Lembar 17

    "Hanyang?" Taehyung terlihat berpikir keras. Hanyang bukanlah tempat yang asing baginya, namun sayangnya sepertinya jiwanya belum kembali seutuhnya.

    "Hanyang?"

    "Ye, saat ini Putra Mahkota sudah berada di istana Gyeongbok," ucap Kasim Seo dengan wajah yang tak kalah bingung.

    "Siapa aku?"

    "Ye?" Semakin bertambah kebingungan Kasim itu.

    "Aku bertanya siapa aku?"

    "Putra Mahkota Lee Sung, Putra Mahkota baik-baik saja?"

    Taehyung menggaruk alisnya dan memandang ke sekeliling. Kemudian berkata, "jangan mengada-ada, tahun berapa sekarang?"

    "1451."

    Mata Taehyung mengerjap, kembali memandang sang Kasim sebelum memandang ke sekeliling dengan panik. "Tidak mungkin, apa-apaan ini?"

    "Putra Mahkota ..." tegur sang Kasim, khawatir.

    Taehyung memutar kakinya, memandang semua yang berada di sekitarnya hingga pandangannya terhenti ketika melihat segerombol orang datang dan berhenti di atas tangga yang berada tidak terlalu jauh darinya.

    "A-apa, apa-apaan ini? Siapa dia!" Dengan suara lantangnya ia menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk ke arah Raja Munjong—ayah dari Putra Mahkota Lee Sung yang berada dalam rombongan.

    Kasim Seo yang menyadari hal itu dengan panik menurunkan tangan Taehyung dan menegur dengan takut-takut. "Putra Mahkota tidak seharusnya menunjuk Baginda Raja seperti itu."

    Taehyung mulai kebingungan. Joseon, Hanyang, Lee Sung, Kasim Seo. Semua nama itu berputar secara acak di kepalanya hingga kedua tangannya mencengkram kepalanya.

     "Aku sudah tidak waras, mereka pasti hanya mempermainkanku. Aku masih di Gyeonggi, aku masih di Korea. Ya, mana mungkin aku pergi ke Joseon."

    Wajah Kasim Seo mengernyit. Dan bukan hanya dia yang merasa khawatir, melainkan semua orang yang melihatnya.

    "Putra Mahkota ... kau baik-baik saja?"

    "Eomma!!!" satu teriakan berhasil mengejutkan semua orang. Taehyung memutar kakinya dan kembali masuk ke dalam tandu.

    "Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Joseon sudah berakhir, mana mungkin aku bisa kembali ke Joseon." Dia lantas membentak, "jangan main-main denganku!"

    Mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu, Taehyung perlahan menyingkap tirai yang menutupi jendela. Membuat sedikit celah dan kembali menutupnya ketika tak ada yang berubah. Bahunya terasa lemah hingga punggungnya bersandar tak berdaya.

    Suaranya tiba-tiba melemah. "Aku hanya bermimpi, ini tidak nyata. Aigoo! Tubuhku sakit semua."

    "Putra Mahkota."

    "Arghh ..." sebuah teriakan dengan kaki yang refleks terangkat, membuat tubuh Kasim Seo sedikit terlempar dari tandu setelah berhasil mengageti Taehyung dengan membuka pintu secara tiba-tiba.

    Taehyung melihat pria berpakaian Raja berdiri di belakang Kasim Seo, dan hal itulah yang membuatnya segera kembali menutup pintu tandu dengan jantung yang berdebar.

    Kasim Seo yang saat itu jatuh tepat di kaki Raja Munjong lantas segera berdiri dengan tubuh yang sedikit membungkuk.

    Raja Munjong lantas bertanya, "ada apa dengan Putra Mahkota?"

     "Hamba tidak bisa memastikan hal itu, Yang Mulia. Tapi jika boleh mengungkapkan, Putra Mahkota sedikit aneh."

    Raja Munjong kemudian melewati Kasim Seo dan berdiri di depan tandu. "Putra Mahkota, keluarlah sekarang," suaranya yang tegas itu lantas menyapa pendengaran Taehyung.

    Taehyung tak berkutik, ia bahkan sampai berjongkok di atas kursi dengan tangan yang memeluk lututnya sendiri. Gumaman itu lantas terdengar, "Sutradara Cho sialan! Aku tahu ini hanya akal-akalannya saja. Cih! Joseon? Dia pikir ini masuk akal? Awas saja jika sampai bertemu ... kuhabisi karirmu."

    "Putra Mahkota, ini peringatan terakhir untukmu."

    Netra Taehyung menajam dengan napas yang terdengar beraturan. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dan berhadapan langsung dengan Raja Munjong tanpa ada perasaan sungkan, seakan yang berada di hadapannya saat itu hanyalah orang tua yang beradu peran dengannya. Dan hal itu tentunya mengejutkan bagi Raja Munjong ketika melihat putranya yang selalu menempatkan rasa hormatnya di posisi teratas, kini justru berdiri dengan sikap tidak tahu dirinya di hadapannya.

    "Putra Mahkota, mungkinkah sesuatu telah terjadi padamu?"

     "Benar, aku izin ke kamar kecil sebentar."

    "Eh?" Kasim Seo dan para Dayang yang berada di sana tentu terkejut dengan ucapan Taehyung.

    Dengan tidak tahu dirinya ia meninggalkan Raja Munjong yang terpaku di tempatnya begitu saja. Namun di jarak satu meter, ia segera berlari menuju Gwanghwamun sembari berteriak.

    "Eomma ... aku ingin pulang!"

    Semua orang terkejut, namun Raja Munjong segera bersuara dengan lantang, "tahan Putra Mahkota!"

     "Tidak, tidak. Jangan sekarang, jangan sekarang!" panik Taehyung ketika melihat beberapa prajurit berjalan ke arahnya.

    Namun tak semudah itu ia menyerah. Taehyung berlarian di halaman istana Gyeongbok untuk menghindari kejaran dari para prajurit, dan tentu saja hal itu menjadi tontonan yang lucu sekaligus mengejutkan. Bagaimana seseorang berhati dingin, kini tiba-tiba datang dengan tingkah yang konyol.

    "Berhenti mengejarku, Bodoh!"

    Taehyung mengalami kesialan. Dengan mudahnya ia tersandung kakinya sendiri hingga pada akhirnya membuatnya tersungkur.

    "Aduh!" rutuknya sebelum kedua lengannya di tarik hingga berdiri oleh dua prajurit.

    "Ya! Apa-apaan ini? Cepat lepaskan aku."

    Raja Munjong kembali berucap, "bawa Putra Mahkota ke paviliunnya dan segera panggilkan tabib!"

    Dua prajurit itu sekilas menunduk sebelum membawa dengan paksa Taehyung untuk ikut bersamanya.

     "T-tunggu dulu! Kalian ingin membawaku kemana? Aku ingin pulang, cepat lepaskan aku!"

    Tak ada yang peduli dan kelakuan konyol seorang Kim Taehyung yang pada nyatanya telah berhasil membuat para Dayang menahan tawa mereka.

    Taehyung tetap meronta dan bahkan sampai mengangkat kedua kakinya agar dua prajurit itu berhenti. Namun sayangnya dua prajurit itu tampak tak kesusahan untuk menahan tubuhnya.

     "Ya! Hentikan ini, ini sudah tidak lucu lagi. Sutradara Cho, keluar kau! Aku tahu kau di sini. Cepat keluar dan hentikan ini! Jangan macam-macam denganku, eoh!"

    Tetap tak ada perubahan dan bentakannya pun terdengar semakin frustasi. "Sutradara Cho ... aku mohon, setelah ini aku akan berbaik hati padamu. Ayo kita pergi minum, aku akan membayar semuanya. Aku juga bersedia beradu peran dengan Irene Noona. Hentikan ini sekarang juga. Sutradara Cho ... arghh ..."

    Suara Taehyung perlahan memudar, begitupun dengan Raja Munjong yang meninggalkan halaman istana Gyeongbok. Kasim Seo sekilas memiringkan kepalanya. Terlihat masih bingung ketika para Dayang serta beberapa prajurit di sana tengah menertawakan tindakan Taehyung yang mereka kira sebagai Putra Mahkota mereka, sebelumnya.

    "Ada yang salah dengan Putra Mahkota."

    Brak!

    Seojoon sedikit terlonjak ketika Yeonjun menutup pintu kamar dengan kasar. Pemuda itu menghampiri Seojoon yang berbaring di sofa dengan tangan yang bersedekap dan juga wajah yang terlihat kesal.

    "Kenapa lagi?" tegur Seojoon tanpa minat.

    "Sebenarnya Hyeong kemanakan kakakku?"

    "Jika aku tahu, aku tidak akan mencarinya. Berhenti mengurusi kakakmu dan cepat tidur sana."

    Suara Yeonjun tiba-tiba meninggi, "bagaimana Hyeong bisa mengatakan hal semacam itu? Kakakku menghilang, aktor Kim Taehyung menghilang dan Hyeong selaku Managernya sama sekali tidak berusaha untuk mencarinya ... bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakakku? Hyeong ingin aku menuntut Hyeong!"

    Seojoon bangkit sembari sekilas menggaruk keningnya. Merasa cukup bosan dengan ocehan Yeonjun setiap satu jam sekali.

    "Sudah cukup marah-marahnya. Kakakmu yang melarikan diri dari tanggung jawab. Lagi pula dia sudah terlalu tua untuk tersesat."

    "Dari pada Hyeong menghabiskan waktu dengan berbaring di sini, akan lebih baik jika Hyeong mencarinya."

    "Aku harus mencari di mana? Ponselnya saja ada di sini."

    "Di mana saja! Kalau perlu datangi semua rumah teman atau rekan kerjanya."

    "Aku sudah menghubungi beberapa kenalannya, tapi mereka sama sekali tidak melakukan komunikasi dengan kakakmu hari ini."

    "Kalau begitu laporkan saja ke Kantor Polisi!"

    Seojoon menepuk keningnya. Rasa kantuknya tiba-tiba menghilang karena suara lantang dari adik Kim Taehyung itu.

    "Waktu untuk melaporkan kasus kehilangan adalah 2×24 jam. Jika kau melaporkannya sekarang, polisi juga tidak akan memprosesnya."

    "Kalau begitu lakukan sesuatu! Jika kakakku benar-benar hilang, bagaimana?"

    "Cari saja kakak yang lain."

    "Apa?" Netra Yeonjun yang sedari tadi sudah terbuka lebar lantas semakin lebar.

    "Eih ... sudah, lupakan saja. Sekarang masuklah ke kamarmu dan segera itu."

    "Aku tidak bisa tidur."

    "Kenapa?"

    "Nasib kakakku tidak ada kejelasan, bagaimana aku bisa tidur?"

    Seojoon mengusap wajahnya. Sejujurnya dia sudah lelah meski hanya menunggu kepulangan Taehyung di sana. Pagi hari harus terkena amukan staf produksi, siang hari oleh Direktur dan sepanjang malam masih harus menerima makian dari Yeonjun.

    Saat itu, sebuah panggilan masuk ke ponselnya yang berada di atas meja. Dengan malas Seojoon meraih ponselnya dan dahinya mengernyit ketika ia melihat nama Park Hyungsik—rekan sesama Manager dari agensi lain lah yang menghubunginya lewat tengah malam itu.

    Dengan sedikit kesal Seojoon pun menerima panggilan tersebut. "Halo, kenapa menghubungiku di jam segini? Kau tidak melihat jam terlebih dulu?"

    Seojoon terdiam untuk mendengarkan pembelaan Hyungsik yang baru saja menerima luapan kekesalannya.

    "Ada apa?"

    Kembali terdiam sebelum akhirnya memekik ketika mendengar penjelasan dari Hyungsik. "Apa? Dia di sana? ... aku akan segera ke sana, jangan biarkan dia pergi kemana-mana."

    Seojoon memutuskan sambungan dan segera beranjak dengan terburu-buru.

    "Siapa yang menghubungi Hyeong?"

    "Kakakmu sudah ditemukan, aku akan menjemputnya sekarang."

    "Aku ikut."

    "Tidak perlu, aku akan pergi sendiri. Kau tidurlah, ini sudah lewat tengah malam."

    Seojoon kemudian segera bergegas meninggalkan apartemen Taehyung, menuju ke tempat yang sebelumnya di katakan oleh Hyungsik yang membuatnya tak habis pikir.

    "Bagaimana bisa dia ada di sana? Dia ingin membuat rumor lagi? Aish ... anak ini."

Selesai di tulis : 05.06.2020
Di publikasikan : 06.06.2020

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top