Little Uncomfortable 🔥 27
Day 20
Lisa duduk dengan dikerumuni para murid di kelasnya.
"Lisa-ah, bagaimana bisa kau ranking dua? Aku telah melihat gaya fotomu, keren," puji salah satu yeoja di sampingnya.
"Mungkin itu juga jawabannya." Lalisa tersenyum tipis.
Hanbin dan Bobby menyilangkan tangan sambil menghela napasnya. "Apa-apaan ini? Kita terbaikan?" Bobby memicingkan mata.
"Apa model juga seorang artis?" sahut Hanbin. "Kenapa sampai segitunya?" Keduanya hanya bisa berdiri di depan kelas sambil memandangi kerumunan yang mengitari Lalisa.
"Yak! Apa yang kalian lakukan? Tak ingin bertanya sesuatu padaku?" Keduanya kompak menggeleng. Lisa mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Apa kau lebih suka mereka dibanding kita?" tukas Bobby.
"Yak! Babi hutan, apa maksudmu? Cari makan aja sana di hutan, di habitatmu, tidak perlu jadi sok dibutuhkan."
"Yak! Cewek mulutnya lemes ya? Belum pernah di rol pakai rol rambut ya?" Bobby menunjuk-nunjuk gafis yang menghinanya tadi. Lalisa terkikik.
"Jelaskan padaku dengan padat dan singkat sepulang sekolah," ucap Hanbin sebelum duduk di tempatnya.
"Siapa yang bilang aku akan memberikan penjelasan?" Hanbin menoleh sementara Lalisa mengalihkan pandangannya ke teman-temannya lagi.
"Cham ... " Hanbin mendengus.
Hari ini Jennie sibuk bukan main, ia pergi dari studio foto satu ke studio foto lain.
Ia mengipaskan kipas plastik untuk mereda gerah. "Kurang berapa pemotretan hari ini?" tanyanya pada sang manajer.
"Kurang dua lagi. Iya, hanya kurang dua nanti siang dan sore. Jadi sekarang kamu boleh pulang untuk istirahat."
Jennie langsung menghembuskan napasnya. "Ah, akhirnya, kupikir akan lanjut pemotretan. Punggungku kaku sekali."
"Kita sedang berjalan menuju dorm-mu. Tapi, apa kau akan terus tinggal disana?" Jennie menatap oppa yang usianya hanya terpaut dua tahun darinya itu, dan tidak memberikan respon.
Jisoo tengah berada di gedung YGKPlus untuk rapat individual dengan CEO, perihal kontrak dengan suatu brand. Jisoo dikenal memiliki visualisasi yang luar biasa. Jadi ada brand yang langsung menawarinya sebagai bintang tetap mereka.
"Kau bisa melihat-lihat dulu kontraknya, jika setuju bisa tanda tangani itu dan serahkan pada sekertaris saya. Saya permisi."
Jisoo bangkit dari duduknya, "Iya, sajangnim," lalu menunduk setengah badan.
Dilihatnya lagi kontrak eksklusif itu. "Daebak." Matanya tidak mampu menyembunyikan sorot kagumnya.
Ia memeluk kontrak tersebut dengan senyuman yang merekah. Senyuman bak bunga yang bermekaran di musim semi.
Rosé sedang tidak ada di gedung YGKplus karena ada kepentingan perihal apartemennya. Sehingga kini ia mendatangi apartemennya yang tengah dirombak itu.
"Ah, itu dia Roséanne agasshi."
Rosé menunduk memberi salam. "Anyeonghaseo," sapanya.
"Anyeonghaseo, agasshi. Mari." Pria itu menggiring Rosé untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Sebelumnya, kami minta maaf karena telah menganggu aktivitas padat nona, kami berpikir ini sangat penting sehingga nona harus datang."
Rosé tersenyum. "Tidak apa. Tapi apa ada masalah yang serius?"
"Tidak ada. Hanya ..." pria itu mengambil sesuatu, "... apa ini milik nona?"
Rosé mengerutkan keningnya. "Apa ini, Pak?"
Pertanyaan Rosé membuat pria itu bingung. "Apa ini bukan milik nona?"
Rosé menggeleng. "Tidak tahu."
***
Malam harinya mereka berkumpul bersama di dorm setelah menjalani aktivitas baru mereka sebagai model. Banyak suara desahan keluar dari mulut mereka. Lisa dan Jisoo tengah merendam kaki di air hangat, sementara Jennie tengah merebahkan tubuh sofa sambil menempelkan koyo di kakinya.
Rosé masih belum pulang. Ia termenung sendiri di sebuah restoran. "Ini apa ya?" Ia mengangkat sebuah kantong plastik berisi baju dan kertas. Ia tak tahu apa isi dari kantong itu karena ia tak berani membuka, Rosé tak merasa memiliki barang semacam itu. "Apa milik oppa?" Yang dimaksudkan ialah manajer lamanya.
"Telepon aja deh."
Rosé mengeluarkan ponselnya dan menekan kontak nomor mantar manajernya.
"Hallo oppa, bagaimana kabarmu?"
"..."
"Ah, syukurlah, maaf jika aku menganggumu malam-malam begini, tapi ada yang mau kutanyakan."
"..."
"Tidak. Tidak ada masalah. Aku hanya ingin tahu sesuatu, sebentar lagi akan kukirimkan gambar padamu, oppa lihat baik-baik, apa itu barang oppa atau bukan, arra?"
"..."
"Baiklah, anyeong."
Rosé mulai memotret kantong plastik tersebut dan mengirimkan gambarnya pada mantan manajernya.
Jisoo telah selesai mencuci sekaligus merelaksasi kakinya. "Rasanya sedikit enak dari yang tadi. Seharian pakai hils itu menyiksa ternyata."
"Setuju," jawab Lisa lemah, gadis itu menyungkurkan kepalanya di meja dapur.
"Belum apa-apa, aku justru mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain. Rasanya uratku menegang semua." Jennie mendesah.
"Tapi dimana Rosé? Kenapa dia belum pulang?"
Jennie menyingkirkan timun yang menutupi matanya. Gadis itu terduduk dan menatap jam dinding. "Ini sudah jam sembilan malam. Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Jangan ngaco," sahut lemah Lisa, "dia palingan lagi hangout sama teman-temannya."
Jisoo dan Jennie mengangguk-angguk.
Sekali lagi Rosé mengucek matanya.
"Itu bukan milikku, tapi milikmu. Apa kau lupa?"
"Milikku? Barang-barang itu?" Gadis blonde itu menatap kantong plastik yang tergeletak di meja, "Kapan aku pernah memiliki benda horor seperti ini?" lalu menggeleng.
Ada satu pesan lagi yang baru saja masuk.
***
Jaewon dan Taeyong sama-sama memiliki wajah yang lesu hari ini. Tiada Jennie, tiada penyemangat. Wajah mereka masam. Setiap waktu hanya cemberut dan uring-uringan tidak jelas.
Jinyoung sendiri tengah bersiap dengan jam makan malam. Kedainya kini buka lebih lama dari biasanya. Ia sibuk dengan aktivitas memasaknya agar lupa dengan Jisoo.
Jin, asdos tampan itu, terlihat menatap sebuah foto di layar laptopnya. Ia tersenyum tipis. "Cantik. Jadi bangga." Kamarnya yang terbilang biasa saja ini menjadi sedikit damai.
Hanbin masih mengingat-ingat hal yang disampaikan Lalisa padanya sepulang sekolah.
"Jangan khawatir. Ini adalah sesuatu yang ingin kulakukan sejak masih kecil dan tentu saja ini menguntungkan."
"Apa kau meminjam uang pada agensimu?" tanya Hanbin hati-hati.
Lisa tersenyum. "Mana mungkin."
Mata Hanbin membulat. "Seolma, rentenir?"
Lisa menjitak kepala Hanbin. "Rentenir pantatmu, aku dapat hadiah karena jadi runner up."
"Jadi selama ini aku mengkhawatirkan hal yang tidak jelas. Dasar Hanbin pabo."
***
TIT TILULIT
Semua kepala terarah pada pintu masuk. "Aku pulang," sapa gadis itu lemah.
"ADA APA?" tanya serempak dari seluruh penyewa.
Rosé sedikit terkejut dan mengelus dada kirinya. "Ngagetin saja. Ada apanya maksud kalian?"
"Kau pulang malam, ada apa?" tanya Jisoo.
"Ah, aku pergi makan malam sama temanku."
"Tuh, makanya kalian berdua jangan berpikiran buruk, deh." Ketiga yeoja itu menatap Lisa. "Wae?"
"Apa kalian lapar? Aku tadi membungkus makanan untuk kalian?"
Lisa langsung mengangkat kepalanya. "Jinjja? Palliwa ..."
"Giliran makanan saja semangat empat lima. Dasar," tukas Jennie.
"Kenyang kan baik buat badan," sahut Lisa.
"Emang dasar dirimu saja yang badol," sahut Rosé.
Akhirnya anggota Dorm Blackpink kembali lengkap. Mereka saling berkeluh kesah tentang aktivitas baru mereka di meja makan. Sedangkan Rosé, gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa semangat.
Satu pesan masuk.
Dari : Oppa manajer
Itu adalah baju pria yang tertinggal di mobilmu saat kau mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu. Aku pikir itu punyamu dan penting, karena itu aku menyimpannya.
"Duar!" Lisa, Jennie, dan Jisoo kompak membuyarkan lamunan Rosé.
Sendok Rosé melayang ke meja makan. Gadis itu memejamkan mata sembari memegangi dadanya. "Kaget tahu!"
"Habisnya, bukannya makan malah melamun. Lagi mikirin apa? Go Junhoe?" tanya Jisoo.
"Aish, jangan sebut nama namja itu. Dia masih membuatku kesal sampai sekarang."
"Lalu?"
Rosé menatap teman-temannya. Ia menggeleng. "Tidak ada, mungkin aku sedang kecapekan."
"Yakin?" Lisa mengernyit.
Rosé mengangguk mantap. "Hmm."
"Kalau begitu lanjutkan makannya." Lisa kembali menyumpit nasi dan lauk-pauk yang dibawa oleh Rosé. "Woah, ini benar-benar enak."
"Diamlah." Jennie meletakkan kembali sumpitnya. "Kenapa kau bicara saat sedang mengunyah makanan? Itu menjijikkan."
Rosé tersenyum kikuk. Biasanya, gadis itu akan ikut menimpali dan bertengkar dengan Lisa, tapi kali ini ia hanya diam saja.
-TBC-
***
Hallo hallo ...
Ada yang kangen Maddi?
Gak ada ya? Masa cuma kangen sama ceritanya?
Maaf ya chingu, gak nulis karena kuota abis, duwit menipis, temen pada kuliah jadi gak bisa numpang wifi. Ngenes ya hidup gue. Hehe.
Sekarang Maddi udah ada kuota walaupun hanya se-emprit, ini semua karena Maddi gak mau biarin kalian nunggu cerita ini terlalu lama. Gini-gini Maddi juga mikirin kalian yang udah setia baca cerita Maddi loh.
So, nikmati ceritanya dan sampai jumpa 😉😉😉
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top