Diary Utopia
Tim 2 (Twogether Squad)
WGAVerse
Naskah ini ditulis oleh:
@wanderspace_
shalsabelle
ichaaurahmaa
• • •
Pernahkah kau memiliki suatu pinta yang diam-diam selalu kau langitkan di batas garis cakrawala?
Lavina memilikinya. Sejuta angan yang tak pernah berhenti menghantui malam-malam kelamnya untuk segera direngkuh erat. Lavina selalu merasa dikejar sesuatu ... tuntutan tak tampak dari ekspektasi yang mengudara di sekitarnya.
"Saatnya safety patrol." Lavina menguap lebar, tak berniat menutupi muka aibnya sama sekali. Kantuk sudah menguasai gadis berambut pendek itu, tetapi Lavina adalah prefek di asrama WGAVerse Highscholl. Dan sekarang merupakan jadwalnya berpatroli di gedung barat. Sendirian. Apa boleh buat? Sebuah tuntutan pekerjaan.
Lavina mengelilingi bangunan sekolah yang hanya diterangi lampu temaram dan sinar yang memancar dari telunjuknya. Di tengah langkahnya, ia teringat rumor yang sedang ramai diperbincangkan. Soal diary yang bisa mengabulkan segala gurat di dalamnya. Diary Utopia, begitu anak-anak menyebutnya. Lavina mendengarnya dari Jeanette, teman sekelasnya.
Lekas-lekas, Lavina menggelengkan kepala, berusaha mengusir pemikiran konyolnya. Meskipun berada di sekolah sihir, eksistensi benda itu terasa terlalu naif. Kalaupun ada, tidak mungkin dimiliki sembarang orang, atau malah dijaga ketat oleh petinggi akademi.
Dua kali, Lavina menguap lagi. Patroli ke Area Terlarang Perpustakaan ... menyebalkan. Seharusnya, patroli ke wilayah ini tidak diperlukan lagi. Kabar burung soal keangkeran area ini membuat banyak siswa lebih memilih untuk menghindar. Lagipula, apa yang mereka cari di sini? Hanya ada buku kuno dengan bahasa tak dikenal di dalamnya.
Baru saja Lavina berniat keluar sambil menguap untuk ketiga kalinya, tangannya malah menjatuhkan sesuatu. Sebuah buku tergeletak di lantai. Hei, warnanya mirip sekali dengan rak, sehingga tampak menyatu dengan sekitar, persis kemampuan mimikri milik bunglon dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Dunia Manusia.
Begitu Lavina bersiap memungut dan mengembalikan buku itu pada tempatnya semula, mata Lavina melebar. Berat sekali! Sampulnya terbuat dari kayu sungguhan. Terdapat ukiran mistik di sana. Penasaran, Lavina membuka halamannya. Kosong. Apa-apaan?
Iseng, Lavina mengeluarkan bulu burung hantu yang selalu digunakannya untuk menandai anak yang ketahuan melanggar. Lavina menuliskan sesuatu.
Elving sedang menjemur Tanaman Maha-Penawar sehari semalam, aku harap hujan turun.
Lavina cekikikan membayangkan akan semarah apa teman sekelasnya yang maniak botani itu. Detik berikutnya, petir terdengar, lantas hujan turun dengan derasnya. Hei, bukankah langit malam tadi terlihat begitu cerah? Mengapa berubah begitu saja dalam hitungan detik?
Sesaat, Lavina terdiam untuk mencerna segalanya, lalu melirik buku di tangannya. Sebentar ... mungkinkah buku yang berada di genggamannya adalah diary utopia? Sebuah buku ajaib yang menjadi perbincangan akhir-akhir ini?
Lavina termenung sejenak. Jika buku ini benar diari utopia, maka ...
Lavina buru-buru menyembunyikan buku ajaib itu di balik jubah prefeknya. Ia keluar dari perpustakaan dengan langkah cepat, menutup pintu dan menguncinya. Lavina tersenyum lebar. Segalanya berubah menjadi sangat menyenangkan ketika membayangkan hidupnya akan berubah setelah ini. Ia akan selalu mendapat apa yang ia mau. Mengungguli anak peringkat satu, bahkan menemukan tanaman yang diminta profesor paling galak di WGAVerse Highschool dalam waktu singkat sewaktu kelas flora dan fauna.
Yeah! Dengan begini, Lavina tidak akan kesulitan lagi untuk menjadi sosok sempurna seperti yang orang-orang lain agungkan. Ya. Tidak sampai adanya manik sewarna hijau lime yang mengamatinya terus-menerus, mulai merasakan kecurigaan.
• • •
Pukul sembilan pagi, semua prefek menggiring siswa-siswi dari asrama menuju halaman sekolah, untuk mengikuti lomba berburu harta karun dalam rangka menyambut festival tahunan sekolah.
Di tengah-tengah pembagian tim oleh panitia, Elving sibuk memperhatikan Lavina Clarke, seorang prefek menyebalkan yang belakangan ini terlihat mencurigakan. Ia sering kali menghilang dari asrama, dan beberapa hari lalu, ia berhasil menemukan tanaman sulit yang diminta professor dengan cepat, mengungguli kemampuan Elving. Padahal, Elving melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa gadis itu berada di jarak 30 meter tak jauh darinya.
"Kelompok dua asrama Magellanic," Panitia menjeda kalimatnya. Ia mengambil tiga gulungan kertas dari dalam bola kaca, lantas membukanya satu per satu. "Elving, Lavina, dan Jeanette."
Elf itu memberontak tidak percaya, ia tidak ingin satu tim dengan Lavina, manusia yang ibarat 'hari senin' dalam hidupnya. Dan juga ... Jeanette yang hobi mengeluarkan pidato membosankan?
"Ada yang mau protes? Jika ada, akan dianggap alpha selama sebulan ini!" Panitia itu berseru tegas membuat dengung lebah di antara anak-anak asrama magellanic lenyap.
Jeanette segera menarik Elving dan Lavina keluar dari barisan.
"Jadi apa rencana kalian?" tanya Jeanette penuh antusias dari binar matanya. Gadis itu menang sangat mudah bergaul dan memiliki banyak teman, sejak penerimaan murid baru.
"Tentu saja mulai mencari! Apa lagi? Apakah kau tidak mendengarkan perintah panita barusan? Menanyakan pertanyaan yang tidak penting itu membuang-buang wak-" Lavina mengomel seperti biasa. Namun, Elving sudah buru-buru memotongnya.
"Dari dulu mulutmu memang seperti jam alarm asrama." Ucapan Elving membuat Lavina berkacak pinggang. Lavina yang memang tidak mau kalah kembali membalas perkataan Elving sehingga terjadilah keributan di antara keduanya.
Jeanette tidak tinggal diam, ia memikirkan cara untuk melerai Elving dan Lavina yang selama ini tidak pernah terlihat baik jika berdekatan.
"Wah, kalian akrab sekali, sampai kapan kalian mau asik bercengkerama? Sedangkan harta karun itu akan segera menemui pemiliknya." Jeanette menyela pedebatan dengan nada yang dibuat lebih halus. Lavina dan Elving sama-sama terdiam. Akrab dan asik, katanya? Ingin sekali Lavina membantah. Namun, langkahnya sudah didahului Jeanette yang berdiri persis di belakang Elving.
"Āle tuli!" seru Elving seraya mengayunkan tangannya.
Lavina mendengkus kesal. Ia paham betul apa yang dikatakan oleh pemuda itu barusan. Ayo dalam bahasa bangsa Elf. Dengan berat hati, Lavina mengikuti langkah Elving yang kini berjalan paling depan, memandu langkah mereka. Ketiganya menelusuri wilayah timur sekolah, hingga bagian terkecil. Namun, sudah satu jam mereka tak kunjung mendapati harta karun yang katanya ada di dalam kotak emas ala kotak pandora. Pihak panitia tidak memberikan clue seperti apa rupa kotak yang dimaksud. Tidak ada salahnya mereka mengikuti Elving dan insting seorang Elf.
"Sepertinya kotak itu sudah ditemukan," ucap Jeanette tampak setengah putus asa.
"Tidak akan pernah," timpal Elving.
Di persimpangan koridor, Lavina berjalan menjauhi Elving dan Jeanette tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Kau hendak ke mana, prefek?" tanya Jeanette. Langkah Lavina seketika terhenti. Ia terdiam sejenak, lantas berbalik. "Ke toilet," jawabnya singkat.
Jeanette dan Elving berpandangan sejenak. Mereka memperhatikan jubah prefek itu perlahan menghilang di balik persimpangan dan meninggalkan mereka berdua dalam keheningan.
"Aku akan menyusulnya." Elving buru-buru mengikuti jejak Lavina yang memang ia curigai selama beberapa hari ini.
"Hei, kau akan mengikuti anak perempuan ke toilet?!" Jeanette terkejut. Ia segera menarik jas Elving, menghentikan laju pemuda itu.
"Ck, tidak, bukan begitu, dia menyembunyikan sesuatu dari kita." Elving melepaskan tarikan jasnya paksa kemudian bergegas berlari meninggalkan Jeanette sendirian. Tubuh pendeknya memungkinkan dia berlari secepat kilat tanpa meninggalkan jejak.
"Kau membuat rombongan kita terpisah!" seru Jeanette kesal.
Elving menggaruk kepalanya gusar, firasatnya mengatakan jika kecurigaannya berkaitan dengan lomba ini, juga amukan profesor yang bak naga dari hibernasi panjang. "Buku, hilang dan terlarang." Menurut tafsirannya, ada sebuah buku yang hilang dari bagian perpustakaan terlarang, dan lokasi tersebut hanya bisa diakses oleh prefek kepercayaan pustakawan, salah satu di antara mereka adalah Lavina Clarke. Gadis itu mencuri sebuah buku dari sana.
Seperti biasa, firasat Elf tidak pernah keliru. Elving tersenyum miring. Apa yang dipikirkannya menjadi sebuah kebenaran. Lavina berdiri membelakanginya tepat di lorong yang mengarah ke toilet.
"Apa yang kau sembunyikan dari kami?"
Lavina terlonjak kaget, ia buru-buru menutup buku dan menyembunyikan buku itu di balik jubahnya.
"You Fools! Mengikuti seorang gadis ke toilet adalah ide buruk!" Lavina merutuki Elving, lalu mengatur napas seraya menenangkan detak jantungnya yang memukul dengan keras saat mendengar suara Elving.
"Kau pikir aku ini orang bodoh? Kau yang sudah bodoh karena berani berbohong kepada semua orang!" Geram Elving, amarahnya kini sudah memuncak, mengikis julukan orang paling tenang yang selama ini orang kira.
"Siapa yang berbohong? Aku tidak pernah berbohong!"
Elving tertawa lalu mendekati tubuh Lavina. "Kau, kan, orangnya?" tanya Elving. "Katakan bahwa kau yang mencuri harta karun itu!"
"Aku berani bersumpah, aku tidak mencuri harta karun!" pekik Lavina.
"Kalau begitu, beritahu padaku dan Jeanette, benda apa yang kau sembunyikan di balik jubahmu?"
Tidak ada jawaban dari Lavina, membuat Elving marah.
"Kau merasa bangga, bisa menyimpan rahasia dari kami? Dengar, Prefek, tidak ada mahluk yang bisa mengungguli apa saja, termasuk para Elf yang dilabeli sempurna." Suatu momen langka Elving bisa melontarkan kalimat itu, mengingat dia bukanlah pribadi yang mudah terbuka kepada orang lain.
"Cukup!"
Satu teriakan membuat keadaan hening seketika. Elving dan Lavina kompak menoleh ke sumber suara. Dilihatnya sosok Jeanette sudah berdiri di sana dengan wajah tak bersahabat.
• • •
"Kalian berdua, diamlah! Atau aku akan meminta bantuan profesor untuk mengubah kalian menjadi pohon eboni!"
Elving tak menyahut. Saat melihat tatapan mata Lavina yang terlihat kosong, Elving tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengambil benda yang disembunyikan oleh Lavina secepat kilat dengan kekuatan Elf-nya.
"Hei! Kembalikan! Itu milikku!" seru Lavina panik melihat buku diary itu telah berada di genggaman Elving.
Elving tersenyum miring. "Milikmu? Diari Utopia ini milikmu?"
Mulut Jeanette menganga. Elving mengatakan apa barusan? Diari utopia? Diari utopia yang beberapa hari ini menjadi perbincangan hangat, ternyata ada di tangan seorang Lavina?
"Diari utopia?" lirih Jeanette.
"Ya, benar. Sebetulnya, aku sudah mencurigai Lavina sejak beberapa hari yang lalu. Ia keluar dari perpustakaan tengah malam dengan senyum lebar. Sejak itu, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi.
"kau ingat, Jean? Lavina yang selama ini tidak pernah menduduki posisi pertama, secara mendadak bisa menempati posisi pertama. Lalu, malam saat hujan deras turun secara tiba-tiba hingga menyebabkan tanaman kesayanganku terendam air? Aku yakin, dia yang menulis di buku ini."
Jeanette terdiam. Ia berpikir, mencoba mengingat dan membenarkan dalam hati. Ucapan Elving membuatnya percaya bahwa semua itu terjadi karena Lavina yang mencuri buku itu.
"Aku hanya menulis apa yang aku inginkan di dalam buku itu," lirih Lavina. Buku itu sedang menjadi desas-desus hangat antar anak asrama. Diari Utopia, ada yang mengatakan buku itu buatan para peri. Ada pula yang mengklaim diari itu dibuat ras manusia juga ras kurcaci. Sehingga WGAverse HighSchool sebagai pihak netral perlu menyimpannya dari konflik antar ras.
"Elving, bolehkah aku menyentuh buku itu?" tanya Jeanette dengan mimik wajah serius. "Saat melihat buku itu, aku memikirkan sesuatu."
Elving mengangkat alis. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya seraya menyerahkan buku itu kepada Jeanette dengan hati-hati.
Tidak ada jawaban dari mulut Jeanette. Kening gadis itu berkerut saat membolak-balik buku, mengamati setiap inci buku dengan saksama.
"Aku berpikir, diary ini adalah harta karun yang dimaksud."
"Jangan buat lelucon. Bagaimana bisa sebuah buku adalah harta karun yang sangat berharga? Bahkan, pihak sekolah menjanjikan banyak tambahan poin jika ada yang menemukannya?" tanya Lavina.
Sementara Elving terdiam. Sepertinya ia memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Jeanette. Jemarinya ia ketukkan pada tembok toilet.
"Dengar, diary utopia bukan diary sembarangan. Diary itu bisa mengabulkan semua permohonan siapapun yang menulis di dalamnya. Contohnya Lavina. Semua permohonan yang ia tulis terkabul dalam hitungan detik.
"coba bayangkan, bagaimana jika diary utopia nantinya jatuh ke tangan yang salah dan menyebabkan keadaan menjadi kacau?"
Hening. Mereka bertiga hanyut dalam pikiran masing-masing. Memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari jika buku yang berada dalam genggaman mereka nantinya akan jatuh ke tangan jahat dan menyebabkan keadaan menjadi hancur.
"Lalu, apa yang harus kita lalukan?" tanya Elving.
Jeanette kembali menatap diary itu. "Aku pikir, kita harus menyerahkan kembali kepada profesor agar disimpan dengan baik," katanya. "Lavi, maafkan aku. Tapi, aku pikir itulah yang harus kita lakukan. Demi kebaikan semuanya. Entah buku diary ini harta karun atau tidak, kita harus mengembalikan ke tempat asalnya."
Lavina menunduk. Beberapa hari ini rasanya memang sangat menyenangkan. Ia bisa menggapai mimpinya secara instan. Tanpa harus berusaha keras. Ia bisa bersenang-senang dengan buku itu. Namun, benar kata Jeanette. Buku diary itu bukan miliknya. Ia telah mencuri ya dari perpustakaan. Dan, ia harus mengembalikannya. Demi kebaikan dan keamanan bersama.
"Jean ... Elv ... maafkan aku. Sebagai prefek seharusnya aku memberi contoh yang baik untuk kalian. Tapi, aku telah mencuri buku itu. Aku melakukan itu karena orang tuaku terus menunutku untuk menjadi nomor satu di sekolah. Elv, maafkan aku telah menghancurkan tanamanmu. Sungguh, aku tidak bermaksud ..."
"Akan ku maafkan jika kau mengembalikan buku itu sekarang," potong Elving seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Jeanette menatap Lavina prihatin. Kasihan juga, pasti tidak enak rasanya dituntut untuk menjadi yang terbaik. Namun, jika kemampuan tidak sampai pada target, haruskah tetap dipaksakan?
"Lavi, dengarkan aku. Kau pintar di bidangnya. Aku dan Elving juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Kau tidak perlu memaksa diri sampai harus berbuat seperti itu. Aku yakin, tanpa kau menjadi nomor satu, orang tuamu sangat menyayangimu. Mereka pasti jauh lebih bangga jika kau menjadi orang yang jujur," tutur Jeanette.
"Maaf. Maafkan aku," lirih Lavina.
"Kau tidak perlu meminta maaf pada kami. Minta maaflah pada profesor dan orang tuamu nanti," kata Elving.
"Jadi, bagaimana? Haruskah kita menyerahkan buku ini sekarang?" tanya Jeanette.
"Ayo!" seru Lavina akhirnya. Ia segera menyeret lengan Jeanette untuk berjalan cepat menuju aula. Sementara Elving dengan setia berjalan di belakang mereka, melindungi diary utopia agar tetap aman.
Sesampainya di aula, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa profesor dan guru yang berjaga, menyambut tim yang masuk.
"Welcome, tim 2 dari asrama magellanic! Kalian adalah tim pertama yang datang ke sini. Jadi, apakah kalian yakin sudah menemukan harta karun itu?" Tanya profesor Moody.
Semua guru serentak menatap tiga siswa yang baru saja menghampiri profesor Moody di mejanya. Tiga siswa itu gugup. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya Elving menyenggol lengan Lavina yang berdiri di tengah.
Lavina menghela napas berat. Perlahan, ia melangkahkan kaki mendekati meja profesor. Dikeluarkannya buku diary itu dari balik jubahnya dan menyerahkannya kepada profesor.
"Kalian sungguh luar biasa! Bagaimana bisa kalian menemukan harta karun dalam waktu singkat?" tanya profesor Moody.
Lavina mematung. Sementara Elving dan Jeanette saling berpandangan. Mereka tidak salah dengar, kan? Jadi, benar bahwa buku diary utopia adalah harta karun yang mereka buru?
Lavina meremas jemarinya. Sebelum akhirnya membuka suara, menceritakan kejadian sebenarnya tanpa ada yang ia tutupi. Kebetulan, Elving adalah saksi yang bisa memperkuat semua ucapannya.
Setelah Lavina selesai menceritakan semuanya, wajah peofesor berubah merah padam. Begitu juga dengan guru yang lain. Mereka menatap Lavina seolah tak percaya bahwa seorang prefek berani mencuri di area terlarang.
"Lavina Clarke, kau dikeluarkan dari WGAVerse Highschool!" seru profesor Moody.
Mendengar putusan profesor, Jeanette segera maju. "Prof, Lavina menceritakan kejadian sebenarnya. Kami rasa, tidak perlu mengeluarkannya dari sekolah. Selama ini, catatan Lavina bersih. Lavina tidak pernah melanggar peraturan. Lavina juga tidak pernah menulis sesuatu di dalam buku yang membahayakan orang lain."
"Tetap saja, Lavina telah melakukan pelanggaran."
"Selama buku itu berada di tengan Lavina, kami semua tidak pernah merasa dalam bahaya. Jujur, aku memang tidak suka padanya karena dia telah merusak tanamanku. Tapi, mengeluarkan dia adalah tindakan yang berlebihan," sahut Elving santai.
Profesor memicingkan mata. "Benarkah begitu, Elving?" tanya profesor. "Baiklah. Kalau begitu, sebagai gantinya, kalian bertiga akan mendapat hukuman. Jeanette dan Elving akan membersihkan seluruh ruangan di sekolah selama satu bulan penuh. Dan untuk Lavina, kau akan melakukan hal yang sama dengan mereka, ditambah harus lari sebanyak sepuluh putaran setiap harinya selama satu bulan penuh."
Setelah selesai mengucapkan kalimatnya, profesor segera berdiri dan pergi meninggalkan aula, diikuti para stafnya. Disusul suara lonceng nyaring yang menandakan bahwa harta karun sudah ditemukan.
• • •
#WGAJournal #WGAVerse wga_academy
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top