26. Penjaga Cadangan
Clarine tentu saja berhasil selamat. Begitu juga dengan yang lainnya. Satuan Manguni berhasil menyelamatkan mereka semua sebelum dimensi buatan itu lenyap. Namun bukan berarti Eucharistia aman.
Gempa serta Lubang Hitam yang dihadapi Clarine dan timnya bukanlah bagian dari tantangan turnamen. Satuan Manguni telah menyatakan bahwa kejadian tersebut memiliki banyak kesamaan dengan kasus di ruang kelas ramuan. Gempa yang pertama terjadi telah dipastikan sebagai akibat ledakan bom yang diletakan di bagian dalam bebatuan tebing.
Status Eucharistia sebagai pengecek terakhir kesiapan acara turnamen tentu saja menjadi masalah. Apalagi banyak orang mempertanyakan ketidakhadiran Eucharistia pada pelaksanaan acara turnamen itu sendiri.
Katharina sudah mencoba membuatkan alasan bagi ketidakhadiran Eucharistia. Namun dengan nyaris terbunuhnya enam remaja, bahkan alasan yang dibuat Katharina pun tak begitu digubris.
Clarine sendiri tidak berniat memunculkan Eucharistia untuk saat ini. Fisiknya sudah terlalu lelah. Ia dipastikan tidak akan bisa mengatasi situasi yang ada. Jadi untuk kali ini, Clarine membiarkan dirinya hanya menjadi seorang gadis tak berdaya yang baru saja menjadi korban.
Tak nyaman dengan suasana rumah sakit yang dipadati para pencari berita, malam itu juga Clarine memaksa agar bisa dipulangkan. Selain beberapa luka lecet dan memar, kondisi fisik Clarine tidaklah begitu buruk, jadi keinginannya pun terkabul.
Masalahnya, keputusan Clarine untuk mencari ketenangan di rumah justru berdampak buruk bagi kondisi mentalnya. Sosok Zoenoel muncul tak berapa lama setelah Clarine membaringkan diri di tempat tidur.
Tidak ada basa-basi: apa kau baik-baik saja. Pemuda itu hanya muncul dan memandang Clarine yang tengah berbaring.
"Bisakah kau tidak menjagaku untuk malam ini?" gumam Clarine nyaris tak terdengar. Ia memeluk bantal dengan pandangan menerawang ke arah jendela. "Katharina juga pasti terlalu sibuk untuk datang mengerjaiku dalam waktu dekat. Aku ingin sendiri."
"Kita berdua sama-sama tahu kalau kondisi Valaria yang paling membutuhkan penanganan cepat."
Mendengar nama Valaria diungkit, suasana hati Clarine semakin memburuk. Apalagi jika nama itu diucapkan langsung oleh Zoenoel. Clarine tidak menyahut, Zoenoel juga diam selama sesaat.
"Tidak ada yang benar dari kita berdua," ujar Zoenoel lemah. "Sejak awal tidak ada yang benar dari hubungan ini."
Clarine tersenyum miris.
Hening lama.
"Aku tidak mungkin menyelamatkanmu setiap waktu. Tidak ada seorang pun yang sanggup melakukan hal seperti itu. Sosok pangeran impian hanya ada di negeri dongeng, tidak di dunia nyata." Suara Zoenoel terdengar samar sebelum ia melanjutkan dengan nada datar, "Aku akan meminta Dazt menjagamu malam ini."
"Tidak perlu. Kurasa aku butuh sendiri."
Zoenoel pun berteleportasi pergi. Tak ada salam atau ucapan selamat tidur; apalagi ungkapan kekhawatiran. Pemuda itu pergi begitu saja.
Tingkah Zoenoel hari ini jelas memberikan efek tersendiri bagi Clarine. Namun ia tidak menangis. Clarine hanya terdiam. Begitu terus hingga ia terlelap.
***
Clarine terbangun dengan selamat. Ia tak diserang Katharina.
Melihat kondisi yang ada, ia juga tidak digunakan Katharina untuk melakukan apapun. Clarine masih bergelung dalam posisi yang sama. Nyeri dan pegal di tubuhnya membuktikan bahwa ia tak berubah posisi semalaman. Tak ada yang terjadi. Tidak ada yang berubah dan tidak ada Zoenoel.
Pemuda itu tidak menjaganya. Clarine yakin itu. Tanda-tanda keberadaan Zoenoel saja tak ada.
Clarine mengembuskan nafas panjang dan meregangkan badan. Waktu bermuram durja sudah harus berakhir, dunia berputar dan waktu terus berjalan. Ada kehidupan yang harus dijalaninya.
Saat ini bukan waktu bagi Clarine untuk mengasihani diri, masih ada Maery yang perlu dicek keadaannya serta nasib Eucharistia yang harus dipikirkan. Clarine pun yakin sekolah akan lebih berat dari hari-hari biasanya, jadi ia harus mempersiapkan diri.
Salah satu hal yang menyebalkan dengan tersingkapnya keberadaan Kaum Berbakat adalah bersatunya para anti-Clarine dan bertambahnya cangkupan informasi mereka. Clarine yakin mereka sudah mendengar tentang berita kemarin dan sudah siap dengan serangan mental serta fisik untuk dirinya.
Bukannya Clarine besar kepala, ia hanya tahu para penggemar Zoenoel dan penggemar Valaria tak begitu menyukai hubungan dirinya dan Zoenoel. Kejadian Zoenoel mengabaikan Clarine pasti tak akan dilewatkan oleh mereka, meskipun membahas tentang ledakan atau dugaan teror jauh lebih penting.
Dugaan Clarine terbukti benar. Hari itu menjadi cukup menyebalkan dengan sindiran-sindiran kentara. Sayangnya, hari berat Clarine juga harus dilanjutkan dengan acara introgasi dari Satuan Manguni serta keharusan menghadiri pemeriksaan ulang di rumah sakit.
Saat Clarine akhirnya sampai di rumah, hari sudah malam. Langkahnya gontai dan semangatnya habis terkikis. Sebelum membuka pintu kamar, Clarine bahkan perlu menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
Clarine cukup yakin Zoenoel tidak akan datang malam ini. Namun, bukan berarti dirinya tidak berharap. Meskipun ia telah membulatkan tekad, tak dapat dipungkiri kalau ada bagian dirinya yang masih menginginkan kehadiran sosok Zoenoel. Karena itu selama beberapa jam kemudian, Clarine akan langsung menolehkan kepala setiap kali mendengar suara-suara kecil.
Entah sudah berapa kali ia melirik jendela setiap kali angin berembus dan menimbulkan suara bergetar. Yang pasti cukup banyak hingga Clarine merasa dirinya sendiri tolol.
Dengan perasaan kesal pada diri sendiri, Clarine kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi kepala. Ia berusaha keras mengabaikan setiap suara atau firasat yang membuat kepalanya berpikir: mungkin itu Zoenoel.
Lalu Clarine mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Kali ini Clarine mematung di tempat. Ini di luar dugaannya. Clarine memang berharap Zoenoel datang, tetapi bukan berarti ia siap dengan hal tersebut.
Clarine tahu ia seharusnya menguatkan hati dan mengusir pemuda itu lagi. Hanya saja, Clarine tidak yakin bisa melakukan hal tersebut untuk kedua kalinya. Takutnya Clarine justru semakin memperumit keadaan dengan memeluk Zoenoel.
Clarine terus berdebat dengan dirinya sendiri hingga tak sempat menghindar saat segel pengunci gerak mengenai tubuhnya.
Seketika fantasi Clarine berganti pikiran waras. Di saat bersamaan, tubuhnya ditarik mendekati sosok bertopeng hitam yang berdiri tak jauh dari pintu kamar. Otak Clarine langsung menghubungkan ciri-ciri sosok di depannya dengan cerita Faenish. Topeng hitam dengan hiasan bunga merah, Katharina.
Baru sehari Zoenoel meninggalkannya dan apa yang ditakutkan pemuda itu sudah terjadi. Clarine merutuki kebodohannya.
"Mengira kedatangan orang lain?" Nada ejekan terdengar kental dalam suara Katharina yang beraksen aneh.
Clarine bisa saja langsung membuat segel dalam pikiran dan menyerang sosok di depannya itu, tetapi rasa penasaran mengurungkan niatnya.
Selama ini Katharina tak pernah menunjukkan sisi gelapnya secara langsung di hadapan Clarine. Jadi saat hal itu terjadi sekarang, rasa ingin tahu Clarine terusik. Clarine pun berencana untuk membiarkan Katharina berbuat sesuka hati selama beberapa saat.
"Aku mampir untuk mengantarkan hadiah untukmu." Sosok bertopeng itu mengeluarkan sebuah botol dari jubahnya. Dari ukiran dan bentuk botolnya, Clarine langsung mengenali benda itu sebagai cairan ingatan yang dulu ditunjukan Katharina di kamar Glassina. Hanya saja, cairan itu agak tampak berbeda. Seakan ada sedikit warna kekuningan yang menari di antaranya. Ini jelas tidak berarti baik.
Rasa penasaran kembali mencegah Clarine untuk bereaksi saat cairan ingatan itu dengan kasar dipaksa memasuki tenggorokannya.
Detik selanjutnya, Clarine dipeningkan dua hal. Pertama, karena sensasi bakat aneh yang terasa saat sosok bertopeng itu menyentuhnya. Kedua, karena isi ingatan dalam botol.
Clarine benar-benar menyesali rasa penasarannya. Sekarang sebuah ingatan mengerikan bersarang di kepalanya hingga membuat Clarine berteriak histeris. Proses ritual tukar darah bukanlah sesuatu yang indah untuk dibayangkan apalagi dilihat langsung dari sudut pandang pelaku.
Serbuan ingatan tersebut cukup untuk melumpuhkan Clarine. Ia sampai tidak menyadari datangnya serangan. Jangankan membalas, untuk sekadar membuat perlindungan saja, otak Clarine tidak mau memberikan gambaran jelas tentang segel apapun. Clarine hanya bisa pasrah saat dirinya disiksa secara fisik dan pikiran.
Pada detik-detik terakhir kesadarannya, Clarine merasakan sensasi pembukaan portal dan ia melihat sosok Dazt melangkah keluar.
"Kau punya penjaga cadangan rupanya." Nada suara Katharina berubah kental dengan kekesalan. Bahkan Clarine yakin sempat mendengar suara geraman marah. "Kalau begitu kita lanjutkan nanti."
Siksaan itu pun akhirnya berhenti. Tubuh Clarine terhempas jatuh. Namun ia tidak pernah menyentuh lantai, Dazt sudah menyambutnya lebih dahulu.
Kesadaran Clarine lalu lenyap.
***
Saat Clarine tersadar, ia sudah berada di ruangan pribadi Penguasa Arena. Hanya ada satu orang yang sedang duduk menunggunya, Valaria.
Gadis itu juga nampak tidak dalam kondisi baik. Tubuh Valaria masih dibebat di beberapa bagian, wajahnya pun masih pucat dengan beberapa bekas luka kering.
"Kau siuman? Syukurlah." Suara Valaria terdengar parau.
Clarine tidak bisa merespons banyak. Nyaris sekujur tubuhnya terasa nyeri saat digerakan. Bahkan untuk mengeluarkan suara pelan pun rasanya Clarine tak sanggup, tenggorokannya terasa sangat sakit setiap kali ia mencoba.
"Aku minta maaf atas sikapku akhir-akhir ini dan aku juga minta maaf untuk ... Zoenoel." Suara Valaria nyaris tak terdengar saat ia menggumamkan nama Zoenoel.
Ekspresi wajah Valaria menunjukkan dengan jelas bahwa ia pasrah menerima amukan Clarine. Namun, yang tercipta selanjutnya hanyalah keheningan yang canggung.
"Ia hanya bermaksud membatuku mencari bukti keterlibatan Katharina dalam kasus ayahku." Valaria kembali membuka suara. "Kami tidak menjalin hubungan lebih, tetapi tak bisa kupungkiri kalau aku sering menunjukkan perhatian berlebih padanya. Aku tahu, aku sudah melanggar ucapanku sendiri. Aku masih belum sepenuhnya berhasil merelakannya."
Valaria berhenti untuk mengamati ekspresi Clarine. Seperti sebelumnya, Clarine masih tetap diam. Meski ragu kalau Clarine sudah benar-benar sadar, Valaria tetap melanjutkan. "Kau tenang saja Clarine, apapun yang kulakukan, dia tetap akan memilihmu. Aku sudah tahu perihal segel yang mengikat kalian dan Zoenoel dengan tegas memintaku untuk menghapus perasaan apapun yang tak mungkin dibalasnya."
Perlu beberapa tarikan napas panjang untuk menenangkan Valaria sebelum ia kembali bicara. "Aku menganggap keteguhan Zoenoel memilihmu sebagai suatu keuntungan, aku bisa memiliki kesempatan mengekspresikan perasaanku tanpa takut akan membuatnya berpaling darimu. Ya, aku sadar ini sesuatu yang tidak pantas dilakukan sahabat. Hanya saja, situasi saat ini tidak sanggup kujalani sendiri. Sampai kasus ayahku selesai, hanya sampai saat itu, lalu aku akan benar-benar menghilang dari antara kalian."
"Jika kondisi Clarine memburuk, kau juga ikut bertanggung jawab Valaria." Sosok Drina tiba-tiba melangkah masuk dan menghampiri Clarine dengan sebotol ramuan di tangannya. "Clarine belum sembuh dari luka fisik dan kau sudah mengusik mentalnya. Tidakkah kau tahu stress mempengaruhi kesehatan?"
"Maaf aku hanya...."
"Lakukan sesukamu, aku tak begitu peduli selama kau tak menyusahkanku," tandas Drina. "Hanya saja, sebaiknya kau kembali bercerita di lain waktu karena kondisi Clarine saat ini masih belum pulih. Jangan kau kira karena ia membuka mata maka dia sepenuhnya sadar. Ia harusnya masih terlelap hingga besok malam."
Clarine pikir Drina hanya berniat mengusir Valaria, ternyata Clarine memang merasa kepalanya semakin terasa berat setelah Drina menyuntikan sesuatu padanya. Tak berapa lama, pandangan Clarine mulai mengabur dan suara-suara di sekelilingnya terdengar samar.
"Sebaiknya kau ingat untuk tidak memberitahu Zoenoel soal keadaan Clarine." Suara Drina terdengar jauh meski Clarine masih melihat gambaran samar sosok Drina di samping tempat tidurnya.
"Tanpa kuberitahu pun, Zoenoel akan tahu dengan sendirinya," ujar Valaria.
"Setidaknya pemuda itu akan tahu setelah kami memiliki cukup waktu untuk memulihkan kekasihnya. Sementara kau juga akan memiliki cukup waktu bersama pemuda itu bukan? Jika dia tahu keadaan Clarine, ia akan langsung ke sini. Dia akan meninggalkanmu untuk mencari bukti sendirian. Bukankah, kita sama-sama di untungkan jika kau menjaga mulut?"
Suara Drina semakin samar. Clarine bahkan tidak mendengar apa respons Valaria. Ia sudah terlanjur kembali tertidur dalam hitungan detik.
***
Clarine kembali tersadar entah beberapa saat setelahnya. Bau ramuan menyengat memenuhi penciumannya bersamaan dengan suara berisik Ryn yang mengusik gendang telinga. Jadi, Clarine tidak begitu heran saat mendapati dirinya terbaring di ruangan Penguasa Arena dengan begitu banyak pengunjung.
Sayangnya, tidak ada Zoenoel di sana.
"Clarine, syukurlah." Maery menyambut kesadaran Clarine dengan memeluknya hati-hati. "Apa kau butuh sesuatu? Minum?"
"A-ku ba-ik sa-ja." Clarine memaksakan diri bersuara walaupun tenggorokannya serasa dijejali silet yang menyiksa.
"Nyaris terbunuh dua kali dalam seminggu dan menjadi putri tidur selama tiga hari masih termasuk dalam defnisi baik-baik saja? Yang benar saja." Gerutuan Ryn semakin terdengar heboh. "Wanita bangsat itu benar-benar keterlaluan. Tidak berhasil dengan insiden di Turnamen, dia malah datang langsung menyiksa Clarine di rumah."
"Bu-kan Katha-rina" Clarine berusaha mengatakan dugaannya. Walaupun ciri-ciri dan suara sosok bertopeng itu mengarah kepada Katharina, Clarine merasakan beberapa keanehan.
"Minum ini!"
Clarine meneguk cairan berwarna kuning mencurigakan yang disodorkan Drina.
Tenggorokannya lebih baik. Walaupun masih terasa sakit saat bicara, setidaknya sekarang tidak begitu menyiksa. "Di-a tidak menggunakan kemampuannya mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu. Ia justru seperti pembaca pikiran. Ia seakan tahu setiap segel yang kuaktifkan dalam pikiran, bahkan saat aku menggambar segel yang berbeda dengan yang kuaktifkan dalam pikiranku, ia tetap tidak terkecoh."
"Oh Clarine aku tahu ke mana kau akan mengarahkan pembicaraan ini," ujar Ryn. "Kau akan mulai mengatakan bahwa itu adalah Queena bukan? Katharina jelas sudah membuatmu tak sadar kalau ia sudah berhasil mempengaruhi pikiranmu. Pikiranmu jelas sudah dikacaukan, wanita itu membuatmu mencurigai Queena bukan dirinya."
"Perkataan Ryn ada benarnya," ujar Valaria. "Katharina bisa saja memanfaatkan rasa cemburumu kepada Queena. Sejak awal dia sudah mempermainkanmu. Bukankah Zoenoel juga sudah memperingatkanmu untuk tidak berada terlalu dekat dengan Katharina?"
"Tetapi sebelumnya Katharina melarangku untuk meminum cairan ingatan itu." Clarine berkeras. "Bagaimana mungkin sekarang Katharina menyodorkan hal yang sama secara langsung?"
"Tunggu, kau bilang: sebelumnya? Apa maksudmu?" tuntut Drina.
Clarine kemudian menceritakan saat Katharina menunjukkan tempat wanita itu menyimpan surat-surat pengakuannya.
"Kau punya surat pengakuan dosa Katharina?" pekik Ryn.
Clarine menggeleng. "Aku tidak sempat mengambilnya."
"Kau dengan bodohnya meninggalkan benda-benda itu?" Ryn semakin berteriak histeris.
"Kelas ramuan meledak dan ... pada saat itu aku masih belum yakin itu adalah hal yang tepat." Clarine menyatakan pembelaannya. "Maksudku semuanya terasa mudah, terasa seperti jebakan."
"Sebaiknya kau segera berteleportasi ke sana dan bawa kembali surat-surat itu sebelum Katharina berubah pikiran dan melenyapkan bukti langka kita," perintah Ryn.
"Sayangnya Katharina sudah berubah pikiran," ujar Clarine. "Aku langsung kembali malam itu juga dan semua surat pengakuan itu sudah tidak ada."
Drina mendengus meremehkan. "Dia mempermainkanmu. Katharina tidak berniat menunjukkan kelemahannya, ia justru sedang mengejek kelemahanmu. Seperti katamu, dia sudah tahu kau sedang mencari sesuatu di dalam rumahnya dan dia sengaja menujukan bahwa kau tidak akan menemukan tempat persembunyiannya. Kau sendiri tak terpikir ada ruang rahasia di balik kotak perhiasan, bagaimana kau bisa menemukan tempat persembunyian yang lain."
"Lihat kan, semuanya adalah ulah Katharina dan kau tengah dipermainkannya," tandas Ryn. "Sekarang yang perlu kita lakukan adalah memastikan kau, Clarine, tidak menjadi semakin dibodohi."
"Untuk sementara kau sebaiknya tidak keluar dari sini," tambah Drina.
***
Malam itu mimpi Clarine menjadi semakin buruk.
Clarine bermimpi ia dikurung Zoenoel sama seperti Glassina. Clarine tidak bisa bergerak. Ia sama sekali tidak bisa melakukan apapun saat melihat Zoenoel pergi bergandengan tangan dengan Valaria.
Sosok Katharina tiba-tiba muncul di belakang Clarine dan berkata, "Kau di pihakku." Katharina lalu memeluk Clarine, menahannya dengan keras bahkan meremas tubuhnya. Perlahan sosok Katharina berubah menjadi sosok yang ada dalam lukisan Zoenoel, siluet hitam pekat yang begitu mengintimidasi.
"Hei, kau seharusnya menjaga anakmu." Sosok Glassina muncul agak jauh di depan Clarine. Ia berjalan mendekat dengan sebuah buntelan di tangannya. Begitu jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah, Glassina langsung melemparkan buntelan yang sedari tadi hanya di pegangnya dengan asal-asalan.
Buntelan itu pun mendarat di samping kaki Clarine.
Pada awalnya hanya terlihat kegelapan di dalam bungkusan kain, lalu perlahan-lahan Clarine mulai melihat sosok bayi berlumuran darah.
Clarine menjerit ngeri. Dalam satu kedipan mata, ia sudah kembali berada di ruangan pribadi Penguasa Arena untuk menyambut gambaran tak masuk akal lainnya.
Kali ini Clarine melihat Dazt duduk di samping tempat tidurnya. Tatapan pemuda itu terkunci padanya sementara jemari Dazt mengusap keringat di kening Clarine.
Clarine memaksa matanya untuk menutup dan sesuai keinginannya, semua berubah gelap. Lalu suara itu mulai terdengar. Clarine seakan mendengar Dazt menyanyikan lagu pengantar tidur. Namun bukannya merasa terganggu, Clarine justru merasa tenang. Ia pun tidur tanpa bermimpi apapun lagi hingga terbangun esok paginya.
***
Saat membuka mata, Clarine kira ia tengah masuk dalam mimpi lain. Di samping tempat tidur, nampak dua sosok yang ingin ia temui dan juga ingin ia hindari, Deslia dan Grifalen. Hal yang cukup mengherankan karena Clarine masih berada di ruangan pribadi Penguasa Arena.
"Oh Clarine." Deslia langsung mendekap Clarine.
Pelukan Deslia membuat tubuh Clarine nyeri di beberapa tempat, hal ini membuktikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. "Aku baik-baik saja. Bagaimana kalian bisa ada di sini?"
Tidak ada yang menyahut.
Setelah beberapa detik, barulah Deslia berkata, "Mulai sekarang kau akan baik-baik saja. Kita akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Kau tidak akan sendirian lagi."
"Mama akan kembali tinggal bersamaku?" tanya Clarine bersemangat.
"Kau yang akan kembali tinggal di luar pulau bersama kami." Grifalen menjawab. "Dazt sudah bicara dengan ayah dan dia bilang kau tidak perlu lagi menjadi Eucharistia."
"Aku tidak bisa tinggal dengan kalian untuk saat ini," ujar Clarine, kepalanya tertunduk lemah. Clarine tidak berani mengambil risiko, cukup sekali ia membuat kedua orangtuanya terancam. Masih jelas dalam ingatannya peristiwa dengan Glassina dulu. Ingatan soal nasib teman-temannya di turnamen pun masih segar di kepala Clarine dan ia amat yakin kejadian itu bukan kebetulan. Besar kemungkinan kalau lubang hitam tersebut disiapkan untuk Clarine. Dibandingkan dengan Glassina, orang yang kini mengancam Clarine jelas jauh lebih berbahaya.
"Kami sudah mengurus kepindahan sekolahmu dan sebagian besar barangmu juga sudah dipindahkan." Deslia membelai rambut Clarine sebelum akhirnya melepaskan pelukan.
Clarine hanya bisa menggeleng. Ia belum bisa memikirkan alasan bagus untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Clarine tentu saja tidak ingin membuat mereka lebih khawatir dengan fakta bahwa ada sesorang di luar sana yang ingin menyiksanya.
"Kau lebih suka mengundang teman priamu untuk menjaga kamar tidurmu?" Suara Grif terdengar menahan emosi. "Itu yang ingin kau lakukan?"
Clarine tak sanggup menjawab. Pikirannya terlalu sibuk, sumpah serapah bersama segala macam pertanyaan saling berdesakan. Entah cerita macam apa yang disuguhkan Dazt kepada kedua orang tua Clarine. Yang jelas, Grifalen tampaknya sudah tahu soal Zoenoel, dan nada suara ayahnya terdengar tidak baik sama sekali.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini besok." Deslia menengahi. Ia pun mengamit lengan Grifalen. "Kita semua sebaiknya mendinginkan kepala dahulu dan mempertimbangkan kembali masalah ini. Lagipula kurasa kita perlu sedikit berkeliling. Tempat ini menakjubkan. Tidak heran ibu memaksaku berteman dengan Oxy."
"Nenek memaksa mama berteman dengan ibunya Dazt?" tanya Clarine refleks.
Deslia tersenyum. "Kalau tante Oxy terlahir sebagai laki-laki, kurasa kau tidak akan pernah lahir sayang. Nenekmu meminta mama untuk mendekati Tante Oxy sejak kecil dan siapa sangka ia adalah pribadi yang menyenangkan. Mama terpesona terutama pada kemampuannya bernyanyi. Jika nenekmu masih hidup, ia pasti akan menjodohkanmu dengan Dazt. Namun jangan terlalu dipikirkan, kau sebaiknya beristirahat lagi." Deslia kemudian menarik Grifalen untuk pergi.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top