6. Markas Kaum Pelindung
Seorang wanita dengan setelan rapi langsung berjalan mendekat begitu melihat Eucharistia melangkah ke luar dari ruangan kelas Duel. "Ibu Eucharistia, saya sudah menunggu Anda."
"Maaf. Kalau boleh saya tahu, Anda siapa?" Eucharistia balas bertanya.
"Ah, perkenalkan saya Telly." Wanita itu mengusapkan telapak tangan, seakan membersikan sesuatu sebelum mengulurkannya ke arah Eucharistia. Senyuman yang begitu lebar terlukis di wajahnya. "Saya adalah anggota baru dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan mempertimbangkan kesibukan Anda, maka saya telah ditugaskan sebagai asisten pribadi Anda. Saya benar-benar mengagumi Anda. Adalah suatu kehormatan bisa bekerja bersama Anda. Mohon bimbingannya."
"Asisten pribadi?" Kening Eucharistia berkerut bingung. "Saya tidak mendengar ada posisi seperti itu sebelumnya."
"Di kementerian lain memang tidak ada, tetapi bukankah kementerian kita spesial karena ada orang hebat seperti Anda sebagai pemimpinnya."
Eucharistia tidak begitu menyukai orang yang terlalu melebih-lebihkan, tetapi ia sebisa mungkin bersikap profesional. "Anda terlalu berlebihan."
"Tentu saja tidak berlebihan, Anda benar-benar pribadi yang sangat hebat. Ah, maaf saya hampir lupa, kedatangan saya ke sini adalah untuk menemani Anda ke gudang penyimpanan di markas Kelompok Pelindung. Hal ini terkait dengan buku-buku yang pernah disita Kelompok Pelindung. Semua buku itu sekarang adalah tanggung jawab kementerian kita. Jadi apa kita berangkat sekarang, atau Anda masih harus melakukan sesuatu?"
"Kita bisa pergi sekarang," jawab Eucharistia.
"Bagus sekali," seru Telly. "Portal terdekat ada di salah satu pohon tak jauh dari gerbang sekolah, izinkan saya memandu Anda."
"Tidak perlu bersikap terlalu formal seperti itu, panggil saja saya Eucharistia. Siapa tahu kita bisa menjadi lebih akrab."
"Oh, Anda memang baik hati. Namun, mana mungkin saya menyapa seorang yang sangat hebat seperti Anda dengan tidak sopan, maaf saya tidak berani."
"Baiklah, terserah padamu."
"Terima kasih atas pengertiannya."
Telly kemudian memandu Eucharistia menyusuri area pepohonan di dekat gerbang sekolah. Di area itu, bukannya memandang jalan, Telly justru mendongak dan memperhatikan dedaunan. "Sebentar, seharusnya portal itu ada di sekitar sini. Kita hanya perlu mencari sehelai daun merah."
Clarine tak bisa menemukan daun merah yang dimaksud Telly di antara jutaan daun yang melingkupi mereka. Namun Clarine bisa merasakan sensasi getaran dari arah kiri.
"Mungkin kita sebaiknya berjalan ke sana." Eucharistia menunjuk ke arah salah satu pohon.
"Ah, Anda menemukannya. Mata Anda jeli sekali. Sebentar, saya akan menyibakkan Tirai Satu Arah-nya." Telly menggambar segel dan mengarahkannya ke pohon yang di tunjuk Eucharistia. Detik selanjutnya, sebagian pemandangan di sekitar pohon tersebut tampak melipat diri layaknya gambar pada gorden yang disingkapkan. Sekarang di hadapan mereka tampak sebuah ruangan penuh cermin yang sama sekali tidak sesuai dengan pemandangan hutan di sekelilingnya.
"Saya menyukai tempat ini. Mereka seakan meminta kita merapikan diri sebelum bertemu." Sambil memperhatikan pantulannya, Telly melangkah memasuki ruangan cermin. Ia bahkan sedikit berputar untuk melihat keadaan pakaiannya. "Ah maaf, saya agak lemah terhadap cermin."
Eucharistia tersenyum memaklumi seraya ikut melangkah masuk.
"Sebentar, saya perlu mencari sebuah tombol. Seharusnya ada di sekitar sini." Telly menundukan badan untuk meraba-raba area tepian cermin di bagian bawah. "Ini dia," seru Telly seraya menggeser sedikit permukaan cermin di bawah jarinya. Tampaklah sebuah celah kecil dengan tombol merah di dalam. "Kelompok Pelindung menggabungkan teknologi dan penggunaan bakat dalam markas mereka, bukankah itu unik?"
"Ya." Eucharistia sependapat.
Begitu tombol merah ditekan, sebuah cermin bergaya kuno bergerak turun dari langit-langit dan Eucharistia bisa merasakan sensasi keberadaan portal di sana. Ia jadi teringat akan portal di kamar Dazt. Sepertinya Telly bukan satu-satunya orang yang lemah terhadap cermin, Queena tampaknya jauh lebih tergila-gila dengan benda itu.
Telly kembali membuat segel pembuka portal dan mereka pun melangkah melewati permukaan cermin kuno. Kali ini mereka keluar di sebuah jalan bercabang yang diapit oleh dua dinding tanaman setinggi empat meter. Tampaknya Eucharistia dan Telly sekarang berada dalam labirin tanaman.
Hanya saja, terdapat sebuah layar besar yang menggantung di antara dedaunan dan ranting, tepat di depan mereka. Eucharistia menajdi kurang yakin kalau mereka berada di labirin yang normal.
Seorang gadis tiba-tiba muncul pada layar dan menyapa mereka. "Selamat datang di Kementerian Pertahanan dan Keamanan. Mohon menyebutkan identitas dan keperluan Anda di sini."
"Eucharistia Poluan bersama Telly Sambuaga, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kami hendak melihat ruang penyimpanan buku," ucap Telly dengan nada kelewat formal.
"Terima kasih," ujar si gadis. "Data Anda telah diterima, silahkan mengikuti karpet merah untuk menuju ruang penyimpanan buku. Semoga hari Anda menyenangkan."
Bersamaan dengan hilangnya gambaran gadis di layar, sebuah gulungan karpet merah muncul di sebelah kiri mereka. Detik selanjutnya, seakan ada tangan tak terlihat yang mendorong, gulungan itu mulai berputar dan membentangkan karpet merah di jalan untuk dilewati Eucharistia dan Telly.
Gulungan itu terus berputar dan memilih sendiri salah satu dari jalan yang bercabang-cabang dalam labirin. Hingga akhirnya, gulungan itu habis tepat di depan sebuah pintu yang tampak janggal karena menempel di dinding tanaman.
Papan nama yang juga nyaris ditelan sulur-sulur tanaman di samping pintu, menyatakan bahwa inilah ruangan yang mereka tuju, Ruang Penyimpanan Buku.
Telly dengan sigap membukakan pintu bagi Eucharistia dan mempersilahkan Eucharistia untuk masuk.
"Astaga di mana kita akan meletakan semua ini nanti?" seru Telly saat ia ikut masuk dan melihat barisan demi barisan lemari buku yang memenuhi ruangan. Paling tidak ada puluhan lemari di sana. "Perpustakaan akademi harus dirombak besar-besaran jika kita berniat memindahkan semua ini ke sana."
"Sepertinya kita perlu membuat perpustakaan baru," usul Eucharistia.
"Anda benar. Saya akan menyiapkan ramuan-ramuan yang diperlukan serta menemui Pak Krav untuk meminta izin membuat perpustakaan tambahan di akademi."
"Kurasa kita tidak perlu membuatnya di akademi," sangga Eucharistia. "Aku ingin membangun perpustakaan tersebut di tempat yang bisa diakses oleh semua warga."
"Semuanya?" pekik Telly. "Maksud Anda termasuk Kaum Nonberbakat?"
"Tentu saja. Saya ingin membuat perpustakaan umum. Namun, itu jika kita mendapat kata sepakat bersama anggota kementerian yang lain."
Sekilas ekspresi horor terlintas di wajah Telly, tetapi dengan segera senyuman merekah di wajahnya saat ia berkata, "Anda memang penuh dengan ide brilian. Saya benar-benar senang bisa bekerja di bawah pengawasan Anda."
Eucharistia cukup kesulitan menahan diri saat melihat Telly yang memuji idenya padahal wanita itu jelas sekali tidak menyukai ide tersebut. Pengalaman hidup bersama pengusaha seperti ayahnya, memberikan Clarine dampak buruk tersendiri. Ia tidak pernah nyaman dengan tipe orang penjilat. Jadi tak heran jika saat ini Eucharistia memiliki keinginan besar untuk berjalan menjauh dari Telly, dan Eucharistia melakukannya.
Seakan sedang mengamati buku-buku yang ada, Eucharistia mulai membuat jarak di antara mereka. Sayangnya, Telly tampak tidak ingin melepaskan Eucharistia. Wanita itu selalu saja menempel di dekat Eucharistia.
Saat Eucharistia hampir di ambang batas kesabaran, perhatiannya tiba-tiba teralihkan oleh sensasi dingin tanda keberadaan portal. Eucharistia segera berkosentrasi untuk mengetahui letak pasti portal tersebut dan ia menemukannya di salah satu permukaan lemari buku. Dari posisinya yang tersembunyi, jelas portal tersebut tidak diperuntukan bagi umum.
"Telly," panggil Eucharistia. "Bukankah kau sebelumnya mengatakan bahwa ini adalah markas Kelompok Pelindung. Kenapa wanita tadi berkata bahwa ini adalah Kementerian Pertahanan dan Keamanan?"
"Ada beberapa hal yang tidak bisa dipindahkan dari tempat ini," jelas Telly bersemangat. "Contohnya portal-portal kaca yang digunakan sebagai Cermin Pengawas serta monitor pendeteksi bakat. Karena itu, telah diputuskan bahwa tempat ini diambil alih oleh Kementerian Pertahanan dan Keamanan. Itulah kenapa kita harus segera memindahkan buku-buku ini."
"Karena kita sudah di sini, apakah kita bisa sekalian melihat Cermin-cermin Pengawas dan monitor yang kau bicarakan?" tanya Eucharistia.
"Er—saya ragu hal itu bisa dilakukan, tetapi saya akan menanyakannya. Mohon tunggu sebentar."
Begitu Telly menghilang di balik pintu, Eucharistia segera berjalan mendekati sumber getaran dan membuat segel pembuka portal. Eucharistia juga membuat sebuah segel perlindungan sebagai langkah pencegahan jika terdapat jebakan saat ia melangkah masuk.
Ruangan di balik portal adalah sebuah ruang baca yang seakan dibangun di bawah air terjun. Keempat permukaan dindingnya dialiri air yang cukup deras. Meski begitu, benda-benda yang menempel di dinding seakan tidak terpengaruh. Lukisan-lukisan, kubus-kubus kaca berisi buku melayang, sofa serta perabotan lain tetap pada tempatnya tanpa tergeser seinci pun. Bahkan sebuah lampu yang menempel di dinding tampak bersinar dengan tenang di antara buih-buih.
Kontras dengan kondisi dinding, lantai di ruangan itu justru kering. Setiap tetes air yang menyentuh lantai langsung berubah menjadi kabut putih yang tak pernah naik lebih dari satu jengkal dari lantai. Jadi Eucharistia tidak perlu khawatir dirinya akan basah kuyup.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja yang nyaris kosong. Hanya ada dua buku yang dibiarkan terbuka di atasnya. Karena penasaran, Eucharistia berjalan mendekat.
Begitu melihat gambar segel Pertukaran Darah pada halaman salah satu buku, Eucharistia langsung teringat pada buku yang dulu pernah diberikan Katharina padanya. Buku yang seharusnya sudah dimusnakan pada persidangan Glassina.
Eucharistia membalik beberapa halaman buku, dan seperti dugaannya, ia menemukan cap keluarga Woranz tertera di belakang sampul. Sepertinya itu memang buku yang sama. Kalau dipikir-pikir lagi, Eucharistia juga tidak yakin apakah segel yang dibuat Ketua Kelompok Pelindung saat itu adalah segel pemusnah atau justru segel pemindah tempat yang sudah diberi efek khusus sehingga perpindahannya terjadi perlahan.
Di samping buku Katharina, terdapat buku lain yang hampir sama dengan buku itu. Bedanya, tidak ada gambar maupun penjelasan segel Pertukaran Darah. Pada halaman yang sama pada buku tersebut justru berisi penjelasan tentang Ramuan Mata Perekam.
Tampaknya Katharina sudah ketahuan memalsukan isi buku yang dibawanya ke persidangan. Hanya saja, jika sudah ada yang tahu keganjalan dalam buku itu, kenapa kelompok pelindung tidak melakukan tindak lanjut? Mungkinkah mereka bersekongkol dengan Katharina? atau mereka sedang menyelidiki dengan diam-diam, mengingat keberadaan ruangan ini sendiri tampak rahasia.
Dengan semua pertanyaan yang bermunculan di kepalanya, Eucharistia ingin mengeksplorasi lebih jauh. Masalahnya, ia tidak memiliki banyak waktu untuk saat ini. Jadi dengan terpaksa, Eucharistia melangkah ke luar dari ruangan itu.
"Ibu Eucharistia." Terdengar teriakan Telly begitu Eucharistia kembali. Telly jelas sedang mencari-cari dirinya, jadi Eucharistia segera menghampiri wanita itu.
"Akhirnya saya menemukan Anda," ucap Telly dengan nafas memburu. "Saya sudah mendapatkan izin. Kita bisa melihat Ruang Monitor dan Pengawasan."
***
Sekali lagi, Eucharistia dan Telly mengikuti arah perputaran karpet merah yang terlihat kontras dengan dinding hijau di sekeliling mereka. Sepanjang perjalanan yang cukup berputar-putar, mereka tidak mendapati satu pintu pun yang berada di dinding. Hingga akhirnya mereka memasuki area labirin yang berbentuk lingkaran dengan jari-jari sekitar 6 meter.
Di tengah area itu nampak jembatan melengkung dengan sebuah pintu di atasnya. Pintu tersebut berdiri tegak tanpa ada penyangga dan di sanalah karpet merah yang memandu mereka berakhir.
Langkah Telly langsung terhenti begitu ia menyadari keberadaan tanaman raksasa yang menghiasi dinding di area melingkar. Eucharistia juga terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap Telly yang kini tampak pucat.
Eucharistia memaklumi ekspresi horor yang tergambar jelas di wajah Telly karena sepasang daun merah pada setiap tanaman di depan mereka sanggup untuk menampung dua manusia dewasa sekaligus. Masalahnya, tanaman itu adalah tanaman karnifora yang dikenal dengan nama Dionaea Muscipula dalam ukuran jauh di atas normal.
Eucharistia bisa saja berteleportasi langsung ke pintu di ujung karpet merah, jadi ia tidak begitu khawatir dengan keberadaan tanaman di sekelilingnya, lain halnya dengan Telly. Eucharistia tidak yakin wanita itu memiliki bakat yang cukup untuk menggunakan segel tingkat lanjut seperti teleportasi.
"Er—ibu Eucharistia, sepertinya saya tidak bisa menemani Anda. Saya ... saya butuh ke toilet segera. Jadi ... er—maksud saya...."
"Tidak apa-apa, kau juga bisa segera pulang," ujar Eucharistia. "Tugasmu menemaniku ke tempat penyimpanan buku sudah selesai. Tidak perlu menungguku."
"Te-terima kasih, saya permisi." Dengan langkah-langkah lebar serta terburu-buru, Telly segera menjauh dari tempat itu.
Eucharistia tersenyum sekilas sebelum melanjutkan langkahnya.
Tidak ada pergerakan dari tanaman-tanaman karnifora di sekeliling Eucharistia saat ia berjalan mendekati pintu. Bahkan sampai ia membuka pintu yang mengantarnya ke sebuah ruangan lain, tidak ada sulur yang menarik tubuhnya atau daun yang langsung menelannya hidup-hidup.
Begitu melewati pintu di atas jembatan, Eucharistia memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi oleh potongan-potongan kaca dan layar-layar monitor. Setiap potongan kaca menunjukan penampang yang berbeda dari berbagai tempat di pulau. Sementara layar-layar monitor menampilkan beberapa paragraf panjang serta grafik yang tak begitu dipahami Eucharistia.
Meski setiap kaca dan monitor memberikan gambaran yang berbeda, nyaris setiap sudut ruangan nampak sama saja tata letaknya, kecuali sepetak area di samping kanan ruangan yang kerumuni oleh semak belukar hingga ke langit-langit.
Kerumunan semak di depan Eucharistia tiba-tiba bergerak hingga terbentuk sebuah cela. Dari celah tersebut melangkah keluar seorang pria yang langsung dikenali Eucharistia sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan.
"Selamat datang di kementerian kami, ibu Eucharistia," ujar sang menteri. "Kita belum berkenalan secara resmi, perkenalkan saya Yudi Parengkuan." Yudi mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan Eucharistia menyambutnya.
"Eucharistia Poluan. Maaf jika saya mengganggu, saya hanya sedikit penasaran dengan sensor pendeteksi bakat."
"Tentu saja Anda tidak mengganggu, lagipula Anda juga memiliki kepentingan dengan sensor pendeteksi bakat. Andalah orang pertama yang harus saya hubungi jika ada Kaum Berbakat baru yang terdeteksi, bukan begitu?"
"Ya, bisa dikatakan seperti itu."
Yudi tersenyum semakin lebar. "Kalau begitu izinkan saya memandu Anda. Silahkan lewat sini." Yudi pun kembali melangkah kembali melewati celah pada semak.
Eucharistia menyusul di belakang Yudi dan mendapati dirinya berpindah ke sebuah ruangan gelap yang dipenuhi debu-debu bercahaya warna-warni. Berbagai debu bercahaya tersebut terus saja bergerak-gerak membentuk berbagai pola.
Di tengah ruangan, terdapat gambaran sebuah pohon raksasa yang mengingatkan Eucharistia pada gerbang sekolahnya. Tepat di samping pohon, beberapa debu berwarna mulai membentuk sosok manusia yang sedang berjalan. Setelah beberapa langkah, sosok itu pun kembali pecah menjadi jutaan debu yang menyebar.
"Itu Drina," ucap seorang pria tiba-tiba dari belakang Eucharistia.
Eucharistia terlalu takjub dengan pemandangan di hapannya hingga tidak menyadari bahwa di tempat itu tidak hanya ada dirinya dan Yudi. Tak jauh di belakangnya ternyata berdiri dua pria yang mengenakan cat tebal berwarna-warni di wajah mereka.
"Kedua orang ini adalah mantan Kelompok Pelindung," jelas Yudi. "Mereka memakai cat di wajah karena terlalu terikat dengan konsep topeng, sementara pemerintahan kita melarang segala bentuk penutupan identitas. Yah, kecuali tentu saja dalam kasus Anda. Namun, mau bagaimana lagi, hanya merekalah yang paling mengenal alat ini. Jadi mohon dimaklumi penampilan mereka yang artistik."
Sebuah senyuman tak biasa menghiasi wajah Yudi sebelum ia mulai memperkenalkan kedua mantan Kelompok Pelindung tersebut. "Ini Emenus dan Weya. Mohon dimaklumi juga perihal kekakuan mereka dalam berkomunikasi karena selama bertahun-tahun mereka mengurung diri di sini untuk mengawasi pola-pola yang terbentuk di monitor pengawas."
"Perkenakan, saya Eucharistia." Eucharistia menampilkan senyum yang tidak dibalas dengan ekspresi apapun.
"Pola-pola warna yang terbentuk di monitor ini adalah penentu apakah seseorang yang melewati sensor memiliki bakat atau tidak." Yudi kembali menjelaskan setelah terjadi jeda yang cukup tidak enak. "Setiap orang memiliki pola yang berbeda, tergantung dengan bakat mereka. Meski begitu, kedua pria hebat di depan Anda sudah menghafal berbagai macam pola sesuai pemiliknya, jadi mereka bisa langsung tahu siapa yang melewati sensor."
"Untuk apa menghafal pola warna setiap orang?" tanya Eucharistia. "Kenapa tidak gunakan saja Portal Kaca di dekat sensor pendeteksi bakat untuk melihat siapa yang melewatinya?"
"Sayangnya, hal itu tidak memungkinkan. Sensor Pendeteksi Bakat cukup sensitif," jelas Yudi. "Sedikit saja gangguan segel dan ramuan bisa mempengaruhi fungsinya. Dengan kata lain, tidak boleh ada segel dan ramuan dalam bentuk apapun yang diletakkan di dekat sensor lebih dari beberapa menit."
"Bagaimana dengan Kaum Nonberbakat?" tanya Eucharistia lagi. "Apa yang akan muncul saat mereka melewati sensor?"
"Tidak ada," jawab Yudi. "Bahkan, bakat-bakat kecil tidak akan bisa dideteksi. Hanya mereka yang memiliki cukup bakat untuk mengaktifkan segel dasar yang akan terdeteksi."
"Apakah sensor pendeteksi bakat yang sedang kita monitor ini ada di gerbang sekolah?" Eucharistia memastikan kecurigaannya. Gambaran pohon di depannya benar-benar tak asing.
"Untuk saat ini, ya. Kementerian kami bersama Tiga Peracik Utama sedang berusaha membuat sensor pendeteksi bakat lain yang akan ditempatkan di beberapa tempat umum. Siapa tahu kita bisa menemukan tanda-tanda keberadaan seorang Kaum Berbakat yang menghilang."
Tatapan mata Yudi serta nada suaranya jelas mengindikasikan kalau ia sedang menyinggung sesuatu.
"Dan kalau bisa, kami ingin memasang sensor pendeteksi bakat di seluruh penjuru pulau agar kami bisa mengantisipasi datangnya Kaum Berbakat yang tidak terduga," lanjut Yudi. "Seperti kedatangan Anda ke pulau ini yang tidak terdeteksi."
Walaupun Eucharistia yakin Yudi memiliki maksud tersembunyi di balik pernyataannya, sekali lagi Eucharistia hanya memasang senyum sebagai respons.
"Bisakah Anda sekali-kali melewati gerbang sekolah?" pinta Yudi. "Jujur saya cukup penasaran dengan bakat yang Anda miliki."
Eucharistia menahan diri untuk tidak mengerutkan kening saat mendengar peryataan aneh Yudi. "Saya cukup sering melewati gerbang sekolah."
"Kalau begitu kemampuan Anda lebih dari yang saya bayangkan—Ah, atau mungin, sensor pendeteksi bakat ini memang sedikit bermasalah," lanjut Yudi tanpa membiarkan Eucharistia mempertanyakan pernyataan pria itu sebelumnya. "Sejak beberapa bulan lalu, salah satu siswa akademi yang bernama Faenish menunjukkan hal yang aneh saat melewati sensor. Susunan warna yang muncul dan membentuk siluetnya dalam monitor selalu berubah-ubah, seakan bakatnya berubah. Ini hal yang mustahil terjadi.
"Kemudian Anda bahkan tidak terdeteksi sensor. Tidak mungkin jika Anda bukan Kaum Berbakat." Yudi tertawa sendiri. "Ah, sepertinya kami harus secepatnya mengadakan pengecekan ulang pada benda tua ini."
Pandangan Eucharistia teralihkan saat susunan debu di depannya kembali membentuk sosok manusia yang sedang berjalan.
"Anda tampak sangat tertarik dengan tempat ini. Kalau begitu saya akan meninggalkan Anda untuk menikmatinya. Anda mungkin tidak bisa datang ke sini setiap saat, jadi nikmatilah."
Eucharistia tidak melihat kepergian Yudi, dan ia tidak begitu peduli. Pria itu benar, Eucharistia memiliki ketertarikan tersendiri dengan pergerakan debu-debu indah di sekelilingnya. Biasanya Clarine hanya bisa merasakan sensasi getaran di udara, sehingga sulit baginya untuk menggambarkan kepada orang lain tentang variasi getaran yang ia rasakan. Saat ini, dengan melihat berbagai warna dan kelip cahaya debu di sekitarnya, Clarine mendapatkan pencerahan.
"Bagaimana Anda melakukannya?" Tiba-tiba saja wajah Emenus sudah berada tepat di depan Eucharistia.
"Apa yang saya lakukan?" Eucharistia balas bertanya setelah mengatur nafasnya yang tercekat kaget.
"Melewati sensor tanpa terdeteksi. Walaupun Anda berteleportasi, harusnya tetap ada jejak keberadaan Anda yang muncul di monitor ini. Namun, kami tidak melihat apapun."
"Saya tidak melakukan apapun," jawab Eucharistia jujur. "Mungkin Sensor ini sedikit bermasalah seperti kata Yudi."
"Sensor ini tidak pernah bermasalah," jawab Emenus tegas.
"Tidak pernah bukan berarti tidak bisa, bukan?"
Emenus tidak menjawab Eucharistia. Pria itu justru menatapnya lekat sebelum berbalik pergi.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top