4. Berita Kematian

Untuk pertama kalinya Clarine mendatangi rumah Faenish di malam hari. Dari kesan pertama yang ditawarkan, Clarine akhirnya paham alasan Ryn yang sering menyebut tempat itu dengan sebutan rumah hantu. Namun bukan itu yang membuat Clarine merinding.

Les privat dengan Dazt mengungkap fakta bahwa selain bisa merasakan sensasi pembuatan segel dan keberadaan portal, Clarine ternyata bisa merasakan bakat yang dimiliki seseorang serta merasakan lapisan pelindung yang dipasang di suatu tempat. Untuk saat ini, ia memang belum begitu peka dalam merasakan dan membedakan sensasi-sensasi itu. Yang bisa Clarine rasakan barulah orang-orang berbakat besar seperti Valaria dan Faenish. Sementara dalam hal perlindungan, ia juga baru bisa merasakan lapisan perlindungan yang tebal.

Saat ini, seperti sebelumnya, Clarine bisa merasakan perlindungan di rumah Faenish. Perlindungan itu memberikan sensasi berbeda, seakan pernah ada lapisan yang sangat kuat dan tebal, tetapi perlindungan itu kini remuk menjadi serpihan-serpihan. Clarine memperkirakan perlindungan itu rusak bersamaan dengan kematian nenek Magda, sang pemilik rumah.

"Jadi apa yang ingin kita bahas malam ini?" tanya Faenish begitu mereka berada di perpustakaan.

"Bagaimana kalau tentang pemerintahan?" Clarine mengusulkan seraya mendudukan dirinya. "Selama belajar sejarah dengan Profesor Juen, tak pernah kudengar ada sistem pemerintahan khusus untuk Kaum Berbakat sebelum ini."

Faenish nampak tersenyum simpul sebelum balik bertanya, "Apakah kau pernah mendengar orang-orang yang memiliki bakat dalam melukis membentuk negara sendiri?"

"Tidak. Itu terdengar konyol."

"Kemampuan ajaib yang dimiliki Kaum Berbakat disebut bakat karena kemampuan itu dipandang setara dengan bakat-bakat pada umumnya," jelas Faenish. "Jadi membuat sistem pemerintahan sendiri untuk Kaum Berbakat, seperti yang saat ini dibentuk, dahulu tidaklah dianggap perlu. Kalaupun ada yang berpikiran demikian, ide itu tidak diterima secara umum saat itu.

"Pada setiap generasi." Faenish melanjutkan. "Kaum Berbakat biasanya menunjuk seseorang yang dituakan, entah itu dari jasanya atau kemampuannya. Penunjukan itu pun sebagian besar tidak terjadi secara formal, masyarakat hanya mendatangi orang yang dituakan tersebut dan menanyakan pendapatnya perihal permasalahan yang ada."

"Sejenis kepala suku?" Clarine memastikan.

"Bisa dibilang begitu," jawab Faenish. "Menurut Nenek Magda, sistem ini bisa berjalan baik selama beberapa generasi karena pada masa-masa silam Kaum Berbakat banyak yang percaya akan keberadaan Empat Pemimpin Tersembunyi. Sebenarnya tidak ada keterangan pasti tentang keberadaan keempat orang tersebut. Bahkan tidak ada yang tahu apakah mereka benar-benar berempat atau sekelompok orang atau mungkin hanya satu orang saja. Kerpecayaan akan keberadaan mereka hanya didasarkan pada cerita rakyat dan berbagai kejadian yang sulit dijelaskan.

"Kejadian yang kumaksud misalnya: jika ada tindakan penyelewengan bakat yang terjadi, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, sang pelaku akan ditemukan. Entah karena sang pelaku dengan ajaib mengakui perbuatannya, atau karena beberapa penduduk mendapat surat kaleng berisi petunjuk. Ada juga kasus di mana sang pelaku ditemukan dalam keadaan tak bernyawa bersama bukti kejahatannya. Sayangnya, hal-hal ajaib seperti ini mulai jarang terjadi sejak kedatangan pendatang dari luar pulau. Kau sudah kuceritakan tentang kisah Zico dan Nenek Magda bukan?"

Clarine mengangguk sebagai jawaban. "Jadi bisa dikatakan bahwa keempat pemimpin tersembunyi seakan tidak menyukai kedatangan orang asing dan memutuskan untuk mengabaikan tugas mereka dalam melindungi Kaum Berbakat?"

"Bisa dikatakan itulah yang dipikirkan Kaum Berbakat pada masa itu." Faenish tersenyum sendu. "Seiring penderitaan dan penyiksaan yang dialami para penduduk, legenda tentang empat pemimpin bayangan pun mulai hilang. Lalu muncul Kelompok Pelindung yang kemudian berujung pada terbentuknya sistem pemerintahan yang ada sekarang."

"Aku masih kurang paham," ujar Clarine. "Bagaimana keempat pemimpin pelindung ini sanggup membuat hal-hal luar biasa seperti mengungkap para pelaku kejahatan, apa yang membuat mereka spesial?"

"Jika berdasarkan cerita, masing-masing dari keempat sosok tersebut diberkahi Sang Pencipta dengan suatu kemampuan khusus untuk digunakan dalam menjaga Kaum Berbakat." Faenish menjelaskan. "Salah satu dari mereka memiliki indra perasa yang sangat sensitif hingga ia bisa mendeteksi banyak hal termasuk pergerakan serangan fisik, karena itu ia dipanggil Sang Perasa. Dialah yang menemukan kesalahan dan kejahatan yang terjadi di pulau ini. Satu orang lainnya memiliki kemampuan melihat keinginan seseorang, sehingga ia bertugas mengadili tersangka yang dikemukakan, ia dipanggil Sang Hakim. Satu orang lagi memiliki kemampuan untuk memberi hukuman tanpa perlu menggerakkan badannya, ialah sang Eksekutor. Yang terakhir dipanggil Sang Pengikat, ia bertugas mengikat kemampuan bakat siapapun yang dianggap telah menyeleweng terlalu jauh.

"Cerita rakyat tentang Empat Pemimpin Bayangan awalnya digunakan untuk menggambarkan empat keluarga pertama yang hidup di pulau ini. Keluarga Amamesa dikaitkan dengan Sang Perasa, Adenga dikaitkan dengan Sang Hakim, keluarga Arepi dikaitkan dengan Sang Eksekutor, dan keluarga Asepang dikaitkan dengan Sang Pengikat. Aku pernah menemukan sebuah buku milik nenek Magda yang berisi silsilah keluarga dan salah satunya berakhir pada Da—"

Terdengar suara ketukan yang cukup keras dari arah salah satu kaca jendela, Clarine dan Faenish menoleh. Clarine tidak takut, hanya saja, suasana saat ini mendukung tubuhnya untuk bergidik dan jantungnya memompa darah dalam irama cepat.

Faenish segera berdiri dan melangkah ke arah jendela untuk menyibakkan gorden yang menghalangi pemandangan di luar rumah.

Awalnya yang Clarine lihat hanyalah kegelapan dan barisan pohon yang mengintimidasi, lalu ia melihatnya. Di pojok kiri bawah, bertengger seekor burung kecil yang dengan konstan mengetuk-etukkan paruhnya ke jendela.

Clarine tidak pernah melihat burung seperti itu sebelumnya. Tubuhnya dipenuhi bulu berwarna putih sementara ekor dan ujung-ujung sayapnya terdiri atas tiga warna yaitu merah muda, biru muda dan kuning muda yang masing-masing berbeda panjang. Panjang ekor burung tersebut juga dua kali dari ukuran tubuhnya yang mungil.

"Burung Floit?" seru Faenish. "Wah, lama tidak melihatnya."

"Itu burung peliharaanmu?" tanya Clarine.

"Tentu saja bukan, aku justru yakin burung ini mencarimu."

"Mencariku?" Clarine mengerutkan dahi, tak mengerti.

Faenish tidak langsung menjawab. Ia justru membuka jendela agar si burung Floit bisa masuk.

Entah si burung bersekongkol dengan Faenish atau memang hanya kebetulan, yang jelas burung itu langsung terbang ke arah Clarine. Setelah berputar sebanyak tiga kali di atas kepalanya, si burung Floit memutuskan untuk hinggap di bahu Clarine.

"Kau memiliki penggemar yang unik Clarine. Burung Floit adalah cara yang digunakan Kaum Berbakat zaman dulu untuk mengirimkan pesan cinta. Sayang cara ini ditinggalkan karena cukup mencolok dan agak merepotkan. Burung manis ini hanya akan menyampaikan pesan dari seseorang yang menurutnya memiliki suara yang merdu."

Pesan cinta? Clarine sudah hampir berpikir itu dari Zoenoel, tetapi akal sehatnya segera membantah kemungkinan itu. Kepribadian Zoenoel tidak cocok dengan hal seperti ini. Untunglah Clarine tidak terlalu berharap banyak karena ternyata si burung Floit tiba-tiba bernyanyi dengan cukup keras: Berhubung tempat les privat kita sekarang dijadikan kurungan dadakan, dan demi sahabatku tercinta, kita jelas tidak boleh terlihat bermesraan di depan umum. Untuk sementara les privat kita ditiadakan dan kau akan mendapat tugas lapangan. Dekati Faenish, habiskan waktu bersama di rumahnya, tingkatkan kepekaanmu dalam merasakan sensasi bakat yang dimiliki gadis itu tanpa melakukan kontak fisik.

Suara Dazt jelas terdengar. Nadanya terdengar merdu, tetapi lirik anehnya langsung menghancurkan kesan romantis yang seharusnya tercipta.

Faenish sendiri sampai tidak bisa menahan tawa. Apalagi saat si burung Floit melanjutkan nyanyiannya: Oh yah, satu lagi, jangan lupa kunjungi rumah calon pacarmu, si Zoenoel. Temukan lapisan perlindungan apa saja yang dipasang di rumahnya.

Begitu selesai, tubuh si burung Floit tiba-tiba saja bergetar hebat. Setelah sebuah ledakan bubuk warna yang berkerlip, si burung Floit tidak lagi berwarna putih, melainkan kecoklatan dan tampak seperti burung pipit yang normal.

***

Sejak peristiwa pembobolan lapas beberapa hari lalu, di jalan-jalan kota banyak berkeliaran pria-pria dengan tato burung manguni. Tato tersebut cukup mencolok karena memenuhi leher bagian kiri hingga melewati garis rahang. Pria-pria itu adalah para calon anggota Satuan Manguni yang melakukan penyelidikan meski mereka belum secara resmi dilantik.

Dengan kegencaran penyelidikan yang dilakukan, Eucharistia tidak begitu heran saat mendapati berita menggemparkan di ruang Lingkar Jalan.

"MATI? LAGI? Apa tidak ada cerita yang lain? Sepertinya dia hobi mati? Aku jamin seratus persen dia masih hidup dan berkeliaran."

Seisi ruang lingkar jalan dapat mendengar gerutuan keras dari Ryn. Pandangan-pandangan aneh langsung mengarah pada gadis itu. Namun ia tak kunjung menyadari perbuatannya, bahkan ketika Drina mengetuk kepala gadis itu cukup keras.

Eucharistia tersenyum kecil menyaksikan peristiwa itu. Ia juga sependapat dengan Ryn saat membaca berita yang berbunyi: Pemimpin Kelompok Pelindung melakukan aksi bunuh diri saat disergap di tempat persembunyiannya.

Namun berbeda dengan para siswa yang masih sibuk berbagi pendapat tentang berita tersebut, Eucharistia segera berjalan menuju ruangan kelasnya. Saat membuka pintu ke ruangan kerjanya, Eucharistia menemukan kejutan lain, sosok Zoenoel sedang menunggunya di dalam.

"Pak Krav sudah mencari pengganti untuk mengawasi kelasmu hari ini. Kau sebaiknya segera berteleportasi ke Arena Duel," ujar Zoenoel begitu menyadari kedatangan Eucharistia.

"Apa yang sedang terjadi?" Suara Eucharistia agak tersendat. Jantungnya masih belum kembali berdetak dalam irama normal. "Kenapa aku harus meninggalkan kelasku dan pergi ke sana?"

"Hari ini ada yang terbunuh Rine. Kau harus berada di tempat yang aman atau kau mungkin akan menjadi mayat kedua yang diberitakan hari ini." Melihat Eucharistia tidak juga beranjak dari tempatnya, Zoenoel melangkah mendekat.

"Apa hubungannya denganku?" tanya Eucharistia. "Aku bukan anggota Kelompok Pelindung yang saat ini sedang diburu."

"Kau juga diincar Katharina."

Clarine mengerutkan kening. "Kenapa Katharina disangkut pautkan dengan masalah ini? Tunggu—apa kau ingin mengatakan kalau Queena bukan bunuh diri, melainkan dibunuh?"

Alih-alih menjawab, Zoenoel justru melangkah semakin dekat dan mengecup kening Clarine. "Jangan mengulur waktu Rine, pergilah."

Kali ini Clarine tidak bisa membantah. Dengan segera, ia melangkah keluar dari akademi, mengganti kostum agar kembali terlihat sebagai Clarine dan berteleportasi ke area pemakaman.

"AHHH." Teriakan Clarine terdengar tepat setelah ia berpindah tempat. Tubuh Clarine juga terdorong hingga ia terjerembab ke belakang.

Bukan hanya Clarine, Maery pun merasakan hal yang sama.

"Jangan muncul begitu saja tepat di depanku," protes Maery. "Kau membuatku jantungan dan kita nyaris berciuman, itu benar-benar menjijikan."

Clarine tersenyum dan dengan segera senyumannya berubah menjadi tawa. Maery mengikutinya. Butuh waktu beberapa saat hingga tawa keduanya memudar dan akhirnya mereka saling membantu untuk bangkit berdiri.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Clarine.

"Drina menyuruku menunggumu. Katanya Dazt ingin aku menemanimu dalam masa pengasingan. Jadi, sebaiknya kita segera masuk atau Dazt dan Drina akan memarahi kita berdua."

Clarine tak habis pikir dengan tingkah berlebihan teman-temannya. Namun ia tidak membantah dan tetap membuat segel untuk membuka portal ke Arena Duel.

"Aku sudah mendengar soal Queena," ujar Maery saat menyusul Clarine melewati portal. "Kurasa dia kualat dengan kisah mati pura-puranya dulu, dan sekarang dia benar-benar mati."

"Sebenarnya aku masih hidup." Terdengar suara Queena.

Saat Clarine dan Maery melirik ke arah sumber suara, nampak sosok Queena yang sedang duduk beberapa meter di depan mereka. Penampilan Queena agak tidak biasa, gadis itu mengenakan pakaian tidur dan matanya ditutup kain.

Tak jauh dari tempat Queena, Dazt sedang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Entah apa yang sedang terjadi di sini, tetapi sepertinya Clarine dan Maery telah mengganggu waktu berduaan mereka.

Penasaran, Clarine memberikan kode kepada Dazt, menanyakan perihal penutup mata Queena. Dengan gerakan singkat tanpa suara, Dazt menunjuk ke arah kurungan Glassina dan Rael. Clarine hampir lupa kalau mereka punya tawanan rahasia.

"Kau di sini?" tanya Maery. "Apa ini bagian dari skenario kematian palsu seperti yang kau lakukan dulu?"

Queena menggeleng lemah. "Dulu aku sengaja memilih lautan agar tidak perlu menunjukkan mayat sebagai bukti. Aku tidak setega itu untuk membunuh orang."

"Tetapi kau tetap saja menghancurkan kapal yang merupakan sumber penghasilan banyak orang," tukas Maery.

"Setidaknya ak—"

"Bagaimana kami tahu bahwa ini bukan bagian dari rencanamu?" potong Clarine.

"Semalam, Zoenoel mendatangiku dan memintaku bersembunyi di sini. Aku diawasi dengan ketat dan sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Kalian bisa bertanya langsung kepada Dazt." Queena menarik nafas berat sebelum melanjutkan dengan nada sendu. "Aku pun baru mendengar berita dari Zoenoel tentang sosok Ketua Kelompok Pelindung yang ditemukan bunuh diri di daerah pinggiran kota."

"Kalian berduaan sejak semalam?" tanya Maery dengan tatapan menyelidik ke arah Dazt.

"Tidak," jawab Dazt. "Drina yang mengawasinya. Aku tidur tanpa gangguan, jauh dari tempat ini. Drina tidak memberitahumu?"

"Ia hanya bilang kalau dia dapat tugas tak menyenangkan darimu, dan tentang kau yang memintaku menemani Clarine. Kalau begitu kami akan pergi ke ruangan Cla—maksudku ruangan Penguasa Arena terakhir, jadi kalian tidak akan merasa terganggu." Maery baru saja akan meraih tangan Clarine ketika Dazt menghalanginya.

"Sayang sekali kalian tidak bisa ke mana-mana." Senyum Dazt mengembang lebar. "Zoenoel memberikan instruksi bahwa aku harus mengawasi Clarine dan Queena secara langsung sampai ia kembali membawa perintah berikutnya. Jadi, nyamankan diri kalian di sini untuk beberapa waktu ke depan."

Clarine tak berani membayangkan bagaimana canggung suasana yang akan tercipta. Namun, ia juga tidak punya pilihan.

"Baiklah, bukan masalah," seru Maery. "Namun, bisakah kalian berbagi cerita tentang situasi yang ada sambil kita menunggu Zoenoel? Kurasa kita punya waktu cukup panjang."

Queena tersenyum lemah. "Kau mempertanyakan keadaanku yang tampak menyedihkan, di tempat aku hanya berduaan dengan seorang pemuda?"

"Yah, itu jelas menimbulkan pertanyaan," celetuk Maery.

"Aku dan Dazt tidak sedang melakukan hal aneh. Justru Zoenoel yang membuatku seperti ini." Queena mengusap kedua pipinya, memastikan tidak ada lagi bekas air mata yang terlihat. "Zoenoel bahkan tidak mengizinkanku keluar untuk sekadar melihat Igna, temanku yang terbunuh karena dikira sebagai ketua Kelompok Pelindung."

Queena berhenti menjelaskan, ia tampak berusaha keras menahan tangisan yang akan kembali pecah. "Dazt pernah menemaniku menemui Igna beberapa kali, jadi kalian bisa tanyakan padanya seperti apa gadis itu. Igna bukan tipe orang yang akan membunuh dirinya sendiri bahkan saat dalam keadaan terdesak sekalipun."

"Bagaimana bisa mereka mengira kalau dia adalah Ketua Kelompok Pelindung?" tanya Clarine penasaran.

Butuh beberapa saat hingga akhirnya Queena menjawab dengan suara parau. "Aku pernah bersembunyi di tempatnya, tepat setelah Kelompok Pelindung dibubarkan. Beberapa barangku masih ada di sana. Seharusnya aku tidak meninggalkan jubah Ketua Kelompok Pelindung di sana ... Igna bukanlah Kaum Berbakat, dia hanya gadis yang bersedia menolongku dan mereka meracuninya."

"Kenapa kau begitu yakin dia dibunuh?" tanya Maery setelah suasana hening yang cukup panjang.

"Bagaimana mungkin seorang Kaum Nonberbakat tahu soal ramuan berbahaya? Apalagi memiliki dan meminumnya untuk bunuh diri." Tangisan Queena pecah. Kain yang menutupi matanya semakin basah.

Tak memedulikan kondisi Queena, Maery langsung menanyakan pertanyaan berikutnya. "Kenapa kau kabur sejak awal? Anggota Kelompok Pelindung lain dengan tenang menunggu persidangan dan tidak membuat siapapun menjadi korban tambahan."

"Tidakkah kau lihat apa yang terjadi?" Queena balas bertanya. "Sejak awal, Katharina dan antek-anteknya memang tak berniat mengadiliku. Mereka ingin memusnakanku."

"Aku masih belum paham bagaimana para anggota Gerakan Pembaharuan bisa salah mengira temanmu sebagai ketua Kaum Berbakat hanya karena keberadaan jubah dan perlengkapan riasanmu?" tuntut Clarine. "Tidakkah ada anggota Kelompok Pelindung yang tahu identitas asli ketua mereka?"

"Hanya Dewan Penasehat yang tahu siapa aku," jawab Queena. "Sebagian besar dari mereka sudah meninggal dan sisanya berpendapat bahwa identitasku tak boleh terbongkar. Beberapa anggota kelompok jelas tidak akan suka pada fakta bahwa selama ini mereka dipimpin oleh seorang gadis yang umurnya jauh di bawah mereka."

"Masuk akal," gumam Maery.

Clarine tidak begitu sependapat dengan Maery. Rasanya masih ada yang mengganjal dari cerita Queena. Hanya saja, ia juga tak yakin apa itu.

"Akhirnya kau datang." Seruan Dazt mengalihkan pemikiran Clarine. Saat Clarine berbalik, ia mendapati sosok Zoenoel berjalan mendekati mereka.

"Aku belum sempat melihat jasadnya untuk memastikan apakah dia adalah Igna atau bukan," ucap Zoenoel. Pandangannya tertuju pada Queena, ia hanya melirik Clarine sekilas sebelum kembali menatap Queena. "Gerakan Pembaharuan akan menyimpan jasad itu hingga persidangan nanti. Dari apa yang kuamati, belum ada yang sadar kalau mereka menangkap orang yang salah. Meskipun begitu, kau tetap harus berada di sini sampai keputusan sidang diambil."

"Tidak," sergah Dazt. "Ini bukan tempat penitipan tahanan. Cari tempat lain."

Zoenoel baru saja akan mengucapkan sesuatu kepada Dazt saat Queena menyela dengan pertanyaan, "Kapan sidangnya dilaksanakan?"

"Belum dipastikan." Zoenoel menjawab Queena tanpa mengalihkan pandangannya dari Dazt. "Namun, melihat koordinasi dan cara kerja para calon satuan khusus yang melakukan penyergapan kemarin, pelaksanaan sidang pasti hanya berselang beberapa hari setelah pelantikan."

"Berhentilah memandangku seperti itu Zoenoel," tukas Dazt. "Mereka akan mengira kau tergila-gila padaku. Kalau kau mau menyembunyikan sekaligus mengawasi gadis ini sampai sidang dilaksanakan, jangan minta tolong padaku dan jangan tempatkan dia di sini. Aku punya banyak hal untuk dilakukan. Jadwalku padat sobat."

Dazt memberi kode tanpa suara ke arah kurungan Glassina dan Rael dengan mimik wajah yang menurut Clarine lucu. Gabungan antara frustasi dan kesal. Sayangnya ekspresi itu dengan sangat cepat memudar.

"Aku tidak mau disangkakumpul kebo. Cukup sekali aku dituduh begitu." Dazt mengerling kepada Maery. "Tetapi tenang, akan kuminta Drina menanganimasalah ini. Jadi kau tidak perlu merajuk, dan aku tak perlu sengsara."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top