Prolog
Y220
"Katarina tersayang,
Kau pasti tidak memercayainya! Aku pun sulit memercayainya, sungguh! Hari pertama di Akademi, seluruh siswa dituntun ke stadium yang SANGAT BESAR untuk menghadiri Upacara Penerimaan Siswa Baru. Seluruh orang dari segala penjuru berkumpul di satu stadium, memenuhinya dengan kebudayaan mereka yang berbeda-beda. Dan kau tahu apa? Aku dipanggil maju ke panggung yang amat lebar itu, salah satu dari lima siswa yang berhasil mendapatkan beasiswa! Oh, aku hampir melompat di depan Raja William Waisenburg dan kepala sekolahku dan—Ayah! Ayah berkata bahwa urusannya di Cardinia lebih cepat dari perkiraannya, sehingga ia datang untuk menemui aku, anak kesayangannya.
Duh, aku senang bukan kepalang meskipun aku tidak mengerti mengapa semua orang sengit memandangiku seolah aku adalah ancaman. Padahal, aku ingin berteman dengan siswa-siswa Czian karena seni bela diri mereka unik dan eksotis. Tapi, mereka hanya menyipitkan mata mereka yang sudah sipit (ups, maaf, Kat) kepadaku. Ya sudahlah.
Setidaknya, aku bertemu Ethan. Kau tahu apa nama lengkapnya? Julius Ethan of Cayenne—ya, dia pangeran mahkota Cayenne, negara tetangga kita! Kenapa? Kau tidak menyangka aku mampu berteman dengan pangeran kerajaan lain? Aku yakin kau tengah menganga lebar. Ya, aku sendiri pun tidak menyangka akan bertemu seseorang yang mengingatkankanku kepada rumah.
Kepada kalian.
Aku sudah kangen. Atau, rindu? Yang mana lebih tepat, Kat?
Dengan rindu, Daria.
P.S. BALAS SECAPETNYA."
Daria diam sejenak menyadari kesalahan ejanya dan memutuskan untuk membiarkannya. Ia harus menulis ulang seisi suratnya apabila hendak mengoreksi ejaannya. Mengangkat kedua bahunya tidak acuh, ia melipat kertas tersebut ke dalam amplop hijau, menyegelnya dengan lambang pribadinya. Sekarang, ia akan menuliskan kepada Ibu hal yang sama, tetapi jauh, jauh, jauh lebih sopan. Jauh lebih keputri-putrian.
***
"Katarina tersayang,
MATAKU LEBAM SEBELAH.
Jangan panik, Kat, biar aku jelaskan.
Bulan pertamaku di Akademi LUAR BIASA. Ethan (oh, ya, dia sekelas denganku) membantuku lulus kuis bahasa, kuis teori bela diri, daaaannn sederet kuis lainnya. Intinya, tanpa si jenius itu, aku tidak akan bisa lulus, Kat! Aku berutang budi amat amat amat besar kepadanya karena tanpa dia aku yakin di akhir tahun nanti peringkat nilaiku ada di deretan terbawah.
Aku sekarang mengerti mengapa orang-orang menjauhiku bagai penyakit. Persaingan di Akademi sangat ketat. Setiap tahunnya para siswa dinilai berdasarkan keterampilan bertarung, nilai-nilai di kelas yang mereka pilih. Dua anak di peringkat paling bawah tiap tahunnya akan didepak keluar dari Akademi. Dan kata Ethan, anak penerima beasiswa dalam sebagian besar kesempatan akan selalu dihindari. Aku sedikit sedih mengetahuinya, namun setidaknya aku memiliki Ethan.
Oh, ya, dan sekarang biar aku jelaskan kenapa mataku biru sebelah. Sejak minggu lalu, kakak kelas kami mulai mengusili Ethan. Bagi mereka, Ethan bagai sasaran empuk mereka, tidak peduli gelar yang diembannya—pangeran mahkota. Di sini, tidak ada yang mampu menyombongkan latar belakang mereka, sekaya apapun, seberkuasa apapun. Pada akhirnya, kita hanya bertarung memperebutkan peringkat tinggi dengan pakaian berlatih yang sama. Di sini, kehormatan tidak dibawa sejak lahir.
Dan Ethan menjadi sasaran empuk para pengecut itu. Mulanya mereka meledek Ethan setiap kali berpapasan di koridor. Lalu, mengisi loker Ethan dengan amfibi. Dan hari ini, mereka menjegal Ethan hingga jatuh. UNTUNG saja, aku kebetulan lewat. Aku tidak diam, tentu saja! Mereka hendak menghajar satu-satunya penolongku di sekolah! Aku menjotos wajah salah satu kakak bertubuh besar itu, berlagak seperti pahlawan kesiangan...
Kemudian, berakhir di ruang kesehatan.
Begitu aku bangun, Ethan menangis sejadi-jadinya. Ia berkata bahwa aku tidak perlu melindunginya.
Bagaimana aku bisa membiarkan hal seperti itu kepadanya?
Tetapi, dia hanya membalas bahwa kakak-kakak kelas tersebut sekadar sekumpulan orang malang yang ingin membuktikan kepantasan mereka di dunia. Mereka ingin orang lain merasakan sedih seperti apa yang mereka rasakan. Mereka ingin mendominasi dengan cara yang salah.
Bagaimana menurutmu, Kat?
Aku lelah. Dah.
Dengan lelah, Daria."
Melipat suratnya, Daria tidur lebih awal. Ia akan mengirim surat ini, pagi-pagi sekali.
***
"Katarina tersayang,
Aku menyadari kakak-kakak yang menindas Ethan beberapa minggu lalu tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Aku hampir menyangka mereka hilang ke neraka jika tidak berpapasan dengan mereka di taman asrama. Hidung mereka patah-patah. Beberapa kaki tampak pincang. Entah badai apa yang melanda mereka—aku rasa mereka pantas mendapatkannya.
Kemudian aku juga menyadari bahwa orang-orang seperti mereka tidak musnah begitu saja dari muka bumi. Sekarang, ada seorang brengsek bernama Damien yang mulai mencecar Ethan dengan ucapan jahatnya. Dan yang lebih parah lagi, Damien tampak menikmati apa yang ia lakukan terhadap Ethan. Aku tidak pernah tahu bahwa sebuah tawa dapat terdengar begitu memuakkan. Teman sekelompoknya ikut serta, mencuri buku-buku Ethan, membuang tasnya ke air mancur. Seakan-akan penderitaan Ethan adalah sumber kebahagiaan mereka.
Oh, dan kau tahu apa, Kat? Damien dipuja bagai dewa di Akademi, tidak ada yang berani menyalahinya. Ia memiliki segerombolan teman berbadan besar. Senior-senior takut kepadanya. Semua guru menyukainya. Kepala Sekolah? SANGAT mencintainya. Dia tidak bisa dilawan, dia tak tertandingi di Akademi. Dia tak ubahnya raja kecil di kerajaannya yang sempit.
Mungkin karena pesonanya. Kuakui dia SEDIKIT tampan.
Tapi, apa gunanya ketampanan itu apabila kegemarannya adalah menyiksa orang lain?
Sehebat apapun dia, seorang Daria TIDAK dan TIDAK AKAN PERNAH tunduk kepada tiran seperti dirinya.
Dengan cinta, Daria.
P.S. Hari ini aku meneriaki tiran itu PENGECUT saat melewati kelasnya."
Daria berbaring di atas ranjangnya, wajah pengecut itu melintas di benaknya. Rambut acak-acakannya serta bekas luka di alis kirinya. Mata hijau pucat dengan pandangan yang mampu menembus jiwa. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Yang benar saja?
Damien hanya sedikit tampan.
***
"Katarina tersayang,
Hari ini Ethan menangis karena Damien dan teman-teman sialannya menghina ibu Ethan.
Aku tidak mengerti kenapa seorang iblis sepertinya dibiarkan berkeliaran di bumi. Iblis tanpa hati nurani dan senang menyakiti perasaan orang lain. Ia menjadikan sekolah bagai neraka bagi Ethan.
Aku membencinya, Kat.
Aku membenci pengecut sepertinya.
Dengan cinta, Daria."
"Ia kakak tiriku, kurasa itu sebabnya ia membenciku," ujar Ethan. Daria menemani temannya yang manis hingga tangisnya kering.
***
"Katarina tersayang,
Tadi siang nilai siswa selama satu tahun terpampang di papan pengumuman. Aku tidak melihat namaku di jajaran teratas. Tetapi, setidaknya aku tidak didepak dari Akademi. Nama Ethan termasuk ke dalam peringkat dua puluh besar. Aku turut bahagia untuknya, melompat-lompat senang di hadapan papan pengumuman.
Itu saja. Tidak ada lagi yang penting. Aku tidak sabar pulang ke Reibeart untuk liburan musim dingin bersama keluarga besar. Aku selalu menanti biskuit buatan Bibi Kassia, cerita-cerita Paman Gideon di medan pertarungan, obrolan malam bersama sepupu Sienna, dan juga meledek sikap kaku Devon.
Dengan cinta, Daria."
Ia mengingat mata hijau Damien menemukannya dari seberang lautan manusia yang mengerumuni papan pengumuman. Pria itu tidak perlu repot-repot mengantre sebab namanya selalu ada di peringkat pertama di daftar angkatannya. Setiap tahunnya, begitu kata para guru yang memujanya.
***
Y222
"Katarina tersayang,
Kau pasti ingat Ethan, teman baikku, sejak tahun pertama. Kalau kau ingat Ethan, kau pasti ingat Damien, pria yang menjadikan sekolah seperti neraka bagi Ethan. Baiklah, bajingan itu—aku tahu Lady Godfrey melarang kita mengucapkan kata kasar, tetapi kurasa ia dapat memaklumi kata kasar apabila aku menuliskannya—ditempatkan sekelas denganku di Kelas Tempur dan Duel. Untuk Kelas Duel, anak-anak dipisahkan menurut kemampuan bertarung mereka. Kalau boleh menyombongkan diri, kemampuan bertarungku ialah salah satu yang terbaik di sekolah dan masuk ke kelas unggulan adalah impianku... TAPI aku seharusnya sengaja tampak lemah apabila itu artinya menghindari kelas yang sama dengan penindas keparat itu.
Oh, dan kau tahu apa? Ketika guru menjadikan aku sebagai rekan bertarungnya—IA MENOLAK UNTUK BERTARUNG DENGANKU! Ia melukai harga diriku, Kat. Dan tanpa berbasa-basi aku meninju wajah orang bodoh yang sombong itu. Ia pantas mendapatkannya. Selama kurang lebih seminggu ia mengenakan memar di pipinya seperti lencana ke-pecundang-an dan ia juga tidak berani mengganggu Ethan... setidaknya untuk sementara ini.
Ya ampun, Kat! Begitu banyak yang ingin kuceritakan kepadamu, tetapi aku tidak kuat menulis terlalu panjang. Tidak seperti otot tanganmu yang sudah terlatih menulis beribu-ribu surat.
Dengan cinta, Daria.
P.S. Bagaimana hubunganmu dengan Harold? Tulis aku surat mengenai perkembangan cintamu, Kat! Aku selalu menantinya."
Daria meregangkan jemarinya, memandangi tumpukan kertas kosong di mejanya. Hukuman dari instruktur Kelas Duel karena telah mengayunkan tinju sebelum peluit dibunyikan. Daria mengerjakan hukumannya secepat mungkin karena esok pagi, ia harus mengelilingi stadium lima belas kali...sebagai hukuman.
***
"Katarina tersayang,
Seminggu penuh, loker Kelas Duelku diobrak-abrik. Sepatuku dilempar ke air mancur. Celana gantiku dirobek sedemikian rupa. Aku marah meskipun tidak terkejut. Aku tahu siapa pelakunya. Para perempuan penggemar Damien itu bercekikikan amat kencang, mustahil aku tidak mengetahuinya. Tampaknya, mereka tidak menyukai memar yang aku ciptakan di wajah Damien.
Aku ingin memberikan mereka pelajaran, tetapi kaki dan tanganku nyaris putus menjalani hukuman lainnya.
Lain kali saja, deh.
Dengan cinta, Daria.
P.S. Padahal, memar itu mahakaryaku."
Perempuan-perempuan bodoh, umpat Daria dalam hati sebelum tidur.
Keesokan harinya, di Kelas Duel, para perempuan itu, entah mengapa, tidak ada yang berani menatap Daria langsung di mata. Mereka, secara terang-terangan, berubah seratus delapan puluh derajat.
***
"Katarina tersayang,
Hari ini, hari terakhir angkatan Damien menghadiri Kelas Duel. Guruku mengadakan serangkaian acara pelepasan siswanya, namun lebih tampak seperti acara berpisah dengan Damien. Sama sekali tidak penting, sungguh.
Begitu kelas bubar dan sore sudah menyapa, aku menyadari Damien berdiri di depan lokerku. Aku waspada meneliti tangannya, curiga terhadap keusilan yang akan dilakukannya karena itu apa yang selalu ia dan kawan-kawannya lakukan. Bangkai hewan, mungkin. Tetapi, tangannya kosong, sehampa tatapannya.
Kehampaan itu menemui tatapanku. "Bagaimana kau bisa tersenyum bahagia setelah apa yang mereka lakukan kepadamu?" tanya Damien. Saat memandangi wajahnya, aku menyadari, bahwa kehampaan itu adalah lubang di hatinya.
Aku mengingat ucapan Ethan di perpustakaan, setahun yang lalu. 'Satu-satunya cara seseorang dapat mengenal sedih sedemikian besar adalah ketika mereka telah mengenal kebahagiaan yang lebih besar.'
Damien selalu sedih. Ia tidak pernah bahagia, aku menyadarinya. Sebanyak apapun ia menyiksa Ethan, menari di atas penderitaannya. Ia selalu berusaha tampak bahagia, memaksakan senyum di wajahnya kendati itu adalah hal paling berat bagi dirinya. Aku jadi iba sebab Damien jelas kesulitan mengenal kebahagiaan. Menyunggingkan kepalsuan, beribu kali, walaupun sesungguhnya, di antara puluhan teman yang ia miliki, hatinya hampa. Sehampa-hampanya. Sedangkan aku tidak pernah kesulitan menyunggingkan kebahagiaan. Sungguh tidak adil.
Apa yang harus aku lakukan, Kat? Apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya? Jelas, ia tersesat dan ia sedih dan hatiku tidak tenang memikirkan—"
Daria terperanjat dari posisi menulisnya, seakan-akan sebuah malapetaka menimpanya. Ia segera meremas kertas tersebut, lalu membuangnya ke perapian. Ia tidak pernah mengirim surat itu.
Bagaimanapun, ia tidak boleh memihak iblis yang menyiksa teman baiknya. []
Tara! sesuai janji, aku upload prolog cerita Daria hari ini jugaaa~ PR aku uda selesai semua yeaaaayyy
Ohiya, FUNFACT kalian bisa menemukan salah satu dari surat ini di bab 5 Katarina, prequel dari cerita Daria! ;)
Tenang ajaa cerita ini bisa banget dibaca secara terpisah kok! Tapi untuk mengerti secara lengkap tentunya kalian bisa baca Katarina dan Petra:)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top