empat
Tiara tersenyum menatap deretan buku di rak kamarnya. Mata perempuan itu mengerjap bahagia saat melihat foto orang tuanya yang ia pasang di dinding, tapi senyum itu memudar saat mendengar suara dari balik pintu. Radit mengetuk pintu dengan menyebut namanya.
Bergegas ia membuka pintu, ia melihat sang suami menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Tak ingin mengeluarkan kata-kata apa pun ia bertanya dengan isyarat. Namun, pria di depannya itu tak menjawab. Radit masuk ke kamar, menutup pintu lalu menguncinya.
Mata tajam pria itu menyapu ruangan melihat deretan buku yang berjajar di rak yang terletak di sebelah meja rias.
"Kamu suka baca?" tanyanya tanpa menoleh.
Tiara mengangguk.
"Semua buku ini sudah kamu baca?" Kali ini ia memalingkan wajah ke arah Tiara. Perempuan bermanik cokelat itu menunduk menghindari tatapan mata sang suami. Radit tersenyum miring melihat perempuan itu.
Tiara bukan perempuan yang tidak menarik. Radit mulai berpikir istrinya itu sangat cantik bahkan bisa dibilang sempurna andai dia bisa bicara seperti orang normal pada umumnya. Namun, pesona Indria telah benar-benar memerangkap Radit.
Memiliki tubuh semampai dengan rambut kecokelatan serupa dengan warna matanya, hidung mancung dengan deretan gigi yang berjajar rapi serta kulit kuning langsat sudah paket sempurna. Sejenak pria itu membayangkan keindahan raga sang istri yang tersembunyi di balik baju panjang yang ia kenakan.
"Kemarin kamu ke kantor?" Radit membuka suara seraya mendekati Tiara. Perempuan itu mundur menjaga jarak. Ia tak pernah sedekat ini dengan sang suami meski pernah satu ranjang, tapi mereka berdua tak ubahnya seperti orang asing yang terperangkap di satu ruangan.
Tiara menggeleng, ia singkat menjelaskan bahwa dirinya ke kantor dua hari yang lalu.
"Iya, maksudku kamu ke kantor dua hari yang lalu. Ada apa?"
"Aku ... mengkhawatirkanmu. Maaf."
Bibir Radit terangkat sedikit. Ia terus mendekat hingga perempuan itu mundur dan menempel di tembok. Kini posisi Radit tepat di depannya dengan kedua tangan di dinding seperti mengurung perempuan itu.
"Kenapa meminta maaf? Kamu nggak salah punya perasaan itu," ucapnya pelan. Radit menghidu aroma segar dari tubuh sang istri. Seolah baru menyadari bahwa perempuan di depannya itu sangat indah. Sementara Tiara merasa jantungnya memompa lebih kencang. Radit menyelipkan sebagian rambut istrinya ke belakang telinga.
"Kenapa menunduk? Kamu takut?" Ia menaikkan dagu Tiara dengan satu jari, sehingga tampak semakin jelas kecantikan yang dimiliki perempuan itu.
"Ka ... mu?"
"Ssst, jangan berisik! Nanti Bik Tunik dengar!" potong Radit. "Kata Anita kamu pergi dengan Ardan, betul?" tanyanya dengan suara serak.
Tiara mengangguk pelan.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu ingin jalan-jalan?"
"A ... ku."
Radit menempelkan jarinya ke bibir Tiara kemudian menggeleng. Perlahan ia mulai menyatukan kening lalu dengan gerak lembut Raditya menyesap bibir Tiara. Tak ada perlawanan darinya.
Seolah mengikuti nurani dan rasa, Tiara memejamkan mata mengikuti setiap sentuhan suaminya. Pagutan itu berakhir saat Radit merasa kehabisan oksigen.
Ada senyum tersungging di bibirnya melihat rona merah di wajah Tiara.
"Buatkan aku sarapan seperti biasa! Kutunggu di kamar," titahnya kemudian bergegas keluar dari kamar.
Tiara masih terpaku di tempatnya saat pintu kamar tertutup. Perempuan bermanik cokelat itu tak percaya atas apa yang baru saja terjadi padanya. Perlakuan Radit yang tiba-tiba berbeda menimbulkan tanda tanya di kepalanya. Masih terasa hangatnya kecupan Radit di bibirnya. Meski ia merasa nervous tak urung perasaan Tiara menjadi sedikit berbeda.
Saat ia mencoba meresapi kejadian barusan, mendadak ia teringat permintaan suaminya. Bergegas ia membuka pintu menuruni anak tangga menuju dapur. Ada Bik Tunik menyambutnya dengan cerita protes Radit atas sandwich dan susu. Tiara tersenyum bangga mendengarnya. Ia bahagia sang suami menyukai buatannya.
"Mbak Tiara mau buatkan sandwich?"
"Mas Radit yang minta, Bik. Saya bawa ke atas dulu ya."
Melihat sorot mata yang gak biasa di pada Tiara membuat Bik Tunik bahagia.
Suara Radit terdengar memerintahkan dirinya masuk. Dengan napas tertahan, Tiara melangkah menuju nakas dan meletakkan sarapan untuk suaminya. Sekilas dari sudut mata ia menangkap Radit baru saja mandi. Pria itu masih mengenakan bathrobe putih dengan rambut yang basah. Tak ingin berlama-lama segera ia mengayun langkah keluar tanpa bersuara.
"Mau ke mana?"
Suara Radit menahan langkahnya. Seolah tak ingin merusak suasana dengan suaranya, Tiara hanya diam berdiri di depan pintu.
"Tutup pintunya!" titah pria itu.
Tiara mengangguk kemudian bermaksud untuk keluar, tapi kembali suara Radit terdengar.
"Aku meminta agar pintu ditutup, bukan kamu yang keluar. Apa ada kalimat yang salah?"
Dengan menghela napas Tiara menutup pintu perlahan. Hampir saja ia berteriak karena terkejut saat ia membalikkan badan, Radit tengah berdiri tepat di depannya. Kembali posisinya terkunci seperti yang terjadi beberapa saat tadi.
"Kamu kenapa? Takut?" Perlakuan Radit masih seperti tadi. Lembut tapi penuh misteri.
"Kamu mau apa?"
"Aku suamimu, 'kan?" tanyanya pelan. "Enam bulan sejak pernikahan itu aku belum meminta hakku."
Gemuruh di dada Tiara makin tak terkendali. Ia mendadak merasa takut.
"Mak ... sudmu?"
Radit tak menjawab, ia bahkan tak menghiraukan ketakutan yang tergambar di wajah sang istri. Seperti singa yang sedang lapar, ia mencumbu Tiara. Menyesap bibir dan menyentuh serta jengkal tubuhnya tanpa jeda. Seolah tak membiarkan ada satu bagian tubuh pun yang tak terjamah.
"Kamu takut?" tanyanya dengan mata mengabut dengan napas tertahan.
Tiara mengatur oksigen yang masuk ke tubuhnya. Ia benar-benar merasa kamar luas itu mendadak sempit.
"Sarapannya?"
Radit menyeringai menatap rona merah di pipi Tiara. Baru kali ini ia menyadari bahwa istrinya benar-benar cantik.
"Ibu sakit. Beliau memintaku untuk pulang dan juga minta kamu ikut bersamaku!"
Mendengar ibu mertuanya sakit, mendadak ada rindu pada mertua satu-satunya yang kini tinggal di luar kota bersama adik Radit itu.
"Kapan kita ...."
"Besok pagi. Mungkin kita di sana bisa tiga hari, jadi kami bisa packing baju agak banyak!"
"Ibu sakit a ...."
"Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sudah menelepon dokter langganan untuk mengawasi Ibu!"
Dering ponsel milik Radit berbunyi. Pria itu mundur lalu berbalik melangkah ke ranjang.
"Aku di rumah! Kamu bisa ke sini sekarang!" Pria itu meletakkan gadgetnya di kasur.
"Tiara, duduk sini!" titahnya. "Aku nggak suka melihatmu seperti itu. Kamu pikir aku orang jahat?" Radit kesal melihat Tiara masih terlihat menjaga jarak.
"Ma ...."
"Jangan terus- menerus meminta maaf!" potongnya. Kembali pria itu menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Pria itu kembali menghidu aroma segar dari tubuh sang istri. Rambut panjang kecokelatan begitu sempurna dengan hidung mancung milik Tiara. Pelan ia menyingkirkan sebagian surai indah yang menghalanginya menatap paras sang istri.
"Kamu cantik!"
Kembali Tiara terkaget-kaget mendengar pujian sang suami. Ia tak ingin terlihat terlalu bahagia akan semua perlakuan pria itu. Bayangan bahagia di raut wajah Radit saat bersama Indria telah cukup membuat hatinya tercabik.
Bukan ia tak punya nyali untuk bertanya, tapi ia juga tahu terlalu bodoh jika terus memelihara perasaan cinta pada pria itu. Namun, perasaan indah itu telah membuatnya menjadi sosok perempuan yang terlalu berharap pada sesuatu yang dirinya sendiri tak tahu sampai kapan bisa bertahan.
"Tiara ... Ibu menginginkan cucu!"
***
Ehemm, yang kesel sama Abang Radit, cung 😆
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top