Chapter XIX
Sebenarnya Junghwan sudah bangun sejak tadi, namun ia terlalu malas beranjak dari ranjang karena sibuk memandangi wajah suaminya yang masih betah terlelap di sebelah.
Telunjuknya bergerak ringan di atas bulu mata lentik yang kelopaknya tertutup, salah satu faktor penunjang yang berperan besar atas kecantikan wajah Doyoungnya.
Bibir yang sedikit terbuka membuat dua gigi atas suaminya mengintip dari sana, jika Junghwan diminta untuk menamai binatang yang mirip dengan Doyoung, maka ia akan menyebutkan kelinci sebagai hewan yang paling serupa.
Sebelah tangan Junghwan kembali melingkar di atas perut yang lebih kecil, menarik tubuhnya agar lebih dekat untuk didekap erat-erat. Hidungnya bertengger di ceruk leher, menarik napas dalam seakan ingin memenuhi paru-paru dengan wangi khasnya.
Doyoung merengek saat ia akhirnya terjaga, tubuhnya nyeri bukan main, aktivitas mereka tadi malam nampaknya terlalu berat bagi orang yang tidak pernah berolahraga seperti dirinya.
Seketika Junghwan menarik diri, ia menatap wajah Doyoung yang akhirnya terjaga.
"Good morning," Bisik Junghwan sambil mengusap sebelah pipinya.
Bukannya menjawab, Doyoung malah kembali merengek sambil menyandarkan kepalanya ke atas lengan Junghwan.
"Kenapa?" Tanya Junghwan.
"Badanku sakit semua," Jawab Doyoung jujur.
Sebelah tangan Junghwan bergerak menuju punggung suaminya dan menepuk pelan tulang ekornya. "Sakit banget? Maaf ya." Ucapnya sambil mengecup rambutnya.
"Hari ini kita di hotel aja, gimana?" Tanya Junghwan lagi, dan Doyoung yang masih betah bersandar pada lengannya langsung mengangguk pelan.
"Kita bakal di hotel seharian?"
"Iya."
"Kamu bakal rawat aku?"
"Iya, Doyoung."
"Kamu bakal nemenin aku terus?"
"Iya sayang, as a starter, mau makan apa hari ini, Doyoungie?" Junghwan bertanya dengan suara manja yang dibuat-buat.
"Apa aja yang ada di restoran." Doyoung menjawab dengan rengekan.
"Gak mau makanan lain? Biar aku masakin."
Doyoung nampak berpikir sebentar sebelum menjawab. "Nasi goreng yang kamu buatin enak, aku mau lagi."
"Masa nasi goreng?"
"Yang cepet dimasak, aku gak mau kamu lama-lama di luar."
Junghwan tertawa, ia lalu mempererat pelukannya. "Emang gak mau ditinggal? Masak kan sebentar."
Kepala Doyoung menggeleng berulang kali, ia memperbaiki posisi kepalanya yang kini ada di atas dada Junghwan. "Gak mau. Kalau boleh juga aku gak mau makan biar kita di tidur seharian aja."
"Nanti malah sakit perut kalau gak makan, sayang."
Mau tidak mau Doyoung menurut perkataan Junghwan, netranya tertutup saat Junghwan mencium lembut keningnya. Setelah memesan bahan makanan melalui ponsel, Junghwan bangkit dari ranjang, meninggalkan Doyoung yang hendak melanjutkan istirahatnya.
Tidak butuh waktu lama hingga pesanan Junghwan datang, ia kebanyakan membeli bumbu instant karena tidak ingin membuat suaminya terlalu lama menunggu. Kurang dari satu jam kemudian, nasi goreng kimchi pesanan Doyoung selesai dibuat.
Begitu kembali ke kamar tidur, seketika Junghwan merengut saat melihat Doyoung yang duduk bersandar di atas ranjang dengan ipad di tangan.
Padahal sudah belasan kali Junghwan memintanya untuk tidak membawa urusan pekerjaan ke Jeju, tetapi nampaknya Doyoung tidak menurut.
"Doyoung," Panggil Junghwan karena Doyoung tidak kunjung menyadari kehadirannya.
"Ya? Oh, kamu udah selesai masaknya?" Tanya Doyoung sambil sesekali melirik ke arah Junghwan yang berjalan mendekat.
"Udah daritadi, kamu ngapain sih?" Protes Junghwan sebab Doyoung yang masih tetap berkutat dengan benda elektronik di tangannya.
"Ini, Jihoon tadi ngabarin aku kalau kakek dateng ke kantor. Terus ada beberapa berkas yang aksesnya masih terbatas jadi harus aku buka dulu. Sebentar ya sayang, udah selesai kok."
Junghwan menghela napas, ia duduk di sisi kosong ranjang, menatap Doyoung yang jemarinya bergerak cepat di atas layar.
Bahkan setelah menikah, kebiasaan Doyoung belum berubah. Laki-laki manis itu masih suka bekerja keras, bahkan terlalu keras hingga terkadang, Junghwan takut Doyoung kelelahan dengan semua pekerjaannya.
"Udah?" Tanya Junghwan saat Doyoung akhirnya meletakkan ipad ke atas meja yang ada di sebelah.
"Udah." Doyoung menjawab sambil tersenyum lebar. "Gendong, nasi gorengnya udah jadi kan?" Lanjutnya sambil merentangkan kedua tangan ke depan.
Junghwan membalas senyumannya, ia mengangguk sebelum menuruti permintaan suaminya. Bobot Doyoung terasa begitu ringan baginya, ia dengan mudahnya mengangkat tubuh yang lebih kecil dan dibawa menuju meja makan yang menyatu dengan dapur.
Keduanya duduk berdampingan, sedangkan di hadapan mereka tersaji masing-masing satu piring nasi goreng yang masih hangat.
"Makan, nungguin apa lagi?" Tanya Junghwan saat Doyoung hanya diam sambil memegang sendok dan menatap ke arahnya.
"Kamu makan duluan, kan kamu lebih tua." Ucap Doyoung sambil menyenggol bahu orang di sebelahnya.
Junghwan mulai mengunyah makanan yang ia buat sendiri lalu memberi tanda agar Doyoung juga ikut memulai sesi sarapan.
Hari kedua di Jeju, seharusnya mereka pergi ke pusat perbelanjaan terdekat untuk mencari makanan khas yang sudah direncanakan. Tetapi karena kondisi Doyoung yang tidak memungkinkan untuk berjalan jauh, keduanya memutuskan agar menunda agenda satu hari ke belakang.
Setelah menghabiskan makanan di piring masing-masing, Junghwan memilih untuk mandi. Tadinya ia sempat menawarkan Doyoung untuk mandi bersama, tetapi suaminya menolak karena tidak ingin kejadian semalam terulang kembali.
Tubuh Doyoung masih sakit dan aktivitas kemarin adalah pengalaman pertama kali baginya, Junghwan juga tidak setega itu untuk memaksa serta membuatnya kesakitan selama masa liburan mereka.
"Udah mandinya? Cepet banget." Ucap Doyoung saat mendengar suara langkah Junghwan yang baru keluar dari kamar, ia tidak menyadari bahwa di tangan Junghwan terdapat handuk basah serta satu set pakaian santai miliknya.
"Kan mau bersihin badan kamu," Jawab Junghwan, ia duduk di sebelah Doyoung yang setengah berbaring di atas sofa depan tv. Tangannya mulai membuka kancing pakaian tidurnya satu persatu.
Refleks Doyoung menutupi tubuh bagian atasnya dengan kedua tangan, mereka memang sudah melakukan itu tadi malam, namun ia masih canggung jika harus telanjang di depan suaminya sendiri.
"Kenapa?" Tanya Junghwan bingung.
Doyoung menggeleng, ia kembali mengancingkan pakaian tidurnya. "Gak perlu dibersihin." Jawabnya dengan nada panik.
"Aku gak akan ngapa-ngapain kamu, tenang aja."
Sebenarnya tidak apa-apa juga jika Junghwan berbuat sesuatu pada tubuhnya, mereka resmi menjadi pasangan yang sudah menikah selama hampir dua bulan.
Akhirnya Doyoung menurut, ia membiarkan Junghwan membuka pakaiannya. Dengan handuk serta air hangat di wadah kecil yang sudah disiapkan, Junghwan mulai mengusap tubuh bagian atas suaminya.
"Bengkak gini ya..." Ucap Junghwan dengan suara pelan, Doyoung yang tadinya berusaha fokus dengan tayangan televisi seketika menoleh, mengikuti arah pandangannya.
Dan ia nyaris mengumpat saat melihat dadanya yang dipenuhi bercak kemerahan, pantas saja tubuhnya rasanya nyeri bukan main.
"Kamu sih!" Protes Doyoung kemudian sambil menepuk pelan lengan Junghwan.
"You tasted so good last night, I can't help myself to enjoy the meal right in front of my eyes."
"Right, cuma karena aku manggil kamu dengan sebutan itu."
"Sebutan apa?"
"Junghwanie hyung?"
Seharusnya Doyoung tidak memanggil Junghwan dengan sebutan itu lagi, nada bicaranya yang terlalu sensual tidak pernah gagal membuat Junghwan terpancing.
"Diem." Omel Junghwan sambil menepuk mulut Doyoung dengan telunjuknya.
"Kenapa, sih? Kamu tuh lebih tua dari aku, wajar dong kalau aku panggil hyung? Kayak Junkyu hyung sama Haruto hyung."
Junghwan tidak menanggapi ocehan suaminya, ia malah membuka seluruh pakaian Doyoung lalu dengan cepat menggantinya dengan pakaian baru.
"Mau ganti sendiri atau aku gantiin?" Tanya Junghwan tiba-tiba.
"Apanya?"
"Celananya."
"Aku aja lah! Kamu ambilin selimut sama bantal deh sana, jauh-jauh dulu dari aku. Ekspresimu tuh kayak mau makan aku tau gak." Usir Doyoung sambil sedikit menendang tubuh Junghwan.
Untungnya Junghwan menurut, laki-laki itu membereskan seluruh peralatan yang tadi ia bawa dan mengembalikannya ke tempat semula. Ia juga meraih semua barang pesanan Doyoung serta plester yang ada di kotak p3k sebelum kembali ke ruang tengah, dan disambut dengan pemandangan Doyoung yang sudah mengganti seluruh pakaiannya.
"Lukanya gak parah ya ternyata." Ucap Junghwan sambil memeriksa luka yang ada di kaki Doyoung sebelumnya, ia melepas plester lama dan menggantinya dengan yang baru.
"Emang, kamu aja yang maksa buat mandiin aku."
"Tapi kamu gak nolak?" Protes Junghwan tidak terima, karena seingatnya aktivitas mereka kemarin terjadi bukan hanya karena kehendaknya.
Doyoung juga memohon agar Junghwan melakukannya berulang kali di atas ranjang, bahkan menuntun tangan besar suaminya untuk terus bertengger di dada serta lehernya, berkata agar Junghwan mencengkramnya kuat-kuat sambil terus mendesahkan namanya.
"Udah gak usah diinget-inget." Doyoung berusaha mengalihkan topik pembicaraan, "Sini, temenin aku nonton." Lanjutnya sambil menepuk sisi kosong sofa lebar yang ada di sampingnya.
Dan Junghwan kembali menurut, ia mengambil tempat di sebelah Doyoung, sengaja merentangkan sebelah tangan agar suaminya dapat menyandarkan kepala ke atas lengannya.
"Kenapa kamu suka banget nonton ini?" Tanya Junghwan sambil mengusap rambut Doyoung.
Di hadapan mereka, televisi sedang menayangkan acara kesukaan Doyoung. Series animasi dengan pemeran utama karakter aneh berkekuatan listrik berwarna kuning menyala.
"Seru aja, dulu aku sering nonton ini kalau lagi sendirian di rumah."
"Kan kamu emang tinggal sendirian?"
"Loh, sekarang kan aku udah punya kamu? Tinggal bareng kamu, tidur sama kamu, makan juga ditemenin kamu." Jawab Doyoung, ia mendongak untuk menatap wajah suaminya.
Junghwan tersenyum, suaminya memang tidak pernah gagal membuatnya salah tingkah hanya dengan kata-kata.
Tetapi Doyoung malah merengut, tangannya bergerak untuk menghapus senyuman di wajah Junghwan.
"Kamu jangan senyum lebar kayak gitu." Protesnya.
"Kenapa?" Tanya Junghwan heran.
Doyoung meraih sebelah tangan Junghwan untuk diletakkan tepat di dadanya, "Berasa gak?"
"Berasa apa? Bengkaknya?" Ledek Junghwan.
"Ah kamu mah! Deg-degannya!" Omel Doyoung dengan suara keras, walau tidak cukup keras juga karena Doyoung nyaris tidak pernah berteriak di depan siapapun.
Junghwan kembali tertawa, ia menepuk dada suaminya sebelum menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan.
"Aku senyum gitu cuma di depan kamu."
"Beneran?"
"Iya, masa gak percaya?"
"Dulu aku sering liat kamu senyum di depan Pak Lee?"
"Itu cuma tanda terima kasih karena dia udah ngasih aku banyak uang."
Ucapan Junghwan membuat Doyoung mendadak dibawa ke malam di mana ia mabuk di kantor, saat pertama kali ia mencium pipi Junghwan.
Dan siapa yang menyangka bahwa kini, karyawan yang saat itu menjaganya semalaman malah menjadi suaminya?
"Tapi sekarang dia udah gak kasih aku uang lagi." Ujar Junghwan tiba-tiba.
Doyoung mengangguk sebelum menarik kepalanya dari dada Junghwan, "Bener, karena sekarang aku yang nafkahin kamu." Ucapnya sambil mencium rahang suaminya.
"Nah, kamu puas-puasin kerja aja, biar nanti kita gantian."
"Kenapa harus gantian?" Tanya Doyoung heran.
"Kalau kamu hamil, emang masih mau kerja? Aku gak akan bolehin kamu buat sentuh berkas-berkas, biar aku sama Jihoon yang urus semuanya." Jawab Junghwan dengan percaya dirinya.
Memiliki anak tidak pernah ada dalam daftar keinginan Doyoung sebelumnya, tetapi setelah Junghwan membahasnya terus-menerus dan berkata bahwa ia ingin membesarkan anak tidak lama setelah menikah, Doyoung akhirnya setuju.
"Yakin banget aku bakal hamil dalam waktu dekat?" Ledek yang lebih kecil sambil menggesek kakinya dengan kaki Junghwan yang ada di sebelah.
"Yakin dong, atau mau kita coba bikin lagi? Tiga ronde semalam kayaknya kurang cukup, ya?"
Anggukan kepala Doyoung membuat Junghwan dengan cepat meraih remote televisi, ia mematikan siaran sebelum mengukung tubuh Doyoung yang kini tersenyum nakal di bawahnya.
"Are you going to fuck me, Junghwanie hyung?" Tanya Doyoung sambil mengusap milik Junghwan yang masih terbalut celana, nada suaranya juga sengaja diubah, membuat Junghwan nyaris kehilangan kewarasannya.
...
"adegan itunya kok gak full kak?" kalau mau full bayar dua ribu
btwww maaf kalau updatenya loyo huhu, akhir tahun = musim liburan = aku jarang begadang :( mari berdoa agar dayfly tamat sebelum 2025...
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top