IX
Copyright : Moonlight-1222
.
.
.
Note : Alur tidak tetap. Harap pelan-pelan membaca agar tidak kebingungan. Mungkin beberapa readers ada yang bertanya-tanya, ini cerita kok sepertinya alot bener, apalagi Diana-nya kok gigih banget buat nolak Raphael. Hehe, semuanya memiliki alasannya dan perlahan diungkapkan yah.
.
Diana merasa seluruh kekuatannya menghilang, tungkainya melemah dan dadanya menjadi sesak. Apa? Viviane Lemington? Wilford ingin mengadopsi Viviane—bersamanya? Jadi, Wilford masih ingin menikah dengannya? Bukankah Wilford sudah memilih Adelicia. Apa yang terjadi? Apa yang salah? Apa yang sudah dilewatkannya?
“Apa maksudmu, My Lord?” Diana berusaha agar suaranya tidak meninggi. “Kita sudah memiliki kesepakatan.”
“Bukankah kesepakatan itu hanya akan berlaku bila aku tertarik dengan gadis pilihanmu?”
Oh! Serangan pusing menghantam Diana. Tubuhnya bergetar dan semakin lemas. “Ka-kau—” suaranya tercekat. Wilford menatapnya dengan sepasang mata yang beku. Diana mengalihkan birunya pada kerah kemeja pria itu, sejujurnya merasa sangat terganggu dengan tatapan mati itu. “A-apa kau sadar atas perkataanmu?” Napasnya mulai tidak teratur. “Kau tidak bisa melakukan ini, My Lord. Kau tidak bisa.” Kepalanya berulang kali menggeleng pelan.
Raphael berdiri dan berjongkok di hadapan Diana yang menegang, meraih kedua tangan gadis itu yang terkepal, menyatukannya dan mengurungnya erat dalam kepalan sepasang telapak tangannya yang besar, tak perduli terhadap usaha gadis itu yang berusaha merebut tangannya. “Tetap seperti ini dan tenanglah. Akan berakhir buruk bila aku menarik tanganmu.”
Diana berdecak. “Dari awal kau memang tidak pernah menganggap eksistensi kesepakatan kita.” Ia menatap benci pada kebebasan tangannya.
Otot-otot Raphael menjadi tegang. “Gadis itu tidak membuatku memiliki keinginan untuk memilikinya, Diana.” Suaranya terdengar berat, ada kemarahan disana. “Aku tidak bisa menukarnya denganmu.”
Kata-kata itu seharusnya terdengar sangat manis, tapi dengan ekspresi tanpa riaknya, semua itu lebih terdengar bagai celoteh orang gila di telinga Diana.
“Kau tidak boleh melakukan ini padaku. Kau tidak bisa. Bila karena kau tidak menginginkan Adelicia, aku bisa mencari gadis lain. Kita masih bisa mencari yang lain. Kau pasti bisa menemukan satu.”
Genggaman Raphael mengerat. “Aku sudah menemukan satu, Diana. Kau tidak perlu melakukannya lagi.” Tatapannya kian mendingin. Ia tidak akan membuat celah lagi untuk Diana melarikan diri. “Beri aku kesempatan. Kita bisa memulainya dengan saling mengenal diri.”
Dalam ketidakpercayaan, kepahitan itu semakin memupuk benci. “Apa kau masih belum mengerti situasiku!” serunya dan kembali berusaha melepaskan tangannya yang terasa nyeri. “Aku menginginkan pria lain. Aku bukan gadis yang bisa dengan bebas menikah dengan pria lain padahal hatinya masih mendambakan orang lain. Aku tidak ingin menjadi istri yang berdosa meski itu hanya dengan memikirkan pria lain.” Jeda sesaat, dan nadanya melembut. “Aku sungguh merasa sangat terhormat dengan lamaranmu, My Lord. Tapi sungguh, pernikahan ini hanya akan membuat kita tersiksa.”
“Apa tidak pernah terpikirkan olehmu bahwa hal yang kau rasakan itu tidak jauh berbeda denganku bila aku menikahi gadis lain?” Raphael menunduk, menatap genggamannya mengencang.
Diana memejam pilu, Wilford memang tidak pernah memikirkan perasaannya. Dari awal pria itu hanya mengutamakan dirinya saja. Ia menatap puncak kepala pria itu dengan kilatan kebencian dan amarah yang sudah tak terbendung lagi dalam kaca air matanya. “Bagaimanapun juga kau tetap tidak bisa memaksakan kehendakmu. Itu adalah tindakan pecundang. Pernikahan terjadi bila kedua pihak yang akan menikah sudah saling menyetujui. Tapi kau tidak melakukannya. Kau melewatkan prosedur awalnya. Kau melewatkan perasaanku. Alih-alih bertanya atas kesediaanku terlebih dahulu, kau langsung memaksaku untuk menerimamu di hadapan semua orang. Kau sungguh pria tidak tahu malu.”
Alis Raphael yang tebal menajam. Mendongak, tidak mempercayai bahwa Diana semakin menghancurkan ekspektasinya. Kenapa Diana tidak bisa menjadi seperti ibunya? Kenapa Diana begitu bertolak belakang dengan keinginannya? Dia memang bukan gadis yang tepat. Dia bukan orang yang tepat, dan gadis itu masih belum selesai dengan kata-kata kasarnya.
“Aku bukan puteri dari keluarga biasa yang membuatku sama sekali tidak memiliki pilihan selain menerima lamaran yang akan datang padaku, Wilford. Adalah hakku untuk menerima atau menolak, dan itu bukan suatu hal yang bisa kau kendalikan. Perlu kau ketahui bahwa kau bukan pria pertama yang kutolak. Di antara mereka bahkan ada seorang duke, tapi hanya kau saja yang segigih ini menggangguku. Bersikaplah seperti seorang gentleman dan terimalah keputusanku.”
Kata-kata penuh keangkuhan itu menghentak Raphael. Gemuruh di dadanya tak terkata. Ini Buruk. Kali ini Diana berhasil menyudutkan amarahnya. “I see.” Ia melepaskan tangan Diana sebelum pergelangan tangan yang kecil itu patah, dan berdiri. “Kuberi waktu untuk memikirkannya. Sejujurnya aku sama sekali tidak menginginkan penolakan.”
“You’re a lunatic!”
Teriakan amarah itu menyentak Raphael. Perlahan abunya terbuka, kegelapan tertangkap retina-nya. Kata-kata dan tatapan Diana yang dipenuhi kebencian sampai datang mengganggu alam bawah sadarnya. “Lunatic bukan hal yang tepat untukmu menggambarkan diri ini, Diana.” Sorotnya tampak layu, kata-kata itu, sejujurnya dan sepenuhnya meremas hatinya. Ini seharusnya perasaan sedih, tapi ia tidak bisa mengekspresikannya selayaknya manusia normal.
Kenapa kau tidak bisa menerimaku, Diana?
Kemudian wajahnya menjadi suram. “Seorang duke, huh? Kau tidak mengetahui kisah akhir dari semua penolakanmu itu. Seandainya kau tahu, kau pasti tidak akan memiliki kesempatan untuk mengatakannya dengan sangat santai padaku.”
Ia mengambil jam saku yang berada di nakas sebelum melompat turun dari tempat tidur dan berlari. Tidak! Jarum pendeknya sudah menunjuk angka dua romawi, dan ia baru menyadari bahwa ruang lukisnya sudah kembali seperti sedia kala. Cat yang tercecer dan kanvas robek itu sudah tidak ada lagi.
Jangan! Jangan!
Ekspresi datarnya dihias peluh. Jangan bawa dia! Menembus kegelapan, kaki-kakinya berlari menyusuri koridor yang terasa panjang, sementara lukisan-lukisan di dinding berputar mentertawakan kelalaiannya. Ia tidak perduli. Secepatnya ia harus menemui secercah cahaya itu—menemui kehidupan yang berpendar di sebuah ruangan sayap kiri lantai tiga. Ia berhenti, berhenti di hadapan sebuah pintu—sebuah pintu yang sudah menjadi rutinitasnya di tengah malam.
Kau tidak boleh membawanya!
Dadanya seperti diremas saat membukanya. Cahaya yang sama yang berasal dari lima lilin di atas brass candlestick menyambutnya, memberi sedikit kehidupan dalam kesuraman ruang kamar itu. Pelan tapi dengan langkah lebar, Raphael mendekati tempat tidur berkanopi itu. Rasa sakit di dadanya menghilang setelah melihat dada wanita itu yang naik-turun secara teratur.
Kau masih disini. Tubuhnya yang bergetar berbanding terbalik dengan kebekuan wajahnya. Tangannya terangkat untuk menyentuh dahi wanita itu. Kau masih disini. Turun ke jantungnya yang berdetak lembut, merasakan setiap getarannya melalui ujung jemari dinginnya. Yeah, kau masih disini. Tungkainya yang lemas menarik bobot tubuhnya, jatuh berlutut di lantai pualam yang dingin. Kau memang masih disini dan kau—ibuku.
Untuk malam ini, Raphael kembali berhasil mengatasi kekhawatirannya.
Sementara itu dalam kegelapan dan dibalik pintu yang terbuka, Hugh mengepalkan tinjunya. Bukan karena sebagai adik Elizabeth, tapi potret di depan sana yang selalu berhasil menutup kebenciannya. Sebenarnya kau hanya anak kecil yang malang, batinnya sebelum membaur dalam kegelapan, meninggalkan Raphael yang masih berlutut bersama hati yang terus meracau.
ooOOoo
Diana meremas rambutnya. Semakin dipikirkannya, semakin rasa bersalah itu mencekiknya. Wilford yang sudah memaksanya bertindak jauh. Kata-kata itu—sungguh—tak kuasa dilontarkannya. Lidahnya memang akan menjadi sangat berbisa saat amarah menguasainya.
“Bagaimanapun juga kau tetap tidak bisa memaksakan kehendakmu. Itu adalah tindakan pecundang. ——. Kau sungguh pria tidak tahu malu.”
“Aku bukan seorang puteri dari keluarga biasa yang membuatku sama sekali tidak memiliki pilihan selain menerima lamaran yang akan datang padaku, Wilford. ——. Perlu kau ketahui bahwa kau bukan pria pertama yang kutolak. Di antara mereka bahkan ada seorang duke, tapi hanya kau saja yang segigih ini menggangguku. Bersikaplah seperti seorang gentleman dan terimalah keputusanku.”
Kata-kata itu sangat kejam. Diana berhasil menghancurkan harga diri pria itu sampai ke akar. Seharusnya ia langsung meminta maaf setelah keterkejutannya sirna atas racun yang baru saja dimuntahkannya. Ya, Diana memang berniat meminta maaf kalau saja pria itu tidak mengatakan hal yang semakin menyulut kemuakannya sebelum pergi.
“Kuberi waktu untuk memikirkannya. Sejujurnya aku sama sekali tidak menginginkan penolakan.”
“You’re a lunatic!” Alih-alih kata maaf, makian itulah yang dilemparkan Diana pada punggung pria itu yang terus saja pergi dengan bahu yang tegang.
Terlambat. Diana sudah benar-benar melewati batas.
Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Sepeninggal Raphael, air matanya terus mengalir tiada henti. Ini bohong, racau hatinya. Padahal ia baru saja merasa bahagia karena berpikir semua rencananya berjalan mulus. Berpikir bahwa dirinya hampir memutuskan pertaliannya dengan Wilford. Berpikir bahwa—dadanya hanya menjadi semakin sesak.
Air mata itu kembali membasahi jejak kering di wajahnya. Penampilannya sangat berantakan sekali. Hancur sudah. Diana tak tahu lagi harus mengumpulkan puing-puing yang mana dulu untuk memperbaiki rencananya. Stephen benar. Ia terlalu gegabah. Selalu gegabah dan terlalu percaya diri dengan kemampuannya. Bagaimanapun juga ia hanyalah seorang wanita yang memiliki keterbatasan ruang dan data.
Diana, ini hukumanmu karena sudah meremehkan Wilford. Seharusnya kau memang menolak datang ke London. Seharusnya—dan kau pasti terbebas dari kemalangan ini, karena Teressa adalah pilihan pertama.
Matanya terpejam seraya mengatur napas. Ia harus tenang. Kemudian bangkit untuk meniup lilin di nakas, berniat tidur berselimut kegelapan saat menyadari kehadiran buku berwarna cokelat kehitaman disana. Buku itu—buku yang ditinggalkan Raphael di kereta. Setelah pria itu meninggalkannya di taman, dia menghilang dari Vitus House. Sepertinya dia langsung kembali ke Witton House dan melupakan bukunya.
Diana meraihnya. Serangkaian huruf emas itu membentuk kalimat ‘Faris Emi Lucina’ atau yang biasa disingkat dengan FEL. Ini adalah novel lama sekitar tahun 1770, ditulis oleh Alphonse Anatole, sastrawan yang juga merupakan komposer terkenal Perancis. Anatole menulis FEL dalam bahasa Inggris selama musim season di London. FEL berkisah tentang perjalanan hidup seorang gadis muda bernama Faris Emi Lucina, puteri dari manusia dan iblis. Kisah cinta Emi yang terlarang dan kematiannya yang tragis saat menyelamatkan puterinya dari tangan kegelapan dijabarkan cukup gamblang oleh Anatole, dan sejujurnya Diana cukup terhipnotis dengan cinta beda alam itu.
FEL adalah salah satu dari novel dengan pencahayaan suram—gothic-horror yang dipadukan dengan bildungsroman. Novel ini dulunya selalu disembunyikan ibunya. Sebelum berusia dua belas tahun, Diana sama penakutnya dengan Teressa dan Anastasia. Bedanya sifat penakut kedua adiknya menetap sampai dewasa, terutama Anastasia. Ia membaca FEL di usia lima belas tahun, menemukannya bersama buku-buku serupa dalam perpustakaan kecil di kamar Stephen. Akhirnya ia mengetahui asal dari semua cerita horror Stephen yang digunakannya untuk menakuti semua orang.
Sejujurnya Diana cukup terganggu dengan fakta Raphael yang ternyata gemar membaca hal-hal berbau supernatural, apalagi menilik aura suramnya. Bukan buruk, tapi sebagian besar para penggemar novel fiksi seperti ini bisa mengalami delusi, halusinasi, dan ilusi. Apalagi setelah ditunjang dengan akhir hidup Anatole yang cukup malang. Seminggu setelah novel FEL terbit, Anatole ditemukan meninggal di dalam kamarnya yang terkunci. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan dan tidak memiliki riwayat penyakit serius. Pria itu dinyatakan meninggal secara wajar dan damai—tapi tidak sempat mendulang kesuksesannya atas larisnya FEL.
Begitulah publik menulis kisah Anatole. Terdengar wajar untuk pria paruh baya usia 68 tahun. Tapi seorang penggemar yang menderita paranoia malah menulis artikel yang menggiring opini publik di tahun 1771, membahas tentang konspirasi pembunuhan Anatole, bahwa sebenarnya Anatole menulis kisah nyata yang membuatnya berujung maut di tangan iblis itu sendiri. Akhirnya penggemar yang dirahasiakan identitasnya itu mendekam di Brown Asylum.
Konyol!
Diana meletakkan buku itu di nakas dan berbaring. Manusia yang berhasil terpikat oleh imajinasi akan berakhir dengan kebutaan. Saat kau tidak bisa lagi membedakan hal nyata dan rekaan, maka kesempatanmu untuk hidup normal bagai suatu keajaiban.
Diana, cukup. Semua isi kepalamu itu hanya memperumit hidupmu. Hentikan semua hipotesa-mu sebelum semua halusinasi itu menelanmu. Kata-kata Stephen kembali mengudara.
Diana menghela napas. “Aku ini normal dan sadar, Stev bodoh,” gerutunya sebelum memejamkan mata.
"Sejak abad ke 16, kata crazy tidak pernah bernilai positif, Diana. Gila juga bukan hanya sekedar tentang perilaku abnormal. Gila bisa beragam wajah. Bahkan yang terlihat nomal saja ternyata orang gila. Itu tidak ubahnya seperti anagram. Terlihat biasa padahal tidak. Coba perhatikan nama karakter utama ‘Zac’s Tale’ ini. Nama lengkap Zac adalah Zacry yang berasal dari anagram kata Crazy. Kau tidak perlu terkejut, Little Sister, karena orang gila memang selalu mengakui dirinya waras, dan penulis Zac memahami betul cara untuk menyembunyikannya."
Diana tersentak oleh kata-kata itu. Kata-kata yang diucapkan Stephen setelah dirinya selesai membaca novel ‘Zac’s Tale’ dan mengeluhkan tentang ending-nya yang tidak masuk akal. Ia tidak menduga kalau Zac atau Zacry ternyata mengalami gangguan kejiwaan. Karakter Zac terlihat normal selayaknya manusia lainnya.
Oh, Diana mulai merinding dan menangis. Terlebih lagi setelah mengingat semua keanehan yang hanya dialami oleh dirinya saja. Semakin dipikirkannya maka semakin mirip dirinya dengan Zac. A-aku, aku tidak mungkin gila.
ooOOoo
Up ini cepet yah hehe. Moon kebetulan lagi happy, William, kucing Moon yg sempet ilang akhirnya balik. Alhamdullilah. (Lah malah curhat, lolol abaikan) Oke. Selamat membaca. Jangan lupa vote-nya. Komentar, kritik dan saran jg yah. Makasih untuk semua dukungannya. Selamat membaca dan beraktifitas. Love You All.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top