3. Terikat Pada Orang Yang Salah
Pikiran buruk baru saja terlintas di pikiran Clarine saat terdengar suara samar dari luar. Buru-buru Clarine keluar dari ruangannya dan menuruni tangga.
Begitu melihat Zoenoel yang tampak baik-baik saja, Clarine langsung mengembuskan nafas lega. Kegundahannya hilang seketika.
Namun ada yang aneh, Clarine tidak melihat keberadaan Faenish, Ezer, Drina serta Pak Razor. Clarine justru melihat sosok pemuda yang kalau tidak salah namanya Rael. Clarine pernah melihat pemuda itu saat berkunjung ke rumah Faenish beberapa minggu yang lalu. Tepat sehari sebelum pemuda itu berhasil melarikan diri.
Saat ini, Rael sedang melayang tak sadarkan diri, bersebelahan dengan dua sosok Glassina. Salah satu Glassina juga melayang tak sadarkan diri, sementara yang satu lagi terlihat transparan dan berdiri menginjak lantai.
"Apa yang terjadi?" tanya Clarine begitu ia menghampiri teman-temannya.
"Kami mendapat beberapa masalah karena pemuda itu." Maery menunjuk ke arah Rael. "Serta karena kemunculan Pengkor yang—"
"Bukan hanya beberapa masalah, kita mendapatkan bencana berlipat-lipat," sanggah Ryn dengan nada kesal dan tatapan menusuk ke arah Rael. "Gara-gara dia, kami kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Pak Razor. Tak hanya itu, dengan segel sialannya, sekarang Ezer kehilangan kesempatan untuk bebas dari pengaruh Katharina. Seakan semua itu belum cukup, Pengkor datang membawa kekacauan dan bom. Mereka nyaris membuatku benjol dengan pecahan beton."
"Rael sudah ada di ruangan Glassina lebih dahulu untuk melakukan sejenis ritual. Ia juga nyaris menyerang Faenish dengan segel Mawakes Jiwa, segel yang pernah mengikat Faenish dengan Ezer beberapa waktu lalu." Maery menjelaskan dalam bisikan kepada Clarine, sementara Ryn masih menggerutu sendiri. "Sialnya bagi Rael, tepat saat segel diaktifkan, Zoenoel tiba-tiba saja muncul di antara mereka dengan teleportasi. Akibatnya, bukan Faenish yang terkena segel, tetapi justru Glassina yang pada saat itu dibopong oleh Zoenoel. Masalahnya, hingga Glassina terbebas dari ikatan segel, ia kehilangan bakatnya. Jadi Faenish dan Ezer tidak bisa melakukan percobaan pada gadis itu—"
"Untung saja bukan Zoenoel yang kena," potong Ryn histeris. "Aku tidak bisa membayangkan jika dua pria normal diikat oleh segel mengerikan itu. Bagaimana mungkin Zoenoel akan mencintai Rael? Mereka akan terikat selama-lamanya. Itu benar-benar mengerikan."
"Setidaknya Rael juga mendapatkan hukuman tersendiri." Maery memberikan pendapatnya. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sengsaranya pemuda itu karena tidak bisa berpisah dengan sosok berisik seperti Glassina. Kalaupun nantinya Glassina bisa terbebas karena mencintai Rael, pasti cerita mereka akan sangat-sangat panjang. Mustahil gadis seperti Glassina akan begitu saja bertobat."
"Apa maksudmu berkata begitu?" tuntut sosok transparan Glassina berang.
"Kau berisik dan kau bodoh," balas Ryn.
"Kau juga berisik Ryn. Kalian berdua diamlah." Dazt ikut mengeraskan suara. "Kepalaku sakit gara-gara kalian, jadi sebaiknya kalian bersiap ke sekolah. Biar aku yang menjaga Glassina dan Rael di sini."
"Dengan senang hati. Ayo kita pergi," seru Ryn sambil mengait lengan Maery. "Kau harus segera mencari penyumpal telinga untuk dirimu Dazt."
Mendengar sindiran Ryn, sosok transparan Glassina kembali berteriak kencang. Clarine bahkan harus menutup kedua telinganya saat ikut berjalan keluar bersama yang lainnya.
***
Berita soal pembobolan di lapas segera mencuat menjadi berita hangat pada hari itu. Para siswa di akademi sibuk berbagi asumsi saat membaca tulisan di langit-langit ruang lingkar jalan. Clarine sudah mendengar cerita dari Maery saat jam istirahat, tetapi Maery pun tidak begitu tahu cerita lengkapnya. Terutama tentang fakta hilangnya beberapa tahanan selain Glassina dan tentang Pengkor yang dinyatakan sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Sisi baik dari peristiwa tak terduga ini adalah tak ada yang mencurigai teman-teman Clarine. Sisi buruknya, keadaan menjadi sedikit kacau karena para pelaku terror tidak ada satu pun yang tertangkap.
"Kurasa ini ada hubungannya dengan ketua kelompok pelindung yang belum tertangkap. Bagaimana mungkin Kaum Nonberbakat bisa membobol lapas dengan perlindungan berlapis?" Eucharistia bisa mendengar salah satu siswa mengutarakan pendapatnya.
"Aku setuju," seru siswa yang lainnya. "Kudengar dari saudaraku di Satuan Manguni, mereka dituntut melakukan operasi lebih gencar dalam penyelidikan dan pencarian beberapa orang yang dianggap mencurigakan. Mantan ketua kelompok pelindung termasuk dalam daftar."
Clarine agak khawatir dengan keterlibatan Pengkor yang tampak terlalu kebetulan melakukan kunjungan ke lapas di waktu yang sama dengan teman-temannya. Karena itu, Clarine segera pergi ke Arena Duel begitu selesai dengan urusan di akademi.
***
Saat Clarine melangkah melewati portal, ia langsung disambut oleh teriakan nyaring hingga membuat telinganya sakit.
"KEMBALIKAN TUBUHKU! AKU TIDAK SUDI JADI ARWAH GENTAYANGAN."
"Tidak bisakah kita menyumpal mulutnya?" Terdengar seruan kesal Ryn saat Clarine berjalan menghampiri Maery, Ryn dan Valaria yang berdiri membelakanginya.
"Dia transparan, kecuali kau punya kain yang juga transparan untuk melakukan itu," jawab Maery terdengar sama kesalnya. "Mungkin kita harus meminta Drina menghilangkan perlindungan yang baru ia pasang di tempat ini. Bukankah lapisan perlindungan itu yang membuat kita bisa melihat dan mendengar sosok Glassina?"
"Ya, aku setuju. Biarkan Rael sendiri yang menikmati ocehan gadis gila itu. Oh Tuhan, Bebaskan gendang telinga kami semua dari ancaman kerusakan berat," seru Ryn keras untuk mengimbangi teriakan tak karuan dari Glassina.
"Bukankah kau sudah menggunakan penutup telinga?" Valaria menunjuk penutup telinga besar, berbulu, dan berwarna merah jambu yang menempel di kedua telinga Ryn.
"Ini bahkan tidak mempan," keluh Ryn.
"Bagaimana kalau gerakan mulutnya dikunci dengan segel pengunci gerak?" usul Clarine.
"Kita hanya bisa mengunci pergerakan Rael. Segel itu tidak berpengaruh pada sosok transparan Glassina," jawab Valaria.
"Ini benar-benar buruk," gumam Maery. "Glassina tampak tak akan berhenti berteriak, bahkan tidak untuk alasan lelah atau kehabisan suara. Tampaknya dia tidak perlu mengkhawatirkan tenggorokannya saat berwujud transparan begini."
"Menurut kalian, apakah ada kemungkinan kalau kemunculan Pengkor semalam bukan kebetulan?" Clarine mengajukan pertanyaan yang sudah mengganggunya sejak tadi siang.
"Apapun itu, selama kita tidak dirugikan, bukan masalah untuk sekarang," ujar Ryn. "Karena di depan kita sekarang terletak masalah yang lebih mendesak."
Belum sempat Clarine merespons, sapaan Faenish terdengar dari belakang. "Kami kembali."
Faenish tidak sendiri, ia datang bersama Drina dan masing-masing dari mereka membawa beberapa kotak.
"Ada apa dengan semua kotak P3KD itu?" tanya Ryn.
"Kita akan mengurung mereka." Drina memberikan isyarat ke arah Glassina dan Rael. "Apa Dazt sudah kembali?"
"Kami tidak melihatnya," jawab Maery. "Memangnya kenapa?"
"Kita perlu menurunkan beberapa perlindungan sebelum membuat kurungan untuk mereka berdua." Drina mengalihkan pandangannya ke arah Clarine. "Bisa kau temani aku ke atas?"
"Untuk apa?" tanya Clarine spontan.
"Sudah ikut saja." Drina segera menarik tangan Clarine dan setengah menyeretnya ke lantai atas.
Ruangan di lantai atas hanya ada dua. Sebelum Clarine menjadi Penguasa Arena, satu ruangan adalah kamar Dazt, sementara ruangan lain adalah ruang kerja pemuda itu. Saat Clarine menjadi Penguasa Arena, kamar Dazt beralih fungsi menjadi ruangan pribadi Clarine sementara ruangan yang lain ditempati Dazt sendiri.
Sekarang, saat Drina tak mengacuhkan celah batu yang menuju ruangan pribadi Penguasa Arena, Clarine langsung tahu ke mana mereka akan pergi.
Clarine tidak pernah berjalan lebih jauh ke tempat ini sebelumnya. Ia tidak pernah merasa perlu, dan sekarang Clarine cukup ragu dengan keputusan Drina.
Drina berhenti tepat di depan permukaan dinding yang ditutupi dengan kain gorden tebal. Saat Drina menyibakkan kain gorden, Clarine hanya melihat permukaan dinding kosong. Jika memang ini jalan masuk ke ruangan Dazt, artinya Clarine tidak diperkenankan masuk. Karena sama seperti celah batu ke ruangan Penguasa Arena, Clarine yakin jalan masuk ke ruangan Dazt hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang diizinkan.
"Masuk ke sini!" perintah Drina seraya ia melangkah mendekati permukaan dinding. Drina tampak tidak akan membuat segel pembuka portal atau menggunakan ramuan, sepertinya ia bisa melihat pintu yang tidak bisa dilihat Clarine.
"Bisakah aku menunggu di sini saja? Aku tidak bisa melihat jalan masuknya," ujar Clarine.
Drina berhenti tepat di depan dinding dan berbalik menghadap Clarine. "Bagaimana kau melihatnya kalau kau berdiri di situ. Ayo cepat kemari."
Clarine menurut, ia mengikuti Drina yang berdiri dengan punggung bersandar pada dinding sebelum membantu gadis itu menarik kain gorden menutupi mereka berdua.
Tepat saat kedua kain gorden bertemu di tengah, permukaan kain itu langsung menghilang digantikan sebuah ruangan luas.
"Bisa melihatnya sekarang?" cemooh Drina.
Clarine hanya bisa mengangguk, ia terlalu takjub dengan ruangan di depannya.
Permukaan dinding batu di bagian kiri ruangan membentuk ceruk yang dipenuhi rak-rak kayu. Jajaran buku dan berbagai macam wadah berisi ramuan saling bersilangan membentuk pola unik dalam rak-rak kayu tersebut.
Sementara di bagian lain terdapat sebuah area yang cukup luas untuk melakukan perkerjaan dengan ramuan, serta sebuah meja kerja yang terlihat berantakan dengan segala macam dokumen yang berserakan hingga ke lantai.
Bagian ujung terjauh ruangan ditempati oleh sebuah ranjang besar dan sebuah grand piano yang melayang-layang sekitar setengah meter di atas permukaan lantai batu.
Bulu kuduk Clarine langsung meremang saat memasuki ruang kerja Dazt yang merangkap kamar pemuda itu. Namun itu bukan karena kekaguman. Clarine sudah berulang kali merasakan sensasi seperti ini sebelumnya, dan ia sudah mengenali apa maksud sensasi itu.
"Di mana ujung lain portal ini?" Clarine tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Matanya menatap lekat sebuah cermin antik besar yang tingginya sekitar dua meter. Kalau diperhatikan, cermin itu tak hanya eksentrik, benda tersebut juga tampak tak seragam dengan tema perabotan lainnya.
"Portal yang mana?" tanya Drina tanpa membalikan badan, ia tetap saja melakukan entah hal apa dengan sebuah kotak yang menempel di dinding batu.
"Di permukaan cermin ini," ujar Clarine.
"Aku tidak tahu di situ ada portal." Drina akhirnya berhenti dari kesibukannya dan ikut menatap cermin di depan Clarine.
Tiba-tiba saja Clarine merasakan sensasi getaran dan sosok Queena melangkah keluar dari cermin.
"Sedang apa kalian di sini?" Tanya Queena yang terkejut mendapati Clarine dan Drina. Pertanyaan yang sama juga dilontarkan oleh Dazt yang muncul di belakang Queena. Bedanya nada suara Dazt terdengar dingin menusuk. Sepertinya pemuda itu tidak dalam suasana hati yang baik.
Meski begitu, Drina dan Clarine sama-sama tidak menjawab. Drina justru balas bertanya, "Di mana ujung lain portal ini?"
"Kamarku," jawab Queena dengan senyuman malu-malu.
"Kamar?" Drina memastikan. "Kalian membuat portal yang menghubungkan kamar masing-masing?"
"Dia dulu Penguasa Arena dan ini dulu bukan kamarku," jawab Dazt, terdengar semakin kesal. Ia melirik ke arah kotak di dekat Drina serta peralatan yang dibawa gadis itu. "Cepat selesaikan urusan kalian dan keluar dari sini." Ia pun langsung melangkah pergi tanpa berkata apapun lagi.
Queena juga menyusul di belakang Dazt setelah melemparkan seulas senyum ke arah Drina dan Clarine sebagai permohonan undur diri.
"Bagaimana kau tahu soal portal itu?" tanya Drina, tampak tidak terpengaruh dengan sikap Dazt.
"Bisa dibilang aku bisa merasakan sensasi dingin setiap kali berada di dekat portal." Tatapan Clarine masih tertuju pada tempat Dazt dan Queena menghilang.
"Kemampuan yang keren. Apa masih ada portal lain di ruangan ini?"
Clarine menggeleng. "Dazt tampak marah, apa karena kita masuk ke sini tanpa izin dan mengganggu acaranya?"
"Tenang saja. Dazt punya hubungan yang rumit dengan kita berdua, terutama kau. Selama kau menjadi sumber uang baginya, ia tidak akan mencelakakan dirimu walaupun ia paling benci saat privasinya diganggu. Memangnya kau pikir kenapa aku mengajakmu menemaniku di sini?" Drina kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kau membuat masalah ini terdengar lebih buruk."
"Aku pernah membuat Dazt lebih kesal dari ini, tenang saja."
***
Setelah beberapa menit berkutat dengan ramuan, Clarine dan yang lain akhirnya bisa duduk menghadap kurungan yang mereka buat untuk Glassina dan Rael. Kedua tahanan tersebut kini terkurung dalam kubus transparan. Bedanya, Rael mendapat satu kubus ekstra yang lebih kecil sehingga memisahkannya dari Glassina, serta menjaganya tetap berada di tengah-tengah. Dalam kedua kubus, masing-masing diberikan berbagai perabot yang menyangkut kebutuhan dasar manusia serta dilengkapi ramuan kedap suara.
Dengan keberadaan kurungan tersebut, Arena Duel kini menjadi tetang tanpa terdengar ocehan—atau lebih tepatnya teriakan memekakkan telinga—dari Glassina.
"Oh lihat dia. Kita seperti sedang memelihara ikan piranha dalam akuarium. Ia terus saja bergerak ke sana kemari tanpa kenal lelah dengan mulut yang tidak henti-hentinya membuka dan menutup." Ryn berkomentar seraya memandangi Glassina yang tampak sangat kesal dalam kurungan.
"Ada yang datang," ujar Drina tiba-tiba seraya menolehkan kepala ke arah portal.
Saat Clarine mengikuti arah pandangan Drina, ia melihat Pak Krav melangkah mendekat. Clarine dan yang lain buru-buru bangkit berdiri untuk menyapa sang Kepala Akademi Pelatihan Bakat. Sesuai dugaan Clarine, suasana berubah menjadi canggung. Tak ada yang berani angkat bicara, terutama ketika Pak Krav hanya terpaku menatap sosok Glassina.
"Aku sudah tidak bisa melihat ingatannya lagi," kata Pak Krav setelah melakukan kontak mata cukup lama dengan Glassina.
"Kenapa tidak?" tanya Faenish. Nada kecewa terdengar cukup jelas dalam suaranya.
"Terapi yang ia jalani selama di Pusat Rehabilitasi memblokir aksesku untuk masuk," jawab Pak Krav.
"Astaga. Kita sudah repot-repot mengambilnya, dan ternyata ia tidak berguna lagi," keluh Ryn spontan. Begitu Pak Krav meliriknya sekilas, Ryn buru-buru menambahkan, "Maaf."
"Kalau begitu saya permisi," pamit Pak Krav.
Namun sebelum Pak Krav sempat berbalik, Ryn berseru keras. "Bagaimana dengan ingatan Glassina? Kami tak mungkin mengembalikannya tanpa menghapus ingatan soal penculikan ini bukan?"
"Kita tidak bisa mengembalikan mereka," ujar Faenish. "Dengan ikatan segel yang kini mengikat mereka berdua, akan berbahaya jika mereka terpisah jauh. Sebaiknya mereka tetap di sini untuk sementara." Faenish kemudian berbalik menghadap Pak Krav dan berkata, "Mari, biar saya antar ke depan."
"Kalau mereka tetap di sini, siapa yang akan ditumbalkan untuk menjadi sipir? Belum lagi soal makanan. Oh, ini benar-benar merepotkan," keluh Ryn sekali lagi begitu Faenish dan Pak Krav berada cukup jauh.
"Kurasa mereka tidak perlu diawasi sampai sebegitunya," sangga Drina. "Kalaupun perlu, ada Dazt yang tinggal di sini. Dia sudah dipastikan menjadi sipir utamanya. Soal makanan, biar menjadi urusan Faenish. Tante Sara pintar memasak dan Faenish sendiri sudah menguasai teleportasi, jadi tidak perlu repot membuka-tutup kurungan setiap jam makan."
"Bagaimana kalau kita pasang kamera pengawas," usul Maery.
"Memangnya sejak kapan ada kamera yang bisa mengambil gambar dengan baik di pulau ini?" keluh Ryn. "Perlindungan sialan yang melingkupi seluruh pulau dan setiap dimensi buatan yang ada di dalamnya, akan langsung merusak bagian rekaman dan foto yang menggambarkan penggunaan bakat. Sialnya lagi, tak ada ramuan maupun segel yang bisa menyamai fungsi kamera selain Portal Kaca. Sementara Portal Kaca hanya bisa digunakan untuk saling mengintip dan tidak merekam. Kita ada di zaman modern tetapi aku merasa kita tak ada bedanya dengan zaman batu dalam hal mengabadikan momen."
"Siapa bilang tidak ada," Drina berkata dengan malas-malasan. "Kalau kalian mau, cukup bawakan satu Buku Hitam tingkat 3 dan satu tumbal yang memiliki penglihatan bagus."
"Buku terlarang dan tumbal?" Maery memastikan pendengarannya masih baik.
"Ya," jawab Drina. "Kalau tidak salah, untuk membuat Ramuan Mata Perekam dibutuhkan bahan baku seperti bola mata, gendang telinga, beberapa bagian otak, serta jaringan syaraf dalam keadaan segar."
"Gila. Ramuan macam apa itu?" pekik Ryn.
"Alat perekam fersi Kaum Berbakat yang kalian inginkan," jawab Drina.
"Tidak adakah sesuatu yang lebih bermoral?" imbuh Maery.
"Menurut kalian kenapa Kelompok Pelindung maupun Satuan Manguni harus berbagi jadwal mengawasi Cermin-cermin Pengawas serta berpatroli jika ada sebuah alat perekam yang diizinkan pembuatannya?"
Hening. Maery dan Ryn terlalu ngeri dengan bayangan mereka.
"Kupikir ini sudah cukup larut, ada baiknya kita semua kembali dan beristirahat," usul Clarine untuk memecah kesunyian.
"Kau mau pulang?" celetuk Ryn. "Bukannya sampai pelantikan nanti, kau menginap di sini?"
Clarine menelan ludah berat. Walaupun ia tidak melihat keberadaan Dazt dan Queena setelah insiden di kamar tadi, tetap saja Dazt bisa kembali kapanpun. Belum lagi kalau Dazt berniat menumpahkan kekesalan dengan mengerjai Clarine. Ia jelas tidak ingin jadi tempat pelampiasan.
Masalahnya, Clarine tidak bisa pulang begitu saja. Ia tidak bisa mengatakan kalau Zoenoel bisa menjaganya di rumah. Yang tahu soal Zoenoel setiap malam menjaga Clarine hanyalah Maery, Valaria dan Dazt. Memberitahu yang lain jelas bukan suatu tindakan bijak. Ryn dipastikan akan mengatai Clarine sebagai perempuan murahan dan mengoceh panjang.
"Bagaimana kalau kau membuatkan perlindungan di kamar Clarine? Seperti yang kau buat pada kamar Faenish," usul Maery kepada Drina.
Drina berdecak tak sabar. "Harus berapa kali kukatakan kepadamu Maery, kita tidak bisa membuat perlindungan di kamar Clarine selama semua orang tahu kalau dia Kaum Nonberbakat."
"Kalau begitu bagaimana kalau Clarine menginap di rumahmu Faenish?" terdengar seruan Dazt. Pemuda itu kemudian nampak berjalan mendekat. "Kudengar Clarine ingin belajar sejarah daerah sebagai persiapannya menjadi menteri."
Clarine sendiri bingung kapan ia pernah mengatakan hal itu. Namun, Ia tak sempat mengajukan protes karena Faenish sudah lebih dahulu berseru, "Tentu saja boleh."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top