Crazy
𝑫𝒂𝒊𝒔𝒖𝒌𝒆 𝒑𝒊𝒌𝒊𝒓 𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒆𝒔𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒈𝒂𝒍𝒂𝒏𝒚𝒂.
𝐏𝐮𝐫𝐩𝐨𝐬𝐞 - 𝐉𝐮𝐬𝐭𝐢𝐧 𝐁𝐢𝐞𝐛𝐞𝐫
1:05 ───⊙─────── 3:18
↻ ◁ II ▷ ↺
“𝘠𝘰𝘶'𝘳𝘦 𝘯𝘰𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘥 𝘵𝘰 𝘳𝘦𝘢𝘤𝘩 𝘈𝘯𝘥 𝘺𝘰𝘶'𝘷𝘦 𝘨𝘪𝘷𝘦𝘯 𝘮𝘦 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘪𝘧𝘵 𝘛𝘩𝘢𝘵 𝘐'𝘷𝘦 𝘦𝘷𝘦𝘳 𝘬𝘯𝘰𝘸𝘯.”
。゚・ 𖥸──-ˋˏ 🐾 ˊ-──𖥸 。゚・
Daisuke berpikir bahwa uang dapat menyelesaikan segalanya. Tapi nyatanya tidak. Baru pertama kali mengalami penolakan terhadap uangnya, tentu saja Haru tidak di hitung. Seorang gadis yang berumur sepantaran dengannya dengan mentah mentah menolaknya. Daisuke awalnya menganggap gadis itu gila, tapi ia lebih gila karena selalu berada di samping gadis itu sejak saat itu.
[name] namanya. Seorang pegawai kantoran biasa yang baru pulang dari kerjanya di malam hari. Saat itu jalanan terlihat sepi, membuat dirinya was was akan sekitarnya. Ketika sedang berjalan menuju apartemennya, langkahnya di hentikan oleh laki laki berjas rapi serta kacamata hitam yang berada di pangkal hidungnya, "malam malam begini mamakai kacamata hitam, tidak waras ya?" batin [name].
"berapa?"
"huh?"
"berapa yang kau mau jika aku menjadikanmu kekasihku?" sebut saja Daisuke gila. Entah tersambar apa ketika dari kejauhan ia melihat [name] yang berjalan di bawah terangnya sinar lampu jalan tiba tiba saja perasaan asing menyerangnya, rasa ingin memiliki ceunah.
"gila. Kalau tuan ingin mencari perempuan sewaan ada di club sebelah sana. Aku hanya pergawaj kantoran. Permisi," ucap [name] mencoba sopan setelah merasa di rendahkan. Enak saja harga dirinya di beli dengan uang.
Daisuke bukannya membuka jalan, malah memberi [name] sebuah kartu identitas miliknya. Seakan akan [name] adalah client dan ia sang bos yang minta di hubungan.
[name] menatap Daisuke dengan tatapan aneh, ia tidak takut karena tahu siapa Daisuke ini. Hafal sekali di luar kepala. Tapi kenapa tiba tiba seorang Kambe rela turun dari mobil mewah demi mencegat seseorang seperti dirinya.
"kau tidak mabukkan?"
。゚・ 𖥸──-ˋˏ 🐾 ˊ-──𖥸 。゚・
Sejak saat itu, jika tidak ada kasus atau pekerjaan apapun Daisuke selalu mengintili [name] kemanapun ia pergi. Tentu dengan bantuan HUESC, jika tidak bantuan itu mana bisa ia menemukan keberadaan [name] dengan cepat seperti sekarang.
'di toko kelontong arah ke barat sejauh 7 meter.'
Dengan panduan HEUSC, Daisuke dengan mudah menemui [name] yang sedang menikmati makanannya sendiri di meja yang berada di toko tersebut.
"kalau 200.000ribu yen apa bisa kau menjadi kekasihku?"
[name] terbatuk hebat karena terkejut dengan kehadiran Daisuke yang tiba tiba. Padahal ia sedang asik menyantap ramennya dengan tenang. Tangannya langsung meraih sebotol air mineral dan segera menenggaknya. Daisuke hanya menatapnya dengan diam, tapi terdapat sirat khawatir di tatapan tersebut.
"permisi tuan Kambe, bisa tidak untuk tidak mengejutkanku? Kalau aku tersedak bagaimana?!" protes [name] sedikit kesal.
"akanku bayar biaya rumah sakitmu," jawab Daisuke datar. [name] hanya menghela napasnya, orang yang berada di depannya ini selalu melakukan apapun dengan uang. Instan sekali, dipikir hidup ini indomie kali ya, instan.
"tidak begitu maksudku," ucap [name], "ah sudahlah. Jangan ganggu aku! Biarkan aku memakan ramenku!" lanjutnya sedikit memerintah.
"ramen?"
"iya ramen. Kenapa?"
"HEUSC apa itu ramen?"
'Ramen adalah masakan mi kuah Jepang yang berasal dari China. Orang Jepang juga menyebut ramen sebagai chuka soba atau shina soba karena soba atau o-soba dalam bahasa Jepang sering juga berarti mi.'
[name] menatap Daisuke dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Seakan akan tatapan itu berbicara "zaman sekarang tidak tahu apa itu ramen?! Wah kau telah melewatkan suatu mukjizat dari tuhan!" lebay, tapi begitulah bagi [name] sang pencinta ramen.
"jika kau ingin akanku belikan," ucap [name] bangkit dari duduknya dan masuk ke toko kelontong membeli semangkuk ramen untuk Daisuke.
Beberapa menit kemudian, [name] datang membawa semangkuk ramen dengan sebotol air mineral. Ia meletakan mangkuk berisi ramen tersebut kehadapan Daisuke yang menatapnya bingung.
"tidak usah membayar. Aku mendapat diskon," ucap [name] melanjutkan suapannya yang sedikit tertunda.
Dengan ragu, Daisuke memakan ramen yang di bawa [name]. Matanya berbinar ketika merasakan kuah dan mie yang kenyal tapi lezat ini. Seumur umur ia baru merasakan kenikmatan seperti ini.
[name] simpulkan bahwa yang di depannya bukan seorang pria berumur 27 tahun melainkan hanya anak laki laki berumur 10 yang terjebak di dalam tubuh pria berumur 27 tahun. Polos sekali.
。゚・ 𖥸──-ˋˏ 🐾 ˊ-──𖥸 。゚・
Suasana di kantor [name] kali ini sedikit padat karena deadline yang membuat para pekerja panik. [name] adalah seorang editor di sebuah percetakan buku terbesar di Jepang. Termasuk [name] saat ini yang sangat fokus meneliti naskah milik penulisnya.
Konsentrasinya pecah saat telepon yang berada di mejanya berbunyi. Dengan sedikit kesal ia mengangkat telepon tersebut, siapa tahu penting.
"halo dengan editor [name] disini," ucapnya.
"ini dari lobby. Ada yang ingin bertemu dengan anda. Di mohon cepat," ucap seorang perempuan dari seberang. Sedetik kemudian telepon di matikan meninggalkan [name] dengan kerutan di dahinya.
Dengan semangat yang kurang, [name] berjalan menuju lift untuk turun ke lobby. Untung saja saat ini lift tidak rusak, jadi ia tidak perlu berkeringat menuruni tangga darurat.
Sesampai di lobby, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru lobby. Irisnya membelak ketika menangkap postur tubuh yang akhir akhir ini selalu mengikutinya. Daisuke Kambe, "untuk apa dia datang kesini," gumam [name].
[name] melangkahkan kakinya menuju Daisuke yang sedang di duduk di salah satu kursi. Sebenarnya kalau Daisuke mau, ia bisa langsung menuju kantor utama [name] tanpa harus menunggu.
"ngapain?" tanya [name] ketika sampai di hadapan Daisuke.
"menjemputmu," jawab Daisuke datar.
"aku sibuk, sudah ya," ucap [name] dan berancang ancang kembali ke kantornya.
"HEUSC beli-"
"heh! Jangan beli kantorku! Awas saja kalau sampai kau beli!" ucap [name] mencegah ucapan yang akan keluar dari Daisuke.
"kenapa?" tanya Daisuke.
"kalau kau membeli perusahaan ini, sama saja aku menerima tawaranmu dong?! Aku tidak mau!" jelas [name] dengan nada kesal.
"bukankah begitu bagus? Jadi kau tidak perlu bekerja," ucap Daisuke tetap dengan nada datar.
"tuan Daisuke Kambe yang terhormat begini, aku mendapatkan kerja ini susah payah. Dan kau malah menghancurkan kerja kerasku dengan sedetik?" ucap [name], "orang seperti dirimu mana mengerti rasa kerja keras dari bawah," lanjutnya sarkas.
Daisuke tidak menjawab. Seakan akan ucapan [name] benar adanya. Ia tidak pernah merasakan apa itu kerja keras sedari bawah, ia hanya mengerti cara memakai uang.
Daisuke segera menuju pusat informasi dan berbincang dengan orang yang ada disana. Tidak lama kemudian ia kembali ke tempat [name]. Tangan [name] di tarik menuju keluar kantor.
"h-hei?! Kau dengar aku tidak sih?! Aku sibuk!" ucap [name] menahan tarikan Daisuke. Sayang seribu sayang, tenaganya tidak berbanding dengan Daisuke.
"sudahku minta izin kepada bosmu, jadi hari ini kau libur," jelas Daisuke singkat.
"oppa,"
"oppa?"
"oppantek."
。゚・ 𖥸──-ˋˏ 🐾 ˊ-──𖥸 。゚・
Tahu tidak rasanya di culik oleh Daisuke Kambe? Cobain deh rasanya ahh mantap.
[name] saat ini berada di restoran yang terbilang mewah. Didepannya ada Daisuke yang menatapnya dengan tatapan bertanya.
Jika di lihat lihat, pakaiannya yang saat ini [name] pakai tidak cocok ke restoran mewah seperti ini. Bayangkan saja, baju hitam polos di tambah sweater abu abu dengan celana jeans serta rambut yang di cepol asal. Di tambah ia hanya memakai sendal swallow buatan negara seberang. Malunya stonks.
"Pindah yuk?" ajak [name] yang tentu saja ucapannya tidak di dengar oleh Daisuke. Ia malah asik memilih makanan. Dengan jengkel [name] menendang kaki Daisuke dari bawah meja.
"kenapa?"
"kau gila? Tidak bisa melihatku? Kau mengajakku ke restoran mewah ini dengan tampilan seperti ini?! Aku seperti gembel!" bisik [name] dengan penuh penekanan.
"kamu cantik. Tidak usah di pikirkan," ucap Daisuke.
"oh terimakasih. Tapi aku tidak butuh pujianmu sekarang. Lebih baik aku makan di warung tegal," ucap [name] kesal. Ia membuang mukanya sambil bersedekap dada, seakan akan menolak makanan yang baru saja tiba di depannya.
"makan. Kamu lapar," ucap Daisuke sedikit memerintah.
[name] menyuri pandang kearah makanan yang berada di meja sekarang. Daging kualitas premium selalu menggugah seleranya.
"buka mulutmu," titah Daisuke menyuapkan satu potong daging barbeque kearah [name]. [name] hanya mengikuti ucapan Daisuke dan mengunyah dengan tenang padahal hatinya gembira, jarang jarang ia makan daging mahal seperti ini.
Pada akhirnya egonya kalah dengan sepotong daging berkualitas premium. Sembari tersenyum ia menikmati daging barbeque itu tanpa mengetahui pria di depannya menahan gemas melihat senyuman indah dari [name].
。゚・ 𖥸──-ˋˏ 🐾 ˊ-──𖥸 。゚・
Daisuke memang gila. Begitu pikir [name].
Bayangkan saja, selesai dengan restoran mahal sekarang ia malah diajak untuk membeli pakaian. Tentu saja yang bilangannya melebihi 3 digit.
Lihat dress yang melekat di tubuh [name] sekarang.

Sebuah classy lace cape sleeve short black dress melekat di tubuh [name] dengan indahnya. Surai panjang hitam miliknya yang tadi di cepol asal kini dicepol rapi. Tidak habis pikir, untuk apa Daisuke membelikannya dress ini.
Wajah [name] yang selesai di poles dengan berbagai make up kini terlihat 2 kali lipat lebih anggun dan cantik. Membuat Daisuke sedikit kehilangan kesadarannya karena tenggelam dalam pesona [name].
"maksudnya apa kamu membelikan aku semua ini?!" tanya [name] heran ketika mereka keluar dari toko tersebut.
"ada acara. Temani aku," jawab Daisuke.
"dih anji-" belum sempat menyelesaikan umpatannya, kecupan dari Daisuke menghentikan [name]. Iris hitamnya membola mencoba mencerna apa yang terjadi. Gila gila gila, Kambe benar benar gila, pikir [name].
"tidak boleh mengumpat. Dan mulai detik ini panggil aku dengan nama Daisuke," ucap Daisuke mutlak sambil membawa genggaman tangan [name] ke lengannya.
。゚・ 𖥸──-ˋˏ 🐾 ˊ-──𖥸 。゚・
Yang benar saja.
Tebak apa lagi sekarang yang di lakukan Daisuke?
Benar. Daisuke melamar [name] selesai acara malam itu selesai. Sumpah demi apapun saking terkejutnya [name] sampai tidak bisa berdiri sendiri dengan kakinya. Kakinya terasa berubah menjadi jeli.
Memang benar kalau Daisuke selalu memaksanya menjadi kekasih. Tapi tidak istri. Apalagi Daisuke melakukan dengan normal kali ini, tanpa iming iming uang. Bisa gila [name] lama lama.
"g-gimana gimana?"
"kau sudah mendengarnya tadi," ucap Daisuke. Cincin berwarna emas berada di kotak yang Daisuke pegang itu terlihat indah dengan bentuk yang unik tetapi tidak membuatnya terlihat mencolok.

Jujur, [name] memang menyukai pria yang ada di depannya. Tapi ia tidak pernah berpikir jauh jika akan dilamar seperti ini. Ia mengira Daisuke hanya memainkan dirinya seperti gadis lain.
"Daisuke, kau serius?" tanya [name] sedikit gugup.
"ya, aku serius," jawab Daisuke mutlak.
"baiklah, aku bersedia." jawab [name] dengan senyuman manis. Daisuke tersenyum kecil dan langsung memasangkan cincin tersebut ke jarimanis milik [name].
Setelahnya ia mencium lembut [name].
Sudahku katakan, Daisuke gila. Sangat tergila gila kepada [name] adik kelasnya semasa sekolah dahulu.
。゚・ 𖥸──-ˋˏ 🐾 ˊ-──𖥸 。゚・
Hehehehehehe.
Sebelum memulai ujian penilaian malam ini, aku membawakan Daisuke🤡✋✨.
Udah si segitu aja, babay.
Sugarhmhm.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top