9 - Esther

Hitungan hari sebelum pelayarannya ke Albatross, tanah yang penuh pemberontakan, dimulai. Atas izin dan restu Ibu, Esther menggantikan bibinya membantu pasukan tenaga kerja medis tambahan. Kursi direktur Rumah Sakit Sosial di Reibeart tidak bisa dibiarkan kosong dan Bibi Kassia, merupakan harapan terbesar para pasien. Bahkan pengetahuan modern yang Esther miliki tak bisa mengalahkan pengalaman dan prestasi cemerlang Bibi sebagai mantan dokter di Whiteford, republik yang melahirkan banyak dokter berbakat.

            Esther, di sisi lain, tidak pernah menganggap dirinya sendiri bertalenta: kemampuannya biasa saja. Ia tidak seperti Caiden, diberkati kecerdasan dan keahlian berbicara. Ia juga tidak seperti Petra dan Daria yang pintar berpedang. Apalagi seperti Kania yang dari gores kuasnya tercipta lukisan-lukisan menggetarkan jiwa. Tidak. Esther adalah manusia biasa di tengah keluarga istimewanya. Bahkan, ia belum lama bisa berenang. Kira-kira musim panas tahun lalu.

            Ia menyadari bahwa kehidupannya selalu bergantung kepada orang di sekitarnya. Terutama kepada pria yang dulu dicintainya, Raphael Schiffer. Esther pernah berpikir bahwa tiada obat seampuh cinta. Tiada kekuatan yang lebih besar dari cinta, hal lebih manis dari cinta. Dan ketika mengaca ke masa lalunya, Esther harus menahan dorongan untuk tidak mengguncang pundak gadis kecil dengan impian-impian romantis itu. Memukulnya kembali ke kesadaran, bahwa dunia adalah musuhnya paling biadab.

            Permainan dunia yang meruntuhkan idealisme Esther. Apabila jiwa manusia dapat meninggal di tubuhnya sendiri, maka Esther telah mengalaminya. Esther yang dikenal keluarganya sudah meninggal bersama kenangan berdarah itu. Ingatan tragis tersebut  selalu menghantui malamnya selama nyaris dua tahun. Ia akan menangis sampai air matanya kering, menumpahkan segala kesedihannya. Kehilangannya.

            Di jurang keterpurukannya itu Esther menyadari betapa lemah dirinya dibandingkan saudaranya. Hidup mereka bergantung pada sesuatu yang nyata sementara Esther... bergantung pada mimpi naif nan bodoh. Mimpi yang jauh dari jangkauannya. Maka dari itu, Esther mengambil langkah berani bagi dirinya sendiri, kembali membantu Bibi di rumah sakit kendati tangannya masih gemetar ketika menyaksikan darah. Tetapi, batin Esther, itu adalah langkah-langkah kecilnya melahirkan jiwa baru dalam dirinya.

            Pada mulanya, tentu saja, Ibu melarang  keputusan Esther pergi ke Albatross. Ia mengerti, setelah kepergian Petra serta, belakangan, Daria yang tengah menjalani masa hukumannya di Waisenburg, Ibu tidak mampu mengambil resiko atas anak-anaknya lagi. Bagaimana tidak, kastil terasa amat sepi tanpa ciap girang Daria ataupun kelontang pedang Petra. Pukulan tak terelakkan bagi Ibu yang amat mencintai anak-anaknya.

Andaikan Esther mempunyai anak, bisa dipastikan ia akan sama histerisnya seperti Ibu.

Esther membalik halaman bukunya. Ia tengah mempelajari jenis tumbuhan yang berguna menyembuhkan luka dan pereda sakit. Dengan jumlah obat-obatan terbatas, menurut bibinya, adalah hal baik untuk mempelajari herbalogi. Banyak korban kelak berjatuhan dan menggali alternatif lain, tentunya, akan menyelamatkan nyawa.

Penugasan Esther ke Albatross juga tidak lepas dari frekuensi penyerangan para pemberontak Albatross ke benteng terakhir Waisenburg yang bertambah pesat. Semakin efektif dan mematikan. Patroli perimeter Waisenburg berhasil dipukul mundur beberapa meter, memberikan ruang gerak leluasa bagi para pemberontak. Desas-desus berseliweran di antara penduduk Reibeart bahwa Dewa Perang menampakkan dirinya sekali lagi di antara penduduk Albatross. Namun, Esther dan keluarganya tahu lebih baik.

Itu Petra. Kakak perempuannya yang sedingin es, setangguh pria manapun, telah menemukan cintanya bersama pemimpin pemberontakan Albatross. Namanya Rhys, kata Daria. Ibu dan Ayah tidak bisa berbuat banyak sebab, selama ini, Petra selalu memutuskan jalan kehidupannya sendiri. Rahasia tersebut mereka simpan rapat-rapat, mengingat Reibeart tengah berada di posisi yang pelik. Berkewajiban membantu Waisenburg sebagai sekutu sekaligus melindungi keberadaan Petra dari kerajaan adidaya tersebut.

Tepat saat jemari Esther hendak membalik halaman buku, pintu di seberangnya membuka. Kakak iparnya, Katarina, masuk dituntun dua orang pelayan. Ia mengibaskan tangannya di hadapan kedua pelayan tersebut, memerintahkan mereka untuk melakukan pekerjaan selain menjaganya bagai bayi besar. Esther tersenyum ketika mata cokelat Katarina menemui miliknya dengan tatapan pasrah.

"Kecemasan kakakmu berlebihan." Katarina menghampiri sofa.

Esther segera berdiri, meraih siku Katarina dan membantunya duduk. "Ini anak pertamanya, cucu pertama Ibu, dan keponakan pertamaku. Wajar, seluruh kastil khawatir setengah mati."

"Aku tengah mengandung, Esther, bukan lumpuh," ujar Katarina, "Aku tidak perlu dituntun berjalan dari ruang kerja sang ratu ke sini."

"Itu cukup jauh, Kat." Esther mengerjapkan matanya, "Apa yang membawamu ke sini?"

Katarina meraih surat dari saku gaunnya. Esther mengenali cap yang menyegel amplop tersebut. Daria. Dibandingkan keempat saudaranya, Esther memiliki hubungan paling dekat dengan Daria. Usia mereka hanya terpaut satu tahun dan kerap disangka anak kembar. Mereka selalu berjalan berdampingan, bermain bersama, bahkan saat Daria berlatih pedang, Esther akan menemaninya. Esther tidak kuasa mengelak bahwa ketidakhadiran Daria membanjirinya dengan perasaan rindu.

"Baru sampai hari ini, surat untukku dan surat untuk ratu." Katarina menyampirkan surat tersebut ke hadapannya.

Esther menerima surat tersebut.

"Katarina tersayang serta adik-adikku yang penasaran

Kabarku baik-baik saja. Aku baru sekali menyelinap..." Mata Esther gesit saat memindai surat tersebut. Membaca kehidupan sehari-hari Daria di Kastil Waisenburg. Keluhannya mengenai tidak ada seorang pun di kastil yang dapat diajak berbicara selain sang raja dan Emilia. Kerja sosialnya yang melelahkan. Kelas etika serta hukum yang membuatnya terkantuk-kantuk. Lalu—

"Siapa Damien?" Esther mengangkat sebelah alisnya. Daria tidak pernah membicarakan seorang pria kalau bukan karena kemampuan bertarung atau kuda-kuda mengagumkan mereka. Tetapi, Daria menuangkan seluruh kejengkelannya terhadap pria itu di dalam surat, tiga paragraf penuh.

Katarina berdeham. "Hm. Musuh bebuyutannya."

Menutup mulutnya, tubuh Esther bergetar tertawa tidak percaya. Ia menghabiskan masa kecilnya membaca dongeng-dongeng romantis dan novel cinta. Terlebih lagi, ia mengenal baik Daria dari ujung rambut ke ujung jari kakinya. Kakaknya yang terus terang itu relatif mudah ditebak.  Ia cukup peka mengetahui kapan Daria mulai tertarik dengan seseorang. Tentu saja, semua cerita cinta luar biasa dimulai penuh kebencian, bukan?

            "Aku tidak akan terkejut jika dalam hitungan bulan, kita akan mengadakan pesta pernikahan lainnya." Esther mengembalikan surat itu ke genggaman Katarina.

            "Kurasa tidak akan semudah itu. Daria membenci Damien karena, semasa sekolahnya, pria itu menindas Ethan."

            "Ah." Esther menggigit bibirnya. "Perjalanan yang sulit. Tetapi, aku yakin Daria akan menemukan cara untuk memaafkannya. Daria tidak pernah mendendam."

            "Kuharap juga—" Katarina meraih gundukan perutnya. Mulutnya tercengang. "Bayiku menendang."

            Mata Esther berbinar-binar. Kesadaran bahwa tubuh wanita begitu ajaib, mampu memberikan napas kehidupan ke jiwa yang baru, selalu berhasil membuatnya takjub. "Bolehkah aku memegang perutmu?"

            Katarina menggeser posisi duduknya menghadap Esther. "Tentu saja. Ini keponakanmu."

            Sebuah tawa kecil lolos dari antara bibirnya. Esther menyadari samar gemetar yang mengaliri tangannya. Gemetar itu berhenti ketika, perlahan, jemarinya menyusuri tonjolan perut Katarina. Berhati-hati layaknya tengah menjahit luka seseorang atau lukanya, Esther tidak yakin yang mana. Jantungnya berdetak sarat antisipasi dan, sepersekian detik kemudian, dihadiahi kejutan amat membahagiakan.

            Tendangan itu menyapa sentuhannya. Relung dada Esther seketika dilanda perasaan tanpa nama. Sedih dan bahagia dan segalanya, namun, satu yang pasti, perasaan tersebut menghangatkan hatinya. Menjalin pecahan itu kembali menyatu. Tangis mulai terbentuk di balik pelupuk matanya.

            "Apa kau merasakannya?" tanya Katarina.

            "Ya." Suara Esther parau, masih terkejut akan perasaan melimpah-limpah itu. "Tendangan yang kuat."

            Tampaknya, Katarina menyadari luapan kesedihannya. Genggaman Katarina melingkupi tangannya. "Esther—"

            Caiden mendobrak pintu. "Angel!" serunya. Pandangannya nyalang mengelilingi ruang belajar. Alisnya melengkung penuh kecemasan. Di balik punggungnya, dua pelayan yang belum lama Katarina usir, ragu-ragu mengintip ke dalam ruangan. Caiden menemukan Katarina yang duduk di sofa, berlutut di hadapannya. Esther tidak pernah membayangkan sekali pun dalam hidupnya, kakaknya yang menawan banyak hati wanita, takluk di bawah kaki seorang wanita pemalu seperti Kat.

            Caiden meraih tangan Katarina, mengecup buku jarinya. "Jangan terlalu memaksakan dirimu, Angel."

            "Surat dari Daria datang hari ini, Sayang. Jangan berlebihan. Esther  pasti rindu dengan Daria."

            "Esther bisa datang menghampirimu." Caiden memalingkan wajah ke arahnya. "Bukankah begitu, Esther?"

            Membusurkan alisnya, Esther tidak lagi merasakan kesedihan itu menanti di balik pelupuknya. "Tentu saja."

Esther menarik tangannya dari keponakan kecilnya, menyaksikan pemandangan sarat cinta di hadapannya. Pemandangan yang pasti akan melelehkan hati kecilnya—sebelum kehidupan meruntuhkan pilar-pilar kekuatannya. Pemandangan yang, tanpa ia sadari, mengembangkan senyuman di wajahnya kendati hatinya meneriakkan ketidakadilan itu. Sebagaimana beberapa pasangan beruntung di dunia diberkahi kebahagiaan kekal. Sementara yang lain—Esther memandangi dirinya—tidak sedemikian beruntung.

Ia ingat hari di mana Caiden melompat girang mendengar kehamilan Katarina tidak lama setelah pernikahan mereka. Ia mengumumkannya kepada pelayan yang berlalu-lalang, pengurus istal, para prajurit, tukang kebun, dan semua telinga yang mampu mendengarnya. Ia mengadakan makan malam paling meriah, semua orang tidur dengan perut kenyang. Kebahagiaan Caiden memengaruhi seisi kastil dan, Esther pikir, itulah kebahagiaan sesungguhnya.

Kebahagiaan menjadi seorang ayah. Kebahagiaan yang hakiki, paling mutlak. Impian yang dicita-citakan Raphael dan Esther. Membentuk keluarga kecil mereka. Anak-anak bermata biru, berambut pirang, cinta berpedang. Tetapi, sekali lagi, dunia adalah musuhnya paling biadab. Dunia tidak seindah dongeng dan novel-novel. Segala hal tidak selalu berjalan sesuai harapannya.

Dan itu mungkin mengapa Raphael kurang mencintainya. Kenangan berdarah itu berkelebat di benaknya, kilas balik hitam, putih, dan merah. Hamparan lidahnya berubah pahit.  Jemarinya kembali bergetar. Malamnya yang tidak tenang sekaligus dingin. Jurang tanpa dasar menariknya semakin dalam, kian dalam, selalu mencari celah kelemahannya kendati tahu—nyawanya tidak lagi utuh, apalagi hatinya.

Hantaman paling menyakitkan. Sebab, Esther tidak kuasa memberikan kebahagiaan itu kepada Raphael, sekalipun ia menyembah iblis. Dua tahun lalu, cintanya sudah mati bersama bagian jiwanya.

Esther sudah hancur. []

TARAAA~ maafkeun ini beralih sedikit dari ceritanya Daria Damieeen karena ada sedikit intro untuk cerita Esther berikutnyaaa...

Kira-kira menurut kalian bakal penasaran dan tertarik ga yah sama cerita cintanya Esther dan Raphael?

Tenang!!! Next bakal ceritanya Daria lagi kokk tenang tenang~

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top