Who is The Killer? - Dixiee_

Dua Tahun yang lalu.

"Kenapa kau ingin jadi seorang penulis?" tanya Ranpo sambil tersenyum padamu. Dengan semangat kamu menjawab,

"Karena di dalam dunia ciptaannya, penulis itu bisa berkehendak sesukanya! Bisa membuat karakter saling mencintai, menikah dan lain lainnya!"

Who Is The Killer?

Bungou Stray Dogs © Kafka Asagiri

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Horror, Mystery

[Name] P.O.V

Dua tahun yang lalu aku bilang bahwa aku ingin menjadi penulis. Namun sekarang, aku berubah pikiran karena menjadi anggota Detektif Bersenjata ternyata sangat mengasyikkan.

Oh hampir lupa, namaku [Name] [Surename] Aku terlahir dengan kemampuan khusus yaitu kemampuan menjiplak. Jadi aku bisa saja menjiplak kemampuan apapun yang pernah aku lihat. Sayangnya, tubuhku terlalu lemah sehingga aku tak bisa menggunakan kemampuan yang berat (Rashoumon misalnya) terlalu lama. Tapi tetap saja kemampuanku itu keren kan?!

Aku menyukai hal-hal berbau teka-teki, itu semua karena aku telah mencoba untuk menjiplak kemampuan milik Ranpo, tapi gagal. Kemudian, setelah beberapa lama aku menyadari bahwa dia hanya manusia biasa tanpa kemampuan khusus.

Minggu lalu, Ranpo berjanji akan membawaku ke tempat orang yang ia kenal. Katanya, orang itu adalah detektif sekaligus penulis, jadi di dalam Novel buatannya banyak teka-teki, dan aku akan mencoba untuk menyelesaikan teka-teki tersebut.

Dan sekarang, disinilah kami. Di suatu ruangan dimana hanya ada aku, Ranpo, Dazai dan laki-laki yang diketahui bernama Edgar Allan Poe. Dia tersenyum kearah Ranpo ketika mengetahui kami berhasil masuk dengan memecahkan teka-teki yang terpasang di pintu masuk ruangan.

"Ada apa seorang Ranpo Edogawa datang kesini tiba-tiba?" Ujarnya tersenyum pada Ranpo.

"Hm begini, temanku ingin mencoba menyelesaikan teka-teki darimu."

Laki-laki bernama Poe itu tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arahku, "Begitu?" Ujarnya. Aku hanya mengangguk dan meneguk ludahku.

"Hmm... baiklah, mari kita lihat." Ujarnya sambil meletakan sebuuah buku yang terlihat usang di atas mejanya.

"Ini dia, silahkan. Kau hanya perlu menebak siapa pembunuh berantai tersebut" Ujarnya sambil menyodorkan buku itu padaku. Aku melangkahkan kakiku kedepan mejanya dan mengambil buku itu.

Judulnya Blank Pages

"Kau yakin tak mau menjawab siapa pembunuhnya sebelum membaca?" Tanya Poe kepadaku.

"Bagaimana aku bisa menjawabnya kalau aku saja belum membacanya?" Ujarku dengan sedikit mengerutkan alisku. Akupun membuka buku tersebut dan langsung disambut dengan rules di halaman pertama.

Rules

1) Jika kau pengguna kemampuan, kemampuanmu tidak akan muncul.

2) Kau harus menyelesaikan riddle ini sebelum malam ke 2.

3) Ingatlah bahwa ini sebuah pembunuhan berantai.

Well, waktunya cukup lama. Mungkin aku punya cukup waktu untuk menebak siapa pembunuhnya.

Kemudiian aku melanjutkan membuka halaman berikutnya dan disambut dengan Prolog.

Prolog.

20 Desember

[Name] dan kedua temannya yaitu Dazai dan Ranpo tejebak di sebuah penginapan karena badai salju.

Mereka menginap bersama sembilan orang lainnya yaitu; Daiki yang bekerja sebagai koki di penginapan tersebut, Kise Ryouka seorang model yang sedang naik daun, Satsuki seorang selebriti yang sedang menjadi buah bibir di media, Tetsuya seorang guru matematika, Eiji yang bekerja sebagai seorang pemburu danjuga sebagai pemilik penginapan, Araki sebagai ibu rumah tangga dan istri Eiji, juga Shintarou yang masih duduk di bangku SMA dan memiliki pekerjaan sampingan sebagai programmer.

Aku membuka halaman selanjutnya dan disambut dengan-

Halaman Kosong.

Namun kemudian sebuah cahaya berwarna kuning keluar dari buku tersebut dan membuat aku memejamkan mataku karena cahayanya menyilaukan pandangan.

Aku menutup mulutku akibat terkejut melihat apa yang ada di depan mataku dan kemudian orang-orang muncul dari pintu yang ada di belakangku.

Aku melihat sebuah tubuh wanita muda tergeletak di lantai dengan dada yang tertikam 3 buah pisau dapur. Korban mengenakan baju tidur berwarna biru.

Kondisi wanita tersebut tergeletak di lantai dengan posisi tangannya menggenggam selembar kertas, kertas tersebut bertuliskan 01 dengan darah.

Korban diketahui bernama Kise Ryouka, seorang model yang sedang naik daun.

Aku menghela napasku dan melihat kesekeliling ruangan, hanya ada dua cara kabur dari ruangan tersebut yaitu kabur lewat jendela atau lewat pintu.

Jendela dalam ruangan itu tertutup dengan rapat sedangkan pelaku tak mungkin kabur lewat pintu, kecuali pelaku telah membunuh korban beberapa saat sebelum aku ada disini.

"Tenanglah [Name]-chan." Ujar Dazai sambil menepuk sebelah pundakku yang membuat pikiranku yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan menjadi buyar seketika.

Akupun menoleh kearahnya dan menghela napasku, "Bagaimana kalau aku tak bisa mengetahui siapa pembunuhnya." Ujarku sambil menatap Ranpo yang berdiri di belakang Dazai.

"Karena tadi di rules ini adalah pembunuhan berantai, jadi kita juga akan mati~" ujar Ranpo santai.

"Kau membuat aku panik tau!" ujarmu kesal. Ranpo hanya terkekeh mendengarnya.

"Dalam menyelesaikan sebuah kasus, kau harus tetap tenang dan fokus. Karena banyak sekali kemungkinan yang akan dan sudah terjadi." Ujar Ranpo sambil menepuk pelan pucuk kepalaku.

Aku menghela napasku dan menoleh kearah orang-orang yang sedang sibuk membersihkan TKP dan juga membungkus jasad wanita tersebut.

"Hei kalian, jangan hanya diam disitu. Kemari dan bantu kami membersihkan ini." Ujar seorang pemuda bermegane dan berambut hijau yang kira-kira sebaya denganku.

Aku melirik Ranpo dan Dazai yang juga sedang melirik ke arahku. Masa tamu disuruh-suruh, ujarku dalam hati.

Akupun membantu membersihkan TKP sedangkan Dazai dan Ranpo memindahkan jasad korban entah kemana.

"Merepotkan saja.." Ujar Shintarou sambil membersihkan lantai kemudian membenarkan posisi kacamatanya.

Aku mengabaikannya, mataku sibuk mencari Momoi yang sudah tak ada di ruangan tersebut.

"Satsuki-san sudah kembali ke kamarnya." Ujar Araki sambil tersenyum padaku seperti dia bisa membaca apa yang ada di dalam pikiranku.

Aku mengangguk mengerti. Kemudian setelah selesai membantu Araki dan Shintarou membersihkan TKP, aku kembali ke kamar bersama Dazai dan juga Ranpo.

Malam ini kami memutuskan tidak tidur untuk berjaga-jaga. Lagipula aku harus memikirkan siapa pelakunya sebelum ada korban selanjutnya.

"Menemukan jawabannya?" Tanya Ranpo tersenyum padaku dari arah kasur. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaannya.

Aku mencurigai tiga orang, yaitu Daiki karena korban ditemukan dengan kondisi tertikam dengan pisau dapur. Yang kedua Momoi, korban diketahui berprofesi sebagai selebrity yang sedang menjadi buah bibir media, bisa saja ia membunuh korban karena ada dendam pribadi karena pekerjaan mereka tak berbeda jauh. Yang ketiga Kuroko, karena korban ditemukan sedang menggenggam kertas bertuliskan angka 01. Tapi semua itu hanya kecurigaanku belaka, karena pelaku pasti orang yang sangat pandai dan dia membuat seakan akan orang lainlah yang membunuh korban.


Aku membuka mataku dan mengelap cairan yang keluar dari mulutku a.k.a iler dari pipiku, aku menoleh ke arah Dazai dan Ranpo yang sedang duduk di kursi sambil membaca buku.

"Apa tidurmu nyenyak puteri?" ujarnya dengan nada mengejek.

Ah sial, aku ketiduran semalam. Padahal aku berniat tetap terjaga sampai pagi ini.

Gruuuyk

Ranpo tertawa keras mendengar suara yang berasal dari perutku. Aku yang tersipu malu segera membuang pandangan ke arah jendela.

Badai Saljunya belum berhenti juga.

"Kyaaaa!!!!"

Suara teriakan laki-laki membuat aku dan yang lainnya segera berlari ke sumber suara. Suara tersebut terdengar dari kamar sebelah.

Dazai membuka pintu kamar tersebut dan ditemukan seorang laki-laki berambut baby blue tergeletak di atas kasur dengan mulut yang tertusuk dengan tiga buah pensil. Ranpo segera memeriksa keadaan orang tersebut.

Korban yang diketahui bernama Tetsuya dan berprofesi sebagai guru matematika tersebut masih bernapas namun ia hanya menunjuk ke arah tembok, setelah itu dia pergi. Aku menghela napasku, kepalaku mulai terasa pusing. Kemudian aku memutuskan untuk memeriksa tembok yang ditunjuk oleh pria itu.

Di tembok, tertulis sebuah kode yang tak aku mengerti. Kode tersebut ditulis dengan menggunakan sebuah spidol merah. Kodenya berbunyi; joj lpscbo lf4. Ofyu xbojub. (-1)

Dan di belakang pintu kamar, terdapat angka yang bernomor 00 yang ditulis dengan tipe-x.

Aku mengigit bibir bawahku, berusaha berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemudian aku memperhatikan orang-orang yang ada disini. Mengabsen satu persatu tamu yang ada di ruangan tersebut.

Kemudian aku menyadari ada dua orang yang tak hadir, akupun segera bertanya kepada Araki kemudian berlari ke kamar Daiki dan Satsuki.

Aku mengetuk pintu kamar Daiki, namun tak ada jawaban. Kemudian aku juga mengetuk pintu kamar Momoi, sama seperti Daiki yang tidak ada jawaban. Hingga akhirnya Shintarou menghampiriku dan ia membuka pintu kamar Daiki.

Sayangnya, Daiki ditemukan telah tiada dengan keadaan tergeletak dengan tali yang diikat di lehernya di dekat pintu kamar mandi. Tali yang melilit leher Daiki disangkutkan ke engsel pintu sehingga ketika pintu terbuka, jasadnya tergeletak di lantai. Tentu saja ini bukanlah bunuh diri.

Akupun segera berlari memanggil yang lain, meninggalkan sang programmer mengurus jasad dengan rambut navy blue itu. Tak lama kemudian, aku beserta Ranpo dan Eiji kembali ke kamar Daiki.

Di lantai tepat dibawah Daiki tergelantung, terdapat angka yang bertuliskan 01 yang ditulis dengan darah. Dan tubuh Daiki dipenuhi dengan banyak sekali sayatan.

Setelah memeriksa jasad Daiki, Dazai mendobrak pintu kamar Satsuki. Parahnya nona cantik itu juga telah tiada, Satsuki ditemukan dengan kondisi dimana tubuhnya ditusuk dengan empat buah pisau dapur di bagian tangan, perut, lengan atas dan mulut. Di kaca rias dalam kamar tersebut, terdapat sebuah angka bertuliskan 00 yang ditulis dengan menggunakan lipstik berwarna merah.

Setelah membantu membungkus jasad paraa korban tersebut, aku duduk di aula villa bersama dengan Dazai, Ranpi dan kedua pemilik villa.

Aku sedang berpikir keras dan berusaha menarik kesimpulan, aku berusaha memecahkan kode-kode yang ada disana. Setelah cukup yakin, aku menghela nafasku.

"Apakah kau sudah menarik kesimpulan siapa pembunuhnya?" Tanya Ranpo menatapmu serius. Kamu hanya mengangguk ragu.

"Ya, pembunuhnya adalah- *piiiip*" Ujarmu, dan tiba-tiba kamu sudah kembali ke alammu dan melihat Poe yang tersenyum puas.

"Kau cukup pintar." Ujarnya sambil tersenyum padaku, aku hanya menghela napasku.

"Makasih, tapi tau begitu aku tak perlu membaca bukunya dulu." Ujarku sambil mengembalikan buku tersebut dan berjalan keluar ruangan itu.

Jadi, siapa pembunuh sebenarnya? Kenapa?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top