23 - Daria

"Aku sudah memperingatimu untuk tidak mendekati ruangan ini," ucap Damien sembari melepaskan ikatan pada tubuhnya. Relung dadanya yang tadi terimpit, kini mampu kembang kempis secara bebas. Kemudian, Damien mulai membalut luka di lengannya dengan perban.

            Daria menghirup napasnya dalam-dalam, aroma cendana dari tubuh Damien memenuhi penciumannya. Belum sampai dua hari mereka tidak berjumpa dan seluruh syaraf Daria sudah meneriakkan kata rindu. Berdiri sejauh mungkin dari ranjang usang serta genangan darah Nero, Daria menyadari tangan Damien tidak sedikit pun beranjak dari siku lengannya. Seakan-akan ketidakhadiran Damien akan menghancurkan satu sama lainnya. Dan mungkin, itu benar apa adanya.

            "Kau tidak secara eksplisit memperingatiku—" Daria berusaha memprotes. Ia selalu memprotes segala hal. Ia selalu memiliki senjata pamungkas melawan ucapan orang-orang. Namun, mengangkat pandangannya menemui milik Damien, untuk kali pertama dalam hidupnya, Daria kehilangan kata-kata. Sekujur raut wajah Damien menyiratkan amarah, sementara kedua matanya seolah terluka. Dua emosi yang sama sekali bertolak belakang, namun, bagi Daria detik itu, tidak ada yang lebih masuk akal.       

            "—maafkan aku," gumam Daria.

            Damien mengelus puncak kepalanya. "Kita harus segera pergi dari sini." Genggamannya meraih tangan Daria.

            "Tunggu," Ia menahan Damien di tempat. "Kita tidak bisa membiarkan mereka di sini."

            "Mereka?" Sebelah alis Damien terangkat.

Sebelum sempat Damien menangkap maksudnya, Daria sudah berderap ke ujung ruangan, mengobrak-abrik meja kerja Nero. Ia menemukan sekumpulan kunci dan segera menghampiri salah satu sel. Para tahanan serentak meluruskan tungkai, kehidupan kembali ke rona wajah serta binar mata mereka melihat Daria melempar kunci itu ke dalam sel.

"Bebaskan diri kalian," pinta Daria. Tidak butuh barang sedetik pun bagi para tahananan merebut kunci tersebut dan mulai membebaskan belenggu mereka satu demi satu.

"Terberkatilah hidup Anda, Nona." Salah seorang dari kumpulan tahanan itu berkata.

"Itu satu-satunya hal yang dapat kulakukan." Daria tersenyum sebelum kembali bersama Damien, menuju pintu. Kebebasannya. Tangan Damien memberikan gestur bagi Daria untuk berhenti sementara kepalanya menoleh ke kanan kiri, mengamankan ruangan dan jalur keluar mereka. Tidak lama setelahnya, Damien membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Daria untuk jalan terlebih dahulu.

Dan Daria menyaksikan kekacauan di hadapannya. Tiga prajurit, salah seorangnya bukan lain adalah prajurit bertubuh besar yang mengikatnya ke ranjang operasi, berbaring tidak bernyawa. Darah mengalir dari luka menganga pada leher mereka, menggenangi ruangan dengan cairan yang tampak hitam dalam keremangan.

"Aku harus mengingatkan diriku untuk tidak menyalahimu," ujar Daria, berjinjit berhati-hati tidak menginjak tubuh maupun darah mereka setitik pun. "Kau menyeramkan."

"Sepanjang perjalananku ada yang lebih—" Damien mendadak diam tepat di seberang Daria, di ambang lorong yang mengarah entah ke mana. Ia melipat tangan di depan dada, alisnya merengut. "Apa yang sedang kau lakukan?"

Daria merogoh sabuk celana prajurit bertubuh besar itu dan meraih kunci penjaranya. Gelombang pertama tahanan mulai berhamburan keluar, melarikan diri ke segala sisi ruangan. Derap lari mereka menggema sepanjang kedua lorong tersebut. Daria tahu hanya hitungan menit sebelum para prajurit kastil menyadari semua tahanan lolos dari sel, namun ia tidak bisa membiarkan Marcus membusuk di ruang  bawah tanah ini.

Ketika Daria kesulitan menemukan kunci yang tepat untuk membuka pintu penjara, Damien memperingatkan. "Daria." Seruan para prajurit dari atas permukaan samar berkumandang, menabuh jantung Daria satu detak lebih kencang.

Lalu, pintu penjara terbuka. Tangan kurus Marcus menghalau cahaya yang mencatuk matanya tiba-tiba. "Daria?" tanyanya tidak percaya, seakan-akan ia tengah memandangi hantunya. Sebab, mungkin, tidak ada yang pernah selamat setelah dibawa ke hadapan Nero. Daria membayangkan ketakutan seperti apa yang Marcus hadapi saat ketiga saudaranya dibawa pergi dan tidak pernah kembali.

Tanpa menghabiskan waktunya lebih lama, Daria memilih kunci mungil dari untaian kunci tersebut, membebaskan belenggu pada tangan dan kakinya. Daria menangkup pipi Marcus, terasa rapuh di bawah rabaannya. "Kau harus pergi dari sini. Ke mana pun, tapi jangan pernah kembali."

Marcus mengangguk, sebuah tekad membentuk pada permukaan matanya. Daria balas mengangguk dan segera kembali kepada Damien, membiarkan pria itu menggenggam tangannya.

Detik kala mereka baru saja hendak memijak anak tangga pertama, derit pintu membuka di atas dan rentetan langkah kaki para prajurit mulai menuruni tangga. Di antara napasnya, Damien mengumpat, kemudian berbalik lebih cepat dari kilat menuju salah satu lorong. Dan mereka mulai berlari, berlari, dan berlari bersama kerumunan tahanan di sekitar, menjauhi percik gejolak pertarungan di balik punggung mereka. Seruan para prajurit berseteru dengan teriakan milik para tahanan. Suara robekan kulit bergema, memburu langkah mereka.

Di suatu titik, Damien berbelok ke kanan, memecahkan diri dari arus lari para tahanan. Sebelah tangannya meraba tembok batu, membuka sebuah pintu rahasia yang Daria tidak tahu ada. Ia jadi bertanya-tanya seberapa banyak yang pria itu ketahui tentang Kastil Waisenburg, sebab ia tampak mengenali seluk-beluk kastil bagai anggota tubuhnya sendiri. Daria membiarkan dirinya mengikuti Damien dalam kegelapan, menaiki tangga.

Mereka sampai di sisi lain, sayap kiri kastil tempat para tamu kerajaan menginap dan menghabiskan sebagian besar waktu. Sekalipun remang, Daria mengetahui ukiran pada dinding lorong dengan baik. Langkah Damien panjang serta lebar, membuat Daria kesulitan mengimbangi derapnya. Ia bahkan nyaris berlari dan kalau bukan karena genggaman tangan mereka, Daria yakin ia akan tertinggal lima enam langkah di belakang. Tetapi, pikir Daria, mereka tidak boleh menyiakan detik setitik pun. Kasak-kusuk para prajurit mulai memenuhi kastil, kelontang baju zirah mereka berkumandang di sepanjang koridor.

Damien baru saja hendak mengambil tikungan pertama ketika ia berhenti mendadak. Daria tidak perlu menjulurkan leher untuk tahu apa yang sedang terjadi sebab sebuah seruan kemudian memperingati seisi kastil.

            "TUAN PUTRI DI SINI!"

            Mencari jalan keluar, Damien membawanya kembali menyusuri koridor hanya untuk dicegat segerombolan prajurit di ujung jalan. Tidak putus asa, Damien menerobos pintu pelayan, berbelok ke kanan dan kiri tanpa henti sementara para prajurit menggebrak masuk ke dalam. Mereka, akhirnya, menemukan tangga curam nan sempit, dan tanpa berpikir dua kali, menaiki anak tangga lebih cepat dari kilat menuju lantai dua.

            Koridor lantai dua sudah dipadati kerumunan prajurit yang berubah ganas melihat mereka. Damien segera berbalik, menuju lantai tiga. Tetapi, para prajurit tampak datang dari segala sisi, memadati jalur keluar mereka. Sehingga mereka naik dan terus naik hingga ke lantai tertinggi kastil. Pekik teriak para prajurit menggulung semakin besar di balik punggung mereka, bagai bencana yang akan mengandaskan jiwa mereka.

Dan mereka berlari, melompati tangga dua bahkan tiga sekaligus dalam sekali langkah. Embusan napas Daria satu-satu, lelah dengan segala tangga yang ia naiki. Keringat mulai melembapkan genggaman tangan mereka, tetapi Damien tidak melepaskannya sedikit pun, memberikannya keyakinan bahwa mereka akan pergi dari kastil terkutuk ini sebagai sepasang. Tidak meninggalkan satu sama lainnya.

Mereka sampai di salah satu balkon menara. Daria menyadari hujan nyaris berhenti, rintisnya menemui permukaan kulit Daria. Di horizon, semburat ungu jingga mulai mewarnai langit. Bagi seseorang yang jarang bangun pagi, Daria bisa dipastikan menikmati pemandangan indah tersebut jika bukan karena para prajurit Waisen yang mengepung mereka. Menyudutkan mereka ke pinggiran balkon dengan acungan ganas pedang, siap menyergap.

Daria mengintip ke balik punggungnya, mendapati bahwa mereka jauh di atas permukaan tanah. Satu-satunya jalan keluar mereka adalah melompat, namun Daria yakin tengkoraknya akan pecah oleh hantaman tersebut. Lalu, angin dingin berembus, mengalirkan gigil ke sepanjang tulang punggungnya. Daria tidak pernah menyangka ia akan mati di bawah dua pilihan yang mengenaskan. Ia pikir ia akan meninggalkan dunia setelah melihat cucu-cucunya lahir dan tumbuh besar dan—

Damien membalik tubuh Daria menghadapnya. "Apa kau memercayaiku?"

Memercayai Damien? Apa lagi pilihan yang ia punya? Pria itu datang menyelamatkannya, menaruh dirinya dalam bahaya demi dirinya. Jika tiada pilihan lain antara melompat atau menyerahkan diri, maka Daria akan memercayai Damien berulang kali. Daria mengangguk. Sebuah anggukan kecil dan samar, tetapi Damien menangkap maksud Daria.

Pria itu membawa Daria ke dalam dekapannya ketika para prajurit mulai mengancam mereka, melangkah semakin dekat. Kemudian, pria itu berbisik, embusan napasnya membelai daun telinga Daria, "Pegang aku erat-erat."

Sejurus kemudian, Damien melompat dari balkon, tangannya menangkup belakang kepala Daria. Ia memejamkan mata, memeluk pria itu lebih erat dari seharusnya. Namun, entah bagaimana, Daria tidak takut sekalipun para prajurit menyerukan namanya, sekalipun mereka meluncur dari ketinggian, sekalipun kematian menanti mereka di bawah sana. Sebab, kendati terdengar bodoh—Daria sudah memercayakan nyawanya kepada Damien dan, detik itu, tidak ada satu hal pun yang lebih berarti.

            Kematian itu tidak kunjung datang. Momentum jatuh mereka diredam tumpukan jerami yang diangkut kereta kuda. Kuda tersebut meringkik terkejut dan berusaha lari, tetapi percuma, sebab tali kekangnya diikat pada sebatang pohon. Banyak pertanyaan bermunculan di benak Daria, sebagaimana Damien merencanakan ini semua, tetapi Daria tidak lagi peduli. Dadanya dibanjiri perasaan begitu kuat, besar, dan menghangatkan gemetar jemarinya. Tangan Damien menemukan wajahnya dan mendapati bahwa di permukaan manik hijaunya, perasaan serupa menyeruak.

            "Jangan lengah, Daria. Perjalanan kita belum selesai," ujarnya, segera beranjak dari gundukan jerami. Meraih tali kekang, Damien menyentak kuda tersebut berlari.

            Keributan, kini, mulai tercipta di halaman utama Kastil Waisenburg. Daria mendapati para tahanan berserak di sepenjuru halaman, meraih benda tajam apapun yang dapat dijadikan sebagai senjata. Para prajurit mengerahkan pemanah ke setiap sisi benteng, sementara sebagian lain tentara  prajurit menyiapkan kuda mereka masing-masing, bersiap mengejar mereka. Damien memacu kudanya lebih cepat dari sebelumnya, mengejar gerbang kastil yang menutup.

            Kemudian, Daria melihatnya. Sang Raja, berdiri di balkon kamarnya, melipat tangan di depan dada. Jemarinya mengetuk sikunya seakan tengah menyaksikan sebuah permainan paling menarik. Sorot pandangnya dingin menemui milik Daria. Tetapi, ada sebuah percik entah di balik permukaannya. Dan sang Raja membalikkan punggung, mengabaikan kekacauan di halaman utama kastilnya. Seolah-olah tahu bagaimana permainan ini akan berakhir, cepat atau lambat kemenangan akan memihaknya.

            Kemenangan yang dimaksud menjelma sebagai Duke, berdiri mengenakan sarung tangan, di samping seorang prajurit yang tengah menyiapkan kudanya. Zahl merah menguar di sekujur tubuhnya dan tujuannya hanya satu: Daria. []

Hai pembacaku yang budiman. Aku sengaja upload chapter 23 hari ini karena aku berniat menamatkan cerita Daria minggu ini!

So stay tune terus yaa untuk update Daria besok dan besokannya lagi <3

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top