7. Barang Peninggalan
Katharina mendukung ide Eucharistia tentang perpustakaan umum yang bisa diakses oleh seluruh penduduk. Sang pemimpin Kaum Berbakat itu bahkan secara langsung menyatakan keinginannya untuk ikut membantu dalam merencanakan konsep tata ruangan. Karena itu, walaupun ada pihak-pihak yang merasa kurang setuju, ide pembangunan perpustakaan tetap diterima. Eucharistia pun segera disibukkan dengan proyek pembangunan dan penyortiran buku.
Terlepas dari banyaknya pekerjaan yang harus ia lakukan, untuk masalah penyortiran buku, Eucharistia bersikeras turun langsung. Masalahnya, setelah pemindahan buku-buku dari Kementerian Pertahanan dan Keamanan, Eucharistia tidak akan punya alasan untuk kembali ke ruangan Penyimpanan Buku lagi. Jadi, sebelum ada pihak yang menyalahgunakan buku-buku berbahaya yang ia temukan di ruangan rahasia, Eucharistia memutuskan untuk mengeluarkan buku-buku tersebut.
Agar tidak kelihatan mencolok, Eucharistia dengan sengaja menyelipkan buku-buku berbahaya itu dengan buku-buku milik Almarhum Nenek Magda. Faenish memiliki surat wasiat yang menyatakan bahwa gadis itu mewarisi semua buku Nenek Magda, jadi Eucharistia meminta anggota kementeriannya untuk mengirimkan buku-buku tersebut kembali kepada pemilik yang sah.
Sementara itu, buku-buku hasil sitaan Kelompok Pelindung yang sudah dipastikan tidak memiliki pemilik lagi untuk sementara akan ditampung di kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sampai bangunan perpustakaan selesai dibangun.
Karena banyaknya buku yang harus diurus, badan Eucharistia rasanya nyaris roboh saat proses pemindahan buku itu akhirnya selesai. Meski begitu, Eucharistia tetap memaksakan diri untuk berteleportasi ke rumah Faenish. Clarine yakin Faenish akan terkejut dengan kirimannya. Terutama saat gadis itu menyadari beberapa buku terlarang serta benda aneh yang terselip di sana.
Benar saja, begitu Clarine berada di perpustakaan Faenish, ia mendapati gadis itu tengah menunggu. Faenish bahkan menyambut Clarine dengan begitu gembira.
"Terima kasih banyak," seru Faenish dengan tatapan takjub. "Aku tidak pernah menyangka buku-buku Nenek Magda bisa kembali."
"Tidak perlu berterima kasih, kami memang tidak berhak mengambil buku-buku yang masih memiliki pemilik sah," jawab Clarine. "Justru aku yang perlu berterima kasih karena kau memberikanku alasan untuk mengamankan beberapa hal."
Faenish mengangguk paham. "Sebelum membahas tentang barang-barang yang kau kirim. Aku perlu memberimu sesuatu. Tunggu sebentar."
Faenish berjalan menghampiri meja dan mengambil sebuah tas karton. Ia lalu menyodorkan tas itu ke arah Clarine. "Mulai sekarang aku akan membantu dengan membuatkanmu ramuan Penambah Energi secara rutin."
"Tidak perlu repot-repot membuatkanku ramuan," tolak Clarine.
Faenish tersenyum. "Ini adalah ide Zoenoel dan dia agak memaksa agar kau meminumnya. Aktifitasmu sehari-hari terlalu padat, sekarang pun kau sudah terlihat membutuhkan ramuan ini. Minumlah sedikit, kau akan merasa baikan."
Kali ini Clarine tidak menolak. Saat Faenish menyodorkan segelas kecil ramuan Penambah Energi, Clarine langsung menerima dan meneguk ramuan itu tanpa banyak berpikir. Pikirannya sudah terlalu sibuk dengan informasi tentang perhatian Zoenoel.
Dalam beberapa detik, Clarine merasa tubuhnya lebih nyaman. "Kau benar. Aku membutuhkan ini," ujar Clarine jujur. Tubuhnya sekarang tidak lagi menuntut untuk diistirahatkan. Clarine bahkan merasa sanggup jika ia diminta mengulang pekerjaannya seharian tadi.
Faenish tersenyum semakin lebar. "Aku dengan senang hati membuatkannya untukmu. Ah, kembali ke masalah barang-barang yang kau kirimkan. Apa kau mau mengambilnya sekarang?"
"Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu untuk menyimpan barang-barang terlarang itu." Clarine pun mulai menceritakan kronologi saat ia menemukan ruangan rahasia di tempat penyimpanan Kelompok Pelindung. "Jadi bisakah kau menyimpannya?"
"Tentu saja," jawab Faenish. "Aku akan menyimpannya di ruang penyimpanan Nenek Magda. Kalau kau membutuhkannya, kau tahu di mana mencari portalnya bukan?"
Clarine mengangguk. "Terima kasih."
"Sebelum kau kembali untuk beristirahat. Bisakah kita membicarakan tentang tarian Touwangker? Siapa tahu kau mungkin akan mendapatkan ide lainnya."
"Touwangker? Ide lain?" Clarine tak begitu mengerti maksud Faenish.
"Aku yakin ide soal festival yang diusulkan Valaria, berasal darimu, apa aku salah?"
"Aku hanya mencoba membantunya. Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kita membahas tentang festival beberapa hari lalu, dan setahuku Valaria tidak begitu menyukai sejarah. Jadi, aku harap kau juga mendapat ide dengan tarian Touwangker."
Clarine tersenyum singkat. "Benar juga. Kalau begitu, apa itu tarian Touwangker?"
"Tarian ini adalah tarian daerah yang menceritakan tentang kisah cinta seorang pemuda Kaum Berbakat dengan seorang gadis dari Kaum Nonberbakat," jelas Faenish. "Si pemuda menggunakan bakatnya untuk menarik perhatian, atau lebih tepatnya memaksa si gadis yang sama sekali tidak memiliki perasaan padanya."
"Tarian daerah?" Clarine berpikir sebentar. "Apa kau bermaksud untuk mengajak Ryn berpartisipasi dalam festival nanti?"
Faenish tersenyum. "Kau cepat menangkap maksudku Clarine. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin membuka kesempatan bagi Ryn untuk menunjukkan kemampuannya. Siapa tahu ia bisa diundang langsung ke grup Element seperti impiannya."
"Ide yang sangat bagus Faenish. Namun, kita harus bertanya kepada Valaria, dialah yang mengurus acara festival, dan kita juga harus mengkonfirmasi apakah Ryn bersedia melakukan ini?"
"Aku setuju." Terdengar seruan bersemangat Ryn dari arah pintu perpustakaan. Saat Clarine serta Faenish memandang ke sumber suara, mereka dapat melihat sosok Ryn yang berjalan mendekat dengan melompat-lompat girang. "Maaf aku tidak bermaksud menguping, Drina memintaku untuk memanggil kalian berkumpul."
"Ada apa?" tanya Faenish.
"Pak Razor dibebaskan," seru Ryn. "Dengan adanya peraturan baru soal Kaum Berbakat yang akan menujukan diri kepada publik, hukuman Pak Razor dianggap tidak relefan lagi. Di sisi lain, meski usaha kita untuk membebaskannya gagal, Pak Razor sepertinya tetap merasa berterima kasih. Jadi, malam ini kita semua diundang makan di tempatnya."
***
Saat Clarine, Faenish, dan Ryn tiba di tempat yang dijanjikan, mereka mendapati Drina, Maery, dan Valaria sudah menunggu.
"Mana Dazt dan Zoenoel?" tanya Ryn.
"Aku tak tahu soal Zoenoel, tetapi tadi aku melihat Dazt dan Queena keluar," jawab Maery sebelum balas bertanya. "Kalau Kak Ezer?"
"Dia sedang tidak enak badan," jawab Faenish.
"Sepertinya para lelaki tidak tertarik dengan undangan makan malam. Tidak ada lagi yang perlu ditunggu, ayo pergi," seru Ryn. "Aku penasaran seperti apa kediaman Pak Razor. Menurutku dia pasti mendekorasi rumahnya dengan ramuan, dia kan tergila-gila dengan hal seperti itu."
Sayangnya semangat Ryn tidak bertahan lama. Begitu mereka sampai di depan sebuah rumah tua, Ryn langsung memeluk lengan Faenish. Tidak hanya Ryn, bahkan Clarine pun sedikit bergidik melihat rumah itu. Jika saja bulan tidak bersinar cukup terang malam ini, ia ragu bisa melihat keberadaan rumah yang tampak tidak memiliki pencahayaan sama sekali.
"Kalian yakin rumah ini masih ditempati? Ini lebih terlihat seperti rumah hantu." Ryn mengeratkan pelukannya pada lengan Faenish saat mereka berjalan semakin mendekat.
"Kurasa almarhum Pak Raizer memiliki selerah rumah yang sama dengan istrinya," gumam Maery.
"Atau almarhum nenek Magda mempengaruhi suami mudanya itu dalam mendekorasi rumah," sambung Ryn.
"Pak Krav?" seru Valaria bingung karena bukannya Pak Razor yang membukakan pintu depan, mereka justru mendapati sosok Pak Krav.
"Ini semakin seram saja," bisik Ryn gemetaran.
"Silahkan masuk," ucap Pak Krav. Ia mengabaikan segala macam respons terhadap kehadiran serta suaranya yang terdengar menyeramkan. Dalam diam, Pak Krav menunggu hingga semua tamunya masuk kemudian ia menutup pintu.
Hanya ada sebatang lilin di atas meja yang menjadi sumber pencahayaan di dalam ruang tamu tempat mereka berada sekarang. Akibatnya, terbentuk bayangan-bayangan yang memanjang di dinding dan tampak begitu mengintimidasi.
Sebelum ada yang bisa mengajukan pertanyaan, Pak Krav mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang cukup besar dan segera meratakannya di dinding. Pada permukaan kertas tampak gambaran sebuah bangunan yang persis dengan rumah yang sekarang ditempati Faenish, hanya dengan latar yang berbeda.
Rumah dalam gambar itu dikelilingi oleh padang rumput dan tampak danau luas di belakangnya. Anehnya, gambar itu tidak hanya terlihat bergerak, bahkan Clarine bisa merasakan embusan angin yang menggoyangkan rerumputan pendek dalam gambar.
"Silahkan." Pak Krav memberi isyarat, mempersilahkan mereka untuk masuk melewati permukaan gulungan kertas.
"WOW, jangan bilang itu Portal Portabel? Itu benar-benar bisa dibuat?" seru Maery takjub, ia segera melangkah mendekat dan menjadi orang pertama yang memasuki Portal. Drina dan yang lainnya segera menyusul di belakang Maery.
"Astaga, kenapa hari ini kita keluar masuk rumah hantu," gerutu Ryn saat mengikuti di belakang Faenish.
Begitu melewati Portal, mereka benar-benar tiba di tempat yang sesuai dengan gambaran pada lukisan sebelumnya. Aroma makanan bahkan tercium saat angin berembus dari arah rumah.
"Di mana kita? Aku tidak tahu ada danau di pulau ini selain danau Ly," ujar Maery.
"Ini dimensi buatan," jawab Drina seraya mengamati sekeliling.
"Jadi pemandangan danau dan gunung-gunung ini hanya hiasan?" Maery memastikan.
"Tidak juga, semua yang kau lihat adalah nyata. Kau bisa pergi mendaki gunung ataupun berenang di danau." Suara Pak Krav tiba-tiba terdengar dari belakang hingga membuat Ryn menjerit kaget.
"Nyata?" seru Maery takjub. "Maksudnya Pak Razor membuat dimensi buatan yang cukup besar untuk menampung beberapa gunung dan sebuah danau?"
"Lebih tepatnya, satu pulau besar," ujar Pak Krav.
"PULAU?" Ryn kembali histeris. "Berapa banyak ramuan yang dihabiskan? Paling tidak dibutuhkan ramuan sebanyak ratusan kali isi danau ini."
"Sebanyak yang dibutuhkan. Namun, kita tidak di sini untuk membicarakan hal itu. Mohon percepat langkah kalian." Pak Krav berjalan mendahului dan segera memasuki rumah.
"Dia bercanda bukan" tanya Ryn dalam bisikan.
"Aku ragu seorang Pak Krav bisa bercanda," gumam Faenish.
"ASTAGA," pekik Ryn seraya meremas lengan Faenish. Pandangannya tertuju pada seekor anjing yang berbaring di dekat pintu masuk. "Apa itu sejenis Zombie?"
"Apa dia sakit?" Valaria menimpali dengan iba. Penampilan si anjing memang tampak mengerikan karena hanya seperti kulit yang membungkus tulang. Mereka bahkan dapat mendengar suara nafasnya yang berat. "Kenapa ia ditempatkan di sini?"
"Jika kau memindahkannya, dia akan merangkak kembali ke sini," jawab Pak Krav tak sabar. Ia kembali menghampiri para tamu, menunggu mereka untuk segera menuju ruang makan.
"Apa dia sedang menunggu kedatangan seseorang?"
Seakan menjawab pertanyaan Maery, si anjing menggerakkan kepala dengan susah payah dan mengendus-endus udara di sekitarnya. Penglihatan si anjing tampak sudah tidak baik karena ia seakan kehilangan arah saat merangkak keluar dari keranjang tidurnya.
Keempat kaki si anjing tampak gemetaran dan seakan tak cukup kuat untuk menahan bobot tubuhnya. Namun ia terus bergerak maju hingga berhenti tepat di kaki Clarine. Satu gonggongan lemah keluar dari mulutnya.
Clarine merasa iba, tetapi sebuah sensasi dingin yang sudah dikenalnya membuat Clarine bingung. Terutama karena sensasi itu datang dari arah si anjing. "Anda membuat portal di dalam tubuhnya?" tukas Clarine kepada Pak Razor.
"Itu mustahil," sanggah Drina. "Manusia ataupun hewan yang pada permukaan tubuhnya dibuat portal, tidak akan bertahan hidup lebih dari satu hari."
"Bagaimana kalau kita coba lihat apa yang ada di balik portal?" usul Maery.
"Dengan kondisi fisiknya, besar kemungkinan anjing ini akan mati begitu gambar segel dimulai." Drina tampak tidak begitu setuju dengan Maery.
"Jaga adalah peliharaan almarhum neneknya Clarine. Dia tidak akan mati semudah itu," celetuk Pak Krav.
"Peliharaan Nenek Agnes?" tanya Maery. "Memangnya berapa usia si Jaga ini?"
"Dua puluh tujuh," jawab Pak Krav
"Setua itu dan belum juga mati?" seru Ryn horor.
"Tampaknya seseorang menggunakan Segel Tugas Terakhir padanya." Faenish mengamati gerak-gerik Jaga. "Anjing ini akan terikat dengan dunia hingga ia menyelesaikan suatu tugas terakhir yang diberikan padanya. Itu salah satu segel pengikat di Kitab Segel milik nenek Magda."
Clarine jadi semakin penasaran. Ia pun melirik pak Krav untuk meminta izin. Namun belum sempat mengucapkan apapun, Pak Krav sudah mengangguk. Tanpa menunggu lagi, Clarine segera berjongkok untuk membuka portal di perut kiri si anjing yang bernama Jaga.
Seakan tahu apa yang hendak dilakukan Clarine, Jaga memiringkan kepala dan menjilati wajah Clarine sekali. Anjing itu kemudian membaringkan dirinya dan menggonggong satu kali.
Clarine menyempatkan diri untuk membelai Jaga sebelum mulai membuat segel. Si anjing tampak menikmati dan tetap tenang. Sekilas, Jaga terlihat sedang tertidur lelap; tak ada tanda-tanda kesakitan.
Begitu segel diaktifkan, tidak terjadi perubahan berarti pada kondisi Jaga. Clarine pun mengulurkan tangan untuk melewati portal.
Di sisi lain portal, terdapat area seluas laci meja dan dari sana Clarine mengeluarkan beberapa buku tua serta beberapa botol cairan ingatan. Salah satu buku di antaranya langsung dikenali Clarine karena mirip dengan jurnal Nenek Agnes yang dulu diberikan Glassina.
"Itu adalah jurnal asli Nyonya Agnes," ujar Pak Krav. "Jurnal yang pernah diambil keluarga Woranz adalah duplikat yang tidak lengkap."
Pak Krav berjalan mendekati Clarine, atau lebih tepatnya mendekati Jaga. Ia kemudian membungkuk dan membelai tubuh Jaga, yang entah sejak kapan sudah tidak bergerak lagi. "Seharusnya aku membawamu lebih cepat." Pak Krav mulai meracau dengan sendu.
"Apa dia sudah mati?" tanya Maery.
"Syukurlah, dia sudah tidak bergerak lagi, benar-benar menyeramkan melihat makhluk itu bergerak seperti tadi," sambung Ryn.
"Aku akan pergi menguburkannya." Pak Krav bangkit berdiri dengan menggendong tubuh kaku Jaga.
"Bisakah aku ikut?" tanya Clarine spontan.
"Aku ju—"
Maery tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Pak Krav sudah lebih dahulu berkata dengan suara tegas, "Kalian sebaiknya segera menuju ruang makan sebelum hidangannya dingin. Aku dan Clarine orang sudah lebih dari cukup untuk menguburkan seekor anjing."
***
"Anda ingin menguburkan anjing ini di sini?" tanya Clarine bingung.
Pak Krav membawa tubuh Jaga ke depan pagar rumah Clarine dan pria itu mulai menggali lubang di sana.
"Amanat dari nenekmu." Pak Krav menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari galian tanah.
Clarine tak punya keberanian lagi untuk protes, ia justru bertanya, "Kenapa Jaga ada di rumah Pak Razor? Maksudku, apa hubungan Nenek Agnes dengan Pak Razor?"
"Jaga diwariskan padaku dan aku tinggal di rumah Pak Raizer."
"Apa mungkin kemampuan Anda dalam melihat dan memodifikasi ingatan adalah hasil karya Nenek Agnes?"
Kali ini Pak Krav hanya bergumam sebagai jawaban.
"Apa itu alasan Anda mengubah ingatan kedua orang tua saya? Karena Anda mengenal Nenek Agnes?"
Pak Krav kembali bergumam.
"Lalu jika jurnal Nenek Agnes yang ada pada keluarga Woranz hanyalah duplikat yang kurang lengkap, apa ada kemungkinan informasi di dalam jurnal itu salah?"
Clarine berharap Pak Krav akan kembali bergumam, mengiyakan. Namun harapannya tidak terkabul. Pak Krav justru berkata, "Baca saja sendiri."
Clarine terdiam. Jangankan berniat membaca jurnal asli Nenek Agnes, membaca isi jurnal yang diberikan Glassina saja sudah membuatnya ingin muntah. Clarine bahkan belum membaca banyak dan sama sekali tidak berniat melanjutkan bacaannya itu.
"Nyonya Agnes memiliki kebiasaan untuk menyimpan pengetahuan tertentu bagi dirinya sendiri," ucap Pak Krav tiba-tiba begitu ia selesai menguburkan Jaga. "Bahkan dari sahabatnya, Fransisca, Nyonya Agnes menyimpan banyak rahasia. Setiap membuat jurnal, Nyonya Agnes sengaja membuat satu salinan yang kurang mendetail untuk dibaca orang lain. Sementara ia menyembunyikan jurnal yang sebenarnya."
Pak Krav kemudian menyerahkan sebuah bungkusan kepada Clarine. Dalam bungkusan itu terdapat buku-buku serta cairan ingatan yang sebelumnya disimpan dalam perut Jaga.
"Ini milikmu sekarang." Setelah mengucapkan itu, Pak Krav langsung melangkah pergi tanpa penjelasan lebih lanjut.
Sejak kepergian Pak Krav, kepala Clarine dipenuhi dengan berbagai pemikiran. Berulang kali Clarine bimbang dengan keputusannya, tetapi pada akhirnya ia menyerah pada rasa penasaran dan memutuskan untuk membaca beberapa buku peninggalan Nenek Agnes.
Buku pertama yang dibuka Clarine adalah buku berjudul Draf Segel. Tebal buku tersebut nyaris menyaingi sebuah kamus besar. Namun ajaibnya, semua tulisan dan gambar-gambar dalam buku tersebut adalah tulisan tangan nenek Agnes. Buku tersebut berisi berbagai gambar segel serta penjelasannya. Hanya saja, Clarine tak mengenali satu pun gambar segel di sana.
Pegal menahan bobot buku yang berat, Clarine akhirnya meletakan buku itu, lalu meraih buku lain berjudul Garis Keturunan Khusus. Kali ini, isi buku terbagi dalam dua bab yang masing-masing terdiri dari beberapa garis keturunan. Pada Bab pertama dibahas empat garis keturunan utama yaitu: keluarga Amamesa, Adenga, Arepi, serta keluarga Asepang yang sudah pernah di singgung Faenish dengan cerita Empat Pemimpin Tersembunyi.
Bab kedua, diberi judul Keluarga Baru dan garis keturunan pertama yang dibahas pada bab ini adalah Keluarga Woranz. Clarine harus membaca berulang kali untuk memastikan dirinya tidak salah sebelum ia buru-buru mencari halaman yang tertera pada daftar isi.
Clarine pun menemukan halaman berisi:
Keluarga Woranz
Keturunan Feodora Woranz
Feodora Woranz adalah anak seorang bangsawan dari negeri asing yang datang dalam masa penjajahan. Tak ada catatan pasti bagaimana ia mendapatkan Kitab Segel, yang jelas ia mengancam beberapa penduduk asli untuk menerjemahkan bahasa daerah lama dalam kitab tersebut.
Dengan beberapa segel yang ia dapatkan dari Kitab Segel, Feodora memastikan setiap gadis dalam garis utama keturunannya akan memiliki bakat yang harusnya hanya bisa dimiliki oleh penduduk pribumi.
Ritual Tukar darah menjadi hal wajib bagi setiap anak gadis pertama dalam keturunan keluarga ini. Sementara itu, anak lelaki tidak menjalankan ritual karena daya tahan tubuh mereka tidak cukup kuat untuk menahan efek samping penyesuaian pasca ritual. Ritual ini dijalankan dalam dua tahap, pertama saat anak perempuan tersebut baru lahir, dan sebelum ia genap berusia enam belas tahun.
Setelah melewati Ritual tukar Darah tahap kedua, setiap gadis keturunan Feodeora Woranz akan memiliki kemampuan dalam memasuki pikiran seseorang yang sedang tidak fokus.
Keterangan selanjutnya mulai membahas tentang detail Ritual Tukar Darah, Clarine segera membalik beberapa halaman sekaligus.
Sebuah gambaran simbol yang tampak tak asing membuat Clarine berhenti membalik halaman. Simbol yang ada di halaman buku itu agak mirip dengan simbol di tangan Clarine. Di bawah simbol itu, terdapat keterangan bahwa setiap keluarga Woranz yang telah melaksanakan ritual Tukar Darah tahap kedua akan memiliki tanda tersebut di atas jantungnya.
Selanjutnya garis keturunan yang dibahas adalah Tangan Bayangan yang merupakan garis keturunan Zico Rewa. Sebagian besar informasi tentang keluarga ini sudah diketahui Clarine dari cerita Faenish. Jadi Clarine kembali membalik halaman-halaman dengan cepat hingga ia menemukan garis keturunan selanjutnya.
Kali ini, Clarine melotot ngeri saat melihat huruf-huruf tebal yang menuliskan: Keturunan Zevania Clarine Hanna Kereh. Rasa penasaran mendorong Clarine untuk membaca beberapa keterangan di bawah tulisan namanya.
Clarine menjalani ritual Rekonstruksi yang merupakan hasil modifikasi dari Ritual Tukar Darah dalam keluarga Woranz. Ritual Rekonstruksi ini tidak hanya menjadikan Clarine berbakat, ritual tersebut juga menjamin setiap keturunan Clarine akan selalu berbakat tanpa harus melakukan ritual lainnya.
Dalam ritual. digunakan darah keturunan keluarga Amamesa dan keluarga Arepi sehingga Clarine berserta keturunannya bisa memiliki kemampuan mendeteksi bakat serta kemampuan mengaktifkan segel dari pikiran.
Di halaman selanjutnya terdapat sebuah gambaran simbol yang sama persis dengan tanda lahir di tangan Clarine lalu lembaran-lembaran sisanya dibiarkan kosong.
Clarine segera mengakhiri kegiatan membacanya dan kembali menyimpan buku-buku Nenek Agnes. Selama beberapa jam kemudian, Clarine hanya berbaring dan sibuk dengan berbagai pemikiran. Ia bahkan tidak begitu memperhatikan keanehan dalam sikap Zoenoel yang datang lewat tengah malam.
"Katanya kau menemukan buku-buku peninggalan Agnes, apa kau sudah membaca jurnalnya?" tanya Zoenoel kaku, langkah kakinya berhenti, seakan ragu untuk berjalan mendekat.
"Aku hanya membaca tiga buku tentang segel." Clarine tidak menjelaskan lebih lanjut, ia merasa belum siap untuk membicarakan apapun.
Zoenoel pun tidak bertanya, pemuda itu hanya berjalan mendekat dan berbaring di samping Clarine.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top