Interview || Lucien

Gadis bernama (name) itu berkutat dengan komputer di kantornya. Ia berkali-kali mengacak rambut, merasa pusing dengan jumlah peminat berita yang kian menurun. Semua yang saat ini berada di media massa hanya seputar gosip dan hal-hal viral yang menurutnya kurang berguna.

Ia menghela napas, menatap langit-langit dan memikirkan nasib ke depannya. Ia tentu saja tidak dapat membuat perusahaan ini bangkrut begitu saja. Jurnalis muda itu menghela napas. Ia mengeluarkan buku kecil yang memuat pemikirannya, mencoret semua beberapa kali sebelum menuliskan ide-ide yang baru.

Beberapa menit lamanya ia termenung, sebelum akhirnya mengambil perekam suara dan kamera. "Mari kita bekerja!"

Interview

Lucien x Journalist!Reader
Created : Senin, 4 Mei 2020

Gadis itu memantapkan langkahnya. Ia menengok jam, lima belas menit sebelum waktu pertemuannya dengan seorang profesor yang menjanjikan. Menyadari masih ada waktu yang tersisa, gadis itu memutuskan untuk berkelana di universitas Loveland.

Suasana di dalam sangat apik. Setiap sudut ruangan terlihat sangat bersih, semuanya tertata begitu rapi, bahkan suasana pun terasa amat damai. Sudut bibir gadis itu mengembang, sudah lama ia tidak merasakan sensasi berjalan di antara anak kuliahan seperti itu. Perlahan memori demi memori mengusik pikirannya.

(Name) menyudahi sesi bernostalgia setelah beberapa menit. Ia melewati beberapa kelas, mengikuti arahan yang didapat dari narasumber hingga tiba di sebuah ruangan yang terpencil dari yang lainnya.

Ia mengetuk pintu sebanyak tiga kali, dengan sabar menunggu respons sembari berlatih memperkenalkan diri.

Tak lama, pintu terbuka, menampilkan sosok pemuda berambut hitam dengan jas laboratorium yang bersih.

"Selamat siang, Profesor Lucien. Perkenalkan, nama saya (full name) dari Miracle Finders. Saya sudah membuat janji dengan Anda kemarin." Ia menampilkan kartu pengenal yang menggantung di dada, kemudian mengulas senyum santun.

"Selamat siang." Sang profesor menjawab, kemudian berhenti sejenak dan memandangi gadis di depannya. "Panggil saja Lucien. Sepertinya umur kita tidak berbeda jauh. Silakan masuk."

Gadis itu menurut. Ia berjalan kikuk ke dalam ruangan. "Sebelumnya, terima kasih karena sudah mau meluangkan waktu untuk diwawancarai." Ia memulai dengan sebaris kalimat yang paling sering diucapkan setiap kali bertemu dengan narasumber. "Jadi, saya hari ini ingin mewawancarai Anda terkait dengan proyek yang sedang Anda lakukan belakangan ini."

Lucien mengusap dagu. "Wartawan yang cerdik." Ia terkekeh, memindai gadis itu dari atas hingga bawah. "Padahal saya sudah membuatnya tidak diketahui publik," tukasnya, mengambil beberapa dokumen di atas meja.

"Sebagai jurnalis, kami harus selalu kaya informasi. Kalau tidak tentu saja akan tertinggal." Ia memantapkan diri, kemudian mengeluarkan perekam. "Apakah boleh saya mulai wawancaranya? Dan apakah pembicaraan ini boleh direkam?"

Lucien terdiam, menatap perekam suara yang ada di tangan kanan gadis tersebut, kemudian menjawab, "Silakan saja."

"Baiklah, saya dengar bahwa Anda sedang bekerja dalam semua proyek bermama Starlight Reborn, bisa tolong jelaskan sedikit mengenai hal tersebut?"

Lucien membalik salah satu kertas yang dipegangnya, menunjukkan foto langit penuh bintang berukuran A4 ke arah (name). "Ini adalah tujuan kami. Mengembalikan bintang yang sudah lama hilang. Kita tahu bahwa di zaman penuh teknologi seperti ini, eksistensi bintang di angkasa mulai redup, digantikan oleh langit gelap."

(Name) mengangguk, meninta Lucien melanjutkan penjelasannya.

"Saya dan tim bertujuan untuk mengembalikan bintang dan segala kegemilangannya itu. Tentu saja dengan memanfaatkan teknologi yang kami rancang sendiri."

Lucien terdiam sejenak, kemudian melanjutkan, "Kalau berhasil, malam ini bintang akan menghiasi angkasa." Ia menatap jauh ke arah luar, melihat langit yang kian menggelap.

"Lalu, mekanismenya seperti apa? Bagaimana Anda bisa membuat eksistensi bintang kembali?"

Pemuda itu meletakkan jari telunjuk di depan bibir. "Kalau itu masih rahasia. Jika berhasil, baru akan saya ungkapkan. Dan saya akan pastikan bahwa Anda orang pertama yang bisa wawancara secara eksklusif."

Gadis itu tersenyum. Ia akan membuat berita secepat mungkin mengenai hal tersebut, kemudian akan memuat berita terusannya segera--apabila proyek yang disebutkan berhasil.

"Kami akan pergi melihat hasilnya malam ini, tempat paling sempurna untuk menyaksikan keajaiban ini. Apakah Anda mau ke sana?" Lucien menunjuk kamera yang dibawa (name). "Mungkin Anda ingin mengambil foto."

Gadis itu tersenyum. Ia teringat salah satu perkataan temannya yang juga adalah wartawan. "Gunakan semua kesempatan yang ada untuk mengumpulkan informasi yang terbaik. Sebagai wartawan, kita harus tajam terhadap kondisi sekecil apa pun, jangan sampai terlewat."

(Name) mengangguk setuju. "Kalau tidak keberatan, saya ingin mengadakan livestream dan wawancara langsung di tempat jika proyek yang Anda katakan berhasil."

Lucien tidak menjawab. Ia bersedekap, berpikir dengan serius terhadap permintaan yang diajukan. "Bagaimana, ya...?" Ia menggantungkan kalimatnya, menemukan kegigihan yang menguar dari aura lawan bicaranya.

"Saya berjanji akan tetap sopan dan tidak memaparkan hal yang tidak diperlukan. Hanya sebuah siaran langsung singkat, mungkin Anda bisa memberitahukan sedikit mengenai proyek tersebut, seperti tujuannya. Hanya begitu saja." (Name) menjelaskan dengan penuh antusias sambil menuangkan semua ide yang selama ini hanya ia bagikan dalam buku catatan kecil.

Pemuda berusia dua puluh enam tahun itu tertawa ringan. "Bagaimana mungkin saya bisa menolak tawaran dari seseorang yang begitu bersemangat seperti Anda? Tentu saja usulan tersebut saya terima, selama semuanya masih sesuai dengan prosedur."

Senyuman penuh rasa terima kasih diberikan gadis tersebut. Berita ini akan menjadi terobosan bagi Miracle Finders. Setidaknya, eksistensi perusahaan tersebut dapat dipertahankan.

"Kalau begitu, saya tunggu nanti malam, ya. Datang saja ke sini, biar saya yang mengantarkan Anda hingga ke lokasi."

* * *

Malam itu, (name) dibawa menuju sebuah bukit yang cukup gelap, letaknya di belakang universitas.

"Kita harus melewati tempat seperti ini?" Minor--yang bertugas sebagai kamerawan--mengeluh kesal.

Gadis itu menghela napas, sedikit merasa ngeri dengan atmosfer yang tidak biasa baginya. Dalam hati, ia merutuk kesal karena tidak mengenakan baju yang tebal, udara di sini sangat dingin.

Lucien melirik sejenak, melepaskan jaket yang ia kenakan, kemudian memberikannya kepada (name). "Wartawan memang harus tampil dengan rapi, tetapi setidaknya gunakan baju yang lebih hangat," sarannya.

(Name) awalnya enggan karena gengsi, tetapi suhu yang terasa semakin menurun membuatnya tidak memiliki pilihan lagi. Jaket yang terlalu besar itu sukses membuatnya merasa hangat. "Sepertinya proyekmu sukses, ya." (Name) menatap langit, menyadari bahwa angkasa terlihat lebih terang dari biasanya.

Lucien mengangguk. "Rekan kerja saya juga berkata demikian. Silakan merekam jika ingin. Selama kalian tidak terlalu berisik, saya rasa tidak akan ada yang terganggu."

(Name) melirik Minor, menginstruksikan pemuda tersebut untuk mulai siaran langsung sambil menyorot angkasa. Gadis tersebut berbalik badan, menatap kamera sembari mengucapkan pembuka dan menjelaskan mengenai situasi terkini.

Tiba-tiba saja, jurnalis muda itu merasakan tangannya ditarik oleh Lucien. "Hati-hati, kau hampir tersandung."

Minor menyudahi acara siaran langsung untuk sementara. "Kita rekam setelah tiba di lokasi saja."

Ketiganya sepakat, kemudian melanjutkan perjalanan selama tiga menit. Lucien berhenti berjalan, kemudian dengan bangga tersenyum. "Berhasil," katanya sembari menunjuk bintang yang berpendar dengan amat terang.

(Name) ikut bersorak senang, memulai kembali siaran langsung yang nyaris tertunda, mengabarkan pada dunia mengenai penemuan menakjubkan tersebut.

-Omake-

Siaran langsung berjalan dengan sukses. Berita yang dimuat oleh Miracle FInders langsung menjadi topik paling hangat dibicarakan masyarakat, meski baru ditayangkan satu jam yang lalu.

(Name) duduk di atas rumput, masih terpesona dengan proyek besar yang berlangsung sukses.

"Bagaimana?" Lucien menempatkan diri di sebelah gadis itu, memberikan teh hijau kalengan kepadanya.

(Name) mengangguk, merasa puas. "Terima kasih karena telah memberi izin untuk meliput mengenai proyek ini."

Lucien tersenyum, kemudian terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kami masih punya banyak proyek yang sedang berlangsung. Silakan datang dan meliput jika menarik."

(Name) mengerjap. Sebuah gerbang emas terbuka lebar di hadapannya, membawa harapan yang begitu besar. "Sungguh?"

"Tapi saya hanya bersedia diwawancarai oleh Anda." Lucien tersenyum sebelum akhirnya bangkit berdiri. "Ayo pulang."

-End-

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top