5 - Daria

Lelap tidur Daria dirampas hingar-bingar pelayannya mengisi bak mandi, menyibak tirai, dan membuka jendela. Kendati setengah sadar, Daria masih erat memejamkan mata, menarik selimut menghalau sinar matahari ke wajahnya. Mengetahui bahwa tepat pukul tiga sore nanti ia harus meninggalkan Reibeart, Daria menimbang-nimbang untuk tidak beranjak dari ranjang. Kelopak matanya dipaksa buka ketika pelayan pribadinya, Emilia, menyentak selimut dari tubuh Daria. Emilia berdiri berkacak pinggang di hadapannya, bibirnya mengerucut.

            "Tuan Putri, sudah saatnya Anda bangun. Kapal ke Waisenburg akan berlayar dalam enam jam."

            "Enam jam!" ulang Daria. Ia bertelungkup, meraih bantal untuk menutup telinganya. "Bangunkan aku satu jam lagi."

            Emilia berderap ke sisi ranjang dan merebut bantal tersebut. "Tuan Putri," ujar pelayannya lambat, "memandikan dan merapikan rambutmu saja sudah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam. Itu belum termasuk peluk perpisahan dengan sang ratu dan raja, sarapan terakhir bersama mereka—satu jam. Belum lagi, satu setengah jam ke pelabuhan."

            Ibu tidak pernah salah mempekerjakan Emilia sebagai pelayan pribadinya. Wanita itu memiliki kesabaran tiada kira dan kegigihan melebihi pria manapun menghadapi Daria. Watak mereka berbeda seratus delapan puluh derajat: Emilia rajin nan rapi sementara Daria adalah kekacauan paling tidak sistematis. Daria tidak bisa memungkiri bahwa, di masa kecilnya, mereka sering beradu mulut, namun justru pertengkaran-pertengkaran kecil itu membawa mereka lebih akrab dari sebelumnya. Setidaknya, Emilia akan menemaninya sepanjang waktu di Waisenburg. Satu-satunya kenangan akan rumah.

            Daria bangkit dari baringnya, duduk di tepi ranjang. "Kau tidak perlu merias rambutku seolah-olah aku akan menghadiri sebuah pesta, Emilia," ia menyeret dirinya sendiri ke kamar mandi. "Asal tahu saja, aku ke sana untuk menjalani 'pendisiplinan'."

            "Saya sangat menyadari hal tersebut, Tuan Putri." Emilia melonggarkan pita gaun tidurnya, membiarkan selembar pakaian itu menabrak lantai.

            "Entah mengapa hatiku sakit mendengarnya." Kecipak air menemui pendengaran Daria saat ia perlahan masuk ke bak mandi.

            "Tidak sesakit hati Pangeran Mahkota Fhraeron semalam, tentu saja." Emilia berjalan ke kabinet terdekat, meraih sikat dan ember mandi.

            Daria memutar bola matanya, memutuskan untuk tidak membalas Emilia. Ia ingat dengan jelas apa yang terjadi semalam. Pangeran Fhraeron melamarnya di hadapan entah berapa ratus tamu yang Ibu undang—astaga! Daria jarang merasa malu, tetapi dilamar di muka umum? Yang benar saja! Tidak ada yang lebih diinginkan Daria dibanding menggali liang kuburannya sendiri detik itu. Ia akan menyembunyikan diri, mengubur wajahnya dalam-dalam.

            Apabila melamar Daria di depan umum merupakan salah satu taktik sang pangeran untuk mendapatkan hatinya, maka pria itu salah besar. Daria terpaksa menolak lamaran itu dengan kaki telanjang dan sebelah tangan membawa sepatu. Penolakan tersebut mengundang banyak kesiap dari tamu undangan, serta rahang menganga Ibu yang tampak akan jatuh kapan pun. Tidak pernah tercatat dalam sejarah seorang wanita menolak pangeran mahkota dan Daria memecah rekor dunia.

            Pangeran Fhraeron jelas melamarnya di waktu yang salah. Baru genap setahun semenjak kematian Ethan. Lubang menganga di hatinya bahkan belum menutup sempurna—atau tidak akan pernah, Daria tidak yakin yang mana. Dan, kedua, selebar apapun sunggingan senyumnya, Daria tidak mampu mengelak dari keresahan yang menggeluti tidurnya semalam penuh.

            Keluarganya selalu menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Ia dilahirkan atas dasar cinta. Dibesarkan penuh kasih sayang. Kehadiran orangtua dan keempat saudaranya menyertai tiap-tiap perjalanannya. Kali pertama berjalan, memegang pedang, dan berdansa. Ia mencintai perjalanan juga petualangan, namun tempatnya berpulang selalu ada di Reibeart, bersama keluarganya. Tidak peduli berapa tahun ia habiskan bersekolah di Akademi, Daria tidak pernah usai merindukan keluarganya.

            Di Waisenburg, pikir Daria, tidak akan ada Ibu. Daria sedang duduk di depan meja riasnya ketika pintu kamar terbuka lebar menampakkan sosok ramping Ibu. Punggungnya begitu tegak berjalan menghampirinya, tanpa ragu. Kecantikannya mengalahkan wanita mana pun dalam ruangan, tetapi Daria menyadari kerut-kerut gelisah di raut wajahnya. Tampaknya, Ibu juga tidak rela membiarkannya pergi.

            Mengingat Petra tidak akan kembali dalam waktu yang lama, Daria rasa, ia mengerti kecemasan Ibu. Tidak seperti hubungan kebanyakan keluarga kerajaan yang jauh dan penuh persaingan, hubungan keluarga mereka lebih kental dari darah sekalipun. Ayah dan Ibu tidak pernah pelit mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya. Mereka saling menjaga, saling mencintai satu sama lainnya. Sehingga, ketika seseorang memutuskan untuk pergi—lingkaran mereka tidak lagi utuh, tidak sempurna.

            Dan selanjutnya, giliran Daria yang akan meninggalkan lingkaran tersebut, kendati hanya beberapa bulan lamanya.

            Emilia menekuk lutut, merundukkan kepala di hadapan Ibu. "Yang Mulia, semoga Dewa Kesenian memberkati Anda."

            Ibu berusaha tersenyum, sudut-sudut bibirnya terangkat anggun. Satu hal yang sama sekali nihil dalam dirinya. Daria jadi bertanya-tanya bagaimana caranya makhluk seanggun Ibu melahirkan anak seperti dirinya. Namun, kemudian, Daria tidak ingin tahu bagaimana.     

            "Terima kasih, Emilia. Biar aku menyisir Daria sementara kau mengemas gaun-gaunnya," ujar Ibu, menerima sisir dari tangan pelayannya.

            "Gaun? Tiga gaun saja, Emilia, jangan berlebihan. Kapal bisa saja tenggelam apabila kita mengemas terlalu banyak gaun." Geli mengaliri punggungnya kala jemari dingin Ibu menemui kulit kepala Daria.

            Ibu mulai merapikan helai berantakan rambut cokelatnya, menjalinnya menjadi satu kepangan rumit. "Bagaimana caranya seorang wanita hidup hanya dengan tiga gaun selama tujuh bulan di Waisenburg, Daria?"

            "Dengan pakaian berkuda, Ibu," Lalu kepada Emilia, "Tolong jangan lupa kemas pakaian berkudaku, Emilia."

            Ibu berhenti mengepang rambutnya. Mata keemasan Ibu memandangi milik Daria melalui pantulan cermin, memberikan peringatan. Daria menghela seluruh udara dalam paru-parunya. "Baiklah, baiklah. Sepuluh gaun kasual, Emilia, tidak lebih." Ia menambahkan, "Dan pedangku."

            "Maaf, Tuan Putri," Emilia sigap menyahut, "tetapi Anda tidak diizinkan membawa pedang."

            Mulut Daria menganga seakan mengingat sesuatu yang penting. Tentu saja, sebagai tahanan ia tidak diperbolehkan memiliki ataupun membawa benda tajam dan senjata. Kehadirannya adalah satu-satunya yang diizinkan. Bilah logam itu tidak pernah jauh dari hatinya, ditempa pertama kali saat umurnya tiga belas tahun. Selama sepuluh tahun belakangan, telapak tangan Daria sudah mengenal baik ukiran indah pada gagang pedangnya dan, kini, ia terpaksa meninggalkannya. Hukuman yang setimpal atas tindakannya. Waisenburg merenggut seluruh waktu bersama orang-orang—dan benda—tercintanya.

"Kau benar."

            "Aku berjanji akan menyimpan pedangmu, Daria, selama kau jauh dari kami," ujar Ibu, tangannya cekatan merampungkan kepangan Daria dengan satu ikatan. Ia memutar tubuh Daria sedemikian rupa sehingga wajahnya menghadap Ibu seutuhnya. Tangan Ibu mengelus kedua bahunya, tanpa henti, memberikan jarak cukup bagi Daria menyaksikan air mata mengantre di pelupuk mata, melelehkan emas maniknya.

            Kesedihan itu membuat hati Daria nyeri dalam berbagai cara yang serba salah. Ia mencintai keluarganya, tidak menginginkan satu pun kemalangan menimpa mereka. Namun, kesedihan di hadapannya adalah hasil perbuatan Daria. Konsekuensi atas tindakan gegabahnya menyelamatkan Petra. Daria pikir ia siap menerima segala resiko yang ada, seperti biasanya. Tetapi, ia tidak menyadari hingga detik itu, bahwa ia adalah manusia paling bodoh di muka bumi.

            Dan itu menunjukkan sebagaimana semua keputusan hadir dengan pengorbanan. Terkadang, keputusan seperti sebuah koin dengan dua sisi berbeda yang akan tersakiti atas pilihanmu, suara bijak Ethan bergema.

            Kalau begitu, bukankah bijak untuk tidak memilih?

            Apakah bijak membiarkan dirimu tersakiti terus-menerus?

            "Berjanjilah kau akan menulis surat sebulan sekali," bisik Ibu lirih. Gemetar mewarnai ucapannya.

            Daria memeluk Ibu, mengusap belakang punggungnya yang tidak sekokoh masa mudanya. Tawa Daria sumbang oleh isakan tertahannya—demi dewa, momen sentimental seperti ini adalah kelemahan terbesarnya. "Aku bahkan akan menulis untukmu dua minggu sekali, Ibu."

            Ibu menyemburkan tawanya sebagai pelega kesedihannya, namun percuma. Daria mampu merasakan hangat tangis Ibu membasahi gaunnya. Daria, akhirnya, berserah kepada emosi, air mata membentuk sungai di pipinya. Dadanya sesak oleh rasa rindu meskipun ia berada di dalam rengkuhan sayang Ibu.

            "Berjanjilah untuk tidak berbuat onar." Ibu mengelus belakang kepalanya. "Dan jangan menyelinap."

            Bahu Daria bergetar geli menyadari peringatan Ibu terdengar seperti daftar dosa-dosanya. "Ibu—"

            "Oh, Daria." Ibu melepaskan pelukan mereka. Mata Ibu sembab dan hidungnya merah, tetapi dia adalah cahaya paling terang sepanjang hidupnya. Dukungannya melebihi dukungan seribu prajurit. Doanya lebih ajaib dari sihir sekalipun. Kasih sayangnya—Daria terisak—tiada tara. "Bagaimana aku bisa merelakanmu pergi apabila kau menangis semudah ini?"

            Daria meraih telapak tangan Ibu dan menangkupnya, merasakan kehangatan tersebut untuk terakhir kalinya. Jari-jari yang panjang, anggun, serta lembut. Keriput membungkus punggung tangannya di beberapa bagian, menyadarkan Daria bahwa waktu terus berjalan, usia Ibu tidak lagi muda. Dunia bisa merenggutnya kapanpun tanpa sepengetahuan Daria dan, saat itu terjadi, ia ingin berada di sisi Ibu seperti wanita itu senantiasa menyertai kehidupannya. Tanpa syarat, tanpa imbalan.

            "Aku akan baik-baik saja, Ibu," ujar Daria, mengalunkan ketenangan. "Ibu tidak perlu mencemaskan aku. Aku akan kembali." []

Halooo penghuni dunia jingga! Maaf baru bisa upload jam segini... adududuh dari kemarin mau upload cerita susah bangeeet, ngecrash muluuuu :) kayaknya wattpad lagi bermasalah makanya selasa mau dimaintenance

Semoga kalian suka dengan bab ini yaaa. Bab ini ga ada romance-romancenya sih, cuman mau nunjukkin hubungan kekeluargaan Daria sama Ibunya HEHEHEH :*

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top