[8] Keputusan Sekolah

“MALUUUUU!!!”

Yuzuru menunduk, menyembunyikan wajah di bawah meja. Teman-teman seduduk tak tahan untuk menertawakannya. Selain sebagai tempat makan, kantin asrama menjadi tempat berkumpul yang asik bagi murid-murid AME. Dan kini hampir sebagian siswi 1A tengah berkumpul di satu meja setelah makan malam. Seminggu berada di AME tentu membuat mereka lebih mengenal akrab satu sama lain.

“Jujur saja, jantungku hampir copot saat Yuzuru menentang Ouma-senpai!” Chihiro mengelus dada seraya mata terbelalak. “Aku kira Yuzuru hanya gadis manis—sedikit manja—dan penurut.” Ia mengingat kembali kejadian di pertemuan ramah-tamah dengan senior tadi pagi sebagai sudut pandangnya.
.
.
.
.
.
Chihiro sama sekali tak bertepuk tangan karena terkejut atas keberanian Yuzuru. Hanya gadis itu yang bisa mengembalikan kesadaran sang teman sekamar, menurunkan tangan Yuzuru, mengepalnya erat-erat. “Kamu yakin? Kamu lagi dikerjai Ouma-senpai!”

Bola mata Yuzuru beradu tatap dengan Chihiro. “Kukira tak takut adu jontos. Padahal udah niat naik panggung, nampar muka soknya itu.”

Chihiro tak habis pikir wajah manis itu mengucapkan kalimat kasar layaknya anak laki-laki. “Yuzuru!”
.
.
.
.
.
“Tapi rasanya gak heran, deh,” Minami ikut memberi pendapat. “Ingat saat perkenalan? Yuzuru berdiri di atas kursi?”

Tujuh siswi 1A tertawa sambil membenarkan ucapan Minami dengan anggukan.

“Udah, dong, jangan dibahas!” Yuzuru menggeram, kepalanya kini ada di atas meja—masih tak mau memperlihatkan pipi yang sudah memanas.

“Bagian favorit aku saat Kitani-chan adu mulut sama Lawrance-kun,” ungkap Okawa Tsubame. Pertemuan ramah-tamah tadi pagi, ia duduk tepat di bawah Yuzuru. Gadis itu bisa melihat dengan jelas ekspresi mengerikan yang Yuzuru pahat saat perang mulut itu.
.
.
.
.
.
Terdesak keadaan, akal sehat Yuzuru kembali ‘putus’. Gadis itu terkekeh, lalu tertawa terbahak-bahak. “Sialan, aku ditipu,” gumamnya kemudian berdiri tegap ke depan, berkacak pinggang. “Menarik! Sekali melangkah, tak boleh mundur!” Badan dihadapkan ke teman-teman sekelas. Tangan kiri bersedekap, tangan kanan bertumpu di sana dengan jari telunjuk ditempel ke dagu. Mata memelotot, berusaha memberikan intimidasi kuat. “Menurut kalian gimana? Apa tak kasihan jika nasib kalian di akademi dipapah oleh gadis bertubuh kecil sepertiku?”

“Yang benar saja kau, Kitani!” Seorang teman sekelas langsung menunjukkan ketidaksukaannya pada Yuzuru. Pemuda itu sejak awal sudah mengejeknya tanpa sebab.

Yuzuru menundukkan badan sedikit ke arah pemuda itu duduk, masih dengan mata memelotot. “Oh, Tatsuo Lawrance-kun? Berani menyanggah berarti berani bersaing denganku?”

Tatsuo Lawrance, anak blasteran itu hanya terdiam, menggeram kesal seraya melirik kikuk. Ia tidaklah takut dengan Yuzuru, pemuda itu tak ada niat untuk menjadi seorang ‘ketua kelas’.

“Beraninya di kelas. Di hadapan senior kamu tak mau mengejekku, seperti biasa, hm?” Yuzuru tertawa dengan nada rendah.

Okawa Tsubame yang duduk tepat di bawahnya langsung bergidik ngeri. “Kitani-chan sudah tidak waras!” gumamnya kalut.

“Dengan badan kecil itu kau bernyali tinggi? Kau tahu, binatang kecil yang terancam suaranya lebih besar agar bisa menakuti musuh lebih kuat darinya! Dan kau begitu!” Tatsuo sudah tak peduli terhadap senior karena sudah muak dengan makhluk kecil nan sombong.

“Dan kamu tahu, tong kosong nyaring bunyinya? Kamu pun begitu,” jawab Yuzuru semakin memberatkan suara dan penuh penekanan. Gadis itu tiba-tiba terkekeh dengan nada sarkastis. “Aku tahu kalian khawatir, tapi itu karena kalian belum kenal aku sama sekali. Kalian tenang saja, aku…,” kedua mata Yuzuru semakin membesar, “… saaaangat pandai memanfaatkan orang lain!”
.
.
.
.
.
Tsubame menghela napas. “Untung saja itu cuma akting. Bisa-bisanya aku—kita tertipu.” Gadis yang setia dengan rambut jalin dua itu mengacungkan jempol. “Kamu sudah pantas menjadi aktris!”
.
.
.
.
.
“Kitani-chan kesurupan?” ungkap Tsubame tak tahan dengan aura intimidasi gadis yang berdiri tepat di belakangnya. Bulu kuduk menegang, sinyal di otak menangkap bahwa nyawanya sudah tak lagi terselamatkan.

Seketika mendengar pernyataan frontal itu, Yuzuru langsung menutup mata, menundukkan badan sedikit. “Maaf, cuma akting.”

“Akting?!” kesal Tsubame dan Chihiro bersamaan.

Yuzuru mengangguk dengan polosnya. “Nilai aktingku tadi berapa?”

“Se-seratus, deh.... Kupikir kamu sudah jadi orang lain,” ungkap Tsubame seraya memeluk diri. Air matanya sudah terkumpul di pelupuk mata.
.
.
.
.
.
“Kamu yakin mau jadi zacho?” tanya Fang Yin. Gadis asli Cina yang sudah menetap lima tahun di Tokyo itu agak kesulitan menyebut kata ‘zacho’. “Senpai tadi juga bilang, zacho itu inspirasi buat teman-temannya. Itu berarti… tidak hanya sibuk mencari peluang untuk diri sendiri, tapi juga harus memperhatikan peningkatan teman-teman, kan?”

Yuzuru menaikkan pandangan, menatap ketujuh wajah teman sekelasnya. Kedua tangan ia silang di depan perut. “Waktu Ouma-senpai bilang ‘siapa yang tertarik?’ seketika otakku memberi perintah agar tangan naik, tapi aku segan sama… kalian yang menurut aku… lebih superior? Apalagi banyak pendapat Kurosawa-kun lebih tepat jadi zacho.”

“Jadi kamu berniat jadi zacho?” Minami memelototkan mata, sama sekali tak percaya dengan pengakuan barusan.

Yuzuru terkekeh kaku. “Iseng, sih, tapi kalau dipikir-pikir emang gak mungkin. Lagipula, kalau ada calon lain aku bakal mundur—ya, calonnya harus benar-benar bisa jadi pemimpin, bukan kayak si Tatsuo—badan besar, mulut lebar!”

Tujuh siswi 1A itu tertawa geli dan menyetujui pendapat barusan dengan anggukan serempak.

“Terus ya, mana ada yang mau mendukung aku jadi zacho!” Yuzuru mengangkat satu tangan. “Di sini yang mau aku jadi zacho, angkat tangan!” Lalu ia tertawa geli seraya menurunkan tangan kembali. “Tuh, kan, gak ada—”

Chihiro angkat tangan kemudian. Yuzuru terpegun. Semua teman semeja turut membelotot ke arahnya. Chihiro memahat senyuman. “Selama sekamar dengan Yuzuru, rasanya… aku terpengaruh dengan keceriaannya. Dan… aku jadi jauh lebih terbuka pada perasaanku ke orang lain.”

“Tapi rasanya bukan pengaruhku kamu jadi makin centil,” timpal Yuzuru kemudian mengembuskan napas kesal.

Minami tertawa seraya angkat tangan. “Mungkin itu pengaruh aku.”

“Ya udah, yuk, obrolin tentang cowok,” tukas Kozakura Ayame yang sejak awal tak tertarik membahas masalah zacho. Apalagi ia terpaksa duduk karena ditarik Tsubame bergabung, padahal sesudah makan ia ingin sekali kembali ke kamar dan terlelap. “Menurut kalian, cowok 1A siapa yang paling keren?”
.
.
.
.
.
Mengobrol dengan teman memang tak ada habisnya. Kelompok rumpi dadakan itu bubar seketika mendengar pemberitahuan lewat pelantang. Suara kepala asrama, Shinomiya, mengumumkan agar anak-anak segera kembali ke kamar masing-masing. Tidak hanya kelompok Yuzuru saja, siswi-siswi yang masih bersantai di ruang makan segera naik menuju kamar masing-masing.

Lampu kamar dimatikan. Yuzuru mengecek pesan masuk di ponsel sebelum memejamkan mata. Pesan dari sahabat nan jauh di luar negeri itu membuat kedua ujung bibirnya tertarik. Secepatnya ia baca surat dari Airi.

[Selamat sudah jadi siswa AME! Saya bangga padamu! Lalu, bagaimana sekolahmu di sana? Saya ingin mendengarkan cerita lengkap! Teman seasrama, teman sekelas, senior—apa ada yang menarik perhatianmu hingga melupakan Kakigawa-kun? Ups! Di London sudah hangat. Pohon sakura di Taman Greenwich sudah membaur dengan pohon lain, seakan mereka tak pernah ada di sini. Kirimlah pesan saat ada waktu luang saja. Salam kangen dari Ueno Airi.]

“Dari siapa, sampai senyum-senyum begitu?” tanya Chihiro di kasur seberang. Ia dapat melihat wajah Yuzuru karena sinar dari layar ponsel.

Senyum Yuzuru semakin lebar. “Dari Airi, teman yang pernah aku bicarakan itu.”

“Ah! Yang pianis dari London itu, bukan?” Chihiro berbaring menelantang, menatap langit-langit kamar yang gelap seakan di atas kepalanya itu tak berujung. “Tampaknya menyenangkan punya teman dari luar negeri.”

Yuzuru melirik ponsel sekilas, lalu kembali bicara dengan Chihiro. “Mau kenalan dengan Airi?”

Chihiro membalikkan badan agar berhadapan dengan Yuzuru. “Bolehkah?”

“Aku tanyakan dulu.” Yuzuru segera membalas surat Airi. Pertama ia mengetik tentang kabarnya, menanyakan kabar Airi, menyanggah perasaan terhadap teman masa kecilnya itu, lalu menceritakan tentang sekolah dan Chihiro yang ingin berkenalan dengan Airi. Terakhir ia tutup dengan kalimat ‘Salam tak kalah kangen dari Yuzuru-chan-tik’.

Asik dengan dunianya sendiri, Yuzuru tak sadar Chihiro sudah tertidur. Ia hanya terkikik melihat teman sekamar yang lupa mematikan lampu meja. Yuzuru turun dari kasur, berjinjit hingga sampai di seberang, pelan-pelan mematikan lampu tersebut. Ia kembali ke kasurnya sendiri, merebahkan badan.

Gadis itu teringat percakapannya dengan Toyosaki. Yuzuru dipanggil pria itu untuk menemuinya di kantor tepat setelah acara temu ramah-tamah dengan senior.
.
.
.
.
.
Yuzuru duduk berhadapan dengan Toyosaki di ruangannya. Dari tatapan, pria berkepala tiga itu terlihat sangat serius. Yuzuru berfirasat kalau ada masalah yang sangat genting, dan permasalahan itu pasti berkaitan dengannya.

“Ada apa, Pak? Jangan-jangan aku mau dikeluarkan, ya?”

Toyosaki cepat-cepat menggelengkan kepala, lalu mengembuskan napas. “Tidak, tapi bisa dibilang mungkin.”

Degup jantung Yuzuru serasa berhenti kala menyadari statusnya tidak stabil di AME. Ia sangat paham kalau kehadirannya di akademi menjadi beban Amamiya yang bertanggung jawab penuh memasukkannya di sekolah swasta tersebut. Gadis itu sama sekali tak ada keinginan untuk menentang. Jika memang ia harus dikembalikan ke SMP, dirinya akan menerima lapang dada. Seminggu di AME sudah meredakan angan untuk sementara waktu.

Melihat keputusasaan di wajah manis Yuzuru mengikis hati Toyosaki. Ia turut bertanggung jawab karena sudah ikut ‘main api’ dengan Amamiya. Baginya Kitani Yuzuru pantas mendapatkan pendidikan di AME. Gadis itu berbakat. Sangat. Andai terasah dengan baik, anak itu akan menjadi idola yang hanya akan lahir sekali dalam seribu tahun.

“Situasinya begini, Kitani-kun,” Toyosaki mulai menjelakan situasi. “Akademi ini memang didirikan oleh Amamiya-san, tapi bangunnya akademi ini juga berkat mereka yang memberikan dana dengan syarat tertentu. Salah satu syarat itu ialah mereka berhak menghadiri rapat demi meningkatkan kualitas akademi. Dan salah satu pendonor dana ialah istrinya Amamiya-san sendiri.

“Amamiya Kisaki, wanita itu sangat berpengaruh di akademi. Malah dulu ia pernah menjadi kepala sekolah sebelum Amamiya-san sendiri yang mengambil alih. Beliau sangat tegas dan juga… sedikit pencemburu. Dan beliau… tahu tentang kamu, Kitani-kun. Dibandingkan dengan murid beasiswa lain, ia sangat tidak menyukaimu.”

“Karena apa?” heran Yuzuru.

Toyosaki terdiam, cukup lama. Ia tengah mencari penjelasan dan juga menyimpan sebagian kenyataan. “Karena… kamu cucu dari cinta pertamanya Amamiya-san.”

Yuzuru menganga seketika. “HAH?”

Toyosaki mengembuskan kekehan sesaat. “Iya…, nenek kamu... cinta pertamanya Amamiya-san—dan aku juga baru tahu di rapat, kupikir sekedar senior yang dihormati. Amamiya-san sangat malu saat Kisaki-san mengungkapkan hal tersebut di rapat.”

“Hee? Kekanakan sekali!” geram Yuzuru.

“Benar. Walau sudah ‘tua’, wanita tetaplah cemburu pada prianya.” Toyosaki menyerahkan sebuah berkas di hadapan Yuzuru. “Kupersingkat saja, ya? Walau banyak hal yang dibahas saat rapat, aku akan menjelaskan tentang statusmu di AME.

“Seharusnya kamu lulus SMP dulu, baru bisa masuk AME, bukan? Semua orang pun berpikiran begitu, dan baru kali ini kami mendapatkan kasus anak SD yang ikut ujian dan nilainya… menakjubkan. Awalnya para pendonor dana kagum dengan kesungguhanmu. Namun Kisaki-san tetap tidak menerima karena kamu masih ‘anak SMP’ sekarang. Penuh dengan perdebatan, bahkan wali kelas 1A juga berusaha mempertahankanmu—”

“Fujisaki-sensei juga ikut rapat?” kekagetan Yuzuru berkelanjutan.

“Ia harus hadir karena menyangkut dirimu, anak didiknya. Bisa kita lanjutkan?”

Yuzuru mengangguk.

Toyosaki menunjuk berkas yang belum disentuh Yuzuru. “Perdebatan itu berakhir dengan satu solusi: Kamu harus kembali ke SMP, lulus dari sana.”

Yuzuru membuka berkas yang diberikan Toyosaki. Ada brosur sebuah sekolah swasta dan kertas permohonan pindah sekolah dari SMP-nya dulu. Juga ada fotokopi akta kelahiran dan kartu keluarganya. Sekumpulan kertas-kertas penting yang akan mengantarnya ke sekolah lain.

Brosur sekolah itu menarik perhatian Yuzuru. Tak tanggung matanya terbelalak membaca biaya masuk dan uang semester. Meski semua biaya itu di bawah AME, tetap saja hal itu membebani orang tuanya—apalagi di AME ia tak mengeluarkan uang seperser pun.

“Orang tuaku tidak bisa membiayai sekolah ini. Kenapa tidak dikembalikan ke SMP lamaku saja?”

Senyum di bibir Toyosaki kembali muncul. “Mana mungkin kami mengembalikan permata langka ke tempat asalnya? Kami tidak menyerah terhadapmu, Kitani-kun!”

“Ma-maksudnya?”

“Sekolah ini memiliki fasilitas belajar jarak jauh—online class, dan kelas akselerasi—kelas percepatan tingkat SMP yang sangat jarang ada di Jepang. Begini, besok kami akan mendaftarkanmu ke sini. Tapi jika kamu ingin langsung kelas tiga, kamu harus ikut besok dan langsung ikut ujiannya, bagaimana? Kamu siap? Jika tidak, kamu akan didaftarkan sebagai murid kelas dua.”

“Lalu belajar di AME-nya?”

“Kamu akan tetap jadi murid AME dan belajar di sini. Akademi ini, kan, hanya belajar empat hari. Kamu harus bisa membagi waktu belajar di dua sekolah berbeda.”

Yuzuru termenung. Tentu belajar dengan dua sekolah dan beda tingkatan akan menyulitkannya. Namun Amamiya, Toyosaki, dan orang-orang yang ada di rapat sudah berusaha membela kehadirannya di AME, mana mungkin ia langsung menyerah dan membuat mereka kecewa.

“Kucoba—tidak, kuusahakan!” Mata gadis kecil itu berkilat-kilat. “Pak Toyosaki, izinkan aku pergi besok! Semakin cepat lulus SMP, semakin fokus aku belajar di AME!”

Toyosaki terperangah. Ia hampir saja menyerah dengan gadis empat belas tahun itu. Mana mungkin ada anak yang mau belajar di dua sekolah berbeda. Satunya pelajaran anak SMA, satunya lagi pelajaran SMP—bisa dibilang rangkum tiga tingkat. Walau Yuzuru dianggap anak jenius, pasti akan mengeluh jika dipaksakan pada hal yang tidak disukai. Skenario terburuk, Yuzuru merengek tak mau kembali belajar tingkat SMP atau berhenti dari AME. Namun kenyataannya....

“Kalau keberatan, kamu bisa bilang kok, Kitani-kun, jangan dipaksakan. Nanti kamu sendiri yang kelelahan.” Toyosaki mengungkapkan keprihatinannya.

Yuzuru menggelengkan kepala. “Aku, kan, sudah berhasil menjawab ujian AME, pasti bisa di ujian SMP ini. Tenang saja, Pak, otakku masih menyimpan dengan baik pelajaran-pelajaran SMP.” Gadis itu melebarkan senyuman, berharap Toyosaki mempercayai kemampuannya.

“Baiklah. Sebagai penghargaan dariku karena keputusan beranimu, aku sendiri yang akan mengantarmu ke sana setiap ada pelajaran tatap muka ataupun ujian yang tak bisa secara daring.”
.
.
.
.
.
Yuzuru menutup mata. Jantung masih berdebar kala menantikan hari penentuan nasibnya di AME. Memang ia tak perlu ikut ujian agar dapat kelas akselerasi, tapi ia sendiri yang sangat ingin menyelesaikan pendidikan di SMP agar lebih fokus mengenyam pendidikan di AME. Dan lagi ia sangat lega saat Toyosaki sendiri yang mengajukan diri menjadi wakil untuk pengurusan perpindahan itu bersamanya besok.

Toyosaki juga sudah membicarakan hal tersebut ke orang tuanya. Mereka menyerahkan semua keputusan pada Yuzuru. Pernapasan gadis kecil itu semakin tenang. Jika semua orang mempercayainya, ia akan berusaha menjadi lebih baik dari harapan mereka.

Writer's Corner

Ohaaa~
Maap telat apdet! >/\<

Akhir² ni aku lagi adik ngedit video, dan emang cukup capek nulis 🙃

Progress Yuzuru agak lambat lagi. Aku nyoba nulis novel yg langsung nargetin ke penerbit. Moga cepat selesai dan diterima editor. >/\<✨

Trus notebook aku lagi² bermasalah di pengecasannya, padahal udah servis. 🤧💔
Moga bertahan sampe dapet Rupiah gantiinnya 🤲

Seperti biasa!
Follow aku, like, komen, dan share ceritaku agar aku makin semangat lanjut nulis!

Sampai ketemu lain waktu~
*˙︶˙*)ノ✨

ALana
26.01.2023

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top