20th Floor

HELAAN NAPAS Nova semakin panjang. Sudah sekian menit berlalu namun belum membuahkan apapun. Beberapa kali ia berdiri dan membuka buku koleksi Ravi. Sayangnya buku-buku itu pun tak bisa memberikan makna lebih. Luke yang tadi membaca majalah kini malah tertidur; tangannya berkedut mungkin karena mimpi yang sedang ia alami. Waktu Nova tidak sebanyak itu lagi.

Satu hal yang bisa Nova pahami hanyalah simbol dari hamsa dan mandala di tengah punggungnya. Terajah dengan ukuran besar, simbol itu ditujukan untuk keselamatannya. Konyol, pikir Nova, memangnya gambar bisa melindunginya dari apa?

Melihat jam dinding, ternyata baru dua puluh menit berlalu. Rasanya begitu lama dan tak berguna. Apalagi yang bisa Nova terjemahkan? Sketsa yang diberikan memang terlihat sempurna dan tinggal dipindahkan saja, tetapi dia tidak bisa melihat punggungnya sendiri.

Menelan air liur, gadis itu menghampiri Luke. Ia terkejut ketika melihat mata Luke yang setengah terbuka kala terpejam. Ragu, gadis itu menyentuh pundaknya dan pria itu hanya mengedikkan bahu. Ia memanggil namanya dan tak ada tanggapan. Sekali lagi ia memanggil nama Luke, mendekati telinganya. Ketika Nova mengangkat wajah, mata Luke terbuka dan gadis itu memekik terkejut.

Luke menggaruk kepalanya yang tak berambut, menyipitkan mata sembari memandang Nova. Mengedikkan dagu, menyuruh Nova berbicara sembari mengumpulkan nyawa.

Jantung Nova berdegup cepat, "Maaf," ucapnya, "Aku perlu bantuanmu."

Dengan setengah hati pria botak itu menuruti permintaan Nova untuk mengecek kesesuaian tato di punggungnya. Luke meminta gadis itu untuk membuka kaos yang ia kenakan. Terkejut, Nova bersemu merah, tetapi ia tak bisa marah. Meski ucapannya terdengar semena-mena, Luke takkan mungkin bisa memeriksa punggungnya dengan kaos yang masih terpakai.

"Kau ini enggak punya daya tarik. Mau kau telanjang bulat pun aku takkan mau melakukan hal-hal aneh padamu. Aku sudah pernah melihat punggungmu, ingat?"

"Tetap saja," gerutu Nova sembari menggigit bibirnya, "Jangan lihat."

Setelah memastikan mata Luke terpejam dan berhenti menggerutu, Nova duduk menyilangkan kaki di hadapan pria itu dan melepas kaos putih lengan panjang yang ia kenakan. Udara dingin menyentuh punggungnya. Ia harus melakukan ini.

"Aku ingin kau mengira-ngira gambar apa yang ada di balik luka bakar itu dengan sketsa yang kita dapatkan. Aku mau menyusunnya," pinta Nova setelah menyuruh Luke untuk membuka mata, "Aku membenci tato-tato itu sampai aku tak tahu di mana letaknya secara persis."

"Kenapa pula kau menato tubuhmu kalau kau tidak suka? Kalau pada akhirnya tidak bisa bertanggung jawab atas keputusanmu, tidak usah kau lakukan."

"Aku dipaksa. Kukira penjelasannya sudah cukup di Stone Roses tadi."

"Yah, terserahlah, toh aku enggak begitu mendengarkan."

Mengerling, gadis itu mengubah posisi duduknya sambil memeluk lutut dan membuka perbincangan, "Aku tidak pernah memintamu untuk ikut dalam perjalanan ini, kau tahu. Kalau kau tidak suka, pergi saja; aku enggak pernah menginginkan apapun darimu."

Luke mendengus, memberikan selembar kertas bergambarkan hamsa, mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara di antara keduanya. Bukan keinginannya pula untuk menemani Nova, jelas Luke. Tapi, dia berhutang budi cukup besar pada Ravi sehingga permintaannya yang ini tak bisa ia tolak.

"Bukannya sedikit tidak adil? Kau tahu banyak tentang diriku, tetapi aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu selain kau bekerja di Marcus's Toe. Bagaimana aku bisa memercayaimu? Bagaimana aku bisa tahu bahwa kau tidak akan mengkhianatiku?"

Hening. Hanya terdengar renyukan kertas dan embusan napas. Luke memberikan lagi lembaran sketsa pada Nova dan menunjukkan posisinya. Nova melirik dari balik bahu, menatap pria itu dengan penuh arti. Diterangi cahaya remang, pria itu melihat pantulan matanya yang memelas. Luke mengerang.

"Oke!" serunya kesal, "Apa maumu?"

"Satu fakta sehingga aku bisa percaya bahwa kamu mengatakan hal yang benar. Fakta bahwa kamu menemaniku dalam perjalanan ini karena permintaan Ravi dan bahwa ini memang apa yang kau ingin lakukan."

"Segala tindakanku sudah cukup menjelaskan 'kan? Kau mau aku bicara apa supaya yakin?"

Nova memeluk lututnya lagi. Gadis itu berkata, "Kau dan Mama Lola."

"Yang benar saja. Aku benar-benar tidak mau membicarakan hal itu. Aku akan memberitahumu jika waktunya tepat," Luke meregangkan tubuhnya dan mengambil lembaran sketsa lagi untuk dicocokkan dengan punggung gadis itu dan memastikan, "Apa itu cukup?"

Nova menggeleng.

"Ck, dasar keras kepala," gerutunya dan tidak membicarakan hal itu lebih jauh, "Intinya, kau mengingatkanku pada seseorang; untuk sekarang hanya itu. Maaf saja ya Non, kau akan terus bersamaku sampai Ravi berkata oke untuk meninggalkanmu sendirian."

"Memangnya aku bisa memilih?" gumam Nova.

"Tidak," Luke memberikan satu lembar lagi sketsa pada Nova dan mengatakan bahwa itu adalah lembaran terakhir.

Tidak percaya, gadis itu berbalik menghadap Luke; di tangannya tidak ada lagi lembaran kertas yang tersisa. Mengenakan kembali kaosnya, ia pun mendapati bahwa dari lembaran yang sudah tersusun, masih ada kertas yang hilang. Mengecek kembali lembaran sketsa itu, Nova tidak memahami artinya. Hamsa, mandala, mandala lagi, beberapa lingkaran dengan detil yang rumit, matahari, bulan, dan angka-angka. Simbol raksaka di tangan kanannya pun ada, tetapi tidak dengan tulisan di lengan bawahnya. Seolah-olah sengaja dilenyapkan, semua sketsa berupa aksara tak ada pada tumpukan kertas itu.

"Apa kau pikir ini tidak aneh, semua sketsa yang diberikan padamu kebanyakan adalah gambar dan angka-angka. Tidak ada tulisan serumit di lenganmu atau mungkin punggungmu.

"Itu juga yang aku pikirkan," gumam Nova, menggigit telunjuknya, "Kenapa? Kenapa harus tulisan yang menghilang? Bukan gambar yang lainnya?"

"Apa kau tahu gambar apa yang ada di balik luka bakarmu itu?"

Nova menggeleng, mengatakan bahwa dia tidak suka melihat tubuhnya di cermin sejak tubuhnya dirajah, "Aku tidak tahu dan tidak mau tahu...waktu itu."

Luke berdecak, "Keputusan yang salah, huh."

"Tidak usah diperjelas," gerutu Nova kemudian duduk bersila di hadapan susunan sketsa itu. Gadis itu bertanya, "Menurutmu, tato di punggungku menggambarkan apa?"

Luke mengangkat sebelah alisnya, "Sekarang kau bertanya padaku?" ia terdengar gemas, tidak percaya.

"Kamu kan yang melihat punggungku!"

Luke menghela napas dan duduk di samping Nova. Pria itu berkata bahwa dia sendiri tidak pernah bertemu dengan Flint Sarojin dan mengerti akan pola pikirnya. "Kau saja enggak paham akan hal yang ada di badanmu sendiri, apa lagi aku?" ucapnya.

"Siapa tahu, kau bisa melihat simbol-simbol dan mengartikannya dalam hal lain."

Luke mendengus, "Hah, bukan orang macam itu. Maaf saja," ia mengambil satu lembar sketsa berisikan mandala, memutar-mutarnya ke berbagai arah seolah-olah bisa mendapatkan sesuatu dari sana. "Dari pada mencari hal yang tidak ada, bukannya lebih baik kalau melihat dari yang sudah tertera di depan? Menurutmu kenapa banyak sekali gambar lingkaran seperti ini? Di sebelah sini, di sini, dan di sini."

"Itu namanya mandala," koreksi Nova, "dan secara umum mandala menggambarkan sebuah kesatuan yang luas, tak hingga, bahkan dikatakan sebagai semesta. Orang-orang menggambarkannya untuk mencapai titik ketenangan, jimat, penjaga."

"Mungkin ayahmu berpikir bahwa mandala-mandala ini untuk melindungimu dari sesuatu?"

Nova menggigit bibirnya, "Tidak mungkin sesederhana itu 'kan?"

Luke mengerling, "Apa sih di kepalamu yang enggak pernah sederhana?"

Merengut, gadis itu mengambil sikap acuh pada perkataan Luke. Ia memerhatikan simbol-simbol yang kiranya berulang. Hingga matanya terpaku pada sebuah ambigram bertuliskan nama yang terasa asing baik di telinga maupun di lidahnya.

"Trevor," Nova melafalkan nama itu dengan lirih. Kerutan di dahinya semakin dalam. Ia lafalkan terus namanya hingga pria botak itu menelengkan kepala, heran akan sikap Nova. Namanya kerap terasa asing namun hati kecilnya mengatakan bahwa suatu waktu entah ayah atau ibunya pernah menyebutkan nama itu.

"Trevor," ulangnya lagi sembari beranjak dari duduk, mencari-cari jaket dan mengambil buku catatan dari sakunya. Ia membuka lembaran demi lembaran untuk mencari nama itu. Bibirnya digigit, matanya bergerak liar dari atas ke bawah untuk memindai nama pria itu.

Di satu sisi, Luke mengambil kertas yang baru saja dibaca oleh Nova, mempertanyakan hal yang sama dengannya. Ia membalikkan tulisan itu dan mendapatkan kata yang mungkin Nova lewatkan. Trevor dan killed —terbunuh. Gadis itu terlalu larut dalam pikirannya sampai-sampai mengabaikan Luke begitu saja. Pria botak itu mendesah dan menyulut rokok di bibirnya. Meja Ravi tempat Nova bekerja tadi terlihat rapi namun Luke memberanikan diri untuk membuka buku-buku berisikan tulisan sahabatnya itu.

Ravi tidak banyak menulis jurnal, tapi ia tahu satu-dua hal yang membuatnya harus menulis: klien atau mungkin target yang akan ia kejar. Lembar demi lembar dia buka dan ia melihat beberapa nama yang seharusnya ia tidak lihat. Seorang pengusaha ternama yang korup dan ia tahu nasibnya berakhir tragis, seorang wanita yang dikenal sebagai influencer ternama yang dinyatakan menghilang, dan juga seorang pemuka agama yang tewas ketika menyebarkan mandat-mandatnya. Kecelakaan, kematian misterius, dan anomali sudah menjadi tajuk dalam media setiap Ravi mengambil nyawa seseorang dan Luke sedikit banyak menjadi perpanjangan tangannya untuk menyetel senapan yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Tulisan Ravi untuk ukuran seorang pria terhitung rapi dan mudah terbaca. Setiap target yang telah 'lenyap' memiliki keterangan dan jadwal yang lengkap mengenai hidupnya; ke mana, bersama siapa; sampai-sampai ia sedikit ngeri melihat detil yang secermat itu. Hutang Luke pada Ravi mungkin bagaikan hutang seumur hidup. Pria itu tahu apa yang Ravi lakukan; terkadang dia akan memberikan kesempatan untuk mengintip buku catatannya. Tak jarang pula Luke menolak namun kali ini berbeda. Matanya terbelalak.

"Kau sadar jika membalikkan nama Trevor, kau akan melihat kata lain 'kan, Non?" tanya Luke tanpa menata gadis itu.

"Apa?"

"Cek lagi kertasnya," suruh Luke, "Aku yakin kau melewatkan sesuatu."

Gumaman Nova tak terdengar. Ruang kedap suara ini begitu kecil dan sempit; memang terlihat lebih sesuai ditempati oleh satu orang saja. Untungnya dinding yang tinggi membuat ruangan kecil itu tetap dingin meski udaranya kering. Tak ada cahaya yang masuk melalui jendela kecil di atas karena malam telah datang. Luke menunggu sementara kerutan di dahi Nova semakin dalam.

Sepuluh detik kemudian, gadis itu menghadapnya, bertanya-tanya maksud dari sketsa itu, "Killed? Maksudnya dia terbunuh? Kenapa?"

Luke melempar buku catatan itu yang dengan ceroboh ditangkap oleh Nova. Menggerutu, ia terbelalak ketika membuka lembaran yang dimaksud. Trevor Bianchi. Meski buram, potret seorang pria berambut terang tertempel di bawah nama itu. Keterangan personal pria itu tak lebih dari tulisan namanya dan di mana ia bekerja, selebihnya tak ada. Hanya saja keterangan mengenai jadwal kesibukannya begitu terperinci seolah-olah ditulis oleh seorang penguntit professional.

Keterangan pertama mengenai kesibukkan Trevor ditulis lima tahun yang lalu, tertera pada lembaran itu. Bagaimana pria itu hampir setiap harinya menghabiskan hari di sebuah rumah susun di Lingkar Luar, keluar rumah setiap hari Rabu dan pergi ke Distrik Blatto sekitar dua minggu sekali dan mendatangi bar terdekat setiap malamnya. Di akhir tabel, tulisan di buku itu menjelaskan bahwa Trevor 'aman'. Nova menyipitkan mata, tidak mengerti.

Catatan mengenai pria bernama Trevor itu berhenti dua tahun yang lalu dan tak banyak perubahan dari kesibukannya. Akan tetapi, di kanan bawah tabel terakhir tertulis sebuah keterangan yang membuatnya makin mengerutkan kening. Tertera nama ayahnya dengan tanda bintang di depan namanya. Ragu-ragu, Nova bertanya pada Luke apakah pria bernama Trevor ini meninggal dua tahun yang lalu.

"Mungkin," jawab Luke sembari membuka-buka catatan Ravi, "Aku tidak paham apa yang Ravi tulis mengenai target-targetnya. Tapi coba lihat halaman-halaman sebelumnya. Setiap dia menyelesaikan satu misi, orang itu akan mencoret potret targetnya, tanda misi sudah selesai. Tak terlihat pada halaman Trevor, huh?"

"Jadi dia...masih hidup?" gumam Nova penuh harap.

"Banyak hal yang bisa terjadi selama dua tahun, Non. Tapi, tidak ada salahnya dicoba."

Dari sekian banyak gambar yang terajah di tubuhnya, mungkin hanya itu petunjuk yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Betapa beban di hati gadis itu sedikit terangkat ketika mendengar kemungkinan makna yang terungkap. Cepat-cepat Nova mengambil buku catatannya dan menyalin ulang hal-hal penting mengenai pria bernama Trevor itu; nama asing yang menggelitik pojok ingatannya.

Dalam kurun waktu dua tahun ini, semua hal bisa terjadi dan Nova hanya bisa berharap. Jika kemungkinan terburuknya pria itu menghilang atau bahkan meninggal, gadis itu tidak yakin bahwa ia akan menemukan petunjuk lain yang bisa dimengerti maksudnya. Rajah di tubuhnya terlalu banyak dan terlalu beragam. Setiap goresan seharusnya ada makna dibaliknya, tetapi yang bisa menjelaskan hanyalah Flint dan juga mungkin juru gambarnya. Untuk memecahkannya tidak cukup dalam waktu tiga jam; tidak cukup pula dengan bahan bacaan yang seadanya seperti di ruangan ini.

Kembali Nova melihat kesamaan dan tulisan-tulisan yang tertera pada sketsanya dan mengelompokkan bentuk-bentuk gambar yang sesuai. Bentuk organik maupun simetris, kemiripan jumlah lengkung, dan repetisi simbol-simbol tertentu. Terlalu membingungkan, sulit baginya untuk mengambil kesimpulan.

"Angka 1978 di tubuhmu muncul dua kali," Pria botak itu berjalan mendekat, menunjuk tangan kiri dan pinggang kiri Nova.

Luke menanyakan apakah angka itu mengindikasikan tahun, tetapi Nova tidak tahu betul. Hal apa yang terjadi di tahun 1978? Nova saja belum lahir, bahkan di tahun itu ayahnya sendiri belum mempunyai jakun! Muncul lagi teka-teki baru, tetapi ia yakin akan adanya teka-teki lain yang menyelubungi ini semua. Hanya saja Nova tidak tahu jawabannya. Belum.

Menghela napas panjang, Nova mengeluhkan kepalanya penat dan pening. Ia merenggangkan tubuh kemudian merebahkan dirinya sembari bersila. Langit-langit di atasnya tampak kusam dengan cahaya putih berdaya rendah. Matanya ia tutup dengan lengan, menimbulkan bayang-bayang yang membuat matanya nyaman untuk terpejam. Sudah berapa lama waktu berlalu? Sejam? Dua jam? Apa yang terjadi jika melebihi waktu yang dijanjikan? Apakah Mama Lola akan menangkapnya?

Mata Nova berkedut lelah; bibirnya terbuka, bertanya apakah mereka telah melewati batas waktu yang ditentukan, "Jika sudah lewat dari tiga jam, apa yang akan terjadi?" tanya gadis itu.

"Aku tidak pernah memercayai wanita itu," ucap Luke, kembali lagi duduk di atas sofa. Ia melanjutkan, "Jika urusanmu di sini sudah selesai, lebih baik kita keluar sekarang. Wanita itu terlalu merepotkan kalau terlibat masalah dengannya."

Khawatir akan di mana mereka akan tidur nantinya, Luke mengatakan bahwa hal itu merupakan pertanyaan yang tidak penting. Mereka tengah berada di Distrik Karmir dan di sana terdapat puluhan penginapan yang bisa mereka singgahi; bukan hal yang darurat, sungguh. Hal yang seharusnya Nova cemaskan adalah keselamatan mereka karena setelah Nova selesai berkemas dan Luke membuka pintu, dua orang bertubuh tegap dan mengenakan masker gas berdiri menghadang.

*

Mengumpat, Luke refleks membanting pintu. Akan tetapi, pria di hadapan mereka berhasil menahannya agar tidak tertutup rapat. Celah yang tidak seberapa merupakan peluang bagi para pria bermasker gas untuk masuk, dan usaha yang cukup besar mereka kerahkan untuk bisa melewati pintu setebal 5cm itu.

Nova terbelalak, tidak tahu bahwa orang-orang Orenda telah mengikutinya sampai sini. Ia pikir usahanya untuk menutupi jejak sudah cukup baik, tetapi nyatanya tidak. Mereka di sana; berdiri di ambang pintu, memaksa untuk masuk. Semua salah Nova. Ia seharusnya mengikuti saran Luke untuk tidak ke Secret Whisper dan pergi ke tempat yang tidak mereka kenali; tempat yang tidak menimbulkan kecurigaan, tempat yang lebih aman.

Terpaku, rasa panik yang menyerang Nova membuatnya lupa akan situasi di hadapannya. Luke susah payah menahan pintu sembari geram mengutuk Mama Lola, "Dasar perempuan bedebah," desisnya.

"Maaf," bisik Nova, "maaf," bisiknya lagi, berulang kali.

"Apa yang kau lakukan?!" seru Luke kesal, "Carikan sesuatu untuk mengganjal pintu sial ini! Jangan minta maaf terus!"

Tersentak, Nova berbalik dan memberikan sebuah tongkat kayu padanya. Ia tidak tahu untuk apa Ravi menyimpan tongkat itu, tetapi setidaknya benda itu berguna untuk sementara. Luke menempatkan tongkat itu di antara gagang pintu dan dengan sedikit tekanan ia pun memutar kuncinya. Suara berdebum dari tubuh yang dibenturkan memang masih terasa. Setidaknya hal ini bisa menahan mereka meskipun hanya sebentar.

"Pintu itu enggak akan bertahan lama," Luke meregangkan tangan, menyuruh Nova untuk membantu memindahkan meja ke arah pintu. "Sekarang apa? Punya ide untuk keluar?"

"Aku...aku enggak tahu, maaf."

Gemas, Luke mencengkram kepala Nova, berkata, "Berhenti minta maaf! Kata-katamu itu enggak akan ada gunanya."

"Tapi, karena aku sekarang kita terjebak! Aku seharusnya mengikuti apa katamu, bukan ke sini hanya karena Ravi percaya Mama Lola."

"Hey, hal buruk bisa terjadi kapanpun juga, oke? Berhenti berpikir berlebihan seperti itu; kita harus pergi dari sini."

Menarik napas panjang, gadis itu berusaha mengembalikan nalarnya. Jika ruangan ini semacam panic room, seharusnya ada jalan keluar lain. Sebuah jalan rahasia yang menghubungkan tempat ini dengan dunia luar. Ravi tidak mungkin selamanya keluar-masuk hanya melalui satu pintu 'kan? Pasti ada alasan kenapa ia menempatkan ruangan pribadinya di bawah tanah.

"Apa mungkin Ravi menyimpan sebuah pintu rahasia yang tembus ke manapun selain Secret Whisper?" tanya Nova.

"Mengingat sifatnya... kurasa mungkin. Tapi apakah—"

"Kami tahu cepat atau lambat kau akan keluar, Nova Sarojin," jika suaranya terdengar hingga ke dalam, sudah pasti pria itu berkata cukup lantang dari balik pintu itu. Suara pria itu pernah ia dengar ketika di museum beberapa hari silam, "Cobalah menjadi anak baik sekali-sekali, kami tidak perlu menarikmu secara paksa."

Panik, gadis itu menggigit bibirnya hingga tercecap rasa besi. Jendela yang terpasang di atas terlalu tinggi, mereka tidak akan bisa memanjat dan kabur lewat sana.

"Kami tahu kau di dalam!" seru pria itu lagi.

"Apa mau kalian?" Nova berseru di dekat pintu, "Kenapa kalian tahu aku di sini?"

"Sesuatu di punggungmu, gadis manis, sesuatu di punggungmu. Kita bisa membicarakannya baik-baik. Tapi kalau kau bersikeras tidak keluar sekarang, aku bisa saja meledakkan pintu ini. Sayangnya, kami tidak mau membayar biaya kerusakan pada Mama Lola. Dia akan benar-benar marah."

"Dasar bajingan! Perempuan sial itu menjebak kita." desis Luke sambil mencari-cari dinding ataupun lantai yang kiranya mempunyai rongga menuju jalan rahasia.

Nova menelan ludah, memegang tongkat kayu yang mengganjal gagang pintu. Mungkin orang itu bisa diajak kompromi, pikirnya. Mungkin jika ia berbicara dengannya masalah ini akan selesai. Nova kira itu merupakan keputusan yang terbaik.

"Apa yang kau lakukan, Nova?!" nada Luke tinggi, membuat gadis itu tersentak. "Kau mau menyerahkan dirimu pada mereka sekarang? Kau bertanya apakah kau bisa memercayaiku, tapi kau tidak melakukan hal yang sama pada mereka? Yang benar saja?!"

Mata Nova berkaca-kaca. Rasa cemas ini membuatnya tidak bisa berpikir dengan logis.

"Cari jalan keluar," ucap Luke sembari mencengkram bahu Nova, "dan jangan bicara dengan mereka lagi. Kita tidak punya banyak waktu."

Luke menepuk punggung gadis itu. Sebuah gestur yang sederhana namun setidaknya memberikan arti lebih baginya. Mengabaikan segala ancaman yang dikatakan dari luar, mereka kembali berkonsentrasi mencari jalan lain. Beberapa kali Luke meraba tembok dan yang mereka dapat hanyalah beton. Nova meringkuk, mendengar dentum lantai yang diketuk. Mendekati sudut ruangan, Nova yakin di bawahnya merupakan sebuah ruang berongga.

Memanggil pria botak itu, Nova mengedikkan dagu pada satu panel lantai yang tertutup lemari. Di satu sisi, pintu sudah kembali digedor dan entah bagaimana mereka berhasil membuka pintu. Detik-detik itu penuh umpatan. Isi lemari yang berat berjatuhan, tentu saja ruangan itu tampak berantakan. Rasa cemas Nova terbagi antara mengacak-acak ruang personal Ravi dan orang Orenda yang hanya terbatasi oleh pintu.

"Kau tahu, kau tidak bisa lari 'kan Luke? Aku punya kunci cadangannya," kali ini Mama Lola yang berbicara. Pintu yang sedikit terbuka membuat suaranya sedikit lebih jelas dibandingkan kedua pria itu, "Ini bukan tentang dirimu ataupun hutangku pada Ravi, tapi gadis itu. Kau pasti tahu kenapa. Keluar baik-baik maka kita akan menyelesaikan hal ini secara diplomatis."

Tanpa berkata apapun, Luke memberikan Nova satu kotak perkakas untuk membuka ubinnya. Ada celah kecil yang bisa dimasuki tuas untuk membuka jalan rahasia itu. Meninggalkan Nova sebentar, Luke berjalan mendekati pintu, mengintip melalui celah yang terbuka. Ia bisa melihat kedua pria bertopeng gas dan juga sosok Mama Lola di sana.

"Pergi. Dari. Sini," desis Luke, cukup terdengar hingga dobrakan di pintu semakin kuat.

"Luke, bantu aku," gerutu Nova susah payah membuka panel.

Satu dorongan dan panel itu terbuka. Luke membantu menggesernya, dihadapkan dengan lubang gelap gulita menuju bawah sana. Pria itu menyuruh Nova untuk mencari senter atau alat penerang apapun. Ravi tipe orang yang selalu segala macam benda untuk keadaan darurat. Ada rangkaian pijakan yang bisa ia gunakan sebagai tangga. Setelah pria botak itu sampai di dasar, kali ini giliran Nova menuruni tangga. Dengan Luke yang memegang sumber cahaya, gadis itu memastikan panelnya tertutup lagi; beranggapan bahwa hal itu akan memakan waktu mereka untuk mencari-cari ke mana Luke dan Nova pergi.

Tepat ketika terdengar bunyi klik tertutupnya panel, pintu berhasil terdobrak dan langkah kaki memasuki ruangan.

*

//Haloo akhirnya update juga. Entah kenapa saya selalu sulit untuk menulis bagian Nova. Selalu ada effort lebih, heu. Even in my head, the puzzle is not intact yet. Jadi maafkan kalau chapter ini sedikit off. Kebayang akan ada revisi abis-abisan buat chapter ini haha. Oya, takkan bosan kucapkan terima kasih bagi yang telah membaca! Dan sebagai tambahan akan ada chapter special di tahun baru nanti. Nantikan yah~ ehe he he he he//

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top