2. Para Prajurit
-oOo-
2. Para Prajurit
KARENA kalah dari perang saudara melawan Kaum Putih yang konon terjadi seabad lalu, Kaum kami―masyarakat liar, dipandang sehina dan sekotor belatung.
Sejak saat itu keturunan kami diasingkan dan tak diperbolehkan untuk bersekolah, belajar menulis, atau membaca. Walau begitu, menurut Kaum Putih kami sangat beruntung karena masih menerima bantuan jatah kelahiran selama tujuh tahun berturut-turut. Tentu saja dengan syarat satu keluarga tidak boleh memiliki anak lebih dari dua, sebab itu akan menimbulkan kemungkinan menimbun jatah bagi kami.
Otak sebagian penduduk yang bodoh termakan rencana itu. Kami semua tunduk di bawah kuasa Kaum Putih selama berpuluh-puluh tahun, menerima jatah kelahiran yang tidak seberapa dan sebagai gantinya membayar upeti kepada Kaum Putih dalam bentuk anak-anak yang sehat.
"Kita tidak pernah tahu apa yang Kaum Putih rencanakan, tapi satu hal yang sudah pasti, mereka akan terus menindas bila kita bodoh," Ibu menegaskan di suatu malam ketika aku hendak pergi tidur. Saat itu usiaku masih kecil, mungkin sembilan atau sepuluh.
"Mengapa mereka harus menindas kita?" tanyaku.
"Karena mereka mau memanfaatkan kita, River," kata Ibu. Suaranya penuh penekanan seolah dia ingin memberitahukan kepadaku betapa seriusnya masalah ini. "Dengarkan Ibu," katanya, sementara dia meggeretku mendekat di tempat tidur, "Kaum Putih adalah masyarakat licik yang tidak mau diperintah. Mereka tidak mau melakukan pekerjaan berat dan kasar, sebab itulah mereka menyuruh Kaum Liar untuk menggantikannya."
"Mereka jahat, ya?"
"Mereka memang orang jahat. Ibu sudah ratusan kali mengatakannya padamu."
"Kalau begitu sampai kapan kita hidup ditindas seperti ini?"
Ibu menatapku dengan sorot mata gelapnya yang kosong. Aku tidak pernah menemukan apa pun di dalam irisnya yang segelap malam. Atau mungkin dia hanya pintar menyembunyikannya. "Kita akan menunggu sebentar lagi, sampai usiamu sudah matang. Nanti, Ibu akan memberitahukannya padamu."
"Memberitahu apa?"
"Cara untuk balas dendam pada iblis yang menyebabkan semua ini."
Entah apa maksud ucapan Ibu saat itu, tetapi aku memilih menganggapnya lelucon konyol. Ibu yang melihatku tertawa akhirnya ikutan terkekeh sambil menepuk-nepuk selimut tipis di perutku.
Walau begitu, aku tak menyangkal bahwa sebetulnya ibulah yang menyeretku sampai ke titik ini. Aku mulai mengetahui keanehan Ibu saat usiaku beranjak sepuluh tahun. Ibu rupanya tidak seperti penduduk Kevra. Dia hidup dengan pemikiran-pemikirannya yang radikal dan bersifat memberontak. Bahkan aku diajari huruf-huruf dan dituntun membaca buku-buku tua yang disembunyikan Ibu di balik dipan lantai. Beberapa adalah buku dongeng yang ceritanya bagiku sama sekali tidak masuk akal, sisanya membahas mengenai kesehatan dan pengetahuan tentang tanaman. Sebab itulah aku bisa membedakan mana tanaman obat dan mana tanaman yang bisa dimana. Aku juga mengerti beberapa nama penyakit dari gejalanya, yang kata Ibu, pengetahuan seperti ini bahkan bisa mengalahkan dokter yang bertugas di Kevra.
Bila ketahuan para sraden, kami bisa dibunuh karena melanggar aturan, jadi Ibu menekan risiko itu dengan mengajariku diam-diam.
"Dari mana Ibu bisa menulis dan membaca?" Saat itu aku bertanya padanya. Usiaku masih sembilan tahun, dan Heera belum lahir. Ibu membangunkanku setiap malam untuk belajar menulis dan membaca selembar demi selembar buku.
"Ada iblis yang mengajari Ibu, River."
"Maksudnya, iblis yang menyebabkan kekacauan ini?"
"Kau bisa bilang begitu."
Aku menggeleng tak mau kalah. "Bu, aku tidak paham. Kalau Ibu tidak pernah sekolah, siapa yang mengajarimu membaca? Siapa pula yang memberimu buku-buku? Kevra tidak punya toko yang menjual benda-benda ini."
Ibu meniup lilin yang menerangi tikar tidur kami, lalu cahaya padam. Dalam kegelapan itu, dia berbicara berbisik, "Ini sudah malam. Para sraden yang berpatroli mungkin bisa mendengar kita. Sekarang, tidurlah. Pelan-pelan berbaringlah di dekat ayahmu."
Bukan jawaban itu yang kumau. Namun, aku tetap berbaring dan memeluk Ayah di sampingku. Rasanya lebih hangat bila diapit kedua orang tua, sehingga aku amat menyukai sensasi tidur di malam hari bersama keluarga. Biasanya Ibu akan menyanyikanku sebuah lagu untuk mengantar tidur, dan Ayah yang ada di samping kami ikut bersenandung dengan gumaman-gumaman lirih. Suara lembut Ayahlah yang membuatku tenang dan cepat tertidur. Namun sayang, setahun kemudian, setelah kelahiran Heera, Ayah malah terserang penyakit. Dari gejala yang bisa kuduga, diare dan tifus. Karena keluarga kami tak punya cukup uang untuk membeli obat di apotek sraden, kami hanya bertahan dari rebusan tanaman herbal yang efeknya tak seberapa. Satu minggu kemudian Ayah meninggal karena tidak mendapatkan pertolongan medis yang tepat.
Ingatan tentang hari kematian Ayah membekas di kepalaku. Rasanya sungguh menyakitkan hidup setiap harinya dan bersusah payah untuk bisa sekadar makan dan bertahan. Namun, dibandingkan itu semua, nasib kami bahkan masih lebih beruntung daripada beberapa orang yang kukenal. Tidak jarang Kevra dilanda banyak kasus kematian karena kelaparan dan infeksi penyakit.
Karena kebodohan ini adalah cara terlicik rezim Kaum Putih dalam memporak-porandakan bangsa kami, sejauh ini tidak banyak di antara kami yang berpikiran maju untuk protes dan membangkang. Kami dijaga ketat oleh para sraden yang tidak segan menebas kepala hanya karena masalah sepele. Kami diawasi dan dicurigai, dibantai apabila memberontak.
-oOo-
"Rambut putih."
Aris berdesis di dekat kupingku ketika kami sedang mengantre di baris pendaftaran. Kepalanya tengadah menatap seorang sraden yang berdiri tidak jauh dari kami.
"Ya, bahkan dari fisik saja kita berbeda. Mereka tampak berkilau dan bersih, tidak seperti kita yang bau dan kotor," aku memikirkan rambut hitamku yang acak-acakan, serta kulitku yang kepucatan dan selalu tampak dekil.
"Ngomong-ngomong, apa kau tidak penasaran dengan kesaktian mereka? Kabarnya para Kaum Putih punya kesaktian tersembunyi," komentar Aris, lalu membetulkan posisi berdirinya di belakangku.
Aku belum pernah melihat kesaktian Kaum Putih. Namun, kabar yang beredar dari para pemuda-pemudi yang menghabiskan waktu dengan sraden terkutuk itu memang mengatakan demikian. Katanya, setiap keturunan Putih memiliki kesaktian―semacam bakat turun temurun yang istimewa. Namun, sejauh ini para sraden di Kevra tidak pernah memamerkan kesaktian, atau barangkali mereka sebenarnya memang tidak punya. Saat aku menanyakan hal ini pada Ibu, Ibu malah tidak berkomentar banyak. Dia hanya bilang bahwa sebaiknya aku tidak usah dekat-dekat dengan para sraden kalau tidak mau kepalanya putus.
"Aku tidak tahu, tapi bisa saja mereka selama ini hanya bohong, kan?"
"Katanya memang benar-benar ada," sahut Aris dengan gerutuan semangat. "Hanya saja, di Kevra, mereka dilarang mengeluarkan kesaktiannya karena akan membuat takut warga sekitar. Jalan satu-satunya adalah pergi ke Rawata dan menyaksikan kesaktian itu sendiri."
Aku memilih tak menjawab tanggapan Aris karena barisan mulai maju. Kami melangkah semakin dekat pada meja pendaftaran.
Saat tiba giliranku, seorang sraden berambut putih keperakan yang bertubuh tinggi dan berotot meminta Akta Kelahiran Heera, lalu mengecek nama yang tercetak di sana dengan daftar yang diletakkan di meja. Seorang sraden lain yang berdiri di sampingnya menjatuhkan bolpoin sehingga dia menyenggol pundaknya ketika memungutnya. Kalung nama sraden itu tiba-tiba keluar dari kerah seragam sehingga aku bisa membaca nama lengkapnya.
"Ronan Zosma."
Suara di sampingku terdengar kecil dan lemah ketika menyerukannya.
Aku berpaling pada Heera yang tangan kirinya sedang kugandeng, lalu pelan-pelan kutarik bocah perempuan itu hingga merapat padaku. Sraden di hadapan kami langsung menghentikan aktivitasnya mengecek daftar dan memandang Heera dengan tatapan tajam.
Jantungku seakan melorot ke perut. Apakah dia mendengar namanya disebut? Aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan tetap menunduk ke bawah dan memegang kedua bahu Heera kuat-kuat. Tanganku gemetaran, nyaris bisa kubayangkan sraden di hadapanku menyambar pedang di sabuk celananya. Mencabik kami berdua seperti sepotong daging segar. Ketahuan, kami pasti ketahuan, kami pasti ketahuan.
Kemudian sesuatu, tiba-tiba saja―berat dan besar―dilempar dengan kasar di atas meja.
Aku mendongak. Rupanya itu adalah keranjang berisi jatah makanan Heera yang diserahkan pada kami.
"Selanjutnya!" teriak sraden itu pada barisan di belakangku, lalu menyerahkan kembali akta kelahiran Heera.
Aku berjalan kaku sekaligus tegang, bahkan tidak kuhiraukan seruan Aris yang menyuruhku untuk menunggunya di dekat patung monumen. Tangan kiriku yang menggandeng Heera berkeringat, sementara tangan kiriku gemetaran memeluk keranjang. Kami terus berjalan, tidak menoleh ke belakang, menuju gang sempit yang diapit tembok-tembok balai desa. Saat keadaan di sekeliling kami sudah sepi, aku menaruh keranjang makanan di permukaan tanah yang becek, lalu berjongkok menyamakan tinggi dengan Heera.
"Heera, kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?" kataku sambil menekan pelan pundak kecilnya. "Jangan membaca keras-keras di hadapan umum."
Mata bulat Heera yang seperti boneka beruang menatapku. Astaga, kepolosan yang terpancar di sana memicu bahaya bagi keluarga kami.
"Iya," katanya pelan. "Aku tidak sengaja, Abang. Tadi itu spontan saja aku melafalkan namanya."
"Ingat apa kata Ibu? Kau bisa dihukum bila ketahuan bisa menulis dan membaca."
"Iya, aku minta maaf." Heera menundukkan kepala, terlihat amat menyesal.
Kurapikan rambut kepangnya di kedua pundak, lalu kutarik tubuhnya dan kupeluk.
Heera. Heera. Adikku yang paling kusayang. Aku mengecup puncak kepalanya dengan lama, seolah tak ingin melepasnya dari sisiku.
"Aku menyayangimu, tolong lebih berhati-hati lagi," kataku selepas merengkuhnya dengan erat. Bila saja keberuntungan tidak berpihak pada kami, maka sudah sejak tadi aku kehilangan dirinya. Dan aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa Heera. Dia adalah harta yang paling kusayang dan tak boleh disentuh oleh siapa pun, bahkan aku telah melarangnya untuk mendekati para sraden. Betapa hancur dan carut-marutnya masalah dalam keluargaku nantinya. Heera adalah orang terakhir yang harus mengemban nasib buruk.
"Apa aku harus minta maaf juga pada Ibu?"
"Tidak usah, nanti Ibu marah padamu. Yang penting kau jangan mengulangi lagi."
Saat Heera mengangguk, terdengar derap langkah kaki menginjak genangan becek di dekatku. Aku menoleh dan menemukan Aris menghampiri kami sambil menggandeng Alin dan memikul keranjang jatah. Rautnya agak kesal ketika dia menunduk memandangku. "Kau tidak dengar teriakanku tadi, ya? Sudah kubilang, tunggu kami di dekat patung!"
"Maaf, tadi kepalaku sakit, jadi kupikir kami mau langsung pulang," dustaku.
Aris menghela napas, lalu suaranya kali berikutnya terdengar khawatir. "Oh, aku lupa kau punya sakit kepala yang sering kambuh. Sekarang baik-baik saja?"
"Ya," ujarku. "Mari kita pulang."
Lalu kami kembali ke rumah dengan melewati gang sempit itu.
-oOo-
Kedatangan kami disambut hangat oleh Ibu. Aku meletakkan keranjang yang berat di atas meja, lalu Ibu mulai memilah-milah isi di dalamnya dan menyisihkan sedikit bagian untuk jatah makan hari ini. Dia langsung melesat ke dapur sambil membawa setangkup beras, seikat sayuran hijau dan sekaleng daging. Dalam beberapa menit, suara kelontang peralatan masak mulai terdengar sampai ruang tengah.
Saat aku menggantungkan jaket di balik pintu, kulihat Heera melepas kaus kakinya dengan gerakan pelan, wajahnya tampak murung dan sedih.
"Jangan dipikirkan lagi," kataku lirih.
Heera langsung mendongak menatapku. "Bagaimana bila sraden itu tahu?"
"Kalau dia sudah tahu, kita pasti bakal langsung dihukum di tempat."
"Jadi sraden itu tidak mendengarnya?"
Aku mengangguk, mengusap puncak kepalanya sambil tersenyum membesarkan hati. "Benar. Hari ini kita cukup beruntung."
Setelah beberapa lama menunggu, Ibu datang sambil membawa sebaskom kecil nasi dan sepiring lauk sayur bercampur daging. Senyum berkembang di wajahnya seolah memiliki makanan memicu semangatnya lagi. Aku merasa melihat Ibu menjadi lebih muda beberapa tahun ketika dia dalam suasana hati yang baik, namun pemandangan ini amat jarang kulihat kecuali di saat-saat tertentu kami bisa menikmati makanan yang lebih mewah daripada sepiring nasi dan sayur. Dan, menu kali diselipi daging, yang walau tidak tahu asalnya darimana tetap kami makan karena rasanya enak. Kata Ibu ini mungkin daging anjing liar atau babi hutan.
Kami makan dalam hening. Heera yang biasanya cerewet mengoceh hal apa pun yang bisa dikomentari, kini cenderung diam dan tidak membuka percakapan. Ini mengundang perhatian Ibu untuk bertanya.
"Kau kenapa, Heera?"
Heera tersentak dan langsung kebingungan menjawab. Dia mengetatkan genggamannya pada sendok sambil melipat bibirnya ke dalam, matanya berkaca-kaca hampir menangis.
Pada situasi ini, aku buru-buru menyela, "Tiga hari lagi Heera ulang tahun, Bu. Sejak tadi dia murung seperti itu, mungkin karena takut menghadapi tes kesehatan."
Ibu menghela napas, gurat wajahnya menunjukkan keprihatinan.
"Heera, Ibu belum bilang soal ini padamu. Sebaiknya kau berpura-pura sakit agar mereka tidak meloloskanmu di dalam tes."
Mata bulat Heera melebar dalam keterkejutan. "Benarkah?"
Aku bisa menduga hal ini jauh-jauh hari, tetapi mendengarnya sendiri dari mulut Ibu masih membuatku kaget. Sebab kami semua tidak pernah membahas rencana ini sebelumnya. "Ibu, apa tidak akan ketahuan?"
"Ibu tidak mau kehilangan kalian berdua," kata Ibu, jarinya merambat meremas tanganku dan tangan mungil Heera yang terhampar di atas meja. "Biar seperti ini saja. Kita bisa hidup selamanya seperti ini."
Selamanya dalam kemiskinan dan tunduk dalam peraturan konyol pemerintah.
Kalimat itu terdengar mengerikan di kupingku. Namun, aku tetap bersikap tenang dan mengangguk. "Sraden datang memeriksa rumah warga yang anaknya tidak hadir tes, bagaimana kalau ketahuan?"
"Kita bisa ... membuat Heera sakit." Ibu menggosok sisi lehernya―kebiasaan yang dilakukannya saat merasa cemas, "Ibu berpikir mungkin bisa memanipulasi keadaan dengan sengaja mengonsumsi beberapa jenis tanaman. Efeknya cukup parah di anak kecil. Dia akan demam dan berhalusinasi. Ibu rasa itu cukup untuk menipu petugas yang memeriksanya."
Aku mendesah napas, menyugar rambut frustrasi. Membayangkan Heera sengaja dibuat sakit membuat hatiku terluka, tapi semua ini belum cukup untuk menipu sraden pengawas apabila sakit yang diderita anak-anak hanya bersifat sementara. Mereka selalu berusaha merebut anak-anak di Kevra dengan berbagai cara, salah satunya dengan memberi penangguhan hari sebelum anak yang sakit benar-benar sembuh dan siap dikirim ke Rawata. Ibu sepertinya mengerti kegelisahan yang kualami, sebab dia langsung menjawab, "River, hanya sampai hari tes usai, lalu kita bisa memikirkan cara lain untuk membuat orang-orang itu tidak mengambil Heera."
"Itu artinya kita tidak akan berhenti menyiksa Heera," kataku, lalu berpaling pada adikku yang hanya duduk tanpa ekspresi di meja makannya. Dia sama sekali tidak menyentuh makanannya.
"Hanya sementara, River. Ini lebih baik daripada melepasnya dan tidak tahu apa yang kan dia hadapi di luar sana."
"Ibu, bagaimana bila ... ini tidak seburuk yang Ibu bayangkan?" Aku memulai dengan hati-hati. Ibu langung merapatkan rahangnya dan tatapannya berkata seolah aku bertingkah seperti yang dia takutkan. Aku berusaha terlihat masuk akal, "Kita belum tahu pekerjaan berat seperti apa yang pemerintah lakukan pada anak-anak seperti Heera, tapi apakah kita tidak bisa memercayakan nasib pada mereka?"
"River, justru berada dalam ketidaktahuan inilah yang membunuh kita." Ibu menegaskan.
"Tapi kita tidak bisa terus menerus lari dari tes. Mereka akan mengambilnya bila dia siap."
Ibu tahu-tahu bangkit dari kursi dengan wajah berang. Dia menghampiri sudut ruangan dan mengobrak-abrik wadah seng tempat kami menyimpan benda-benda berharga, lalu menarik akta kelahiran Heera yang kusimpan di sana.
"Kau lihat ini," katanya dengan nada marah. Pipinya bersemburat ungu ketika Ibu menekankan kertas itu pada permukaan meja, "Coba kau lihat Janji Keterikatan di sini, River. Peraturannya sungguh tidak jelas dan mengerikan. Biar kubacakan―" lalu Ibu membaca langsung pada baris bagian tengah, "'Anak yang namanya tercetak di dokumen ini berjanji menyerahkan seluruh hidupnya sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi seluas-luasnya oleh Kaum Putih.' Apa kau mengerti kata eksploitasi? Itu adalah kata lain dari pemerasan tenaga manusia! Apa kau tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Heera bila kita membiarkannya pergi ke Rawata? Dia akan dijadikan budak di sana!"
Kata-kata Ibu setajam cemeti yang menggores telingaku. Dan kesedihan di matanya yang cekung membuat pertahananku runtuh. Heera menciut di atas meja―aku sangsi dia mengerti apa yang kami bicarakan, tetapi ketakutannya terbayang jelas dari jari-jarinya yang gemetaran di atas meja.
Ketika Ibu marah, dia akan mulai menggila dan kadang bisa melempar apa pun di dekatnya, dan saat itu dia bisa menjadi orang yang tak peduli segalanya. Pada detik ini, aku merasa terancam, kebingungan, dan tragis. Penyesalan bergelora di dadaku yang berlubang karena rasa ketidakadilan ini. Mengapa bukan aku saja yang dilahirkan sehat dan Heera yang lemah seperti aku? Aku ingin menggantikan pengorbanan yang harus dilakukan oleh anak sekecil Heera. Aku ingin menanggung semua beban ini agar keluargaku tidak bersusah payah dalam hidup.
Kepalaku rasanya seperti ditusuk-tusuk. Sakit ini selalu muncul ketika aku berada dalam keadaan tertekan, jadi aku menekankan jari pada kening saat kepalaku mulai berdenyut mengerikan.
"River," samar aku mendengar suara Ibu, dan kali ini lebih lemah dan cemas. "River, maafkan Ibu," katanya, lalu aku merasakan tangan Ibu memelukku. Kuambil sejumput rambut untuk meredakan sakit kepalaku yang makin menjadi, tapi tidak pernah bisa berhasil. Seolah ada kuku-kuku tajam yang mencakar seluruh isi kepalaku, membuatku mengerang.
"Nak, ambil napas dalam-dalam. Ikuti Ibu." Dia menarik pelukannya dan menyuruhku mengambil napas dalam-dalam. Aku mengikutinya. Tarik napas. Buang napas. Tarik napas.
Buang napas.
Setelah beberapa saat yang meresahkan, Ibu akhirnya membuang napas lega.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya."
"Syukurlah, syukurlah," lalu Ibu memelukku lagi.
"Ada seseorang di pintu," kataku, masih mengatur napas. Ibu menegakkan punggung dan langsung menatapku terkejut. Aku mencoba mengendalikan suaraku agar terdengar tenang.
"Ibu, aku melihat bayangan seseorang." Aku mengulangi, sementara bayangan di celah pintu bagian bawah berkelebat. Sepertinya dua atau tiga orang. Jantungku kembali berpacu, namun kali ini bukan karena sakit kepala, melainkan dipicu oleh ketakutan atas peristiwa yang kualami bersama Heera pagi tadi.
"Ada sraden datang," Heera mencicit kecil dari kursinya.[]
-oOo-
.
.
.
Tebak dulu apa yang terjadi selanjutnya:
A. Bukan masalah kecil. Sraden datang mau nanyain sesuatu
B. Sraden datang mau konfirmasi insiden pas pengambilan jatah tadi
C. Sraden datang buat nyulik River/Heera
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top