Unforgettable Beautiful Time
Kakiku tiba-tiba terasa berat, tepat berada di depan sebuah patung setinggi lebih dari sepuluh meter. Hanya ada satu nama di kepalaku setiap kali menatap bangunan yang di dominasi warna merah. Kuedarkan pandangan, tidak banyak yang berkunjung. Tentu, orang-orang masih berpikir dua kali jika ingin mengunjungi tempat umum.
Lalu, aku? Entahlah, aku hanya merasa akan bisa bertemu dengan Lingga lagi di tempat ini. Seperti delapan tahun yang lalu, Lingga mampu membuat hidupku lebih berwarna setelah pertemuan pertama kami. Sesuatu kembali meletup-letup di dalam dada, seolah benar-benar ada Lingga di depanku.
Langkahku berhenti di depan bangunan utama. Dua lilin setinggi dua meter berdiri kokoh, sementara dua lilin yang lebih pendek berdiri di sisi lain. Tidak jauh dari patung raksasa Cheng Ho yang berdiri kokoh. Terlintas kembali wajah Lingga yang sedang tersenyum.
"Kalau disuruh milih, kamu lebih suka kembang api atau lilin?" tanya Lingga tiba-tiba.
"Kembang api dong, lilin apa indahnya?"
"Cuma itu alasannya?"
"Iya," jawabku disertai anggukan, sementara mulutku masih penuh dengan es krim.
"Kalau aku lebih memilih lilin."
"Kenapa?" Tak menyangka Lingga akan memberikan jawaban berbeda.
"Kembang api memang bagus, indah kalau sudah meletup diudara. Tidak heran kalau banyak yang menyukainya." Lingga berhenti sejenak, menatapku lekat. "Tapi kalau lilin, apinya cuma satu dan kecil. Tak ada yang menarik dari sebuah lilin."
"Aku bingung," aku tak mengerti arah pembicaraan Lingga.
"Nyala lilin bisa menerangi ruangan yang gelap. Apinya juga bisa bertahan lebih lama, meski tidak indah bisa membantu pekerjaan manusia. Untuk suasana tertentu lilin bisa menciptakan suasana yang romantis."
Lingga mengusap lembut ujung kepalaku, sebelum merapatkan pelukannya. Satu per satu kunaiki tangga menuju gedung utama. Angin lembut memainkan anak rambutku. Genggaman tangan Lingga semakin erat, hangatnya memenuhi rongga dadaku.
"Kenapa kamu sering mengajakku ke sini?"
"Tempat ini memiliki banyak sejarah, tidak hanya untuk mengingat perjalanan Cheng Ho ataupun penyebaran agama Islam."
"Maksudnya?" Aku masih beum tahu arah pembicaraan Lingga, entah apa karena aku terlalu bodoh atau karena terlalu mengagumi cara bicara Lingga.
"Kita pertama kali bertemu juga di sini. Aku mau kita tetap mengingatnya seumur hidup."
Lingga melepaskan genggaman tangannya, mengambil sesuatu dari dalam saku sebelum berlutut di depanku. Cincin dengan permata yang indah muncul dari balik kotak beludru merah yang terbuka. Semua mata tertuju padaku.
"Bestari Kusumasari, maukah kau menikah denganku?"
Aku tak menyangka, Lingga akan melakukan ini di depan orang banyak. Kembang api yang besar kini meledak di dadaku. Setelah padam, warnanya tidak ikut hilang tapi meninggalkan pelangi yang sangat indah. Dalam hitungan detik, aku dan Lingga sudah berada dalam lingkaran manusia.
Tidak hanya Lingga, tatapan mereka juga penuh harap. Suasana riuh berganti hening seketika, jelas kulihat dadaku bergerak lebih cepat. Detak jantungku sulit sekali untuk dikendalikan. Kuedarkan pandangan sekali lagi, sebelum menemukan manik mata Lingga yang penuh cemas.
"Tunggu apalagi, kenapa nggak segera kamu pasang cincinnya." Masih bisa kurasakan tangan yang menjulur bergetar di depan wajah Lingga.
Senyum Lingga merekah, sekali lagi kulihat kembang api kembali meletup memenuhi dada. Seiring dengan gemuruh tepuk tangan semua orang yang ada di tempat itu. Tak pernah kulihat sebelumnya, Lingga melompat sambil tertawa. Kulihat ada sumbu kembang apiku di sana. Setelah itu genggaman tangan kami semakin erat. Kembang api meletup setiap hari, mewarnai hari-hari yang kami lewati.
Seketika kaki terasa ringan, langkahku menyusuri tiang-tiang besar dan tinggi. Tangan kanan menurunkan kacamata hitam yang sejak tadi kupakai untuk melawan terik matahari. Tempat ini hampir tidak ada sekat, meski tak bisa melihat, aku bisa merasakan kehadiran Lingga. Aku menyusuri hampir semua sisi, berharap Tuhan akan mempertemukan kami lagi di tempat yang sama.
Detak napasku kembali berpacu, tempat ini tidak ada yang berubah. Tepat tiga meter di depanku, tempat dari semua kembang api indah itu berasal. Tubuhku terasa tak bertulang. Mataku tak sanggup melihat tempat ini lagi sendirian. Tapi aku juga tak memiliki tenaga untuk segera meninggalkannya.
Tak ada cara lain yang bisa kulakukan, selain menatap lantai dengan bertumpu diatas kedua lutut. Mataku tak sanggup lagi menatap ke depan. Lingga tak juga muncul setelah kuedarkan pandangan. Kembang api itu padam begitu saja, bersamaan dengan buliran hangat yang meluncur di kedua pipi.
Kubiarkan buliran bening yang terus membasahi pipi. Pundak terus berguncang seirama dengan isakan yang tak bisa lagi kutahan. Jangankan lilin, kembang api pun kini sudah tak kutemukan. Lututku pun akhirnya bergetar, tak sanggup menahan beban yang tersisa.
Angin berhembus lembut, membuatku sedikit lebih tenang setelah lelah terisak. Kedua tangan sibuk mengusap pipi, aku tak mau ada orang menatapku iba. Sayup-sayup terdengar ada yang sedang berdebat. Aku merapatkan tubuh ke tiang besar merah, agar tak terlihat dari bawah.
"Kenapa kamu menolak bantuan Opa?"
"Aku tidak menolak, asalkan Opa juga mau menerima keberadaan Papa."
Seorang lelaki tua mengenakan kemeja putih dilengkapi sweater biru tua sedang berbicara dengan lelaki dengan usia yang lebih muda. Tongkat sepanjang satu setengah meter melekat di gengaggam kanannya. Kepala tongkat yang berlapis emas cukup menunjukkan kasta pemiliknya.
Sementara diantara mereka, berdiri seorang wanita berambut pendek mengenakan baju terusan warna mocca. Sebuah Gucci asli menggelantung di tangan kirinya. Tak bisa kulihat dengan jelas wajah lelaki yang lebih mudah, karena berdiri memunggungi tempatku beridiri.
"Mana mungkin, Papamu sudah berkhianat! Tinggalkan saja Papamu!" Lelaki tua menunjuk lawan bicaranya dengan menggunakan tongkat.
"Tidak Opa! Aku tidak mungkin meninggalkan Papa sendirian."
"Dasar anak tidak tahu diri!"
"Kenapa Opa egois seperti ini?"
"Aku yang egois atau Papamu yang keras kepala? Semua akan baik-baik saja kalau Papamu tidak banyak tingkah."
"Opa?"
'Sudah...sudah...tidak ada gunanya bicara sama kamu."
Lelaki tua meninggalkan lelaki yang kusimpulkan sebagai cucunya. Wanita paruh baya yang sejak tadi hanya terdiam, ikut bergerak menjauh. Lelaki yang ditinggalkan tidak tinggal diam, berusaha untuk mengejar.
"Opa! Opa!"
"Sudah...sudah... biarkan Opa menenangkan diri dulu. Tante tidak mau kesehatan Opa memburuk lagi. Papa sempat masuk rumah sakit setelah kamu meninggalkan rumah untuk mengikuti Papamu."
"Tolong jaga Opa ya Tante."
Sebuah BMW hitam berhenti tepat di depan lelaki tua bermata sipit. Hampir seluruh rambutnya berwarna putih. Tubuhnya memang terlihat renta, tapi wibawa masih memancar dari cara bicaranya. Lelaki lain berseragam hitam keluar dari mobil untuk membuka pintu.
"Tentu... kamu jaga diri baik-baik ya," ucap wanita itu sambil memegang pundak lawan bicaranya dengan lembut.
"Terimakasih, Tante."
"Julia!" Sementara lelaki tua kembali berteriak karena wanita yang menenteng tas merah itu tidak segera menyusul. Tubuhnya menoleh sejenak, memastikan Julia segera mengikutinya. sebelum membuka pintu mobil.
"Kamu boleh telepon Tante, kalau membutuhkan bantuan. Sekarang, Tante harus pergi." Tangan wanita itu kembali mengusap pundak keponakannya sebelum benar-benar beranjak pergi.
Lelaki yang ditinggal sendirian masih terpaku di tempatnya. Tangan kanannya mengusap wajah sambil melempar pandangan ke sembarang arah. Kemudian menggaruk kasar kepalanya, sebelum beranjak pergi. Lelaki itu...
Sepeti mendapatkan suntikan tanaga, kakiku tergerak untuk mengikutinya. Memastikan apakah yang kulihat memang benar. Seorang lelaki paruh baya sudah menunggunya di belakang bangunan utama. Keduanya berjalan menuju area parkir tanpa aku bisa melihat wajahnya. Langkahnya gontai meski masih bisa tersenyum kaku mengiringi langkah lelaki disampingnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top