Heartbreak
Angin menerobos masuk saat kaca mobil mulai turun. Hamparan hijau semburat kuning menghiasai kedua sisi jalan, menandakan tanaman padi yang sebentar lagi siap untuk dipanen. Pemandangan yang tak pernah bisa kutemukan setiap hari di sekitar rumah. Di ujung depan tampak jelas pohon-pohon berukuran tinggi dengan daun lebar menjulang memamerkan kekuatannya.
Sesekali terdapat rumah bambu dengan ukuran kecil, berdiri sejauh lima sampai sepuluh meter dari jalan raya. Kelapa muda ditumpuk menyerupai gunung kecil di depan kedai. Sementara disisi kanan terdapat gulungan tikar besar. Meja dan kursi kecil diletakkan dibawah payung taman yang sudah sobek di salah satu sisinya, tidak jauh dari tumpukan kelapa.
Sangat berlawanan dengan hatiku, hangat masih terasa sejak bertolak dari rumah teman papa, Pak Lukito. Tempat yang sudah jarnag sekali kukunjungi semenjak mama meninggal. Bukan karena sikap Mas Bimo atau Dara yang kurang baik. Aku hanya tak nyaman setiap kali bertemu Dara yang mengingatkanku pada mama.
"Papa, kapan ke rumah Pak Lukito lagi?"
"Belum tahu. Kenapa? Mau ikut lagi?"
"Boleh."
"Biasanya kamu banyak alasan setiap kali diajak ke rumah Pak Lukito."
Aku tak menjawab, hanya membuang muka ke sebelah kiri. " Boleh nggak kalau jendelanya dibuka saja?"
Tangan kiri Papa mematikan pendingin saat kaca mobil sisi kiri semakin turun. Bersamaan dengan angin yang menyapu wajah. Senyum yang tak mau lepas dari pikiranku. Sebenarnya sebagai anak pemilik sebuah perusahaan besar, bukanlah sebuah masalah bagiku untuk mendapatkan teman dari kalangan mana pun. Tapi kebanyakan hanya sibuk menghamburkan uang orangtuanya dengan pergi dari satu tempat ke tempat lain.
Telapak kananku meremas liontin bintang kecil yang diberikan Tata sore tadi. Seharusnya aku tersinggung dengan ucapannya yang menganggapku aneh hanya karena menyukai bintang. Tak heran, bahkan mama menganggapnya ini adalah hal yang konyol. Saat anak lain seusiaku mulai menyukai otomotif, aku malah lebih sering mengurung diri di kamar.
Kualihkan pandangan saat Papa menatap penuh selidik dari balik kemudi. Deretan rumah berdinding papan mulai bermunculan. Lampu depan rumah di sepanjang jalan menerangi senja yang berganti gelap. Kelap kelip menghiasi lereng gunung Merbabu.
Kaca mobil di sebelah kiri mulai bergerak naik. Sudut mataku menangkap Papa yang diam-diam mencuri pandang dari spion atas. Mobil bergerak menuju bangunan besar berkubah. Aku tahu, apa yang akan dilakukan papa.
"El, kamu nggak ikut turun?" Senyum yang mengembang di bibir papa, menghapus kekakuan diantara kami.
"Nggak Pa, aku di sini saja?"
"Oke, jangan lupa matikan mesin kalau mau turun."
Papa berlalu dengan membiarkan mesin mobil tetap menyala. Papa tahu, aku kurang menyukai yang dia lakukan. Tak ada kata lain yang terucap saat mendapatkan anggukan sebagai jawaban. Kuperhatikan punggung papa yang semakin menjauh.
Papa memang masih selembut yang dulu, tapi jurang diantara kami terasa begitu dalam. Aku sering bingung dengan kebiasaan barunya. Percaya dengan apa yang tak bisa kita lihat, menurutku sangat tidak logis. Tak satu pun alasan yang diberikan papa, masuk ke dalam otakku.
Tuhan memang satu
Kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi
Meski cinta takkan bisa pergi
Suara Marcell yang tiba-tiba muncul saat memutar radio membuat kepalaku menjadi sakit. Aku membuka pintu mobil, tergerak ingin mencari keberadaan papa. Cahaya terang memancar dari teras bangunan dengan tiang-tiang sebesar dekapan manusia, mengubah wajahku yang pias menjadi lebih hangat. Aku sering melihat tempat ibadah papa yang baru, namun baru kali ini bisa mengamati dari jarak yang lebih dekat.
Seseorang melantunkan do'a dengan bahasa yang tak kumengerti, diikuti Amien yang dilakukan secara bersamaan. Kulihat dengan jelas punggung orang yang sangat kusayangi berada dibarisan nomor dua. Melakukan gerakan berirama, mengikuti orang yang berdiri paling depan. Kenapa mereka harus melakukan gerakan seperti itu?
Aku masih terpaku, menatap papa yang kini sudah sangat jauh berbeda. Kelihatan lebih tenang, melakukan yang dia yakini. Meski sikapnya sering menyulut kemarahan mama. Papa seolah tak peduli, sering kulihat papa diam-diam menyembah Tuhannya di malam hari. Ketika semua orang sedang terlelap.
Gerakan berirama itu diakhiri dengan menengadahkan kedua tangan ke atas. Kemudian saling bersalaman satu sama lain, sebelum akhirnya meninggalkan tempat masing-masing. Baru kali ini aku melihat papa tersenyum tanpa beban. Bahkan orang yang tadi berdiri paling depan memeluk papa dengan erat.
"Sedang mencari siapa Mas?" Suara laki-laki bertubuh pendek dengan penutup kepala putih membuatku terkejut.
"Oh, lagi nungguin Papa." Telunjukku mengarah ke dalam, tempat papa sedang bicara dengan orang yang tadi memeluknya.
" Ikut ke dalam saja," pertama kalinya aku disapa orang yang tak dikenal dengan ramah.
"Nggak, saya di sini saja. Papa sebentar lagi pasti selesai." Tolakku halus, cepat menggelengkan kepala.
"Baik, saya tinggal dulu ya Mas."
"Iya Pak."
Lelaki yang usianya tidak terpaut jauh dengan papa kembali menuju ke dalam gedung, merapikan tumpukan buku tebal di atas sebuah lemari panjang. Sesuatu yang dingin menyusup ke dalam dada. Kuperhatikan orang-orang yang membaca buku tebal dan melantunkan suara yang tak ku mengerti artinya. Iramanya seperti sedang menyanyi tapi dilakukan dengan lembut dan elegan.
Kenapa mereka harus menyanyi sendiri-sendiri? Bukannya lebih bagus kalau dilakukan secara bersamaan? Seseorang yang menyanyi dengan suara yang paling merdu, menggerakkan kakiku untuk mendekat. Jarak sepuluh meter membuatku bisa mendengar suaranya dengan jelas.
Aku seolah berada di tempat yang jauh. Bukit-bukit berdiri dengan kokoh, ditumbuhi pohon rindang. Sungai mengalir indah dikelilingi warna-warni bunga yang sering kutemuakan di taman. Ada jenis yang belum pernah kulihat, tampak indah, wanginya hingga menyentuh hati.
Papa sedang berdiri di teras sebuah pondok yang indah, dikelilingi orang-orang berbaju putih. Wajah papa yang bersih dan berseri membuat orang lain tersenyum setiap kali menatapnya. Orang-orang berdatangan, mendengarkan lagu yang dilantunkan dengan indah sambil menikmati makanan.
Aku berjalan mendekat, namun tiba-tiba terdengar suara wanita sedang menangis. Langkahku membelah lautan manusia, semakin ke tepi, suara itu semakin jelas. Mama. Sejak tadi aku tak menemukan wajah mama. Suara...suara itu sama seperti suara mama. Aku terus merlari, hingga akhirnya berhenti di pinggir taman.
Kulihat papa yang berdiri di dalam taman, mengulurkan tangannya. Namun mama, yang berada di tempat yang berlawanan hanya menatapnya sambil terus menangis. Mama berdiri di padang yang kering. Tak ada orang lain, apalagi nyanyian atau makanan yang kulihat sebelumnya.
"El...El... ." Suara papa membuatku terkejut.
"Eh iya, Papa sudah selesai?"
"Sudah, kamu sudah lama di sini?"
"Ng...belum."
"Kenapa nggak masuk saja?"
"Memangnya boleh?"
Papa mengernyitkan dahi, menatapku heran. "Kenapa nggak boleh?"
Aku hanya membalasnya sambil tersenyum mengangkat kedua bahu. Sepertinya papa mencoba menebak isi kepalaku. Lengan kanannya melingkar di pundakku, menuntun ke arah parkir. Hangat, entah apa yang kurasakan ini benar.
"Masjid terbuka untuk siapa saja, selama kita tidak malakukan hal-hal yang melanggar aturan dan moral di dalamnya."
"Tadi di sana, papa ngapain?"
Papa menuntunku menyusuri conblock. Setiap orang yang berpapasan, mengangguk dan melemparkan senyum padanya. Lelaki paruh baya yang tadi kutemui muncul di sisi kiri.
"Oh ini tadi, putranya Pak Hartawan ya?"
"Iya Pak," Papa menoleh ke arahku, tatapannya penuh tanya.
"Tadi saya suruh menyusul masuk tapi nggak mau," ucap lelaki tua dengan ramah.
"Anak saya memang masih pemalu kalo berada di tempat baru, Pak."
Kutatap wajah Papa yang berseri, ujung rambut yang menempel di pipi terlihat masih basah. Tak ada sedikit pun kemarahan, meski papa tahu, aku tidak menyukai apa yang papa kerjakan. Papa seperti orang asing, tapi dia terlihat lebih bahagia.
"Pak Ahmad belum mau pulang?"
"Belum Pak, nanti setelah Isya saja."
"Oh iya, ini titip untuk beli susu anak-anak."
"Nggak usah repot Pak, uang yang kemarin Bapak kirim masih ada." Tangan orang yang papa sebut Pak Ahmad terbuka, menolak pemberian uang yang disodorkan papa.
"Nggak apa-apa Pak, mungkin bisa digunakan untuk keperluan sekolah."
"Oh iya, baik Pak. Terimakasih Pak Hartawan."
Akhirnya Pak Ahmad menerima uang pemberian papa. Aku hanya tersenyum dalam hati. Hari gini, mana ada orang yang menolak uang. Di mana pun tempatnya, selalu sama.
"Saya langsung pulang ya Pak, sudah malam. Nanti kalau lewat lagi, InsyaAllah saya mampir."
"Baik Pak, hati-hati di jalan."
Papa mengucapkan salam yang sering kudengar dari teman yang memiliki iman yang sama. Aku tak tahu apa maksudnya, meski kurang terlihat keren tapi mereka tampak bahagia saat mengucapkannya.
"Maaf ya El, obrolan kita terpotong." Meski tersenyum, sepertinya papa mengetahui ketidaksukaanku.
"Tadi Papa sedang sholat Maghrib berjamaah."
"Kenapa harus sholat?"
"Kalau dalam kepercayaan Papa sekarang, sholat itu tiang agama. Baik buruknya hidup seseorang bisa dilihat dari sholatnya. Sholat itu sebagai salah satu bentuk ketaatan muslim terhadap Allah."
Papa tersenyum lagi saat menatapku, seolah menebak isi pikiranku. "Allah itu sebutan untuk Tuhan."
"Papa percaya kalau yang disebut Allah itu ada?"
"Hm...gini, kamu percaya nggak kalau Papa cinta sama Mama, sama kamu?"
"Percaya."
"Kamu sendiri bisa melihat yang disebut dengan cinta?"
"Tidak, tapi aku bisa merasakan adanya cinta."
"Begitu juga dengan Allah. Papa memang tidak bisa melihat Allah, tapi Papa bisa merasakan Allah itu ada."
"Tapi kalau cinta bisa diwujudkan dengan perbuatan, seperti Papa membelikan apa saja yang Mama minta, baju misalnya. Begitu juga sebaliknya."
"Allah juga begitu. Papa melakukan sholat sebagai bentuk ketaatan seorang umat pada Tuhannya dan Allah memberikan apa saja yang kita butuhkan tanpa diminta. Oksigen misalnya, kita bisa mengambil sebanyak mungkin tanpa harus membayarNya."
Sampai di sini, aku tidak memiliki argumen lagi untuk mematahkan pendapat papa. Otakku bisa menerima dengan sangat baik. Selama ini pun papa tidak pernah memaksakan ajaran barunya padaku dan mama. Keputusannya memang membuat kami terkejut dan marah. Bahkan keluarga besar dari mama sudah mengucilkannya tanpa pikir panjang.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top