Two Hard Choices

Getar ponsel menggagalkan suapan terakhir bubur hangat yang sepuluh menit lalu kuambil dari gerbang. Ada nama Mona dalam layar yang terus berkedip. Ingatanku tertambat pada lumpia mini yang selalu tandas di mulut setiap kali kotak bekal makannya terbuka di meja. Rinduku sedikit terobati, sejak terakhir bertemu di kantor, Mona sama sekali belum menghubungi selain mengabarkan pemutusan kerjaku.

"Ta, gimana kabarnya?" suara diseberang sana terdengar sedikit gugup setelah kusapa.

"Baik." Makanan di mulutku belum terkunyah dengan sempurna.

Gurih menyelimuti seluruh rongga mulut, membuatku tertarik untuk membaca lagi tulisan di stiker yang menempel di tutup stereofoam. Kartun seorang perempuan bersanggul dengan kebaya kuning kecoklatan memenuhi hampir separuh badan stiker. Tidak ada yang istimewa selain senyum dengan jempol menunjuk ke atas. Huruf abjad dengan lafal Bu Marni membentuk stengah lingkaran menempel pada tepi garis stiker, lengkap dengan nomor ponsel tertulis jelas dibagian bawah.

"Ta, gimana kondisimu?"

Suara di seberang telepon kembali terdengar setelah hening selama beberapa detik. Ingin rasanya menceritakan kenyataan yang membuatku nyaris ingin menghabisi diri sendiri. Tapi otakku melawan untuk menjual iba. Tak ada yang tahu, bagaimana isi hati orang lain yang sebenarnya. Pura-pura peduli dengan hanya ingin tahu perbedaanya bisa setipis kulit ari.

"Semakin membaik..." tak sanggup kulanjutkan, karena menipu diri sendiri ternyata lebih sakit.

"Maaf ya Ta, aku baru berani telepon kamu sekarang. Aku tak menyangka harus mengirim surat sialan itu, sementara aku tahu Director Innovation and Development jabatan yang selama ini kamu impikan."

"Uweslah ra usah dibahas. Toh kamu juga cuma disuruh, kan?"* hembusan napas panjangku ternyata membuat Mona semakin merasa bersalah. Isakan mulai terdengar di ujung telepon. "Nangis juga nggak akan mengubah apapun, Mon." Kusilangkan jari telunjuk kanan di atas jari tengah.

"Kami sempat berdebat panjang soal itu, jalan terakhir memang harus melepasmu."

"Udah nggak usah dibahas, aku tahu kamu pasti sudah melakukan yang terbaik. Lagian kamu itu, HRD Manager kok nangis di depan karyawan yang habis dipecat." Tawa kemudian pecah diantara kami.

"Iya sih, tapi kamu kan sahabatku."

"Harusnya aku yang nangis, bukan kamu." Cetusku.

Kalau saja aku dan Mona sedang berhadapan, pasti ujung pipi mona sedang bersemu merah. Awalnya aku tak menyangka, Mona sudah seusiaku. Wajah bulat dengan pipi putih sedikit tembem membuatnya tampak lima tahun lebih muda. Hampir semua barang-barangnya berwarna pink atau ungu, termasuk bingkai kacamatanya.

"Terbawa suasana, Ta."

"Elah, nggak usah di dramatisir. Nggak biasanya jam segini telepon, kamu nggak kerja?"

"Kerja dong," lega rasanya bisa mengalihkan pembicaraan yang bikin bosan.

"Emang nggak dipelototi sama Pak Tarigan?"

"Aku kan masih WFH, sayang. Maaf Ta, aku ikut berduka ya soal Lingga. Semoga kamu selalu kuat dan sabar."

"Makasih ya," kini giliran kristal bening yang menggantung di sudut mataku. Sampai detik ini aku belum menemukan cara untuk melupakan penyesalan karena tak bisa melepas kepergian Lingga. Acara tahlilan pun tak ada di rumah.

"Kamu boleh cari aku Ta, kalau kamu membutuhkan bantuan."

Ucapan Mona mengingatkanku pada secarik kertas bertuliskan nama dan nomor ponsel yang diselipkan di dalam plastik tempat bubur ayam tadi. Isinya kurang lebih sama. Aku baru pertama kali bertemu, tapi seperti pernah mengenal sebelumnya. Otakku terlalu lelah untuk mengingatnya.

"Oke, makasih Mona." Suaraku tersekat di kerongkongan.

"Kamu sudah sarapan belum?"

"Nih baru selesai makan bubur ayam yang dikirim tetangga."

"Aku kirim lumpia ya, Mama tadi bikin banyak. Kamu sudah lama kan nggak makan lumpia bikinan Mama?" senyum tergambar jelas dari suara Mona.

"Nggak nolak," derai tawa kembali pecah diantara kami. "Makasih ya Mona."

"Sama-sama. Kamu lekas sehat ya, tiga puluh menit lagi pasti sampai lumpianya."

"Oke."

Segera kusimpan nomor telepon Vano sebelum kertas itu berakhir di tong sampah. Tak ada salahnya, mungkin suatu saat aku benar-benar membutuhkan bantuannya. Otakku bekerja lebih keras lagi, memeras memori, coba menemukan wajah yang kutemui tadi pagi.

Aplikasi mengirim pesan muncul dalam hitungan detik saat fitur penyimpanan nomor masih terbuka. Rasa ingin tahu mengalahkan keinginanku untuk mencari lebih jauh. Vano ternyata sudah dimasukkan ke grup RT sepuluh hari yang lalu. Tak ada obrolan selain perkenalannya dengan warga.

Jempolku tergerak untuk melihat foto yang terpasang sebagai profil utama. Foto Vano tersenyum, namun kurang jelas karena pengambilan gambar dari samping. Senyum itu, aku seperti pernah mengenalnya. Sekeras apapun mengingat, aku belum juga menemukannya.

Ada banyak teman yang memiliki mata sipit. Tapi mata Vano, aku seperti pernah mengenalinya. Jemariku kembali menggeser-geser nama teman Chiness di buku telepon tapi tak menemukan juga ciri yang tepat. Banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepala tanpa kutahu satu pun jawabannya.

Bel kembali menjerit-jerit. Entah mendapat tenaga dari mana, aku melesat menuju gerbang depan. Seorang ojek online menyodorkan plastik berisi kotak. Dengan jarak lima meter aku hanya tersenyum menatapnya.

"Plastiknya digantung digerbang saja, Pak."

"Tapi Mbak... " suaranya menggantung di udara.

"Nggak apa-apa Pak, nanti saya ambil." Aku malas menjelaskan panjang lebar.

"Baik Mbak. Saya pamit dulu."

"Ongkosnya sudah dibayar teman saya belum, Pak?"

"Sudah Mbak, via aplikasi."

"Oh baik, makasih Pak."

Driver ojol memberikan anggukan sebelum meninggalkan gerbang. Meski sudah menghabiskan semangkuk bubur ayam, perutku masih berontak saat melihat lumpia buatan Mamanya Mona. Saat gigitan pertama, mataku tertambat pada kotak kecil yang baru saja kuambil bersama lumpia dari Mona. Tak diketahui pengirimnya, seperti ada yang bisa membaca pikiranku. Kotak kecil berwarna hijau, bagian depan terdapat gambar dua ruas jahe merah.

Pertama kalinya, aku melihat merk herbal AKAR WANGI. Rasa ingin tahu membawaku kembali berselancar di dunia maya. Hampir tak ada ulasan yang muncul saat kucari di menu penelusuran. Kali ini otakkuu bekerja lebih cepat.

"Mon, pernah dengar perusahaan Akar Wangi?"

"Pernah, kenapa?"

"Kredibilitasnya bagus nggak sih? Aku cari di internet kok nggak ada."

"Perusahaan baru itu, pecahan dari perusahaan Rempah Wangi."

"Oh ya? Kenapa bisa gitu?"

"Kurang tahu sih, kabarnya perusahaan itu diambil alih. Coba deh aku tanya teman yang kerja di sana. Tunggu ya," suara Mona terdengar sedang berusaha membuatku tenang.

"Boleh, tanyain juga soal lowongan ya," bujukku.

Suara Mona terdengar lebih cempreng saat tertawa. "Basa basimu kepanjangan."

Kembali sunyi setelah Mona menutup telepon. Getaran aneh kembali menjalar di dada. Kecil sekali kemungkinanannya, saat seperti ini perusahaan pasti memilih melakukan perampingan daripada menambah karyawan. Degub jantungku semakin kencang menunggu dering ponsel, melupakan sejenak gurihnya lumpia yang memenuhi mulut.

"Gimana Mon?" Telepon Mona langsung kuterima setelah dering pertama.

"Semua betul yang kita bicarakan tadi, Akar Wangi itu pecahan dari Rempah Wangi. Ada masalah rumah tangga yang cukup rumit dalam keluarga pemiliknya. Temanku kurang tahu persisnya." Mona terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Lalu?"

"Perusahaan itu masih kecil jadi nggak mungkin mereka bisa menerima kamu sebagai karyawan dengan background pekerjaan seperti sekarang."

"Nggak apa-apa deh, aku butuh duit buat hidup, Mon."

"Iya, aku tahu. Tapi aku nggak tega masukin kamu kesana. Tunggu deh, coba aku tanya ke teman lain. Siapa tahu ada penawaran yang lebih baik, kalaupun selisih jangan terlalu jauh."

"Yah, oke deh."

Api yang baru saja menyala di kepala, padam begitu saja. Kembali menemukan jalan buntu. Larangan Mona cukup beralasan, jika aku paksakan mungkin penghasilanku juga tidak akan cukup. Pengeluaran yang lebih besar akan membuatku semakin kesulitan.

Sementara mulutku belum mau berhenti mengunyah lumpia. Jempol kiriku juga masih tidak mau berhenti mengetikkan kata Akar Wangi di mesin pencarian. Promo produk-produk di toko online muncul ketika mengetik Akar Wangi. Namun, ada satu artikel dengan foto lelaki tua yang memaksa otakku kembali bekerja lebih keras untuk mengingatnya.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top