31. Kesepakatan

Clarine memilih untuk sedikit melanggar aturan. Ia sama sekali tidak ingin kembali ke rumah ZZ untuk beristirahat. Ia bahkan ragu bisa beristirahat malam ini. Karena itu Clarine memilih berteleportasi ke kamar lamanya di rumah dan memaksakan dirinya untuk berbaring di sana hingga ia terlalu lelah untuk memikirkan apapun.

"Selamat pagi?" bisikan yang menggelitik di telinga Clarine akhirnya memaksa matanya untuk membuka. Begitu ia melihat sosok Dazt yang hanya berjarak beberapa senti darinya, Clarine sontak melompat menghindar.

"Astaga. Apa lagi sekarang?" tuntut Clarine, sebisa mungkin dengan suara pelan. Ia jelas tidak ingin ketahuan lari dari kurungan malamnya dan berada dalam kamar bersama Dazt di pagi buta.

Dazt memasang senyuman seraya menjauhkan diri hingga jarak yang cukup normal. Ia kemudian berkata, "Aku hanya mampir untuk menanyakan beberapa hal. Apa kau merelakan Zoenoel?".

"Apa maksudmu?"

"Zoenoel baru saja menceritakan sesuatu, dan aku agak penasaran dengan alasanmu meminta Zoenoel mendekati Valaria."

"Apa urusannya denganmu?" balas Clarine sengit.

"Kira-kira apa pendapat ayahmu jika—"

"Aku hanya tidak cukup yakin Zoenoel akan bertahan untuk memilihku," ujar Clarine cepat sebelum Dazt selesai mengancamnya. "Saat ini Zoenoel bisa saja berkeras, tetapi saat ia mendapatkan keturunan nanti, akan lebih mudah baginya untuk meninggalkanku. Sementara pada saat itu aku pasti sudah tidak akan sanggup melepasnya. Itu pun kalau aku bisa memberikan keturunan. Bagaimana jika aku dihukum tidak bisa memberikan kehidupan baru karena aku sudah merenggut begitu banyak kehidupan untuk mendapatkan bakat?"

"Kau berpikir terlalu rumit." Dazt berdecak sebelum melanjutkan, "Hanya saja, jika kau tidak bisa percaya kepada pasanganmu, itu jelas bukan hubungan yang akan berlangsung baik—Tunggu dulu, jangan bilang kalau kau melepas Zoenoel demi diriku. Kau tidak percaya bahwa aku bisa setia pada satu gadis bukan? Itu jelas mustahil. Kau tahu sendiri aku punya trauma dengan hal seperti itu."

Clarine memutar bola matanya jengah. "Siapa bilang aku percaya hal konyol begitu, dan siapa yang bilang kalau aku berpaling padamu."

"Hanya memastikan."

"Kalau begitu pergilah. Aku sedang ingin sendiri."

"Baiklah. Selamat berdukacita." Dazt melemparkan senyuman mengejek dan akhirnya berlalu pergi.

Selepas kepergian Dazt, Clarine kembali membaringkan diri. Tubuhnya terasa tidak enak. Bukan hanya karena kurang tidur, sepertinya ia juga mendapat demam.

Dengan kondisi tubuhnya, sebagian besar hari itu Clarine habiskan dengan tidur. Ia hanya bangun beberapa kali untuk makan dan meminum obat.

Hingga akhirnya saat ia terbangun kembali pada malam hari, tubuh Clarine sudah terasa lebih baik. Masalahnya, kondisi pikiran Clarine justru menjadi lebih buruk saat ia mendapati kehadiran sosok lain di dalam kamar, Katharina.

Tak ada topeng atau jubah yang menutupi identitas wanita itu. Katharina menunjukkan wujudnya secara langsung lengkap dengan senyuman.

***

Di dalam salah satu ruangan di kediaman tangan bayangan, Katharina menuang teh dengan gerakan anggun. Senyuman bahagia belum juga terlepas dari wajahnya. Senyum itu semakin melebar saat Clarine meraih cangkir yang ia sodorkan tanpa ragu.

"Kudengar kau tidak percaya kalau aku adalah pelaku pembantaian di rumah sakit." Katharina kembali membuka percakapan. Mereka sudah membicarakan banyak hal dan wanita itu masih belum kehabisan bahan. "Apa ini karena Ezer sudah memberitahumu sesuatu atau kau telah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Glassina?"

"Keduanya." Clarine kembali menyeruput tehnya, enggan melakukan kontak mata dengan Katharina.

"Ah, jadi kau sudah tahu rahasiaku?"

"Tentang Anda memiliki kepribadian ganda?" kali ini Clarine sengaja menatap lekat wajah Katharina untuk melihat ekpresi yang muncul saat wanita itu menjawab.

"Hampir benar." Senyuman kembali terkembang di wajah Katharina. Singkat. "Hanya saja, dalam tubuh ini tidak hanya ada ada dua kepribadian, tetapi dua jiwa. Ritual terakhir yang dilakukan seorang Fransisca tidak sepenuhnya gagal. Aku berpindah sementara Katy tidak."

Clarine nyaris tersedak. "Anda Fransisca?"

Kali ini wajah Katharina benar-benar berseri senang. "Untuk saat ini, ya. Aku bisa dibilang Fransisca."

Ingatan Clarine langsung berputar pada saat Glassina memberitahunya tentang mama Sisca dan mama Katy. Kini Clarine paham kenapa gadis itu menyebutnya calon inang. Katharina adalah tubuh inang bagi Fransisca, kemudian Clarine ... "Anda berniat menjadikan saya tubuh inang selanjutnya, karena itu Anda menyelamatkan saya diberbagai kesempatan?"

"Ya. itu rencanaku sebelumnya, tetapi situasi berubah." Kali ini Katharina sengaja membuat jeda panjang seraya menyeruput tehnya. "Hasil pengamatanku menyatakan hal itu agak berisiko. Jika aku bepidah ke tubuhmu sekarang, Zoenoel akan langsung membunuh kita. Kau juga tahu kalau dia begitu membenci perjodohan yang diikat pada tubuh kalian, begitu ia menyadari bukan hanya kau yang berada di dalam tubuh itu, ia tidak punya alasan untuk menahan diri. Karena itu aku ingin membuat kesepakatan denganmu."

"Saya tidak tertarik."

Katharina tersenyum dan tetap saja menjelaskan, "Kau hanya perlu membawa Queena dan menyiapkan beberapa perlengkapan ritual agar aku bisa berpindah ke tubuh gadis itu. Jika rencana ini berhasil, kau bukan hanya mendapat jaminan bahwa dirimu tidak akan menjadi tubuh inangku selanjutnya. Kekasihmu Zoenoel juga akan mendapatkan ibunya kembali, sementara kekasihmu yang lain akan terbebas dari kejaran cinta masa lalunya. Aku akan membawa tubuh Queena pergi jauh dari sini." Katharina berhenti bicara untuk menyesap tehnya kembali. "Pikirkan saja dahulu karena sepertinya jemputanmu sudah tiba."

Perkataan Kataharina membuat Clarine mengikuti arah pandangan wanita itu. Mereka kedatangan tamu. Kini nampak dua sosok pemuda yang berdiri dengan tatapan terkunci pada Clarine.

"Kau sedang minum teh?" seruan Dazt menggema. "Apa mataku sebegitu kreatifnya hingga mengarang pemandangan absur ini?"

"Sebaiknya kita kembali," ujar Zoenoel dingin. "Di sini tidak ada yang perlu diselamatkan."

Berlawanan dengan ekspresi menakutkan di wajah Zoenoel, Katharina justru memasang senyuman ramah. "Memang tidak ada yang perlu kau selamatkan saat ini. Hanya saja, bukan berarti Clarine tidak mau pulang bersama kalian."

Katharina lalu kembali melirik Clarine dan berkata, "Kau tentu lebih suka pulang bersama mereka daripada kuantar bukan?"

"Apa tante meletakan bom atau sejenisnya di tubuh Clarine? Karena ini jelas bukan misi penyelamatan yang kubayangkan." Dazt kembali berseru. Ekspresi menggelikan juga masih belum luntur dari wajahnya.

Katharina tertawa. "Kami hanya membicarakan beberapa hal, aku bahkan tidak menyentuh Clarine."

"Kalau begitu saya permisi." Clarine bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Dazt dan Zoenoel.

Namun belum sempat Clarine menempuh setengah jalan menuju mereka, Zoenoel sudah berbalik dan melangkah pergi. Melihat tingkah Zoenoel, Dazt juga ikut berbalik walau sesekali melirik Clarine dengan pandangan awas.

Sepanjang perjalanan keluar dari kediaman para Tangan Bayangan hingga ke area rumah tua keluarga Woranz, tak ada satu pun yang bicara. Aura yang terpancar dari Zoenoel terasa menyesakan hingga membuat nyali Clarine ciut. Bahkan Dazt tidak berani mengeluarkaan satu pun kalimat menyebalkan.

"Arena Duel." Hanya itu yang digumamkan Zoenoel saat mereka akhirnya mencapai bagian luar perlindungan. Tanpa memperdulikan keadaan Clarine yang agak limbung, pemuda itu langsung membawa Dazt untuk berteleportasi pergi.

Clarine tak bisa langsung menyusul berteleportasi. Ia perlu sedikit waktu untuk mengumpulkan kosentrasi setelah beberapa saat tersiksa dengan tekanan perlindungan rumah tua keluarga woranz.

Saat akhirnya Clarine menyusul ke Arena Duel, sesuai dugaan, teman-temannya juga sudah terkumpul di sana. Bahkan ada Queena yang terlihat duduk di samping Valaria.

"Oh syukulah." Maery langsung menyerbu Clarine dengan pelukan begitu gadis itu melihatnya.

"Kau masih hidup?" seru Ryn.

"Apa yang terjadi padamu? Apa Katharina menyakitimu lagi?" tanya Maery.

"Jika berbincang sambil minum teh termasuk penyiksaan, maka ya, Clarine disiksa," jawab Dazt.

"Minum teh?" Maery pun melepaskan pelukannya dan menatap Dazt bingung.

Dazt hanya mengangkat bahu sebagai respons.

"Dia hanya mengajukan kesepakatan denganku," ujar Clarine akhirnya. Ia pun menjelaskan beberapa pembicaraan yang ia lakukan.

"Tentu saja tidak Clarine," pekik Ryn. "Kau tidak bisa menjadikan Queena tumbal untuk kepentinganmu sendiri. Apa lagi yang kita bicarakan adalah Katharina. Wanita itu hanya menipumu. Aku jamin ritual yang ia maksud bukan untuk berpindah tubuh tetapi sesuatu yang mengerikan, kita jelas tidak boleh terlibat. Tidak ada jaminan kalau dia benar adalah Fransisca. Kalaupun benar, tetap tidak ada jaminan bahwa ibunya Zoenoel masih ada di dalam sana."

"Menurutku dia benar-benar Fransisca. Buku catatan yang kubaca dengan Maery jelas menyinggung soal perpindahan jiwa," Clarine berkeras.

"Tehnya beracun," gumam Ryn.

"Menurutku kau sudah dicuci otak lagi, Clarine," ujar Valaria prihatin.

"Aku sepenuhnya sadar a—"

"Katharina. Sudah jelas-jelas wanita licik itu dalangnya," potong Ryn sebelum Clarine sempat berbicara banyak. "Kau terus saja menolak percaya bahwa calon ibu mertuamu itu tak sebaik yang kau bayangkan. Kau terus saja menarik Queena dalam setiap masalah. Oh aku mengerti, apa ini caramu untuk menunjukkan keterarikanmu pada Dazt dan membuat Zoenoel menjauh darimu?"

"Tentu saja tida—"

"Tentu saja benar," tandas Ryn. "Kau jelas-jelas memlih Dazt. Kau cemburu buta, karena itu Queena terus kau sangkut-pautkan. Kau juga tahu Zoenoel tidak suka pada ibunya sendiri jadi kau sengaja mengakrabkan diri dengan wanita itu. Pintar sekali Clarine. Hanya saja, bisakah kau tidak melibatkan kami semua dalam asmaramu yang rumit."

"Clarine." Maery menepuk-nepuk pundak Clarine pelan. "Kalaupun kau sulit percaya kalau Katharina adalah dalang dari pembantaian kemarin, wanita itu tetaplah orang yang menyiksa Zoenoel dan Glassina. Dia tetaplah wanita yang memerintahkan berbagai hal mengerikan pada Ezer dan Tangan Bayangan lainnya. Kau tidak seharusnya membuat kesepakatan dengan wanita seperti itu."

Clarine tidak menjawab meski berbagai pembelaan sudah nyaris ia utarakan.

"Maaf Clarine," ujar Valaria. "Kami tidak tahu apa yang telah dilakukan Katharina padamu, karena itu sebagai antisipasi, kami harus menempatkanmu dalam pengawasan layaknya Ezer. Kau akan...."

"Dikurung." Clarine melanjutkan.

"Yah, bisa dibilang begitu."

***

Berada dalam sel tahanan yang dilengkapi perlindungan anti teleportasi, Clarine tak berani berharap Zoenoel akan mengunjungi dirinya. Namun di sinilah pemuda itu, menjadi pengunjung pertama sejak Clarine di tempatkan dalam kotak transparan layaknya tempat Glassina di kurung.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari Zoenoel. Pemuda itu justru duduk membelakangi Clarine dengan bersandar pada dinding kurungan.

Keheningan yang berlangsung cukup lama pada akhirnya membuat Clarine mengambil inisiatif untuk membuka percakapan. "Apa kau datang untuk mengawasiku?"

Zoenoel tidak langsung menjawab. Ada jeda sesaat di mana pemuda itu nampak masih melamun. "Aku hanya merasa tidak tenang sebelum memastikan keadaanmu."

Suara Zoenoel nyaris berupa bisikan. Samar. Namun Clarine menolak pikiran naifnya yang mulai membisikan godaan tak masuk akal tentang sosok Zoenoel yang peduli padanya. Clarine lebih suka menghadapi realita pahit ketimbang memabukkan dirinya lagi dalam imajinasi. Jadi ia dengan tegas berkata, "Aku tidak berniat untuk kabur."

"Apa sebegitu sulitnya untuk memilihku?" Zoenoel kembali bergumam samar. "Kenapa Katharina dan Glassina selalu menjadi sosok yang kau khawatirkan?"

Clarine harus berusaha keras untuk tetap waras. Godaan untuk mengakui kepedulian Zoenoel begitu gencar menuntutnya. "Mereka berdua selalu mengiatkanku padamu, aku tahu kau memiliki alasan untuk membenci keduanya, tetapi tetap saja ...."

"Kau tidak bisa membenci mereka," simpul Zoenoel. "Kau hanya sanggup membenci Queena."

"Aku tidak membenci Queena," sanggah Clarine. "Aku hanya curiga dengan beberapa hal tentangnya. Sikapku tidak ada hubungan dengan statusnya sebagai mantan Dazt. Aku menaruh curiga lebih karena statusnya sebagai mantan ketua Kelompok Pelindung, dan sebagian besar kecurigaanku telah terbukti benar."

"Apa kau bahagia menghabiskan waktu bersama Dazt?"

Pertanyaan Zoenoel selanjutnya membuat Clarine terdiam lama.

Setelah beberapa saat, Clarine akhirnya balas bertanya, "Apa kau bahagia menghabiskan waktu bersamaku?"

"Aku gelisah setiap kali berada jauh darimu." Zoenoel menarik nafas dalam.

Clarine tersenyum miris. Jawaban Zoenoel jelas bisa diartikan dengan manis, tetapi ia kembali memilih untuk tidak membiarkan dirinya tergoda. Sayangnya Zoenoel belum selesai.

"Aku menyukaimu Clarine," lanjut Zoenoel. "Bukan hanya karena tarikan fisik. Sifat ingin tahu berlebihanmu, kepedulianmu, caramu memandang segala sesuatu, kecurigaan-kecurigaan yang mudah muncul di kepalamu, ide-ide luar biasa, aku tertarik padamu lebih dari yang seharusnya dipaksakan segel. Karena itu aku ingin bertanya apakah ada sesuatu yang bisa membuatmu tidak memilih mereka?"

Setetes air mata Clarine lepas. Disusul beberapa tetes lainnya. Jika saja pernyataan ini terdengar jauh lebih awal, Clarine yakin ia tidak akan semenderita ini. Namun sekali lagi, Clarine menampar pikirannya, berusaha agar tidak terpengaruh perasaan. "Apa memilihmu selalu berarti mengabaikan mereka?" gumam Clarine sedikit serak.

Zoenoel mengangguk lemah.

"Kurasa aku tidak sanggup mengabaikan mereka. Aku sudah pernah mencoba dan kau tahu betul hasilnya. Di sisi lain, kau juga mencintai Valaria dan dia sanggup memilihmu."

***

Tampaknya Dazt tidak mau kalah dari Zoenoel dalam hal membuat Clarine keheranan. Selang satu hari dari kunjungan Zoenoel, tiba giliran Dazt memunculkan diri di depan kurungan Clarine. Berbeda dengan Zoenoel yang datang dengan curhatan dan pernyataannya, Dazt justru datang dengan topeng dan jubah yang biasanya digunakan Katharina.

"Cepat pergi dari sini. Pacarmu menggila dan kau memperburuk situasi dengan mencampakannya." Dazt mengoceh seraya mencipratkan beberapa ramuan untuk membuka kurungan Clarine.

"Apa yang terjadi?" tuntut Clarine "Kenapa kau membebaskanku?"

"Katharina baru saja ditangkap. Zoenoel melaporkan ibunya sendiri perihal pembantaian di bangsal korban ramuan. Saat Satuan Manguni melakukan penggeledahan, mereka menemukan topeng dan jubah seperti ini di tempat Katharina."

"Katharina dijebak?" Clarine sukar percaya Katharina akan membiarkan barang bukti ditemukan begitu saja.

"Kau bisa menganggap ini hari kesialan Katharina atau apapun, terserah."

"Apa yang kalian lalukan? Dan untuk apa kau mencuri topeng serta jubah itu?" tanya Clarine.

"Kata-katamu menyakitkan Honey. Aku hanya mencuri hati dan perhatian; aku tidak mencuri benda. Sebut saja aku punya cara tersendiri untuk mendapatkan benda ini dengan halal dan aku repot-repot membawanya ke sini untuk meyakinkanmu agar segera pergi. Aku sudah menghubungi orang tuamu dan saudarimu yang antimainstream sudah datang menemuiku. Tante Sayang bersedia membawamu sejauh-jauhnya dari pulau ini."

"Kenapa kau begitu ingin mengusirku?" Clarine menatap Dazt lekat. "Apa ada hubungannya dengan rencana Zoenoel?"

"Selama beberapa minggu belakangan, aku membantu Rexel dan kegilaannya menjadi detektif," tutur Dazt. "Kami menemukan banyak fakta mencengangkan. Namun kau harus menunggu sampai Zoenoel sendiri yang menjelaskan beberapa hal. Aku tidak mau menjadi perusak kesenangan. Intinya, kau sebaiknya tidak berada dekat dengan pulau ini selama beberapa waktu. Zoenoel tidak mau Katharina lolos lagi kali ini. Jadi ada kemungkinan kau juga akan dilibatkan. Seperti yang sudah kukatakan, pacarmu menggila. Sekarang pergilah sebelum ada yang datang."

"Apa yang lain tidak tahu dengan rencana pengusiranmu ini?"

"Tak perlu mengkhawatirkan aku. Kemampuan improfisasiku sudah diakui banyak orang. Mereka tidak akan begitu terkejut." Dazt menyempatkan diri untuk mengedip sebelum mendorong Clarine keluar.

"Bolehkah kupinjam topeng dan jubah itu?" tanya Clarine.

"Orang bisa salah sangka jika melihatmu dengan barang-barang ini."

"Orang juga bisa salah paham jika melihatmu dengan barang-barang itu apalagi dengan hilangnya aku dari kurungan."

***

Clarine tak sepenuhnya menuruti rencana Dazt. Bukannya menjahui keramaian dan diam-diam kabur, sosok Eucharistia justru memunculkan diri di Rumah Makan Cacing.

"Maaf jika saya muncul tiba-tiba dan mengganggu kegiatan makan Anda sekalian." Eucharistia membungkukan sedikit badannya. "Tetapi bolehkah saya mengucapkan beberapa hal?"

"Anda membohongi kami soal pelaku dalam kasus pembantaian di bangsal perawatan korban ramuan. Mau apa lagi sekarang?" teriak salah satu warga.

Eucharistia mengeluarkan sebuah jubah dan topeng hitam dengan motif bunga-bunga merah.

"Itu ... Anda yang membantai anggota keluarga kami?" seru suara lain.

Beberapa orang bahkan sudah berdiri untuk menyerang Eucharistia. Namun untuk mencegah kericuhan, Eucharistia segera melemparkan segel pengunci gerak kepada semua pengunjung di sekitarnya.

"Maaf atas ketidaknyamanan Anda sekalian," ujar Eucharistia. "Saya perlu mengatakan beberapa hal, Anda sekalian mohon mempertimbangkan dengan tenang dan tanpa prasangka. Pertama, topeng dan jubah yang mirip seperti apa yang saya bawa juga ditemukan di kediaman Katharina. Kita tahu bersama kalau ibu Katharina telah dinyatakan sebagai tersangka dengan penemuan barang tersebut. Namun, saya menjamin Anda sekalian juga akan menemukan benda-benda yang sama jika memeriksa kediaman, Queena sang Mantan Ketua Pelindung. Jadi dengan adanya lebih dari satu pemilik topeng dan jubah yang serupa, bagaimana Anda akan menentukan siapa pelaku pembantaian? Bukankah saksi mata hanya melihat satu orang?"

Clarine jelas tidak mengharapkan jawaban karena semua pendengarnya tidak dalam kondisi bisa bicara.

"Saya tidak bermaksud membantu Ibu Katharina," Eucharistia melanjutkan. "Saya hanya merasa bahwa agaknya tidak adil jika saya ketahuan memalsukan identitas sebagai Eucharistia, sementara Ketua Kelompok Pelindung tidak ketahuan memalsukan kematiannya. Ketua Kelompok Pelindung masih hidup. Ia berkeliaran dengan identitas bernama Queena yang lebih dikenal dengan julukan Si Ubur-Ubur Bernyanyi di bangsal anak-anak. Dalam kasus ini, mungkin Emenus dan Weya bisa membantu meyakinkan Anda. Ketua Kelompok Pelindung itu menumbalkan gadis bernama Igna yang Anda semua yakini sebagai dirinya. Sayangnya Anda sekalian tertipu."

Eucharistia merogoh Ramuan Penetral dari kantong dan mulai meruntuhkan penampilannya. Pada bagian baju, Clarine sedikit berhati-hati karena di baliknya terdapat baju hasil karya Faithy yang dipakainya dulu di peragaan busana.

"Selama ini saya dikenal sebagai Eucharistia. Namun seperti yang sudah Anda sekalian ketahui, saya bukanlah Eucharistia yang asli. Nama saya Clarine Kereh. Saya pernah berada di akademi pelatihan bakat selama beberapa bulan sebelum dikeluarkan karena ketahuan menyusup masuk sebagai siswa yang sebenarnya tidak diundang. Saya adalah Kaum Berbakat. Hanya saja, bakat saya tidak bisa dideteksi karena kemampuan garis keturunan keluarga Amamesa yang saya dapatkan melalui ritual. Ritual yang saya maksudkan bisa Anda pelajari di sini."

Clarine meletakkan duplikat jurnal Agnes yang dulu diberikan Glassina di atas salah satu meja.

"Saat ini. Saya menyerahkan diri untuk menjalani penyelidikan lebih lanjut." Clarine pun melepaskan ikatan segelnya dan membiarkan diri dibawa oleh Satuan Manguni.

***

"Sudah kubilang Katharina mencuci otak Clarine." Ryn berteriak kesal saat ia dan yang lain berkumpul di Arena Duel dan mendiskusikan perbuatan Clarine. "Lihat saja bagaimana Clarine yang dengan begitu bodohnya mengakui identitasnya lalu mengarang cerita gila. Ia bahkan tidak lupa melibatkan Queena. Jelas sekali otak Clarine sudah benar-benar kacau sekarang."

"Untung saja dia tidak menyeret kita semua ke dalam kegilaannya." Drina menimpali.

Ryn mengangguk bersemangat. Lalu hening.

"Bagaimana ini?" Maery akhirnya bertanya. Suaranya sarat dengan kekhawatiran. "Clarine bisa dihukum berat."

"Dia jelas akan dihukum berat," sangga Drina.

"Bagaimana kalau hukuman mati?" celetuk Ryn, "Clarine jelas membohongi publik dengan identitasnya sebagai Eucharistia, lalu ia melibatkan diri dalam hukuman Katharina sebagai pembantai, dan ia mencemarkan nama baik Queena. Clarine bahkan menunjukkan pada semua orang kalau dia tidak melupakan soal Kaum Berbakat. Jika Pak Raizer masih hidup, entah apa masalah yang akan diterima beliau."

"Kita harus segera memusnakan sumber masalahnya," gumam Zoenoel.

"Apa maksudmu?" Dazt memastikan, "apa kau bermaksud membunuh Katharina?"

Zoenoel mengangguk mantap.

"Kau merancangkan kematian ibumu sendiri?" pekik Maery.

"Kurasa itu memang jalan keluar satu-satunya." Ryn menimpali. "Wanita itu sudah meresahkan banyak orang dengan tingkah gilanya dan hanya kita yang tahu identitas sebenarnya. Jika kita membiarkan ini, dia akan semakin menggila."

"Lalu bagaimana dengan Clarine? Jika Katharina tidak ada, bagaimana kita membuktikan kalau Clarine bukan sosok pembantai di balik topeng?" tanya Maery.

Hening.

Tidak ada seorang pun yang merespons pertanyaan Maery.

"Kalian akan membiarkannya dihukum atas kesalahan yang tidak diperbuatnya?" ujar Maery tak percaya.

"Salahnya sendiri menjadi begitu bodoh hingga dimanfaatkan," seru Ryn.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top