13 - Daria

            Sayap kanan. Perpustakaan lama. Rak buku keempat, sisi kanan.

            Tidak lagi sanggup menunda rasa ingin tahunya selama tiga malam, Daria beranjak dari ranjang. Telapak kakinya disambut gigil udara malam saat meraih jubah membungkus gaun tidurnya. Ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan beberapa menit lewat tengah malam. Tangannya membungkus gagang pintu, menghela napas, menyelaraskan desir adrenalin di sepanjang pembuluh darahnya.

Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa kali ini tak ubahnya acara menyelinapnya yang lain. Ia akan mencuri intip, tidak lebih, lalu pulang ke kamar. Setidaknya itu akan memuaskan rasa penasaran yang menggantung di belakang kepalanya. Mengusik upayanya tidur berhari-hari, membuat Emilia pening menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya. Setiap kali memejamkan mata, raut histeris sang Ratu timbul ke permukaan.

Melalui celah bukaan pintu, Daria menolehkan kepala ke kiri kanan dan mulai berjalan. Koridor malam itu maram sekaligus hening, seakan dari bayang-bayang kelak muncul hantu yang menyayat lehernya. Namun, Daria tidak pernah takut sebab rasa penasarannya lebih besar ketimbang ketakutannya. Ia tidak pernah takut memanjat pohon demi menyelinap ke Festival Malam di Reibeart. Ia tidak pernah takut menjelajah rumah kosong di estat keluarganya bersama Caiden, Petra, dan Esther.

Ia pembuat onar, pencari masalah, tukang menyelinap. Beberapa menyebut tindakannya sembrono dan nekat, namun berbagai omongan itu tak pernah mampu memengaruhi dirinya. Semangat itu sudah ada di dalam dirinya sedari kecil, keberanian untuk menjamah wilayah di luar zona nyamannya. Di mana Petra menganggap dunia bagai papan catur, Daria selalu antusias mengungkap rahasia semesta satu per satu. Mencicipi hal-hal baru di luar pengetahuannya.

Alur pemikiran Daria, tanpa ia sadari, berhasil membawanya ke sayap kanan kastil. Tatkala telinganya menangkap pergerakan seseorang, ia segera menempelkan punggungnya ke dinding terdekat. Membaur dalam kegelapan, Daria menahan embusan napasnya. Daria waspada memerhatikan cahaya lentera perlahan surut ditelan koridor lainnya. Memastikan perjalanannya aman, Daria mulai melangkah lebih dalam ke sayap kanan Kastil Waisenburg.

Daria tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki ke sayap kanan kastil. Segenap aktivitasnya berpusat di sayap kiri kastil, wilayah para tamu. Untungnya, pengalaman Daria menyelinap dan tertangkap basah selama bertahun-tahun, terbayarkan. Sekalipun sembrono, ia tidak pernah menyelinap tanpa perbekalan. Beberapa hari belakangan, ia telah memetakan perjalanan dari kamarnya ke perpustakaan lama. Tidak ada salahnya menyediakan payung sebelum hujan, bukan?

Meskipun apa yang datang bukanlah hujan melainkan badai amat deras.

Mungkin, dari seluruh kemampuannya, Daria dapat mengakui keandalannya dengan peta, arah, dan mata angin. Ia tidak pernah tersesat, selalu mengikuti arah aliran angin ke jalan yang benar. Nyaris semua pilihannya bergantung pada insting, intuisi, dan—keberuntungannya.

Keberuntungan menangkap sesosok manusia celingak-celinguk memasuki perpustakaan lama. Daria kembali menyandarkan punggungnya ke dinding, bebas dari pantauannya. Kendati Daria tidak dapat menerka siapa identitasnya karena bagian koridor ini lebih gelap dari yang lainnya, siluet tubuhnya tinggi dan kekar. Menahan napasnya, Daria menunggu sosok itu lenyap ke dalam perpustakaan.

Seraya berjinjit, Daria berlari ke dalam perpustakaan, meminimalkan kasak-kusuknya. Ia membuka pintu perpustakaan perlahan. Mengintip dari celah amat sempit, Daria mendapati sosok itu menyingkap jalan rahasia di balik sebuah rak dan melangkah masuk. Daria berderap menghampiri rak tersebut yang mulai menutup. Pilihannya sekarang atau tidak sama sekali. Daria tahu ia tidak cukup ahli memecahkan teka-teki rak buku—itu keahlian Petra. Maka dari itu, ia menyelip ke balik rak buku.

Penglihatan Daria disambut kegelapan paling mencekam. Dari sepatunya, ia mengetahui ia sedang berdiri di ujung sebuah anak tangga. Daria melarikan tangan ke dinding di belakangnya sebagai pegangan dan mulai meniti tangga tersebut, semakin turun mencobai kegelapan. Meski demikian, Daria tidak perlu takut ditelan kegelapan karena ia mampu merasakan semilir angin mengembus pipi dan tungkainya. Ia tahu ia sedang berjalan ke arah yang tepat. Jalan rahasia pasti mengarah ke ruangan rahasia.

Ia mengerahkan indra-indra lainnya. Genderang telinganya memastikan bahwa kakinya tidak menginjak lubang. Telapak tangannya meraba-raba dinding lembab nan dingin, mengarahkannya kian dalam ke sisi kastil yang tidak dipetakan. Jantungnya berdebar oleh adrenalin, antisipasi atas pemuasan rasa penasarannya. Namun, keringat dingin menuruni punggungnya. Raut histeris sang Ratu membuatnya trauma. Apabila ia hendak menjelajahi rahasia yang satu ini, maka ia harus melakukannya dengan hati-hati

Setelah perjalanan yang cukup panjang, redup cahaya di ujung jalan menyilaukan matanya. Daria menyipitkan mata, upayanya beradaptasi dengan kecerahan tiba-tiba. Meningkatkan kecepatan melangkahnya, keraguannya sirna. Pada anak tangga terakhir, Daria meluruskan punggungnya dengan dinding, mencuri intip ke dalam ruangan yang tidak cukup besar untuk memuat sepuluh orang.

Tidak ada kehadiran lain selain dirinya, Daria dapat memastikan. Namun, ia mampu mendengar desir aliran angin yang berputar di ruangan itu. Sebuah indikasi bahwa terdapat jalan-jalan rahasia di balik tembok lainnya. Untuk evakuasi anggota keluarga kerajaan kala terjadi penyerangan, Daria berspekulasi. Di tengah ruangan, meja batu serba putih berdiri. Sebuah pedang duduk di atas permukaannya, menguarkan aura yang membuatnya bergidik. Mungkin, ini sudah saatnya bagi Daria untuk kembali. Daria memutar tumitnya—

Aku mengenal darah yang mengalir di pembuluhmu, Daria keturunan Reyes.

Daria menoleh ke kanan kiri, mencari sumber suara, tetapi nihil. Suara itu seakan beresonansi di dalam dirinya. Desir darah Daria meletup oleh perasaan yang sama sekali asing. Nyaris kuno dan sakral dan magis. Sesuatu di luar pengetahuannya mulai bangkit di dalam dirinya. Memanggil untuk digunakan, dilepaskan.

"Siapa yang berbicara?" Daria berbisik.

Suara itu terkekeh. Kemarilah. Mendekat.

Daria melangkah ke dalam ruangan. Apa yang terdengar seperti desis ular memenuhi genderang telinganya, memerangkap Daria dalam jebakan pesonanya. Detik itu, Daria mengetahui bahwa pedang di hadapannya adalah sumber dari suara-suara dalam pikirannya. Pedang yang serba hitam dengan gagang berukiran bahasa yang tidak ia mengerti. Sayap seorang malaikat terpahat dengan sebuah permata bening tersemat di tengahnya.

"Kau berbicara?"

Hanya mereka dengan darah Ksatria Suci yang dapat mendengar suaraku. Tuan Putri, kau adalah orang yang terpilih.

            "Ksatria—Suci?" Napas Daria tercekat melafalkannya seolah-olah tubuhnya baru saja bangun dari tidur kekal.

            Leluhurmu Adolphus of Reyes adalah salah satu dari kelima Ksatria Suci pertama. Mereka diberkati kekuatan lebih besar dari manusia manapun untuk memerangi.... Pedang itu diam sebelum melanjutkan, kegelapan. Oleh karena itu, Tuan Putri, kau istimewa. Hanya keturunan Ksatria Suci yang dapat menggunakan potensi terbesar kekuatanku.

            Daria mengembalikan pandangannya ke pahatan sayap malaikat tersebut, permata bening yang duduk di pusatnya, namun sebuah rongga kosong melingkupinya. Entah firasat atau insting—Daria tahu dengan segenap darahnya bahwa pedang itu tidak sempurna.

            Kau benar. Kekuatanku tidak utuh. Aku membutuhkan cincin Dyre untuk mengabulkan segala permohonanmu.

            Aku dapat memberikanmu kekayaan.

            Suara itu menguasai benaknya. Menyerangnya dengan bayangan kekayaan tanpa batas. Jutaan batang emas dan permata memenuhi ruangan. Daria berdiri di tengahnya, berputar tiada henti mengagumi kekayaan tersebut. Ia adalah manusia terkaya yang ada di muka bumi.

            Aku juga dapat membangun sebuah kerajaan untukmu.

            Sebuah cahaya putih menelan Daria, membawanya ke tanah antah berantah. Benteng-benteng mulai berdiri di sekitarnya, kastil paling megah muncul ke permukaan di hadapannya. Daria duduk di atas takhta yang memerintah rakyat sejahtera, tanah termakmur. Kekuasaannya tiada kira. Ia pemimpin dunia—ia mampu melakukan apapun.

            Atau, hmm. Bagaimana dengan apa yang hatimu mau?

            "Apa... yang hatiku mau?" Pertanyaan itu terselip keluar dari lidahnya tanpa isyarat. Kekuatan pedang itu mengendalikan tubuh, pikiran, dan kehendaknya.

            Membangkitkan seseorang dari kematian.

            Dan Ethan menjelma di hadapannya. Halus rambutnya masih sama seperti yang Daria ingat, angin bermain dengan helaiannya. Mata biru gelap yang menerawang jiwanya, memacu jantungnya dalam detak-detak menenangkan. Kacamata setia bertengger di batang hidungnya, turun setiap kali ia merundukkan kepalanya. Tangan Daria tidak pernah lupa membenarkan posisi kacamatanya dan Ethan akan menyunggingkan senyum manisnya.

            Daria sudah kehilangan hitungan berapa hari telah berlalu tanpa senyuman Ethan. Senyuman yang Daria rindu. Dan Ethan di hadapannya begitu nyata. Satu-satunya cara untuk mengisi kembali kekosongan hatinya. Memusnahkan kehilangannya. Masa depan mereka begitu cerah. Daria akan menunggunya pulang, menanti dongeng-dongeng mengenai batu dan mineral dan—Daria tidak menyadari tangis mengaliri pipinya.

            Tangan Daria perlahan merambat ke gagang pedang di hadapannya.

            Benar. Ayunkan aku dan kau akan memiliki kekuatanku.

            Sebuah genggaman membungkus siku Daria. Telapak tangannya menguarkan kehangatan yang membasmi desis-desis terkutuk di benaknya. Ethan hancur dibawa angin dan kehilangan itu membawanya kembali memijak dunia. Itu semua tidak nyata. Ethan adalah kelemahan yang suara itu gunakan untuk melawan dirinya karena Daria paham sebagaimana malam itu gelap, bahwasanya, Ethan sudah pergi dari hidupnya. Selamanya.

            "Daria," ujar Damien. Suara itu lembut menyebut namanya. Menyeretnya dari pusaran entah yang menjerat pikirannya.

            "Damien?" Daria membelalakkan matanya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

            Pria itu menarik Daria menjauh dari pedang—dari kehancurannya. "Kita harus segera pergi. Zahl memepati udara di ruangan ini."

            Masih belum sepenuhnya pulih dari cengkeraman tangan tak kasat mata itu, tubuh Daria berserah kepada ajakan Damien.

            Suara itu lagi-lagi terkekeh.

            Mungkin lain kali, Tuan Putri? []

Haloooo gaesss! Selamat hari jumattt. Astagaaa, maafkan aku baru bisa upload jam segini... semoga dimaafkan yaaa HUHUHUHU

Semoga kalian menikmati cerita Daria kali ini <3 dan jangan lupa berikan dukungannya apapun itu dukungan kalian hehehhe

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top