Long Night 1

12 Januari 2018
Kelas Ms Maria,
Seperti biasanya... Membosankan. Hanya karena dia berusia setengah abad dengan pengalaman dan ilmu segudang dia sangat disegani oleh para murid disini. Alasan lain adalah hukumannya yang mematikan.

Aku Sedang menikmati menu selanjutnya dalam hidangan kehidupan, Kuliah. Paparan proyektor yang menghantam layar putih mengiringi penjelasan wanita tua ini. Ingin rasanya aku keluar dari kelasnya sekedar untuk mencuci muka atau melakukan sesuatu yang lain tapi itu sama saja mencari mati.

Saat aku baru mau akan terlelap, aku merasa ada yang memanggilku. "Hans!" Ternyata Jenny membangunkanku. Ms Maria memanggilku untuk mengerjakan persoalan aneh di depan kelas.

Sial, catatanku sebersih kulit bayi. Apa yang akan terjadi padaku. "Gawat." Gumamku.

"Ini, pakai saja." Jenny memberikan catatannya. Syukurlah catatannya rapi dan tersusun secara sistematis. Aku bisa menjawab pertanyaan itu tapi bukan berarti aku bebas melenggang kembali ke bangkuku. Ms Maria menyadari aku tadi tertidur.

Dia memintaku menemuinya di Ruangannya nanti setelah kelas. "Habislah riwayatku." Batinku.
*****
Seusai kelas aku buru-buru menemuinya di Ruangannya. Jantungku berdegup lebih kencang daripada genderang perang suku Romawi.

Bukan tanpa alasan, Ms Maria terkenal akan hukuman tak logisnya. Pernah ada yang tidak membawa buku pokok dalam kuliahnya dan diberi 'hadiah' membeli stok buku tersebut sebanyak 50 buah, sedangkan buku hard cover macam itu berharga minimal Tiga ratus ribu rupiah itupun hasil fotocopian. Adalagi kasus yang parah, Seorang anak ijin ke kamar kecil namun ternyata pergi ke kantin dahulu. Anak itu diganjar hukuman berlari 15 putaran di lapangan lari milik fakuktas Olahraga. Mungkin sebagian orang berpikir itu adalah hukuman ringan, namun tidak. Hal itu dikarenakan lapangan lari milik fakutas olahraga memiliki panjang lintasan 15 km sehingga secara total panjang lintasan lari orang tersebut adalah 225 km. Cukup untuk bolak balik dari Surabaya ke Jakarta.

Kini aku sudah berada di depan ruangan Ms Maria, Aku bagaikan roh yang sedang akan membuka pintu penghakiman terakhir. Setelah menelan ludah dan mengetuk, aku masuk ke dalam. Ms Maria bertanya kenapa tadi aku tertidur? Aku menjawab bahwa aku tidak sengaja, Aku merasa lelah karena bekerja paruh waktu sebagai pelayan. Anehnya dia percaya dan yang lebih aneh lagi sepertinya Bloody Mary sedang merayakan sesuatu yang baik karena aku tidak diberi hukuman apapun hanya sebuah peringatan untuk tidak mengulangi hal itu lagi. 'Aku sedang beruntung.' pikirku.

Di depan pintu ternyata Jenny menungguku. "How is it? What is your punishment?" Tanya Jenny khawatir.

"Nothing." Jawabku.

"Tak perlu sok kuat, aku bisa membantumu kok. Selama itu bukan berhubungan dengan hukuman fisik." Tanya Jenny dengan raut khawatir.

"Bukan apa-apa. I'm swear. Sepertinya terjadi sesuatu yang baik padanya sehingga dia tidak menghukumku. Hahaha" Aku tertawa.

"Oh syukurlah. Traktir dong."Pinta Jenny.

"Ini." Aku memberikan Tisu kepada Jenny.

"Ayo kita masuk lagi aku ingin Ms Maria tahu siapa yang memberikan catatan itu."  Jenny menarik tanganku.

"oh come on, I'm just kidding. Ayo aku traktir, mau makan dimana?" tawarku.

"Jeyco." Jawabnya singkat, Dan kami pun pergi ke toko donat yang terletak di seberang fakultasku dan Jenny.

Universitas ini memiliki berbagai Fakultas di dalamnya, walaupun beberapa fakultasnya banyak yang tidak aktif tapi masih beroperasi dengan baik. Dalam Universitas ini hanya Aku, Jenny, dan Chris yang melanjutkan studi kami di sini.

Glenn dan Billy melanjutkan di Universitas lain, Yang ku dengar mereka berada di Faculty of technology and Science. Cocok dengan mereka berdua menurutku. Sementara Angel meneruskan Studinya di Universitas ternama di Amerika. Terakhir dari sumberku aku tahu bahwa Angel mengikuti Program Akselerasi di Faculty of Health and Pharmacy.

Oh iya apa mungkin Angel benar-benar sudah pulang? terakhir aku sempat mendengar kabar kalau dia akan kembali ke Jakarta. Tapi itu hanya desas-desus karena sebenarnya aku kehilangan kontak mereka bertiga. Chris sendiri jarang bertemu denganku karena kami sering berbeda kelas.

Dan itu membuatku penasaran. Kuambil ponselku dan menelpon Chris, diangkat. Suara ramai dan banyak noise, aku bisa menebak dia berada di kantin.

"Yo, Are you free?" Tanyaku basa-basi.

"Biasa, Ms Maria sedang keluar." Jawab Chris, Benar-benar ada yang aneh tumben sekali Si- Bloody Mary membolos kelas yang diajarnya.

"Malam ini mau meet up?" Tanyaku.

"Boleh, Siapa saja?" Chris bertanya.

"Kau, aku, Jenny, aku akan mengajak Billy, Glenn dan Angel." Mendengar nama Angel Jenny yang sedang menyantap Doughnut coklat langsung menatapku.

"Apa?" tanyaku pada Jenny.

"memnbuung (pembohong)." Ucapnya tidak jelas karena mulutnya sedang penuh.

"Pembohong." lanjutnya lagi setelah menelan donat tanpa lubang itu.

"Apanya yang bohong?" Sanggahku.

"Kau, Angel masih di Amerika. Billy dan Glenn masih kuliah." Jenny dengan skeptis menolak pembenaran apapun yang akan ku katakan.

"Kalau aku bisa?" Tanya Hans.

"Kau kuterima." Jawab Jenny Enteng.

"Terima apanya?" Tanyaku gugup.

"Terima kasih dan silahkan bermimpi dasar cowok Bipolar." Jenny tertawa.

"Siapa yang bipolar?" Ucapku.

"Sudah jangan bertengkar, Aku usahakan datang. Dimana?" tanya Chris dari sambungan telepon.

" Jeyco seberang Fakultas kita." Usulku.

"Ouh ok, Bye Hans I've to go." Jawabnya menutup telepon tampaknya dia buru-buru. Sekarang aku akan memberitahu Billy, Glenn dan Angel semoga merekapun bersedia.
********
Dalam sebuah Gudang bawah tanah, soaok siluet lelaki dan perempuan terlihat seperti sedang melakukan sesuatu, tak lama terdengar tiga suara tembakan. Salah satu siluet membuka Ponselnya, sebuah pesan.

From: Hans166
To: Galthena_Bill
Are you free, tonight? Let's meet up with everyone. Ada Chris n Angel loh.

note: Jeyco jl xxxxx

"Kurasa tidak sekarang Hans." Perempuan lain mendekati lelaki itu dengan cepat dan mengincarnya dengan segera seseorang lainnya ikut bertarung dengan pedang di tangannya tak lama kemudian, Perempuan itu tergeletak. Sebuah emblem hijau terlihat dari tangan kanannya.

"Fokus, Bill."
*******
"Ouh ok, Bye Hans I've to go." Jawabku.

Setelah menutup ponsel dan membayar makanan yang ku pesan kuperiksa list pesan yang masuk salah satunya pesan gambar dari nomor yang tidak kukenal.

Isinya adalah foto Glen yang babak belur dan penuh luka.

"TEMUI AKU DI TEMPAT KITA BERTARUNG DAHULU!!!" Begitu isi pesannya. Tanpa diberitahu pun aku tahu ini ulah Andre.

"Brengsek kenapa kau membawa orang lain dalam masalah kita?" Aku mengetik pesan itu namun belum sempat ku kirim ternyata sudah dibalas.

Jangan hanya mengumpat seperti Banci malam ini kau akan Habis di tanganku.

Lagi-lagi dia mengincarku saat aku sedang dengan temanku. Ini bahaya kalau Hans dan Jenny terseret dalam masalah ini, Bahaya. Cukup Glenn Saja.

"Malam ini harus berakhir." Batinku.

"Maaf, Hans tapi malam ini tidak akan ada meet up." gumamku menuju Mobil aku akan menghadapi si Brengsek itu dan harus segera ku selesaikan.
*******
Kafe Jeyco- Malam

Aku menjemput Jenny, Saat ku sampai tempat ini masih kosong. Kami menunggu cukup lama dan masih tak ada satupun yang datang. Billy, Glenn, Angel ataupun Chris semua tidak dapat dihubungi.

'Pasti mereka sudah lupa atau menganggap ini tidak penting.' Batinku.

Satu jam, dua jam, hingga tempat ini sudah mau tutup pun mereka tidak datang. Dengan kecewa, aku mengajak Jenny pulang.

"Maaf yah," ucapku.

"Kenapa?" tanyanya.

"Meet up sepertinya dibatalkan." jawabku.

"Bukan salahmu, kok. Lagipula...." Jenny menahan cukup lama untuk menyelesaikan dialognya.

"ini terasa seperti kencan. Terima kasih, Hans." Jenny tersenyum.

Jakarta saat malam hari tetap menyimpan keindahan yang luarbiasa. Hiruk pikuk Ibu kota dan suara bising klakson, Namun keindahan yang ku hadapi berbeda dengan keindahan itu. Keindahan yang kunikmati adalah dia yang sedang berada di samping kursi jok dan Perseneling mobilku. Aku bukan mencintainya. Hanya saja memang wajah Jenny sangat menarik, Tapi ku tekankan aku tidak cinta padanya.

Aku hanya ingin menjaganya, Tapi bagaimana kalau dia salah menganggap perhatianku? Biarlah pikirku. Lagipula tidak mungkin kami mencintai satu sama lain. Setelah mengantarnya aku kembali ke rumahku.

Setelah Lulus sekolah, kuputuskan hidup mandiri. Tinggal sendiri dan bekerja paruh waktu untuk uang jajanku. Walaupun aku tetap menggunakan mobilku. Cuma aku tetap berusaha untuk membiayai pengeluaranku sendiri.

Sisa malam itu tidaklah penting, Hanya saja aku tidak dapat tertidur. Pikiranku melayang tanpa arah, Berpikiran buruk kalau sebenarnya semua temanku itu hanyalah kepalsuan. Bagaimana kalau sebenarnya aku tidak penting bagi mereka? Aku mengutuki diriku yang mempunyai pikiran itu tapi itulah efek negatif dari phobiaku. Aku mengutuki kenapa aku tidak dapat tidur, dan sedikit rasa bodoh semua berkecamuk dan berhasil membuatku tetap terjaga.

"It's will be a long night, huh?" gumamku.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top