sang kakek yang begitu menderita menahan sakit.
Melihat perih yang dirasakan ayah dan putranya, Kagumi turut merasakan sesak di dada. Ia menunduk dan terpejam, berusaha menahan air mata yang akan mendobrak keluar dari kelopaknya.
"Live your dream ... Tadashi ... bermimpilah setinggi apa pun ... karena aku tahu ... kau ... selalu bisa menaklukan ... mimpi-mimpi itu," bisik Dakota di sela-sela napasnya yang tercekat. Pria itu tersenyum, kemudian kegelapan absolut meliputinya. Ketika napas terakhirnya berembus, kepala pria itu tertunduk dan tangannya yang memegang pipi Tadashi terjatuh.
Namun, dengan segera Tadashi menangkapnya. Tadashi tidak kuasa menahan gejolak emosinya, seperti ada seseorang yang mencekiknya hingga kesulitan bernapas bersamaan dengan jantungnya yang tercabik-cabik. Dengan kedua tangan yang bergetar hebat, ia mengubur wajah di punggung tangan sang kakek, kemudian menciumnya. Dakota tidak menggerakan jemarinya, juga tidak mengatakan sepatah kata pun. Pria itu telah pergi ke tempat yang lebih baik, di mana dirinya tidak akan lagi merasakan sakit.
Kagumi yang berada di sampingnya pun berlutut, kemudian membawa Tadashi ke dalam dekapannya. Tadashi terisak keras-keras di bahu sang ibu. Alih-alih balas memeluk, kedua tangannya masih enggan untuk melepas tangan kakeknya, berharap pria tua itu kembali membuka matanya.
"Ini adalah permintaan terakhir kakekmu ...," ucap Kagumi pelan di antara napasnya yang terpotong-potong. "Ritual yang dilakukannya tidak hanya meminjamkan kemampuan pemanggilan petirnya, tetapi juga ... melindungimu dari serangan setelah mantra perlindungan dariku habis ... dengan cara memindahkan kerusakan di tubuhmu padanya, juga rasa sakit yang kau rasakan ...."
"Mengapa kau biarkan Grandpa melakukan itu? Aku tidak pernah memintanya untuk melindungiku selama pertempuran!" berang Tadashi. Dengan cepat ia melepas pelukan sang ibu dan menangkis lengan wanita itu. Rahangnya mengeras, jantungnya berpacu cepat, wajahnya terasa memanas. Duka yang begitu mendalam kini telah bercampur dengan kemarahan dan rasa sesal.
Seandainya ... seandainya Tadashi tahu hal itu lebih cepat, ia tidak akan menjalani ritual sialan itu.
"A-aku sudah melarangnya ... aku pun tidak menyetujui tindakannya" Kagumi terisak. Air mata yang sempat berhenti kini kembali jatuh. "Tapi ... inilah yang diinginkan kakekmu, dan ia ingin kau menghormati keputusannya." Perlahan, Kagumi mendekat, menarik pundak putranya ke dalam dekapan. Setelah Tadashi tidak lagi bersikap agresif, akhirnya ia menghambur di pelukan sang ibu, memeluk wanita itu erat sambil tersedu-sedu. "Ia hanya ingin kau mewujudkan apa yang kau impikan, melakukan apa pun yang kau inginkan, tanpa bayang-bayang mimpi burukmu ...," bisik Kagumi lagi.
Luapan duka yang dirasakan Tadashi semakin dalam. Bagaimana ia bisa hidup tanpa sang kakek di sisinya? Apa artinya mimpi yang berhasil ia wujudkan tanpa Dakota? Tanpa ketukan di pintu kamarnya setiap malam menjelang tidur? Tanpa aroma parfum kuno milik pria itu? Tanpa senyum secerah mentari pagi itu? Bagaimana dirinya bisa pergi meninggalkan rumah dan berkuliah di Yale ketika mengetahui tidak ada lagi sang kakek yang menunggunya untuk pulang setiap musim panas?
Tidak. Bukan ini yang Tadashi inginkan. Apa artinya kemenangan malam ini jika seseorang yang ia cintai tidak lagi hadir di sisinya?
Duka menyelimuti Queens Forest Park tepat ketika bulan berada di puncak. Penduduk Queens tertidur tanpa mengetahui apa yang telah terjadi. Setelah Kagumi, Andrian pun turut memeluk putranya. Evelyn dan Robert pun bergantian memberikan Tadashi ketegaran ekstra untuk melewati malam yang terasa begitu panjang dan menyiksa.
Akando menengadah, melihat awan mendung yang sejak tadi menutupi cahaya bulan kini telah pergi. Ribuan benda langit berkilauan bagai permata tak tergapai. Kini, hutan kota mendapatkan kembali sumber pencahayaannya. Kemudian, ia saling pandang dengan Noah yang sama lelahnya. Pemuda itu mengembuskan napas berat dan menunduk. Akando kemudian menoleh pada sepupunya yang tertidur dengan damai. Ia turut menunduk, berkomat-kamit untuk menyertakan kepergian Dakota dengan doanya.
"Your journey ends here, Brother. May we meet again in the eternal peace."
*****
Suku Indian kehilangan nyaris setengah pejuang setianya. Sebagian lagi dalam kondisi kritis, termasuk Kele. Dengan tewasnya Wendigo, tidak ada lagi dukun yang memiliki kemampuan penyembuh. Hal itu mengakibatkan rumah sakit terdekat menerima lonjakan pasien gawat darurat di tengah malam. Selain itu, Akando, Noah, dan Evelyn pun perlu mendapatkan perawatan medis.
Kagumi berjalan menuju pohon sakral yang masih dilahap api, kemudian berhenti di hadapannya. Wanita itu menyelimuti tangannya dengan semacam sarung tangan hitam yang terbentuk dari bayangannya. Tangannya menembus api yang berkobar untuk menarik katana milik Daitengu yang menancap di batangnya. Ketika wanita itu menariknya, api kehitaman yang berkobar di batang pohon pun berangsur-angsur padam. Sarung tangan bayangan yang dibuatnya berubah menjadi asap hitam tipis dan lenyap terbawa angin. Tidak ada luka bakar di tangan wanita itu. Bahkan, merasakan sakit pun tidak.
Wanita itu menengadah, menatap pohon besar tanpa daun yang menjulang tinggi, lebar diameternya mungkin mencapai dua meter. Keadaannya sama persis seperti sebelum pertempuran terjadi, seolah-olah pohon itu tidak pernah terbakar. Memorinya kembali ke beberapa jam lalu, ketika Tadashi sedang tidak berada di dekatnya. Ia duduk di atas rumput berhadap-hadapan dengan sang ayah. Pria itu menggenggam tangannya erat, tubuhnya masih lemah akibat pertarungannya di alam mimpi Akando. Sang ayah menatap kedua matanya lekat dan mengucapkan permohonan terakhirnya.
"Kondisi fisikmu sedang tidak baik. Kau akan langsung tewas jika sesuatu yang fatal terjadi pada Tadashi!" serunya sambil menggeleng. "No, we will find another way! Dad tidak perlu melakukan ritual semacam itu!"
"Dengar. Aku tidak bisa bertarung di sisinya, Kagumi. Aku tidak bisa melindunginya." Sang ayah mengelus pipinya lembut. "Tadashi tidak hanya memerlukan kemampuan untuk menyerang, tetapi juga bertahan, dan dua ritual itu harus dilakukan berbarengan!"
"Dad pikir Tadashi mau melakukan ritual semacam itu setelah mengetahui bahwa nyawa kakeknya akan terancam?" Kagumi menaikkan nada bicaranya.
"Maka rahasiakan soal itu. Kita cuma perlu bilang bahwa itu hanyalah ritual meminjamkan kemampuan pemanggil petir." Dakota bersikeras.
Kagumi mendesah pelan, menjeda perkataannya sejenak. Ia kehilangan kata-kata untuk menghadapi sang ayah yang begitu keras kepala. Ditatapnya lekat sepasang manik milik Dakota. "Dad ...." Ia kemudian meraih lengan sang ayah dan menautkan jarinya. "Tadashi akan benar-benar hancur ketika mengetahui bahwa kau berbohong demi dirinya."
"Tadashi akan semakin hancur jika Wendigo itu tidak kalah dan ia tidak bisa hidup dengan normal," tegas Dakota. "Tadashi masih muda, hidupnya masih sangat panjang dan impian akan selalu menyertai langkahnya selama ia masih bernapas. Banyak hal yang harus ia raih. Kumohon, Kagumi. Jika seandainya sesuatu terjadi padaku, maka tidak apa-apa. Aku sudah mengajarkan semua yang kutahu padamu dan Tadashi."
"Don't say that!" Suaranya pecah. Kagumi hampir menangis. "Lalu bagaimana denganku yang harus kehilanganmu jika hal buruk benar-benar akan terjadi di masa depan?"
Dakota tersenyum hangat. Ia membawa putri kesayangannya ke dalam pelukan. Ditepuk-tepuklah punggung wanita itu. "Kau wanita yang kuat. Semua akan baik-baik saja. Hanya ini satu-satunya cara yang dapat kulakukan. Aku tidak bisa hidup dengan tenang jika sesuatu yang buruk terjadi pada cucuku satu-satunya."
Kagumi mengedip, memori di kepalanya menguap bagaikan asap yang lenyap terbawa angin. Dirinya kembali ke hadapan pohon sakral dengan katana dalam genggamannya. Rasa sesak di dadanya kembali menghampiri. Kagumi menunduk dan terpejam. Air matanya jatuh membasahi rumput di dekat boots yang dikenakannya. Dalam gelap, ia masih melihat sang ayah di sana. Namun, sosok itu kini telah menjauh, dan Kagumi tidak akan pernah bisa menyentuhnya lagi. Dalam hati Kagumi mengutuk dirinya sendiri. Bibirnya bergetar. Dengan cepat ia menggigitnya untuk menahan rasa sesal.
Jika sejak awal dirinya terpikir untuk membakar jantung Wendigo dengan sihir dari pohon itu, apakah semuanya akan berbeda? Apakah ia bisa memenangkan perang dan pulang tanpa kehilangan sang ayah yang begitu berharga melebihi apa pun?
Dukung Dream Walker dengan menekan bintang di pojok kiri bawah 🌟
13 Agustus 2022

*****
Aku nulis part ini sesenggukan parah😢 semoga feel-nya nyampe ke kalian ya!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top